8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
BMP 20: Kehebatan Siluman Bayangan


__ADS_3

*Bibir Merah Pendekar (BMP)*


 


Lelaki pertama adalah orang tertua dengan usia tiga puluh enam. Ia mengenakan pakaian putih-putih, baju putih yang dilapisi jubah putih tanpa lengan dan tanpa kancing. Rambutnya gondrong sebahu dan ikal. Ia dinamai Bayang Satu.


Lelaki kedua berusia dua puluh enam tahun. Wajahnya tampan berambut pendek. Ia mengenakan pakaian sederhana berwarna putih-putih. Ia dinamai Bayang Dua.


Sementara yang wanita sendiri adalah wanita muda berusia dua puluh enam juga. Berpakaian putih-putih, serasi dengan warna kulitnya yang terang. Bagian leher bajunya agak lebar di bagian depan, seolah ingin memperlihatkan sembulan dari kewanitaannya yang menantang. Kecantikan sembulannya memang secantik wajahnya yang masih glowing. Ia dinamai Bayang Tiga.


Ketiga orang berpakaian putih-putih itu dikenal sebagai Tiga Siluman Bayangan. Ketiganya termasuk siluman andalan Kerajaan Siluman. Karenanya, jika sampai mereka kalah dari seorang Prabu Dira, maka akan memberi citra buruk bagi nama harum mereka, termasuk bagi Kerajaan Siluman. Dengan diturunkannya mereka, berarti Prabu Raga Sata tidak mau main-main dalam menghadapi calon menantunya.


Tiga Siluman Bayangan sudah mengepung Joko Tenang di tiga arah. Bayang Satu sudah siap dengan kuda-kudanya, sementara kedua tangannya mengepal kuat. Bayang Dua memasang kuda-kuda yang lebih ringan dengan gerakan-gerakan kaki yang kecil, seolah menunjukkan bahwa ia akan menyerang dengan mengandalkan kaki.


Di sisi lain, Bayang Tiga memasang kuda-kuda dengan jari-jari tangan membentuk cakar yang kuat.


“Mulai!” teriak sseorang penonton nyaring lagi keras.


“Mulai!” teriak ribuan penonton serentak seolah memberi tanda kepada Tiga Siluman Bayangan untuk mulai menyerang.


Dan memang, setelah teriakan penonton itu, Bayang Tiga maju dengan gerakan yang cepat sekali. Joko Tenang agak terkejut melihat kecepatan itu, tetapi ia masih bisa mundur dua tindak menghindari cakaran Bayang Tiga yang mengarah wajah.


Dak! Blug!


Namun, di saat Joko Tenang bisa menghindari serangan Bayang Tiga, tendangan dari Bayang Dua tahu-tahu lewat menghajar pelipis Joko. Prabu Dira terpelanting lalu jatuh berdebam di lantai arena.


“Yaaa!” sorak para penonton senang melihat kejatuhan Joko Tenang.


Di masa jatuhnya Joko Tenang, Tiga Siluman Bayangan menhentikan dulu serangannya. Di tribun kehormatan, tampak Prabu Raga Sata tersenyum lebar. Namun, tidak ada senyum pada wajah Tirana. Sepertinya ia cukup khawatir melihat tingkat kecepatan Tiga Siluman Bayangan. Itupun mereka baru menggunakan kecepatan, belum menggunakan ilmu kesaktian lainnya, yang pasti belum diketahui oleh Joko.


Joko Tenang sudah berdiri kembali. Ia pun bersiap dengan mata yang awas melirik bergantian kepada tiga lawannya.


Wess!


Bayang Tiga kembali membuka serangan yang sama dengan kecepatan yang sama. Joko Tenang kembali gesit mengelaki cakaran gadis cantik itu. Selanjutnya datang Bayang Dua dengan tendangan kilatnya. Namun, berbeda dengan sebelumnya, Joko Tenang kali ini bisa menghindari tendangan kilat Bayang Dua.


Buk!


“Hukh!”


“Yaaa!” sorak para penonton lagi.


Joko Tenang tidak bisa menghindari serangan kilat Bayang Satu. Tahu-tahu Bayang Satu sudah berada di depan Joko dan menghujamkan tinjunya ke perut Joko.


Joko Tenang mengeluh sambil termundur dua tindak dan tubuh membungkuk kesakitan.


Tiga Siluman Bayangan kembali menghentikan serangannya, seolah memberi kesempatan bagi Joko Tenang untuk bersiap menghadapi serangan berikutnya. Sementara itu, tanpa diketahui oleh siapa pun, kecuali Joko Tenang, mata Cincin Macan Penakluk sudah mulai mengeluarkan sinar berpendar-pendar yang samar.


“Hahaha!” tawa Prabu Raga Sata melihat Joko sudah dua kali terkena serangan.


“Ayo mulai lagi!” kata Joko Tenang kepada ketiga lawannya.


