
*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*
“Hihihi …!” tawa Sandaria setelah Pendekar Raja Kawin dan para istrinya meninggalkan taman Istana.
“Kenapa kau tertawa, Permaisuri Serigala?” tanya Joko Tenang.
“Beruntung si Raja Kawin itu bertemu dengan si Dewa Kawin,” jawab Sandaria.
“Maksudmu aku yang Dewa Kawin?” terka Joko Tenang.
“Iya. Hihihi …!” jawab Sandaria lalu tertawa cekikikan yang diiringi oleh tawa sang ratu.
“Hahaha!” tawa Joko Tenang.
“Jika tidak ada Kakang Prabu, pasti sudah aku kebiri si Raja Kawin kurang ajar itu!” geram Sandaria.
“Hihihi!” tawa Ratu Lembayung Mekar.
“Bagaimana bisa dia senekat itu, Ratu sayangku?” tanya Joko Tenang kepada Ratu Lembayung Mekar sambil memegang punggung tangan sang ratu.
Alangkah bahagianya hati Ratu Lembayung mendapat sentuhan yang telah libur beberapa hari.
“Senggara Bolo adalah lelaki yang sangat jatuh hati kepadaku sejak lama, bahkan sebelum aku dipersunting oleh mendiang Prabu Galang Madra. Rupanya dia hanya mendengar kematian Prabu Galang Madra tanpa mendengar pernikahan kita, Kakang Prabu. Tapi, kenapa dia sampai senekat itu menerima tantangan Kakang Prabu?”
“Karena dia merasa yakin Kakang Prabu akan mati diracun,” celetuk Sandaria yang membuat Ratu Lembayung Mekar terkejut.
“Hah! Maksud Permaisuri, Kakang Prabu diracun oleh Senggara Bolo?” tanya sang ratu.
“Raja Kawin seharus tidak meremehkan orang buta. Dia mengalirkan gelombang racun yang sangat halus lewat lantai ketika ia bersujud lama. Dia pikir akan bisa membunuh Kakang Prabu dengan cara itu. Makanya dia berani menerima tantangan,” jelas Sandaria. “Dia tidak tahu bahwa Kakang Prabu kebal terhadap racun.”
“Hahaha!” Joko Tenang hanya tertawa mendengar penjelasan Sandaria.
“Kakang Prabu tahu kalau Senggara mengirim racun?” tanya Ratu Lembayung Mekar dengan tatapan serius.
Joko Tenang hanya mengangguk sambil tersenyum kepada sang ratu.
“Jika Kakang Prabu tahu, kenapa tidak langsung membunuhnya tadi?” tanya sang ratu bernada geram.
“Jika aku langsung membunuhnya tanpa bukti kesalahannya, orang-orang akan menilaiku kejam dan jahat. Aku sengaja membiarkannya. Biarkan dia beranggapan bahwa perbuatan liciknya berhasil. Besok dia akan kehilangan semuanya,” jelas Joko Tenang.
“Itu berarti, Kakang Prabu besok akan memiliki kelima istri Senggara Bolo?” tanya Ratu Lembayung Mekar.
“Hahaha …!” tawa Joko Tenang agak panjang, membuat sang ratu kian merengut.
“Kakang Prabu tidak akan memperistri mereka, karena tinggal satu wanita yang akan Kakang Prabu nikahi nanti, yaitu Ginari.” Sandaria membantu menjawab agar suaminya itu tidak menjawab lain.
__ADS_1
“Seperti yang dilakukan oleh Ayahanda Anjas. Ayahanda telah membunuh Prabu Raga Sata, sebagai tanggung jawabnya karena telah mengambil nyawa seorang suami, maka ia menikahi Ratu Sri Mayang Sih,” kata Joko Tenang.
“Aku tidak mau. Aku akan menangis jika Kakang Prabu melakukan itu!” ancam Sandaria sambil merengut imut menggemaskan.
“Hahaha …!” tawa Joko Tenang sambil merangkulkan tangan kirinya kepada bahu Sandaria, lalu menariknya agar permaisuri mungil itu bersandar kepadanya. “Tidak, tidak akan aku lakukan. Aku akan tetap bertanggung jawab atas hidup mereka karena aku telah merenggut suami mereka.”
