
*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*
Di tanah tinggi. Di balik rumput ilalang ada tiga orang sedang duduk santai sambil memperhatikan ke jalan persimpangan tiga. Ketiga orang itu adalah Siluman Gendut, Domba Hidung Merah dan Sepa Maraga.
Sinar matahari pagi menyinari wajah dan tubuh mereka, ketika mereka sibuk mengamati para pendekar yang melakukan perjalanan pada pagi itu. Hitung-hitung berjemur untuk meningkatkan imun pada tubuh agar dapat aman saat virus datang menyapa.
Persimpangan besar itu memiliki dua arah untuk para pejalan kaki, yaitu arah menanjak yang menuju puncak Gunung Galang. Jalan mendaki yang menuju Gunung Galang, ada jalan pendek ke arah kiri menuju Gua Lolongan. Sementara jalan yang arahnya menurun, menuju ke Jurang Lolongan, tempat beradanya Perguruan Bukit Dalam pimpinan Ki Rawa Banggir alias Pendekar Ganesa Putih.
Sulit bagi kuda atau kendaraan lain untuk bisa sampai ke tempat itu karena rute sebelumnya memang sulit, tidak bisa dilalui kuda.
Karenanya, para pendekar yang muncul memiliki beberaga gaya saat melewati jalan itu. Ada yang berjalan santai seperti sedang wisata ke Puncak, ada yang berlari biasa seperti atlet marathon, dan ada yang berkelebat karena takut layanan di Gua Lolongan ditutup sebelum tengah hari.
Mereka tahu bahwa Gua Lolongan sudah ramai oleh para pendekar sejak subuh. Bahkan mereka tidak menyangka bahwa penyebaran isu “pusaka tanpa tanding” sukses besar. Salah satu tolok ukur kesuksesan itu adalah jumlah peminat yang datang melebihi dari perkiraan.
Di Gua Lolongan telah diutus Muni Kelalap untuk membuat kekacauan.
“Kau lihat orang tua berpakaian loreng hitam itu!” kata Domba Hidung Merah tanpa menunjuk.
Mereka bertiga memandang fokus kepada sosok kakek berpakaian warna corak kulit harimau, tetapi warna corak lorengnya hitam dan putih. Kakek beralis putih tapi panjang itu mengenakan kain penutup kepala warna hitam. Ia berjalan sendirian menuju persimpangan tiga yang salah satu sisinya adalah tebing batu.
“Orang itu bernama Datuk Kramat, julukannya Siluman Harimau Hitam. Dia gampang marah. Kemarahannya bisa membunuh siapa saja,” kata Domba Hidung Merah selaku sesama tokoh tua.
“Tapi, Siluman Harimau Hitam bukan orang Kerajaan Siluman?” tanya Siluman Gendut.
“Bukan. Dia tokoh aliran putih dari Tanah Andalas. Cepat, dia sepertinya tidak menuju Gua Lolongan!” kata Domba Hidung Merah.
“Ayo, Sepa!” ajak Siluman Gendut, lalu menolakkan kakinya dan tubuhnya berkelebat cepat di udara. Tubuh gendut tidak menghalanginya untuk bertindak lincah.
Sepa Maraga cepat berkelebat meyusul, meninggalkan Domba Hidung Merah sendirian.
Pergerakan Siluman Gendut dan pengawalnya dari sisi atas, menarik perhatian Datuk Kramat dan sejumlah orang persilatan yang sedang melakukan perjalanan mendaki.
Selain Siluman Harimau Hitam, di jalanan itu juga ada Empat Kapak Loreng yang sudah tidak berkuda lagi.
Ada pula sekelompok lelaki berseragam baju hijau celana hitam, berikat kepala hijau. Mereka masing-masing membawa pedang. Mereka adalah murid-murid Perguruan Pedang Kilat yang dipimpin oleh Kudapaksa. Atas perintah gurunya, mereka ditugaskan untuk merebut pusaka tanpa tanding tersebut untuk dijadikan pusaka perguruan. Mereka sudah melewati persimpangan dan menuju ke arah Gunung Galang.
“Siluman Harimau Hitam!” teriak Siluman Gendut saat masih di udara.
Jleg!
__ADS_1
Siluman Gendut mendarat di depan Siluman Harimau Hitam yang sudah cenderung menghadap ke arah jalan menurun. Menyusul Sepa Maraga yang mendarat di sisi si gendut.
Siluman Harimau Hitam tidak menyahut. Dia hanya memandang dengan tajam dua orang yang tidak dikenalnya itu.
Penghadangan itu membuat Kudapaksa yang sudah hendak meninggalkan persimpangan itu, jadi berhenti melangkah. Ia dan murid-murid bawahannya jadi balik badan untuk menyaksikan sengketa yang baru dimulai.
“Serahkan pusaka itu, Datuk Kramat!” perintah Siluman Gendut seenak gendutnya, sambil menadahkan tangannya ke arah si kakek.
“Grrr!”
Terdengar samar Datuk Kramat menggeram dengan hidung sedikit mengerut, menunjukkan kemarahannya yang mulai muncul.
“Siapa kalian, Kisanak?” tanya Datuk Kramat pelan dengan suara serak yang kental.