Bayang Tiga kembali memulai serangan yang sama. Serangan cakaran itu bisa dielaki oleh Joko, demikian pula dengan tendangan kilat Bayangan Dua. Giliran Bayang Satu menyerang dengan tinjunya, Joko pun sanggup mengelakinya.


Bret!


Namun, setelah tiga serangan itu, Bayang Dua dan Bayang Tiga maju menyerang bersamaan. Joko Tenang mencoba menghindar. Ia bisa menghindari tendangan Bayang Dua, tetapi cakaran Bayang Tiga berhasil masuk merobek perut baju Joko.

__ADS_1


Bukk!


Graurgk!


“Hah!”


Ceritanya seperti ini. Setelah cakaran Bayang Tiga berhasil merobek baju Joko, Bayang Satu kembali datang dengan cepat dan Joko tidak bisa menghindari tinju lawan yang menghantam dada kanannya.


Namun, bertepatan dengan dihajarnya dada Joko, rupanya Macan Penakluk tidak bisa tahan diri lagi. Ia pun langsung melompat keluar menerkam Bayang Satu.


Alangkah terkejutnya Bayang Satu mendapat serangan makhluk aneh tiba-tiba seperti itu. Bayang Dua dan Tiga, serta para penonton juga terpekik kaget.


“Aaakk!” jerit Bayang Satu karena pundak kanannya berhasil digigit.


Blar!


Satu ledakan terjadi keras ketika dalam perlawanannya, Bayang Satu meninju Macan Penakluk dengan tinju bersinar biru.


Wujud Macan Penakluk hancur buyar menjadi serbuk sinar merah yang banyak lalu tersedot masuk ke dalam cincin di tangan Joko.


Sementara Bayang Satu mengerenyit menahan sakit pada bahunya yang luka tapi tidak berdarah, karena lukanya langsung kering oleh panasnya Macan Penakluk.


“Bayang Satu!” sebut Bayang Dua dan Bayang Tiga bersamaan.


“Lingkaran Pengisap Napas!” seru Bayang Satu lalu tiba-tiba berlari cepat memutari posisi Joko Tenang.


Larinya begitu kencang. Bayang Dua dan Bayang Tiga cepat mengikuti berlari kencang memutari posisi Joko Tenang.


Awal-awal biasa saja, tetapi kemudian, lari ketiga siluman itu semakin cepat, sehingga mata yang melihatnya tidak jelas mengenali yang mana Bayang Satu, Bayang Dua atau Bayang Tiga.


Wuss!


“Seandainya Bayang-Bayang Malaikat bisa aku gunakan, mereka tidak akan bisa berkutik,” pikir Joko Tenang yang mulai merasakan hawa yang tidak enak. Ia sudah sulit untuk melihat jelas sosok lawannya.


Tiga Siluman Bayangan semakin mempercepat larinya mengeliling Joko Tenang. Hingga pada puncaknya, kini Tiga Siluman Bayangan hanya terlihat seperti garis bayangan putih. Angin kencang semakin bertambah kuat, bahka terlihat samar ada pusaran angin yang mengurung Joko Tenang.


Joko Tenang jatuh terlutut. Ia mulai kehilangan oksigen di dalam pusaran angin dari ilmu Lingkaran Pengisap Napas. Dalam kondisi seperti itu, Macan Penakluk pun tidak berkutik.


Di saat Joko Tenang mulai kehabisan udara dan ia mulai melemah, Joko Tenang berusaha mengerahkan tenaga saktinya. Dengan susah payah Joko Tenang menghijaukan tinjunya dalam posisi berlutut.


“Hiaaat!” teriak Joko Tenang keras sambil mengangkat tinggi tinjunya.


Bung!


Satu suara benturan terdengar keras ketika Tinju Dewa Hijau kembali unjuk kekuatan.


Pada saat itu juga, lantai arena hancur berpecahan dan runtuh, membawa jatuh bersama Tiga Siluman Bayangan. Bahkan tiang batu yang begitu tebal terbelah menjadi beberapa bagian. Tempat itu terguncang sekali.


Dengan jatuhnya Tiga Siluman Bayangan ke bawah, otomatis proses ilmu Lingkaran Pengisap Napas terhenti dan lenyap. Joko Tenang yang juga meluncur jatuh kini bisa bernapas bebas lagi, serasa dunia bebas dari virus corona.


Melihat kedahsyatan Tinju Dewa Hijau itu, Prabu Raga Sata dan seluruh prajuritnya terkejut.


“Apakah pukulan ini yang bisa menghancurkan Batas Dunia Lain di Penjara Menara Langit, Permaisuri?” tanya Prabu Raga Sata kepada Tirana.


“Benar, Gusti Prabu,” jawab Tirana.


“Hmm!” gumam Prabu Raga Sata manggut-manggut. Kemudian dia tidak bertanya lagi karena kembali fokus kepada pertarungan di arena.

__ADS_1


Wersss!


Tiga Siluman Bayangan kini berdiri dalam model kuda-kuda yang sama. Jari-jari kedua tangan mereka menyatu di depan dada. Lalu muncullah bola sinar ungu yang berputar pada porosnya.


