8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
BMP 24: Penyusup Berbahaya


__ADS_3

*Bibir Merah Pendekar (BMP)*


“Aku lebih baik beristirahat untuk tantangan besok. Aku belum siap bertemu dengan ayahku dalam kondisi seperti ini.”


Itu kata-kata Joko Tenang sebelum Tirana dan Gurudi pergi untuk menjemput Raja Anjas Perjana Langit di pintu rahasia.


Pada waktu alam masih gelap menuju pagi, Tirana mengikuti Gurudi melalui jalan rahasia yang panjang dan berliku-liku.


“Berapa lama kau menghapal jalan rahasia ini, Gurudi?” tanya Tirana.


“Dududu… dua puluh tatata… tahun. Hihihik…!” jawab Gurudi lalu tertawa khas yang nyaring.


“Apakah selama ini Prabu Raga tidak pernah mencurigaimu?” tanya Tirana sambil terus mengiringi langkah Gurudi yang berjalan sambil melompat-lompat seperti kelinci.


“Aku orang yang sesese… setia kepada Pepepe… Perabu Raga. Hihihik! Dididi… dia tidak tahu aku ini orang sasasa… sakti. Hihihik!”


“Kau kenal dengan Gulung Lidah?”


“Hihihik…! Si gegege… gendut mata bababa… bakul! Dia itu kukuku… kurang ajar. Aku gagap, eh dididi… dia ikutan gagap. Dipikir gagap itu wawawa… warisan!”


Akhirnya mereka tiba pada sebuah persimpangan lorong. Lorong yang mereka tempuh dipotong oleh sebuah lorong yang lebih besar.


“Tututu… tunggu!” kata Gurudi memberi tanda agar berhenti. “Ini jajaja… jalur rahasia prajurit Sisisi… Siluman!”


Gurudi merapatkan diri ke sisi dinding. Tirana mengikuti. Gurudi melongokkan kepalanya untuk melihat ke arah jalan kanan dan kiri.


“Aman!” kata Gurudi sambil melangkah hendak menyeberang lurus.


“Tidak! Ada yang datang!” bisik Tirana sambil mencekal tangan Gurudi dan membawanya melompat mundur untuk bersembunyi di dalam gelapnya lorong.


Di persimpangan itu memang ada satu obor batu yang menjadi penerang.


Kini Tirana dan Gurudi tidak terlihat keberadaannya. Mereka menunggu di dalam gelap.


Benar dugaan Tirana. Tidak berapa lama, terdengar suara dua orang lelaki sedang bercakap-cakap dan berjalan mendekati titik persimpangan. Semakin lama, suara percakapan mereka semakin keras dan jelas.


“Pemberontakan yang kita ciptakan di Kadipaten Kelang dan Repakulo, akan memaksa Menak Ujung untuk lengser. Ketika ia sibuk memerangi pemberontakan di dua kadipaten itu, Siluman Hitam akan membangkitkan Pasukan Walang Kekek dan membunuh Menak Ujung.”

__ADS_1


Terdengar jelas seorang lelaki berkata kepada temannya sambil berjalan melintas.


“Seharusnya rencana kita sudah berhasil jika Gerombolan Kuda Biru tidak hancur. Aku sampai penasaran dengan kelompok yang bisa menghancurkan perkumpulan para pendekar itu,” kata lelaki yang lain.


Hanya percakapan itu yang terdengar oleh Tirana dan Gurudi karena kedua orang itu telah berjalan menjauh dari titik persimpangan. Setelah kedua orang yang tidak jelas siapa itu menghilang dan sudah tidak terdengar suaranya, barulah Tirana dan Gurudi keluar dari kegelapan.


“Sepertinya mereka membicarakan tentang Kerajaan Baturaharja. Berarti Sandaria tidak hanya akan berhadapan dengan Menak Ujung, tetapi juga kekuatan pemberontak,” ucap Tirana kepada dirinya sendiri.


Setelah menengok kanan dan kiri, Gurudi segera berlari masuk ke lorong selanjutnya. Tirana segera menyusul.


“Kau selalu tertawa, Gurudi. Ketika kau berjalan di lorong-lorong rahasia ini, apakah tidak ada prajurit Kerajaan Siluman yang pernah mendengar suara tawamu?” tanya Tirana.


“Hihihik…!” Gurudi malah tertawa. Lalu kemudian jawabnya, “Pepepe… pernah. Tatata… tapi mereka menyangka mememe… mendengar suara sisisi… siluman. Hihihik!”


Hingga akhirnya, mereka tiba di ujung lorong yang adalah dinding buntu. Berbeda dengan beberapa pintu rahasia yang sifatnya ilusi tanpa wujud, kali ini tembok pintu rahasia harus dibuka dengan cara khusus, yaitu menarik sebuah tonjolan batu di dinding kanan. Itupun, untuk menarik batunya harus digeser sedikit ke bawah.


Jegregr!


Setelah Gurudi membuka kunci, maka dinding batu buntu itu bergerak bergeser ke samping, menciptakan celah dinding yang lebarnya hanya selebar bahu orang biasa.


Gurudi segera menyelinap melalui celah dinding itu. Tirana harus bergerak menyamping agar mudah lewat.


Meski tidak ada cahaya penerangan, tetapi Tirana tahu bahwa ada satu orang di tempat itu selain dia dan Gurudi.


“Kalian sudah datang!” tegur orang yang dirasakan oleh Tirana keberadaannya.


Mendengar sapaan itu, Tirana langsung bisa mengenali siapa adanya pemilik suara tersebut.


