
*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*
Senja itu, Prabu Dira Pratakarsa Diwana melakukan pertemuan darurat di Aula Sanggana Perkasa. Semua istri Joko Tenang wajib hadir. Para pejabat hingga tingkat kepala desa juga hadir.
Sidang diadakan senja itu juga agar keputusan yang mendesak bisa dilaksanakan besok.
“Aku sangat menghargai nyawa keluargaku, sahabatku, prajuritku, dan rakyatku. Meski kita menang, tetapi kematian tiga puluh sembilan pendekar dan sebelas prajurit menurutku satu kerugian yang besar. Namun, tidak dipungkiri, pasukan pendekar Kerajaan Siluman memiliki kesaktian di atas rata-rata pasukan pendekar kita. Sangat tidak menutup kemungkinan bahwa serangan yang lain akan datang tiba-tiba. Aku menginginkan wilayah Sanggana Kecil memiliki benteng pertahanan yang tidak hanya ada di benteng Istana, tetapi juga sistem pertahanan di perbatasan. Jika kembali ada serangan, kita bisa menderita korban sesedikit mungkin. Bagaimana pendapat kalian?” tutur Joko Tenang kepada para permaisuri dan pejabatnya.
“Izinkan hamba bicara, Kakang Prabu!” kata Tirana lebih dulu menyambut bola lemparan Joko Tenang.
“Silakan, Permaisuri Penjaga!” perintah Joko Tenang.
“Kakang Prabu dan aku sudah sama-sama menyaksikan seperti apa Negeri Jang. Permaisuri Yuo Kai yang pernah menjadi orang nomor dua di Negeri Jang pasti mengerti cara membangun sistem pertahanan,” kata Tirana.
“Bagaimana, Permaisuri Negeri Jang?” tanya Joko Tenang.
“Kemunculan pasukan Kerajaan Siluman yang tiba-tiba menunjukkan bahwa kita lemah di pasukan teliksandi. Bisa leluasanya pasukan musuh memasuki wilayah kita menunjukkan pasukan militer kita masih sangat lemah. Kita tidak memiliki benteng perbatasan. Karena itulah Gusti Ratu membuat strategi menyambut pasukan pertama di depan benteng Istana. Aku menilai itu sangat berbahaya. Untuk menguatkan keamanan wilayah kerajaan kita, benteng perbatasan harus dibangun di sepanjang perbatasan yang mengelilingi Sanggana Kecil. Sistem tanda pengenal pun harus diadakan agar semua orang yang masuk ke dalam wilayah Sanggana bisa terkenali. Untuk Lereng Tiga Mata yang menjadi pintu besar menuju Istana, di sana harus dibangun sistem senjata rahasia untuk kondisi peperangan seperti hari ini. Dengan demikian, kita tidak perlu menggunakan kekuatan pasukan untuk mengubur satu pasukan besar. Aku rasa itu bisa dibuat, karena kita memiliki ahli rancang yang sangat baik,” papar Yuo Kai.
“Tapi itu akan membutuhkan banyak tenaga kerja, biaya dan waktu yang lama,” kata Joko Tenang.
“Benar. Menjadi tantangan bagi Kakang Prabu untuk memenuhi itu semua jika ingin mewujudkan pertahanan wilayah yang kuat,” kata Yuo Kai.
“Izinkan hamba bicara, Kakang Prabu!” izin Ratu Getara Cinta.
“Silakan, Ratu,” kata Joko Tenang.
“Sanggana Kecil memang masih kecil, tetapi Kakang Prabu juga adalah raja dari Kerajaan Balilitan yang kaya. Dan ada dua kerajaan sahabat, yaitu Baturaharja dan Tarumasaga. Jika Kakang Prabu tidak mau menggunakan kekayaan Balilitan, maka bisa dengan cara meminjam atau berutang, karena kita baru mulai merintis penambangan yang kita miliki. Untuk tenaga pembangunan, kita bisa mengalihtugaskan para prajurit di masa tanpa perang. Pekerjaan membangun itu bisa dijadikan sebagai masa latihan untuk memperkuat fisik mereka. Atau, kita bisa membuka lapangan pekerjaan untuk para pekerja dari tiga kerajaan, tapi kita menjamin keamanan mereka,” tutur Ratu Getara Cinta.
“Baik… baik,” ucap Joko Tenang sambil manggut-manggut di singgasananya, layaknya seorang raja. Lalu panggilnya, “Juga Maraya!”
“Hamba, Gusti Prabu!” jawab seorang lelaki bertubuh agak pendek berjidat lebar, seolah menunjukkan bahwa otak miliknya lebih besar dari otak manusia kebanyakan. Lelaki yang sudah berusia sekitar enam puluh tahun itu adalah perancang bangunan yang dimiliki Kerajaan Sanggana, namanya Juga Maraya. Ia arsitek unggul yang dikirim dari Kerajaan Sanggana di Hutan Urat Dewa.
“Apakah kau bisa merancang benteng kuat untuk perbatasan dan sistem persenjataan rahasia di Lereng Tiga Mata?” tanya Joko Tenang.
“Bisa. Hanya, hamba bertanya. Untuk benteng perbatasan, apakah Gusti Prabu masih berniat untuk memperluas wilayah Sanggana Kecil atau tidak? Sebab, perbatasan di barat terlalu dekat dengan Istana,” kata Juga Maraya.
“Di luar dari perbatasan barat adalah termasuk wilayah Baturaharja yang tidak terjaga, tetapi aku pun tidak mau mengambil wilayah itu tanpa sepengetahuan Prabu Banggarin,” kata Joko Tenang.