Joko Tenang cepat mengatur siasat. Ia ubah arah menghadapnya. Ia menghadap ke arah Bayang Satu, sementara Bayang Dua dan Tiga ada di posisi kanan dan kirinya.


Situasi itu menciptakan atmosfir ketegangan di kalangan para petarung dan semua penonton. Joko akan digempur dari tiga arah.


Sejak hancurnya arena, keriuhan dan senggakan-senggakan musik koplo para penonton berhenti. Kehebatan kesaktian Joko seolah menjadi isyarat bagi Tiga Siluman Bayangan, bahwa mereka dalam bahaya.


“Serang!” teriak Bayang Satu berkomando, setelah sinar ilmu mereka sudah matang di tangan.


Wersss…!


Zerzz! Graurg! Bluar!


Serentak Tiga Siluman Bayangan melesatkan bola sinar ungu yang sebesar buah kelapa.


Pada saat yang sama, Joko Tenang menghentakkan kedua lengannya ke kanan dan ke kiri, melesatkan lima sinar listrik berwarna hijau ke kanan dan kiri. Lima aliran listrik hijau itu menjerat bola sinar ungu milik Bayang Dua dan Bayang Tiga di tengah jarak. Kedua sinar ungu itu tertahan dalam sengatan.


Pada saat yang sama pula, dari dalam cincin Joko Tenang melesat keluar Macan Penakluk, menerkam bola sinar ungu yang datang dari depan. Akibatnya, pertemuan dua sinar beda wujud itu menimbulkan ledakan keras tanpa memberi efek kepada Joko dan Bayang Satu. Macan Penakluk yang tidak kenal mati tapi kenal hancur, kembali tersedot masuk ke dalam cincin.


Karena gagal dengan serangannya, Bayang Satu langsung mengubah bentuk serangannya, yaitu dia melompat maju di udara sambil siap meninju dengan tinju bersinar biru. Menurutnya ini kesempatan bagus, karena kedua tangan Joko sedang menahan dua bola sinar ungu lainnya di udara.


Sets! Bluss!


Tiba-tiba sebuah benda putih panjang melesat keluar dari dalam dada Joko Tenang. Benda itu melesat dan menembus begitu saja dada Bayang Satu hingga jebol ke belakang.


“Bayang Satu!” teriak Bayang Dua dan Bayang Tiga terkejut, seiring jatuhnya tubuh Bayang Satu ke lantai yang penuh pecahan batu besar.


Bayang Satu jatuh tergeletak tanpa nyawa lagi dalam kondisi dada telah bolong.


Sementara itu di udara, ada sesosok pedang putih pendek seperti buntung yang melayang diam. Pedang itu tidak lain adalah Pedang Singa Suci.


Munculnya Pedang Singa Suci membuat Tirana sampai berdiri dari kursinya, sebab baru kali ini ia melihat pedang itu.


“Ini pedang yang didapat Kakang Prabu di negeri asing itu,” pikir Tirana.


Sementara itu, dua sinar ungu yang ditahan di udara kini berubah warna menjadi sinar hijau.


Werss! Werss! Bluar! Bluar!


Di saat Bayang Dua dan Tiga terkejut melihat kematian kakak seperguruan mereka, tiba-tiba dua sinar hijau yang ditahan oleh ilmu Lima Jerat Terakhir Joko, melesat balik ke arah pemiliknya. Yang mengejutkan lagi bagi Bayang Dua dan Tiga adalah kecepatan lesat sinar ilmu mereka itu jadi dua kali lipat. Pastinya mereka tidak berkutik untuk menghindar.


Dua ledakan hebat menghancurkan lantai arena. Beruntung bagi Bayang Dua dan Bayang Tiga, Joko Tenang tidak bermaksud membunuh mereka, sehingga serangan balik itu diarahkan lebih ke bawah, menghantam lantai yang tidak jauh dari kaki mereka.


Bayang Dua dan Tiga masing-masing terpental dalam kondisi terluka parah akibat daya ledak yang kuat.


“Hoekh!” Bayang Dua dan Tiga masing-masing muntah darah kental lagi hangat.


“Syukurlah!” ucap Tirana lega karena pertarungan berakhir.


Sets!


Pedang Singa Suci kembali melesat dan masuk ke dalam dada Joko Tenang. Ketika masuk ke dada Joko, Pedang Singa Suci berubah seperti bayangan, berbeda ketika pedang itu menjebol dada Bayang Satu.


Tiga Siluman Bayangan memang hebat dalam mengeroyok musuh, tapi ternyata Joko Tenang lebih hebat dengan segala miliknya yang mengejutkan lawan.

__ADS_1


“Apakah anak ini lebih sakti dari ayahnya…” ucap Prabu Raga Sata di dalam hati.


Tanpa diketahui oleh siapa pun, Gurudi ternyata menonton pertarungan itu. Dia berdiri di celah-celah para prajurit di tribun penonton. (RH)


__ADS_2