
*Bibir Merah Pendekar (BMP)*
“Raksasa Biru! Raksasa Biru! Raksasa Biru!” teriak ribuan prajurit Kerajaan Siluman yang mengelu-elukan Raksasa Biru.
Tidak ada satu pun suara yang terdengar menyebut nama “Prabu Dira”. Namun, pengelu-eluan itu tidak akan mempengaruhi hasil pertarungan tanding itu.
Mau tidak mau, Tirana memendam rasa khawatir juga di dalam hatinya, sebab ia tidak bisa melakukan intervensi pembelaan jika Joko Tenang bertanding. Saat ini kondisi kesaktian Joko Tenang sedang tidak prima. Joko hanya memiliki dua ilmu, selebihnya adalah mengandalkan Macan Penakluk dan rompi pusaka.
Jika pertarungan bebas di luar arena, Tirana bisa memberikan bantuan. Namun, dalam pertarungan sseperti ini, Joko harus mengandalkan kesaktian dan kemampuannya sendiri.
Kini Joko Tenang dan Raksasa Biru telah berhadapan, tetapi masih di bawah. Joko Tenang harus agak mendongak untuk balas menatap Raksasa Biru.
“Siapa kau, Anak Muda?” tanya Raksasa Biru dengan suaranya yang sumbang plus serak, jadi serak-serak sumbang.
“Aku adalah Prabu Dira,” jawab Joko Tenang dengan tenang.
“Hmm, kau seorang raja. Sayang sekali, terlalu hina jika harus mati di tanganku,” kata Raksasa Biru.
“Bagaimana jika kau yang mati di tanganku?” tanya Joko Tenang.
“Aku merasa sangat terhormat,” kata Raksasa Biru.
“Baiklah,” kata Joko Tenang.
“Naik! Naik! Naik!” teriak para penonton yang menginginkan kedua petarung langsung naik ke arena yang ada di atas tiang batu, bukannya justru saling mengakrabkan diri.
“Waktunya bertarung, Raksasa Biru!” kata Joko Tenang.
Joko lalu melompat naik ke atas. Tinggi arena atas tiang batu masih terjangkau oleh lompatannya.
Raksasa Biru lalu melompat. Tidak mau sama dengan Joko, Raksasa Biru melompat jauh tinggi ke atas, seolah hendak mencapai langit.
“Wowww!” teriak para penonton sambil pandangannya mengikuti ke atas langit. Ketika Raksasa Biru meluncur turun, mata mereka juga bergerak mengikuti.
Beng!
Ketika sepasang kaki besar Raksasa Biru mendarat kuat di lantai batu arena, selain suaranya yang terdengar keras, tenaga dalam besar juga membuat tubuh Joko terlempar naik ke udara.
Tahu-tahu Raksasa Biru sudah melompat lagi, tapi kali ini langsung memburu tubuh Joko Tenang.
Bugk!
“Waaah!”
Dua kepalan tangan Raksasa Biru menjadi palu godam yang dipukulkan ke tubuh Joko. Pemuda berbibir merah itu hanya bisa menangkis dengan kedua batang tangannya. Pukulan itu bertenaga dalam tinggi, membuat tubuh Joko meluncur deras ke bawah, seolah tarikan gravitasi bumi jadi berlipat.
Ketika Raksasa Biru memukul Joko Tenang, sontak para penonton bersorak kencang, seolah senang jika Joko Tenang dihajar.
__ADS_1
Bugg!
Punggung Joko Tenang menghantam keras lantai arena tanpa menimbulkan kerusakan, sebab batu lantai itu memang dari jenis batu pilihan.
“Hahaha!” tawa Prabu Raga Sata melihat jatuhnya Joko.
Sementara Tirana hanya tersenyum.
Joko Tenang segera bangkit tanpa mengalami cedera. Punggung adalah anggota tubuh Joko yang paling aman.
Dengan langkah yang lebar, Raksasa Biru sudah datang mengayunkan kaki besarnya kepada Joko. Namun, kali ini Joko bisa mudah mengelak. Raksasa Biru terus mengandalkan tendangan-tendangan yang kekuatannya jangan dikira.
“Ea! Ea! Ea! Eeeeaaa!” sorak penonton setiap kali Raksasa Biru melakukan gerakan tendangan, sudah seperti senggakan di dalam musik dan lagu koplo.
Meski ketegangan terjadi di tengah arena antara Joko dan Raksasa Biru, tetapi senggakan-senggakan para penonton yang kompak membuat pertandingan itu menjadi meriah dan lebih komedi. Suasana itupun membuat atmosfir di tribun kehormatan tidak begitu tegang.
Karena Raksasa Biru keseringan menendang, akhirnya Joko mempunya cara untuk menjatuhkan orang besar itu.
Tap!
Karena kaki Raksasa Biru besar, maka dengan mudah Joko Tenang menangkapnya menggunakan dua tangan, lalu kaki itu dibawa lari berputar memutari tubuh Raksasa Biru sendiri. Akhirnya Raksasa Biru kehilangan kontrol dan keseimbangan.
“Eee… yaaah!” sorak penonton mengikuti irama gerakan tubuh Raksasa Biru yang kemudian jatuh. Penonton pun bersorak kecewa.