“Hormat hamba, Gusti Mulia!” ucap Tirana sambil cepat turun berlutut dengan satu kaki dan kepala menunduk dalam.


“Hihihik! Anjas Anjas Anjas! Lalala… lama tidak bertemu!” kata Gurudi girang tanpa melakukan hal seperti yang dilakukan oleh Tirana.


“Bangunlah, Gadis Penjaga!” perintah lelaki di dalam gelap yang tidak lain adalah Raja Anjas Perjana Langit.


Tirana segera bangkit.


“Apa yang akan Prabu Dira lakukan besok?” tanya Anjas Perjana.

__ADS_1


“Kakang Prabu akan melalui rintangan Ladang Anjing dan mengambil Mutiara Ratu Panah, Gusti Mulia,” jawab Tirana.


“Saat ini hanya kau yang bisa membawa Ningsih keluar dari Istana Terlarang, Gadis Penjaga. Tapi posisimu adalah tamu di Kerajaan Siluman. Itu artinya keberadaanmu selalu harus terlihat ada. Jika Ningsih aku bebaskan sebelum matahari terbit, aku khawatir jika hilangnya Ningsih dari Istana Terlarang akan diketahui sebelum urusan Prabu Dira selesai. Itu justru akan mempersulit Prabu Dira. Gurudi, aku minta kau membawaku ke kamar Prabu Raga!” kata Anjas Perjana.


“Baik, Anjas! Hihihik!”


“Dan kau, Gadis Penjaga, bebaskan mertuamu setelah Prabu Dira berhasil mendapatkan Mutiara Ratu Panah!” perintah Anjas.


“Baik, Gusti Mulia,” ucap Tirana patuh.


Anjas Perjana lalu bergerak masuk ke dalam celah pintu rahasia. Tirana dan Gurudi lalu mengikuti. Gurudi kembali menutup pintu batu yang posisinya ada di bawah Istana Siluman.


“Mutiara Ratu Panah adalah sebuah pusaka yang sangat berbahaya, sebab dia tidak mudah untuk disentuh. Aku tidak pernah melihat seperti apa benda itu atau seperti apa kesaktiannya. Aku hanya pernah membaca sebuah catatan mengenai mutiara itu. Dikatakan bahwa Mutiara Ratu Panah dilindungi oleh banyak penunggu yang berbahaya. Itu berarti Prabu Dira harus bisa menaklukkan lawan-lawan yang bukan manusia,” kata Anjas sekilas mengenai Mutiara Ratu Panah.


“Wah, itu papapa… pasti sangat bebebe… berat, Anjas!” kata Gurudi.


“Aku yakin putraku bisa melaluinya. Nasibnya sudah tergaris dia akan menguasai ilmu Delapan Dewi Bunga. Itu menunjukkan dia tidak akan mati sebelum menguasai ilmu itu,” tandas Anjas.


Pada pertengahan jalan, Gurudi berhenti.


“Anjas Anjas Anjas! Kakaka… kalau mau ke kakaka… kamar Pepepe… Perabu Raga lewat sini!” kata Gurudi sambil memasukkan separuh tubuhnya menembus dinding yang terlihat utuh.


“Gadis Penjaga, kembalilah bersama Prabu Dira! Setelah urusannya selesai, segera bebaskan Ningsih!” perintah Anjas.


“Baik, Gusti Mulia!” ucap Tirana patuh.


Tirana melanjutkan perjalanannya untuk kembali kepada suaminya. Sementara Anjas dan Gurudi masuk ke dalam dinding yang pada titik itu adalah pintu rahasia.


Ternyata untuk menuju ke pintu rahasia di kamar Prabu Raga Sata, mereka berdua harus melalui jalan yang rumit, sebab banyak pilihan pintu lorong yang lain. Jika salah memilih lorong, maka akan berbeda tujuan. Namun, upaya Gurudi untuk menghapal rute di setiap jalan rahasia tidaklah mudah, karena membutuhkan pembelajaran dan penghapalan selama puluhan tahun. Bisa disebut bahwa jalan rahasia adalah tempat keseharian Gurudi. Ia bisa muncul di mana saja di dalam Istana itu melalui jalan rahasia.


“Itu pintunya, Anjas! Dududu… dua pintu lagi maka kikiki… kita akan masuk ke kamar Pepepe… Perabu Raga!” kata Gurudi.


“Jaga tawamu, Gurudi!” pesan Anjas memperingatkan, sebab mereka akan masuk ke dalam kamar rajanya siluman.


Maka sejak itu, Raja Anjas menggunakan ilmu perisainya dan tabir gaibnya, membuat mereka berdua tidak akan dilihat dan didengar oleh orang lain, meski ada yang lewat di dekat mereka.


Dua pintu berikutnya adalah pintu model ilusi dan itu tidak mudah untuk diketahui jika bukan orang yang sudah tahu betul.

__ADS_1


Meski sudah melindungi dirinya dengan ilmu tabir gaib, tetap saja Anjas Perjana dan Gurudi masuk dengan tanpa suara ke kamar Prabu Raga Sata.


Gurudi diperintahkan menunggu di belakang. Sementara Anjas secara perlahan menembus pintu rahasia pada kamar Prabu Raga. Anjas muncul di sudut kamar yang besar dan megah itu. Dari jauh ia bisa melihat Prabu Raga Sata masih terlelap bersama istrinya di ranjang mewahnya. Namun, Anjas hanya memandangi tanpa melakukan tindakan. (RH)


__ADS_2