“Kau tidak perlu tahu kami siapa, tapi kami tahu bahwa kau telah memegang pusaka tanpa tanding itu. Kau bersikap diam-diam agar tidak ada yang mencurigaimu. Serahkan pusaka tanpa tanding itu!” tuding Siluman Gendut dengan nada keras, sehingga Empat Kapak Loreng dan orang-orang Perguruan Pedang Kilat mendengarnya.
“Pusaka tanpa tanding!” sebut Kudapaksa terkejut.
“Kakang Rong Bale, pusaka tanpa tanding ada pada orang tua itu!” kata Rong Gawe kepada lelaki tertua di antara Empat Kapak Loreng.
“Ayo! Kita rebut dari orang tua itu!” ajak Rong Bale lalu berjalan duluan ke arah ketegangan di persimpangan.
Rong Sate, Rong Gawe dan Rong Jahe mengikuti pimpinannya.
“Jika kau tidak serahkan pusaka tanpa tanding itu, maka kami akan merebutnya secara paksa!” teriak Siluman Gendut pula tidak kalah keras.
Sementara Sepa Maraga sudah mencabut pedangnya tanda siap bertarung.
“Grrr!” geram Datuk Kramat, lalu tanpa menengok ia melirik kepada kedatangan Empat Kapak Loreng.
“Orang Tua! Serahkan pusaka itu!” seru Rong Sate sambil menunjuk Datuk Kramat dengan ujung kapaknya.
Datuk Kramat tidak mengindahkan Rong Sate, ia tetap fokus kepada Siluman Gendut.
“Entah kau suruhan siapa, Kisanak? Tidak ada orang muda yang tahu nama asliku selain kalangan tua. Aku simpulkan kau sengaja memfitnahku!” teriak Datuk Kramat gusar kepada Siluman Gendut. “Grraurr!”
Sambil mengaum seperti harimau sungguhan, tiba-tiba Datuk Kramat melesat maju kepada Siluman Gendut dengan kedua tangan hendak mencakar dari kanan dan kiri secara bersamaan, padahal tidak terlihat bahwa Datuk Kramat memiliki kuku yang panjang.
Daks!
“Grraurr!”
__ADS_1
Tanpa berpindah dari tempat berdirinya, Siluman Gendut menangkis kedua batang tangan Datuk Kramat dengan kedua batang tangannya. Dua tenaga sakti beradu. Wajah Siluman Gendut mengerenyit menahan kuatnya tenaga dalam si kakek.
Pada saat itu, Datuk Kramat mengaum keras. Suara aumannya tidak murni suara orang lagi, tetapi terdengar menggema keras seperti suara harimau asli. Dari auman itu keluar gelombang tenaga hebat yang langsung menghantam tubuh depan Siluman Gendut.
“Huakhr!” pekik Siluman Gendut saat tubuhnya terlempar ke belakang naik ke udara, dengan kepala mendongak menyemburkan darah kental.
Blugk!
Punggung Siluman Gendut menghantam bumi dengan keras. Ia tidak menyangka lawan tuanya sedemikian hebat.
Sementara Sepa Maraga sudah melompat maju dengan kibasan pedang ala tukang sate.
“Pendekar rendahan seperti ini berani-beraninya memfitnahku!” teriak Datuk Kramat sambil menabrakkan tubuh tuanya kepada serangan pedang Sepa Maraga.
Alangkah terkejutnya Sepa Maraga saat pedangnya jadi tumpul saat mengenai badan Datuk Kramat. Dan tahu-tahu lima jari keras si kakek sudah mencekik leher Sepa Maraga.
Datuk Kramat mengangkat tinggi tanganya membuat Sepa Maraga terangkat kelabakan, terlebih ujung kakinya sampai tidak menyentuh tanah.
Bdak!
Tubuh Sepa Maraga dibanting keras ke tanah. Begitu kerasnya karena mengandung tenaga dalam tinggi, Sepa Maraga sampai terbatuk yang menyemburkan darah.
Set! Set!
Ketika Datuk Kramat hendak mengeksekusi Sepa Maraga, dua buah kapak melesat berputar-putar di udara mengincar leher Datuk Kramat.
Si kakek terpaksa berputar dengan gaya membungkuk, membiarkan dua kapak itu menebas angin di atas tubuhnya.
Sementara Sepa Maraga buru-buru berguling menjauhi Datuk Kramat. Di sisi lain, Siluman Gendut yang langsung terluka dalam cukup parah, sudah berdiri lagi.
“Serang!” teriak Rong Bale berkomando kepada saudara-saudaranya.
Empat Kapak Loreng serentak maju mengeroyok Datuk Kramat.
Sementara itu di tanah tinggi, tempat Domba Hidung Merah bersembunyi di balik rumput ilalang.
Seorang lelaki berbaju hitam tanpa lengan datang kepadanya. Dia adalah salah seorang anggota Kelompok Tinju Dewa pimpinan Siluman Gendut.
“Lapor, Pendekar. Pendekar Muni Kelalap jatuh ke jurang di Gua Lolongan!” lapor utusan itu.
“Apa?! Kekasihku tercinta!” pekik Domba Hidung Merah terkejut. Perasaannya seketika berduka dan berpengaruh pada ekspresi wajah tampan tuanya. Wajahnya mewek, tapi tidak berair mata.
__ADS_1
Swap!
Tiba-tiba sosok Domba Hidung Merah menghilang dari tempatnya seperti setan panik. Utusan dari Gua Lolongan itu hanya terperangah bengong. (RH)