Giliran Joko Tenang melambung ke udara dengan pukulan bertenaga dalam biasa.
Bububuk! Pak!
Joko cepat bangun, Raksasa Biru pun cepat bangun, tanpa merasakan sakit atau luka dari penghajaran oleh Joko.
Raksasa Biru kembali maju, kali ini serangannya yang bertenaga tinggi itu komplit. Tendangan dan pukulan menjadi kombinasi yang mematikan. Meski Raksasa Biru mampu bergerak cepat dengan tubuh besarnya, tetapi Joko Tenang lebih gesit dan lincah, sehingga sulit bagi serangan Raksasa Biru mengenai target.
Bububuk!
Tinju beruntun Joko Tenang yang berulang kali masuk dalam waktu cepat, ternyata tidak berefek.
Bruss!
“Yeee…!” sorak para penonton girang ketika Raksasa Biru menyalakan kedua tinjunya menjadi seperti diselimuti api berwarna biru.
Joko Tenang pun mengaktifkan ilmu Tinju Dewa Hijau-nya.
Zuss zuss zuss…!
Raksasa Biru menghentakkan kedua tinjunya bergantian, seperti pendekar yang baru belajar pukulan tekhnik dasar. Dari tinjuan itu berlesatan bola-bola api biru yang menyerangi Joko.
Gesit dan tenang Joko Tenang mengelaki sinar-sinar biru yang kemudian berledakan jauh di bawah sana.
Pada satu kesempatan, Joko Tenang melompat tinggi melambungkan tubuhnya ke arah Raksasa Biru. Kepal hijaunya ia simpan di belakang pinggang.
__ADS_1
Jelas itu target empuk bagi tinju Raksasa Biru. Sambil tersenyum, Raksasa Biru menyambut kedatangan tubuh Joko Tenang di udara. Namun, Raksasa Biru tidak berpikir, kenapa Joko dengan mudah memberi keempukan seperti kue apem.
Saat tinju api Raksasa Biru meluncur, Joko Tenang langsung mengeluarkan tinju hijaunya dari balik pinggang.
Bugg!
“Yaaaddeeer!” teriak penonton seiring bertemunya dua tinju yang bertenaga sakti tinggi.
Pertemuan tinju itu menimbulkan suara peraduan yang begitu kencang. Hasilnya membuat para penonton terdiam, membuat suasana seketika sunyi.
Tubuh Raksasa Biru terpental keras, bahkan sampai melewati pinggiran arena lalu jatuh meluncur ke bawah.
Bung!
Suara jatuh tubuh besar biru itu sampai menggema di seantero arena besar itu.
Sementara Joko Tenang, ia terjengkang sejauh satu tombak. Penggunaan sepertiga dari kekuatan Tinju Dewa Hijau membuatnya harus terjengkang, tetapi tidak sampai membunuh Raksasa Biru. Joko Tenang memang tidak bermaksud membunuh Raksasa Biru.
Raksasa Biru hanya bisa menggeliat di lantai bawah lapangan. Ia sudah tidak bisa bangun dengan wajah belepotan darah yang keluar dari dalam mulutnya. Ternyata darahnya masih sama dengan manusia lain, yaitu berwarna merah.
Joko Tenang lalu bangkit dan melompat turun ke bawah. Ia menghampiri Raksasa Biru.
“Apakah kau merasa terhormat kalah dariku, Raksasa Biru?” tanya Joko Tenang.
“I… iya. Aku me… rasa terhormat. Aku yakin, uhuk uhuk! Aku yakin, kau menahan separuh dari tenagamu, Gusti Prabu,” ucap Raksasa Biru terbatah-batah.
“Karena aku tidak ingin membunuhmu. Aku cukup mengalahkanmu, bukan membunuhmu,” kata Joko Tenang.
“Te… terima ka… sih!” ucap Raksasa Biru.
Troet troet troeeet!
Tiba-tiba terdengar suara terompet yang ditiup.
Joko Tenang beralih memandang ke atas tribun kehormatan. Dilihatnya Prabu Raga Sata tersenyum, demikian pula Tirana dan Putri Sri Rahayu.
Tap tap tap…!
Tiba-tiba Joko Tenang mendengar suara langkah lari tiga orang dari tiga tempat. Joko Cepat melihat ke sumber suara.
Dari dalam tiga lubang lorong, berlari cepat tiga orang berpakaian putih-putih dengan model yang berbeda. Tiga orang yang berdiri dari dua lelaki satu wanita itu, berlari cepat ke arah posisi Joko Tenang.
“Yeee!” sorak penonton lagi setelah terdiam oleh kekalahan Raksasa Biru.
“Sepertinya ini Tiga Siluman Bayangan,” duga Joko Tenang dalam hati.
Joko Tenang dan Tirana agak terkejut ketika dalam larinya mendekati Joko, ketiga orang itu menghilang sekejap lalu muncul berlari lagi di titik yang berbeda.
“Mereka bisa berpindah tempat, atau mereka bisa mengacaukan penglihatan…” pikir Joko Tenang dan bersiap.
__ADS_1
Sebelum serangan ketiga orang berpakaian putih itu sampai kepadanya, Joko Tenang lebih dulu melompat tinggi ke atas arena. Sementara Raksasa Biru dibiarkan terkapar tidak berdaya. (RH)