8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mata Batu 13: Raja Akar Setan


__ADS_3

*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*


 


"Siapa wanita serigala itu?" tanya lelaki wajah buruk rupa kepada Surya Kasyara dan Sugigi Asmara yang sudah tidak berkutik.


"Tidak akan kami beri tahu!" teriak Surya Kasyara.


Krekr!


"Aakr...!" jerit Surya dan Sugigi bersamaan karena lilitan pada tubuh dan tangan mereka kian kuat.


Grrrg!


Tiba-tiba ada suara binatang menggeram, seperti suara anjing menggerutu.


Orang tua aneh itu cepat menengok. Dilihatnya seekor serigala besar yang tingginya lebih tinggi dari kepala, berdiri menggeram memperlihatkan gigi-giginya bak model pasta gigi.


Di atas punggung serigala yang bernama Satria itu, duduk wanita cantik jelita yang tidak lain adalah Permaisuri Sandaria.


Orang tua aneh itu tidak terkejut melihat kehadiran hewan besar dan wanita buta nan cantik itu. Sebab, sebelumnya ia telah memantau pergerakan rombongan Pemaisuri Sandaria.


“Apakah kau mau berkenalan denganku, Kek?” tanya Sandaria seraya tersenyum.


Melihat kemunculan Sandaria bersama seekor serigalanya, orang tua aneh itu melemparkan tubuh Surya Kasyara dan Sugigi Asmara ke sungai.


“Aaa!” jerit keduanya saat tubuh mereka berdua meluncur ke dalam air.


Jbuur!


Sandaria membiarkan dua pengawal pribadinya dilempar ke sungai. Ia tahu bahwa itu tidak begitu membahayakan nyawa mereka.


“Apa hubunganmu dengan Serigala Perak, Anak Kecil?” tanya orang tua itu dengan suara seraknya.


“Aku Sandaria. Aku cucu kesayangan Serigala Perak yang paling cantik dan paling imut menggemaskan. Hihihi!” jawab Sandaria dengan gaya centilnya lalu tertawa.


“Jika seperti itu, jangan pernah campuri urusan Kerajaan Baturaharja!” kata orang itu agak keras lalu menghentakkan kedua lengannya.


Traks!


Tiba-tiba ada tenaga besar menyebar yang menghancurkan rerantingan kecil di atas pohon. Ketika berhancuran, ranting-ranting kecil itu tidak jatuh ke bawah, tetapi semuanya melayang.


Set set set…!

__ADS_1


Selanjutnya, seluruh ranting-ranting di udara itu berlesatan berjemaah menyerang Sandaria dan serigalanya.


Cring!


Menyambut serangan kayu-kayu itu, Sandaria cukup menggerakkan gelang lonceng hitam di leher Satria. Ketika ranting-ranting yang jumlahnya puluhan itu mengenai target, Sandaria dan Satria tinggal wujud bayangan yang kemudian menghilang.


Orang tua aneh terdiam sejenak, mengerahkan ilmu perasa dan mpendengarannya dengan seksama.


“Suryableq! Tolokleb!” teriak Sugigi Asmara di sungai degan tangan menggapai dan kepala timbul tenggelam.


“Kau tidak bisa berenang, Sugigi?!” teriak Surya terkejut. Buru-buru dia berenang untuk medapatkan tubuh Sugigi Asmara. Surya tidak lagi memikirkan perihal menang banyak atau seri, yang ia khawatirkan adalah nyawa calon istrinya.


Sementara di atas, orang tua buruk rupa mendeteksi keberadaan serigala besar muncul dari utara. Sebentar saja, tahu-tahu sosok Satria muncul dalam kondisi berlari kencang dari kejauhan ke arah musuh.


Orang tua itu menjejakkan kaki kanannya dengan pelan ke bumi. Tiba-tiba dari dalam tanah, tepatnya di depan laju lari Satria, muncul melesat lima belalai hijau seperti batang tumbuhan, yang langsung menangkap lilit kedua kaki depan dan leher sang serigala.


Sementara dua belalai lainnya melilit tubuh dengan kuat. Jeratan itu membuat Satria tersungkur keras.


Cess! Bluarr!


Tiba-tiba sosok Sandaria muncul dari atas dan langsung melesatkan selarik sinar kuning tipis dari ilmu Tusuk Nyawa, bukan tusuk sate. Serangan itu mengejutkan orang tua aneh. Ia cepat mendongak dengan tangan bersinar merah seperti bola yang menangkis sinar kuning Tusuk Nyawa.


Satu ledakan pertemuan dua tenaga sakti terjadi dahsyat. Tubuh orang tua itu terpental brutal hingga bergulingan di bibir jurang sungai, tetapi kelima jari tangan kanannya cepat memanjang dan melilit ke akar pohon.


Cras! Greargk!