“Kakak Ratu, Kakang Prabu datang hari ini untuk membicarakan perkara penting dengan Kakak Ratu dan para pejabat Balilitan,” ujar Sandaria.
“Perkara penting?” ucap ulang Ratu Lembayung Mekar dengan tatapan serius kepada sang suami.
“Benar,” ucap Joko Tenang pula.
“Tenang saja, Kakak Ratu. Aku tidak akan mengganggu malammu bersama Kakang Prabu. Mungkin hanya sedikit menguping. Hihihi …!” ucap Sandaria lalu tertawa cekikikan.
Mendeliklah Ratu Lembayung Mekar mendengarnya. Sementara Joko Tenang hanya tertawa.
Maka hari itu juga, Ratu Lembayung Mekar mengumpulkan para pejabatnya secara mendadak.
Namun, sebelum pertemuan itu dimulai, seorang pejabat dan seorang pemuda dihadapkan di depan Joko Tenang dan kedua istrinya. Si pemuda tidak lain adalah Agung Jarak, anak pejabat Kerajaan yang sempat berseteru dengan Pendekar Raja Kawin. Adapun pejabat yang dihadapkan adalah seorang lelaki separuh baya, berpakaian bagus layaknya seorang pejabat. Lelaki bertubuh gemuk itu bernama Tangkut Gena yang menjabat sebagai Menteri Keuangan Kerajaan.
Bapak dan anak itu menghadap dengan wajah memelas memohon pengampunan. Di belakangnya berdiri Gada Kalang, Komandan Pasukan Panah Kerajaan Balilitan. Dia yang memimpin pasukan panah ketika menjebak kedua istri Senggara Bolo. Apa yang terjadi kepada Tangkut Gena sebagai pejabat tinggi dan penting, disaksikan oleh semua pejabat.
“Ampuni hamba, Gusti Prabu. Hamba berjanji tidak akan mengulanginya lagi!” ucap Tangkut Gena memelas sambil turun bersujud.
Di saat sang ayah bersujud minta pengampunan, Agung Jarak memilih tetap berlutut. Mengetahui putranya tidak turut bersujud, marahlah Tangkut Gena. Ia lalu menegakkan punggungnya lagi dan memukuli kepala putranya.
“Hentikan, Tangkut Gena!” seru Ratu Lembayung Mekar.
Tangkut Gena pun menghentikan tindakannya.
“Ayo bersujud!” perintah Tangkut Gena kepada putranya, sambil tangan kanannya menekan kepala Agung Jarak agar bersujud.
Akhirnya Agung Jarak yang memendam amarah bersujud paksa. Menyusul ayahnya pun kembali bersujud.
“Kami mohon, Gusti Prabu, Gusti Ratu, ampuni nyawa kami!” ucap Tangkut Gena.
“Tangkut Gena!” sebut Joko Tenang.
“Hamba, Gusti Prabu!” sahut Tangkut Gena.
“Perintah kalian berdua terhadap pasukan panah membuat banyak dari prajurit panah itu tewas dan terluka. Di tambah tewasnya salah satu istri dari tamuku hari ini,” kata Joko Tenang. “Kematian istri tamu Kerajaan sungguh membuat malu Keluarga Kerajaan.”
“Ampuni hamba, Gusti Prabu. Hamba sungguh menyesal. Ampuni hamba!” ucap Tangkut Gena lagi sambil menangis ketakutan.
“Hukum di tanganku tidak pandang bulu dan tidak tebang pilih. Menurut hukum Kerajaan Balilitan, perbuatan yang sengaja menggunakan prajurit Kerajaan bukan untuk kepentingan Kerajaan, maka hukumannya lima tahun penjara. Namun, jika perbuatan tersebut sampai mengorbankan nyawa prajurit, maka terancam hukuman pancung!”
Terkejutlah Tangkut Gena dan kali ini Agung Jarak pun turut terkejut.
__ADS_1
“Ampuni hamba, Gusti Prabu! Jangan hukum pancung hamba. Hamba bersedia dipenjara asalkan jangan bunuh hamba!” ucap Agung Jarak sambil sujud, ia menangis ketakutan.
“Menteri Keuangan Kerajaan,” sebut Joko pelan.
