8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mata Batu 16: Pasukan Walang Kekek


__ADS_3

*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*


Malam itu, Salik Jejaka memerintahkan wanita bayarannya untuk tidak datang karena ia ada urusan penting.


Malam itu, Salik Jejaka pergi berkuda ke sebuah penginapan yang ada di ibu kota Jayamata.


“Kamar nomor satu!” ujar Salik Jejaka ketika pelayan penginapan menyapanya.


“Ikut aku, Gusti!” kata pelayan tersebut yang tahu sedang berhadapan dengan siapa.


Pelayan dan Salik Jejaka naik ke lantai atas. Mereka pergi ke kamar yang paling ujung.


“Pergilah!” perintah Salik Jejaka setibanya di depan pintu kamar yang tertutup.


Tutuk! Tututuk!


Ketuk Salik Jejaka. Pintu langsung dibuka dari dalam. Orang yang membuka pintu adalah seorang wanita bertopeng kayu, berpakaian serba hitam. Yang tampak dari wajahnya hanya kisaran dahi dan mata, hidung hingga dagu tertutup oleh topeng.


Di dalam kamar, telah duduk Putri Aninda Serunai di sebuah kursi kayu tanpa meja. Di belakang Putri Dua Matahari berdiri empat wanita bertopeng dan berpakaian serba hitam. Kelima wanita bertopeng itu bernama Lima Siluman Topeng. Untuk memudahkan junjungannya memanggil, masing-masing dinamai Topeng Satu hingga Topeng Lima.


Belakangan Putri Aninda Serunai menggunakan jasa pengawalan Lima Siluman Topeng. Para pengawal sebelumnya yang terdiri dari cowok-cowok ganteng mirip oppa-oppa Korea, masing-masing mendapat tugas penting, bahkan satu orang yang bernama Siluman Panah Setan sudah mati di tangan Sandaria.


“Hormat sembah hambah, Putri!” ucap Salik Jejaka sambil turun berlutut di depan gadis berkumis tipis itu. Namun, kali ini kumisnya tidak begitu jelas karena pencahayaan di ruangan itu hanya dua dian kecil.


“Bangunlah, Mata Elang!” perintah Putri Aninda Serunai.


Salik Jejaka bangkit berdiri dengan mata tidak berani menatap kepada sang putri yang jelita.


“Apakah tanda perintah Pasukan Walang Kekek sudah kau terima?” tanya Putri Aninda Serunai untuk memastikan.


“Sudah, Putri!” jawab Salik Jejaka sambil mengeluarkan koin besar yang diberikan Mahapati Abang Garang. Ia menunjukkannya sejenak kepada sang putri.


“Tugasmu malam ini adalah membangunkan Pasukan Walang Kekek. Jika Pasukan Walang Kekek yang ada di basis keprajuritan semuanya sudah siap, maka malam berikutnya, bunuh semua prajurit Istana yang bukan bagian dari pasukan kita untuk digantikan. Setelahnya, gulingkan Menak Ujung sebelum pagi!” perintah Putri Aninda Serunai.


“Baik, Putri!”


“Jika pekerjaanmu sampai terendus, percepat penggulingan, jangan tunggu sampai malam berikutnya. Siluman Sepuluh akan selalu bersiap kapan saja di kediaman Siluman Hitam,” kata Putri Aninda Serunai.


“Dalam rombongan Siluman Hitam yang menuju Repakulo ada Putri Manik Sari. Siluman Hitam meminta agar Putri mengirim orang untuk menghabisi putri itu!” ujar Salik Jejaka.


“Aku akan mengirim Siluman Tangan Seribu dan Siluman Bayang Seribu untuk membunuh Putri Manik Sari!” kata Putri Aninda Serunai. “Apakah masih ada yang ingin kau sampaikan?”


“Cukup, Putri!” jawab Salik Jejaka.

__ADS_1


“Jangan lupa bunuh pelayan tadi, dia teliksandi Baturaharja!” perintah Putri Aninda Serunai.


Agak terkejut Salik Jejaka mengetahui hal itu.


“Baik, Putri. Hamba mohon diri!”


Salik Jejaka lalu menghormat berlutut. Kemudian dia pergi. Satu wanita bertopeng membukakan pintu untuk Salik Jejaka.


Setibanya di lantai bawah, Salik Jejaka sejenak mencari pelayan tadi. Dilihatnya si pelayan sedang melayani dua pengunjung bangsawan.


“Pelayan!” panggil Salik Jejaka.


“Hamba, Gusti!” sahut pelayan itu. Lalu katanya kepada dua tamunya, “Sebentar, Den!”


Kedua tamu itu hanya mengangguk. Si pelayan segera berlari kecil mendatangi Salik Jejaka.


Tap! Krekr!


Salik Jejaka langsung mengcengkeram batang leher pelayan itu dan meremukkan tulangnya dengan jari-jari yang kuat.


“Hah!” kejut orang-orang yang melihatnya, termasuk pemilik penginapan.


“Orang ini teliksandi kerajaan musuh!”  kata Salik Jejaka kepada bos penginapan.


Salik Jejaka pada malam itu datang khusus ke basis keprajuritan yang terletak di luar Ibu Kota. Ternyata komandan di kamp militer itu adalah Komandan Pasukan Walang Kekek, namanya Bletak Jogo.