Sementara itu, kuku-kuku tajam dua kaki belakang Satria berhasil memutus dua belalai hijau yang menjerat satu kakinya. Ia pun menggigit putus belalai yang menjerat lehernya. Selanjutnya, ketiga belalai sisanya bisa diputuskan dengan cepat. Seolah makhluk bernyawa saja, kelima belalai kembali tertarik masuk ke dalam tanah seperti cacing.


Lelaki tua berjubah abu-abu telah melenting di udara lalu kembali mendarat. Sulit memastikan bahwa dirinya baik-baik saja atau terluka.


“Siapa kau sebenarnya, Kek? Kenapa kau sepertinya membenci nenekku? Apakah kau bekas kekasih nenekku?” tanya Sandaria sambil melangkah buta mendekati si kakek menyeramkan.


Sandaria berhenti dalam jarak lima langkah di depan si kakek.


“Anak ini sangat tenang pembawaannya, meski dia buta…” batin lelaki itu. Lalu jawabnya, “Aku adalah Raja Akar Setan. Siapa pun kau, aku ingatkan, jangan campuri urusan Kerajaan Baturaharja!”


“Raja Akar Setan,” sebut ulang Sandaria. Lalu katanya kepada kakek itu, “Aku adalah Permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil dan aku seorang utusan. Penyeranganmu terhadapku dan pengawalku bisa disebut pernyataan perang.”


“Kali ini hanya peringatan yang aku berikan kepada kalian. Jika pasukan kalian berani masuk ke wilayah Baturaharja lagi, maka kami tidak akan segan-segan untuk membunuh kalian!” ancam Raja Akar Setan dengan keras.


“Jika demikian, tunggulah kedatangan pasukan Kerajaan Sanggana Kecil, karena Sandaria imut akan datang lagi. Hihihi!” kata Sandaria lalu tertawa centil.


“Coba saja jika kalian berani melakukannya!” tantang Raja Akar Setan. Ia lalu berkelebat mundur dan menabrak batang pohon.

__ADS_1


Slap!


Tubuh Raja Akar Setan hilang begitu saja seperti masuk ke dalam pohon.


Sandaria kerutkan kening karena merasa heran. Ia lalu berjalan mengendap-endap mendatangi pohon tempat Raja Akar Setan menghilang. Ia tersenyum lebar.


Tak!


Setelah dekat, sambil cekikikan tanpa suara, Sandaria memukul batang pohon dengan tongkat kecil birunya.


Kuatnya pukulan itu membuat daun-daun pohon tersebut berguguran banyak. Yang terjadi hanya itu, tidak ada yang lain.


“Raja Akar Setan benar-benar sudah pergi,” ucap Sandaria kecewa.


Akhirnya Sandaria memilih melongok ke bawah, ke sungai, seolah sepasang matanya berfungsi.


Buk!


“Huk uhuk uhuk!” Sugigi Asmara terbatuk sambil mulutnya mengeluarkan air sungai, setelah perutnya dipukul kuat oleh Surya Kasyara yang kondisinya sama-sama kuyup.


Beruntung Surya Kasyara belum pernah belajar praktik napas buatan, sehingga tidak merugikan Sugigi.


“Syukurlah kau tidak mati, Sugigi. Jika kau mati, sulit mencari yang seperti dirimu lagi,” ucap Surya Kasyara.


“Maksudmu sulit mencari yang secantik aku?” tanya Sugigi sambil mengerenyit karena merasakan sakit pada tenggorokannya.


“Jika kalian sudah selesai, ayo kembali!” panggil Sandaria dari atas.


“Baik, Gusti Permaisuri!” sahut Surya Kasyara.


Surya Kasyara menarik tangan kanan Sugigi, membantunya bangun berdiri.


“Ak!” pekik Sugigi tertahan karena terkejut.


Setelah Sugigi berdiri, Surya Kasyara tiba-tiba mengangkat tubuh gadis berbodi indah itu bak sedang mengangkat pengantinnya menuju ranjang asmara.


Sugigi Asmara hanya mendelik, lalu tersenyum malu dengan kedua pipi bersemu merah. Ia memandangi wajah Surya Kasyara yang tampan.


Surya Kasyara melompat ke tanah atas. Di sana ia menurunkan Sugigi Asmara yang semakin kasmaran.


“Hihihi!” tawa Sandaria mengetahui tingkah kedua pengawalnya. Ia lalu melompat naik ke punggung Satria.


“Hihihi!” sambil tertawa cekikikan juga, Sugigi Asmara berlari mengejar serigala permaisurinya, setelah ia menyambar kerisnya yang tergeletak di tanah.

__ADS_1


“Aduh, kenapa daraku sar ser sar ser?” tanya Surya Kasyara dalam hati. Ia pun bergegas menyusul. (RH)


__ADS_2