“Hamba, Gusti Prabu,” jawab Tengkut Gena dengan suara bergetar.
“Sumber pembuat masalah ini adalah putramu. Namun, sebagai seorang ayah, seharusnya kau bisa mencegahnya, tetapi kau justru memanfaatkan kuasamu untuk mendukung rencana jahat putramu. Jadi, aku nilai sama kejahatan kalian berdua. Sudah jelas, sesuai hukum Kerajaan Balilitan, kalian harus dihukum pancung!” tandas Joko Tenang.
“Tidak! Jangan lakukan itu, Gusti Prabu! Aku yakin Gusti Prabu adalah raja yang bijak. Pasti ada pertimbangan lain, Gusti Prabu. Jangan hukum pancung kami berdua!” teriak Tengkut Gena penuh tangis serta menunjukkan wajah dan sikap memelas.
“Hamba juga tidak mau mati, Gusti Prabu. Hamba masih muda, kasihan ibu hamba!” ratap Agung Jarak pula.
Berulang kali keduanya mengangkat wajah lalu bersujud lagi.
“Untukmu, Tengkut Gena. Kebijaksanaanku akan mengalahkan hukum yang sudah terpatri. Hari ini kau melakukan pelanggaran berat. Namun, aku mendengar bahwa kau adalah pejabat yang sudah mengabdi dan berjasa selama tiga puluh tahun. Sangat sedikit keluhan tentang dirimu untuk perkara keuangan Kerajaan. Maka aku mengambil kebijakan untukmu, yaitu membatalkan hukuman pancung yang seharusnya ….”
“Terima kasih, Gusti Prabu. Terima kasih!” ucap Tengkut Gena girang sambil tersenyum dalam tangisnya.
“Jangan senang dulu, karena aku akan memberimu hukuman yang tetap berat,” kata Joko Tenang.
“Iya … iya,” ucap Tengkut Gena terdiam.
“Aku memberimu dua pilihan. Penjara sepuluh tahun, tapi Istana yang akan membayar ganti nyawa para prajurit yang tewas kepada keluarganya. Atau kau bayar denda kepada Kerajaan, segala fasilitas yang diberikan Kerajaan kepada keluargamu akan ditarik, seluruh harta yang kau miliki harus diberikan semuanya kepada keluarga prajurit yang mati, kecuali rumah dan tanah. Pilihlah!” ujar Joko Tenang.
“Hamba memilih menjadi miskin, Gusti Prabu,” jawab Tengkut Gena.
“Kau yakin?” tanya Joko Tenang lagi.
“Hamba yakin, Gusti Prabu. Apalah gunanya kekayaan jika tidak ada kebebasan. Harta yang habis, masih bisa dikumpulkan jika hamba hidup bebas,” kilah Tengkut Gena.
“Baik. Aku tetapkan, mulai hari ini kau diberhentikan dari jabatanmu sebagai Menteri Keuangan Negara. Setelah ini, selesaikan perkaramu,” kata Joko Tenang. “Dan kau, Agung Jarang!”
“Hamba, Gusti Prabu,” jawab Agung Jarak dengan jantung berdebar-debar.
“Kau tidak memiliki riwayat jasa dan kebaikan kepada Kerajaan. Namun, karena mengingat jasa-jasa ayahmu, aku tidak akan menjatuhkan hukuman pancung. Maka tidak ada pilihan, kau dipenjara selama sepuluh tahun!”
“Terima kasih, Gusti Prabu!” ucap Agung Jarak, pasrah, tapi masih untung.
“Dan kau, Gada Kalang!” sebut Joko Tenang sambil memandang kepada Komandan Pasukan Panah.
Terkejutlah Gada Kalang. Ia langsung sadar bahwa ia juga pasti mendapat hukuman. Ia buru-buru turun menyembah.
“Ampuni hamba, Gusti Prabu!” ucap Gada Kalang.
“Jebloskan dirimu sendiri ke penjara selama satu tahun!” perintah Joko Tenang.
“Terima kasih, Gusti Prabu!” ucap Gada Kalang pasrah, karena itu hukuman yang tergolong ringan dan masih untung.
__ADS_1
“Prajurit, bawa Agung Jarak dan Gada Kalang ke penjara!” perintah Joko Tenang. (RH)