8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Perjaka 22: Gempar Sambut Duel


__ADS_3

*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*


Usai melakukan pertemuan khusus dengan Ratu Lembayung Mekar dan para pejabat Kerajaan Balilitan yang ada di Ibu Kota, Joko Tenang menjabarkan tentang perkara duel besok pagi di alun-alun.


Agar duel besok pagi berlangsung meriah dan lebih spektakuler, maka Joko Tenang memerintahkan menyebar pengumuman menjelang sore hari. Di beberapa sudut Ibu Kota yang menjadi pusat massa, diumumkan kepada rakyat bahwa besok akan ada duel big fight antara Prabu Dira Pratakarsa Diwana melawan Pendekar Raja Kawin. Diumumkan pula bahwa pemenangnya akan memiliki Ratu Lembayung Mekar.


Maka gemparlah seisi Kerajaan dan Ibu Kota. Rupanya pengumuman itu membuat banyak warga marah. Mereka marah kepada orang yang bernama Pendekar Raja Kawin, karena menganggapnya melanggar tata krama budaya negeri Balilitan.


Bukan hanya rakyat Ibu Kota yang marah, para pejabat Kerajaan Balilitan juga mengungkapkan kemarahannya di depan Raja dan Ratu.


“Orang itu sudah terlalu kurang ajar, Gusti Prabu. Izinkan hamba untuk menangkap dan menggantungnya di tengah alun-alun!” berang Mahapati Tarik Sewu saat masih dalam pertemuan dengan Joko Tenang.


Pembahasan tentang Pendekar Raja Kawin itu juga berlangsung di depan kedua pangeran, yaitu Pangeran Barasungka dan Pangeran Tajilingga. Mereka berdua tidak bersuara sedikit pun jika tidak ditanya atau disinggung.


Namun, kedua pangeran sempat salah tingkah ketika kondisi batin mereka terdeteksi oleh Permaisuri Sandaria.


“Siapa kedua orang itu, Kakak Ratu?” tanya Sandaria sambil menunjuk ke arah kedua pangeran.


“Mereka adalah kedua pangeranku. Pangeran Barasungka dan Pangeran Tajilingga,” jawab Ratu Lembayung Mekar.


“Sejak kita membahas Pendekar Raja Kawin yang kurang ajar itu, kedua pangeran berubah gelisah,” ujar Sandaria.


Deg!


Terkejutlah kedua pangeran kakak adik itu. Sepasang mata mereka agak melebar dan tubuhnya yang awalnya diam, tiba-tiba berubah salah tingkah.


“A-apa maksud, Gusti Permaisuri?” tanya Pangeran Barasungka agak tergagap.


“Ada apa dengan kalian berdua, Pangeran?” Justru Ratu Lembayung yang balik bertanya kepada kedua putranya itu.


“Aku baik-baik saja, Ibunda Ratu,” jawab Pangeran Barasungka.


“Aku pun demikian!” tandas Pangeran Tajilingga dengan gerak mata yang sedikit goyah.


“Tapi kondisi kalian tidak bisa membohongi Permaisuri Sandaria!” kata sang ibu pula.


“Aku rasa tidak perlu mempermasalahkan suasana hati keduanya. Kita tidak bisa tahu apa yang mereka sedang alami. Mungkin ada permasalahan lain yang sedang mereka tangani,” kata Joko Tenang menengahi.


Karena itulah, kedua pangeran selamat dari tekanan dan kecurigaan ibunya. Kedua pangeran hanya bisa marah-marah ketika kembali ke kediamannya.


Namun, Joko Tenang berpesan kepada Ratu Lembayung Mekar ketika mereka berdua berada di atas ranjang pada malam harinya.


“Kedua putramu jelas menyembunyikan sesuatu. Permaisuri Sandaria tidak akan mempermasalahkannya jika itu sesuatu yang wajar. Aku khawatir itu berkaitan dengan tahta. Kau lebih tahu, Sayang. Jadi kau harus hati-hati, meskipun keduanya adalah putramu,” ujar Joko Tenang.


“Iya, Kakang Prabu.”

__ADS_1


Pagi harinya, ribuan prajurit bergerak keluar dari benteng Istana dengan barisan yang rapi dan teratur. Mereka berbekal dengan persenjataan yang lengkap. Tujuan mereka hanya satu, yaitu memagari alun-alun dengan rapat.


Melihat pergerakan pasukan itu, warga Ibu Kota jadi ramai hadir ke alun-alun. Pasar yang biasanya digelar, diliburkan untuk sementara. Warga Ibu Kota langsung ingat bahwa pagi itu akan ada pertarungan memperebutkan Ratu Lembayung Mekar.


Dalam waktu singkat, sebagian besar warga sudah memadati sisi luar alun-alun yang luas. Keberadaan pagar betis para prajurit membuat mereka tertahan.


Sejumlah pejabat Kerajaan datang dengan menunggangi kudanya masing-masing. Mereka memasuki alun-alun melalui satu-satunya pintu manusia yang diciptakan oleh pasukan pengaman. Setelah itu, mereka hanya diam menunggu di atas kudanya sambil berbincang antar sesama pejabat.


Tidak lama berselang, kedua pangeran Kerajaan Balilitan muncul pula dengan mengendarai kuda. Mereka masuk ke alun-alun dan berkumpul bersama sesama keluarga Istana. Sementara pejabat tingkat menengah atau rendah dan anggota keluarga pejabat tinggi dilarang masuk ke dalam alun-alun.