“Bangunkan Pasukan Walang Kekek malam ini!” perintah Salik Jejaka setelah memperlihatkan tanda perintahnya.


“Baik, Gusti.”


Setelah itu, di malam yang belum terlalu gelap, Komandan Bletak Jogo memerintahkan seorang prajurit untuk membangunkan Pasukan Walang Kekek.


Ternyata cara membangunkan Pasukan Walang Kekek tidak sulit. Prajurit yang ditugaskan cukup berjalan keliling membawa pita warna biru di depan para prajurit, baik yang sedang bertugas atau sedang bebas tugas. Bagi prajurit yang merasa bagian dari Pasukan Walang Kekek, mereka akan mengeluarkan pita biru yang kemudian diikatkan di senjatanya. Setiap prajurit Pasukan Walang Kekek selalu menyimpan sehelai pita biru di balik pakaiannya.


Hal yang sama dilakukan di dalam Istana. Ada prajurit yang ditugaskan berkeliling membawa pita biru di tangannya.


Para prajurit Pasukan Walang Kekek yang ada di Istana juga segera memasang pita biru pada senjatanya.


Ternyata, para prajurit Pasukan Walang Kekek telah tersebar banyak di dalam Istana, bahkan prajurit penjaga kamar Prabu Menak Ujung adalah prajurit Walang Kekek. Itu menunjukkan bahwa Kerajaan Siluman sudah lama menanamkan orang-orangnya di Kerajaan Baturaharja.


Pada waktu yang sama, di tempat lain.


Surya Kasyara dan Sugigi Asmara sedang bersitegang dengan dua orang yang dianggapnya musuh. Kedua orang yang datang bertamu di tempat peristirahatan rombongan Permaisuri Sandaria adalah Sepak Bilas dan Tepuk Geprak.

__ADS_1


“Jual buah di laut barat, biduk tenggelam menabrak karang. Jika bukan niat jahat, untuk apa malam-malam bertandang?” kata Surya Kasyara berpantun.


“Balas, Kang! Balas!” kata Tepuk Geprak sambil menepuk-nepuk lengan Sepak Bilas yang juga jago berpantun.


“Kalong terbang monyet memanjat, bulu kucing dijilat-jilat. Kami datang sebagai sahabat, bukan untuk jadi penjahat!” balas Sepak Bilas.


“Hahaha!” tawa Tepuk Geprak senang.


Ini adalah pertemuan kedua Surya dengan kedua pendekar Baturaharja itu.


“Balas, Kang! Balas lagi!” seru Sugigi Asmara yang senang mendengar adu pantun itu.


“Gelang-gelang dicuri penjahat, gadis diculik lelaki buaya. Kalian bilang kami sahabat, maaf, kami tidak percaya!” pantun Surya Kasyara lagi.


“Balas lagi, Kang! Jangan mau kalah!” kata Tepuk Geprak mengompori.


“Uruk parit pakai tanah galian, matahari pagi tersenyum ceria. Urusan kami bukan kepada kalian, tetapi kepada Permaisuri Sandaria!” pantun Sepak Bilas lagi.


“Jika kalian adu pantun terus, sampai pagi pun tidak akan selesai!” kata Permaisuri Sandaria yang tahu-tahu muncul di antara mereka.


Keempat pendekar itu jadi terkejut.


“Hormat kami, Gusti Permaisuri!” ucap Sepak Bilas dan Tepuk Geprak bersamaan, sambil turun berlutut menghormat.


“Bangkitlah!” perintah Sandaria. Lalu katanya setelah kedua tamu malam itu berdiri, “Sepertinya kita pernah bertemu, Kisanak?”


“Mereka dua orang yang ingin membunuh Putri Wilasin!” sahut Surya kasyara.


“Benar, Gusti. Kami juga yang Gusti selamatkan di Jalur Bukit,” kata Sepak Bilas jujur.


“Oh, ya. Pantasan baunya sama,” kata Sandaria seraya tersenyum. “Pasti ada hal penting. Jika kalian mencari Putri Wilasin, datanglah ke Kerajaan Sanggana Kecil.”


“Saat ini kami bertindak sebagai utusan dari Senopati Duri Manggala,” kata Tepuk Geprak.


“Sampaikan pesan apa yang Senopati kirim!” perintah Sandaria.


“Senopati sudah memutuskan mengambil posisi yang benar, Gusti,” jawab Tepuk Geprak.


“Bagus,” puji Sandaria. “Apakah ada lagi?”


“Senopati saat ini ditugaskan untuk memberantas pemberontakan di Kadipaten Kelang. Senopati minta bantuan untuk memberantas Kelompok Jago Sodok di Kelang. Senopati akan menunggu bantuan dari Kerajaan Sanggana Kecil di Desa Kayu Manis, Kadipaten Segang,” ujar Tepuk Geprak.


“Baik. Kembalilah kalian! Aku akan mengirim surat kepada Prabu Dira yang akan dibawa oleh salah satu serigalaku, sehingga permohonan Senopati bisa disikapi secepatnya!” kata Sandaria.

__ADS_1


“Baik, Gusti!” (RH)


__ADS_2