“Izinkan hamba bicara, Gusti Prabu!” izin Mahapatih Turung Gali.
__ADS_1
“Silahkan, Mahapatih!”
“Kita sudah berjasa mengembalikan tahta Baturaharja kepada Prabu Banggarin. Aku rasa jika kita meminta sepetak tanah yang terbengkalai di luar perbatasan kita, Prabu Banggarin tidak akan keberatan. Gusti Prabu cukup mengirim utusan untuk meminta wilayah itu dengan baik-baik, demi menjauhkan perbatasan dari pusat pemerintahan Sanggana Kecil,” kata Mahapatih Turung Gali.
“Kau benar, Mahapatih. Aku memerintahkan Mahapatih segera berangkat ke Baturaharja untuk meminta wilayah itu dengan baik-baik. Mahapatih bisa berangkat setelah menyelesaikan pembagian hadiah bagi para prajurit dan pendekar. Namun, jika Prabu Banggarin tidak berkenan, jangan memaksanya. Kita terpaksa membangun perbatasan dengan kondisi yang ada,” perintah Joko Tenang.
“Baik, Gusti Prabu,” ucap Turung Gali.
“Aku minta Permaisuri Negeri Jang segera merancang sistem tanda pengenal lalu laporkan kepadaku nanti!” perintah Joko Tenang.
“Baik, Kakang Prabu. Sebagai awal, sistem tanda pengenal itu nanti bisa diterapkan di lingkungan Istana terlebih dahulu. Setelah dinilai bagus, maka bisa diterapkan lebih luas,” kata Yuo Kai.
“Juga Maraya, aku minta kau diskusikan rancanganmu dengan Ratu dan Permaisuri Negeri Jang!” perintah Joko Tenang.
“Baik, Gusti Prabu,” ucap Juga Maraya.
“Aku sudah menjanjikan akan ada kesaktian wajib bagi para pendekar dan prajurit Sanggana Kecil. Tugas ini akan aku berikan kepada Permaisuri Mata Hijau. Usulan apa yang kau miliki, Permaisuri?” kata Joko Tenang.
“Prajurit pendekar akan aku ajari satu ilmu yang mumpuni untuk meningkatkan kesaktian mereka. Adapun bagi para prajurit, aku akan meminta salah satu atau dua dari Pengawal Bunga yang mau menurunkan ilmunya kepada para prajurit,” jawab Kerling Sukma.
“Baik,” ucap Joko Tenang.
“Silakan, Permaisuri Mata Hati!”
“Hari semakin senja. Para prajurit Kerajaan Siluman harus segera dipilah-pilah, memastikan bahwa mereka yang berada di luar penjara adalah para prajurit yang tidak punya niatan memberontak,” ujar Nara.
“Aku mengerti, Permaisuri. Aku minta Permaisuri Mata Hati pergi sekarang juga untuk memilah para prajurit yang seharusnya dipenjara!” perintah Joko Tenang.
“Baik, Kakang Prabu,” ucap Nara patuh.
“Permaisuri Asap Racun, damping Permaisuri Guru!” perintah Joko Tenang lagi.
“Baik, Kakang Prabu,” ucap Sri Rahayu patuh.
“Aku ikut!” teriak Sandaria tiba-tiba sambil bangun dari duduknya.
“Kalian berdua dampingi Permaisuri Guru!” kata Joko Tenang.
“Baik, Kakang Prabu!” ucap Sri Rahayu dan Sandaria.
__ADS_1
Ketiga permaisuri itu lalu menjura hormat kepada Joko Tenang. Mereka pergi meninggalkan sidang tersebut.
“Adipati Ririn Salawi!” sebut Joko Tenang.
“Hamba, Gusti Prabu,” sahut Ririn Salawi.
“Persiapkan orang-orangmu untuk melakukan penebangan pohon sonokeling. Kita mendapat banyak pesanan dari Prabu Banggarin!” perintah Joko Tenang.
“Baik, Gusti Prabu,” ucap Ririn Salawi patuh.
“Untuk sementara cukup sampai di sini pertemuan ini!” kata Joko Tenang. (RH)
*****************
Daftar Gratis dan Ikhlas
DICARI nama Readers untuk karakter novel komedi fantasi "Petualangan ke 100 Negeri".
Sebagai bentuk apresiasi Author kepada para READERS novel Sanggana, Author akan memakai nama readers yang mau dan ikhlas tanpa pamrih namanya dijadikan sebagai tokoh/karakter dalam novel tersebut.
Lima karakter utama pertama:
Tokoh 1 \= Siswi kelas 2 SMP, cantik tapi bertubuh kurus, dan punya penyakit suka salah kata.
Tokoh 2 \= Siswi kelas 2 SMP, gemuk dan sahabat karib Tokoh 1.
Abu Hilal Al Nur \= Siswa kelas 2 SMP, gagap dan sahabat kental Tokoh 1 dan Tokoh 2.
Alexander Wijaya \= Pria cebol Negeri Kaluda yang suka bohong.
Rudi Hendrik \= Kepala Sekolah yang genit.
Tokoh bantu 1 \= ibu dari Tokoh 1
Tokoh bantu 2 \= Kepala Desa Waykutuk
Tokoh bantu 3 \= Ibu Guru PPKn
Silakan bagi Readers yang namanya mau diabadikan di dalam novel Author. Yang tercepat dan sesuai kriteria, dialah yang akan Author terima. TERIMA KASIH.
__ADS_1