Semakin lama warga Ibu Kota semakin berjubel di luar alun-alun. Sebegitu maraknya warga ibu kota Jayangga yang ingin menyaksikan pertarungan Prabu Dira melawan Pendekar Raja Kawin, menuntut Senopati Langgapati untuk mengerahkan seribu pasukan lagi guna menambah lapis pagar betis alun-alun.


“Lihat, kereta kuda Pendekar Raja Kawin sudah datang!” teriak seorang warga yang mengenali kereta kuda mewah Pendekar Raja Kawin.


Teriakan itu seketika membuat warga yang sudah berkerumun jadi ramai bersuara, karena mereka sangat ingin melihat seperti apa rupa Pendekar Raja Kawin. Dari namanya saja sudah bikin penasaran, seganteng siapa sih penantang Prabu Dira itu. Namun sayang, mereka hanya bisa melihat kereta kudanya yang megah.


Dengan cukup rusuh, warga berebut bergerak ke arah dekat pintu masuk alun-alun. Dorong-dorongan warga tidak bisa dihindari demi melihat dari dekat kereta kuda milik Pendekar Raja Kawin. Sampai-sampai sejumlah warga terjepit kakinya dan terinjak harga dirinya. Namun, tetap saja para warga hanya bisa melihat wajah Tambing, kusir kereta kuda Senggara Bolo.


“Waaah! Mewahnya!” desah seorang warga.


“Kereta kuda roda empat? Hebaaat!” ucap warga yang lain.


“Benar-benar orang kaya!”


“Wah, sayang, pendekarnya tidak terlihat!”


“Ya Gusti Prabu Dira dong!” jawab tetangganya haqqul yaqin.


Itulah segelintir komentar warga yang menyaksikan kereta kuda Pendekat Raja Kawin berlalu di depan mata mereka, sehingga kemudian memasuki alun-alun. Di dalam alun-alun ternyata ada prajurit yang bertugas jadi tukang parkir, sehingga sais dituntun untuk parkir di titik mana.


Semua mata, baik yang dekat atau yang jauh, mengarah kepada kereta kuda.


“Tambing, apakah Prabu Dira sudah datang?” tanya Senggara Bolo kepada kusirnya.


“Belum, Gusti,” jawab Tambing yang sudah berhenti mengendalikan kuda.


“Apakah racun yang Kakang berikan tidak berhasil mencelakai Prabu Dira?” tanya Janila.


“Ternyata aku meremehkan raja sakti itu,” ucap Senggara Bolo lalu melepaskan napas masygul.


Kini, Senggara Bolo didampingi hanya oleh tiga istrinya yang tersisa, yakni Janila, Wuri Semai dan Iing Bulih.


“Kakang, jika Kakang tidak membatalkan pertarungan ini, aku khawatir ini akan menjadi kehancuran kita,” ujar Janila.


“Jika aku kalah, kalian janganlah mendendam. Aku sadar, ini adalah kesalahanku yang terlalu bangga dengan kesaktianku sehingga meremehkan orang lain. Kesalahan masa laluku saja telah membuatku kehilangan Naya Mawar, Ginaya dan Manar. Jika raja itu memperistri kalian bertiga, maka setialah.”

__ADS_1


“Kakang, aku tidak mau berpisah dengan Kakang,” ujar Iing Bulih.


“Tidak, tidak. Kalian tidak akan meraih bahagia dengan mempertahankan kesetiaan terhadap orang yang sudah mati. Jika aku mati, mintalah pertanggungjawaban kepada raja itu. Setidak-tidaknya kalian diperistri oleh lelaki yang jauh lebih sakti dari pada aku,” tambah Senggara Bolo yang wajahnya tidak menunjukkan semangat sedikit pun.


Sejak kematian kedua istrinya di area pemakaman, Senggara Bolo jadi sadar bagaimana sakitnya rasa ditinggal mati oleh istri-istrinya. Di masa lalu ia telah berulang kali memperkosa dan membunuh istri musuh-musuhnya, termasuk membunuh istri dan selingkuhan Orang Sakti Benci Bumi. Namun, setelah bersama keenam istrinya, Senggara Bolo mulai berhenti melakukan perkara biadab.


“Jangan bicara seperti itu, Kakang,” kata Wuri Semai.


“Ingat, kalian harus melaksanakan perintahku yang terakhir ini!” tandas Senggara Bolo.


Mendengar isyarat-isyarat perpisahan itu, ketiga wanita cantik itu menangis meneteskan air mata, tapi tanpa suara isak tangis.


Gong!


“Gusti Ratu Lembayung Mekar tibaaa!” teriak seorang prajurit dengan keras setelah terdengar satu dentuman gong yang menggema seantero Ibu Kota. (RH)


**************


PENGUMUMAN


Author berkomitmen kuat untuk menamatkan 8 Dewi Bunga Sanggana, karena ini adalah karya besar bagi Author. Tinggal tersisa beberapa chapter lagi. Namun, beratnya dan ketatnya perjuangan di platform yang baru, membuat Author tidak bisa cepat menamatkannya. Seperti saat ini, dalam waktu sebulan, Author hanya mampu menulis 5 chapter saja.


Author memiliki rencana sebagai berikut:




Menamatkan 8 Dewi Bunga Sanggana dengan menyisakan beberapa masalah yang belum selesai.




Fokus menamatkan Dewi Dua Gigi di platform kuning.




Melanjutkan Pendekar Sanggana di platform kuning dengan judul Pasukan Penguasa Telaga yang akan menyorot perjalanan karir Garis Merak dkk, dari awal karirnya sebagai bajak laut hingga terpecahkannya misteri Telaga Fatara dan Hutan Timur.



__ADS_1


Semoga sesuai rencana. Dan mohon maaf atas begitu lamanya kalian menunggu.


__ADS_2