8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mata Batu 25: Serangan Fajar


__ADS_3

*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*


Empat siluman yang tewas dengan mudah di tangan Prabu Menak Ujung, membuat Salik Jejaka alias Siluman Mata Elang mengambil rehat sejenak. Sementara Menak Ujung masih memilih mengisolasi diri bersama permaisuri dan anjingnya yang bernama Jurig.


Malam itu, ribuan prajurit Pasukan Walang Kekek masih mengepung Kaputren yang terlindungi oleh pagar gaib Cangkang Dewa. Ada empat mesin pelontar tombak besar didatangkan dan statusnya siap tembak ke arah Kaputren.


Salik Jejaka dan empat siluman lainnya memilih beritirahat untuk mengumpulkan energi dan memikirkan taktik. Sebenarnya bisa dikatakan bahwa Kerajaan Baturaharja telah mereka kuasai, karena Menak Ujung kini seorang diri berteman sepi, seperti lagu mendiang mojang Bandung, Nike Ardila.


Yang membuat Salik Jejaka harus berpikir keras karena Putri Aninda Serunai sudah tidak menunjukkan keberadaannya. Putri mendiang Prabu Raga Sata itu tampaknya telah pergi untuk proyek lain. Ia begitu menikmati perannya sebagai wanita karir di usia muda sampai lupa pulang menjenguk sang ayah.


Tidak hanya dalam istana yang dipadati oleh pasukan pemberontak, kondisi ibu kota Jayamata juga begitu mencekam dengan keberadaan ribuan prajurit yang merasa jumawa.


Namun, tanpa mereka ketahui semua, hal besar sebentar lagi akan terjadi. Dari tempat yang jauh, lima binatang sakti, yakni Satria, Kemilau, Bintang, Bulan, dan Belang, berlari laksana angin menerabas kegelapan malam langsung menuju ke ibu kota Jayamata. Beruntung di antara mereka yang baru pertama kali naik serigala, tidak ada yang mabuk serigala.


Satria ditunggangi oleh Permaisuri Sandaria, Kemilau ditunggangi oleh Permaisuri Yuo Kai, Bintang ditunggangi oleh Putri Sagiya, Bulan ditunggangi oleh Raja Akar Setan, dan Belang ditunggangi oleh Pangeran Kubur.


Ketika mendekati Ibu Kota, Sandaria mengangkat tongkat biru kecilnya.


“Sandaria Sandaria cantik!” teriak Sandaria nyaring bak karakter animasi Sailor Moon, yang punya jargon “Dengan kekuatan bulan akan menghukummu!”


Sess!


Lima sinar biru kecil melesat dari ujung tongkat dan masuk ke kepala lima serigala. Maka tubuh para serigala dan penunggangnya kini dilapisi oleh sinar biru. Hal itu membuat mereka terlihat terang dalam kegelapan.


“Beri tandaaa!” teriak Sandaria lagi.


Auuu…!


Serentak kelima serigala itu melolong panjang menyayat keheningan subuh. Seluruh prajurit pemberontak, yang terjaga ataupun yang tertidur, seluruh warga ibu kota Jayamata dan penghuni Istana, dibuat terkejut. Ini kali kedua mereka mendengar suara lolongan yang menakutkan dan penuh misteri di waktu gelap.


“Lihaaat!” teriak prajurit penjaga batas Ibu Kota.


“Hah! Setan menyeraaang!” teriak prajurit yang lain.


“Kabur! Kabuuur! Eh, majuuu, guoblok!” teriak sang komandan.


Sementara itu, lima makhluk bersinar biru semakin mendekat dan mendekat.


“Ayo main banteng-bantengan! Hihihi…!” teriak Sandaria lalu tertawa senang.


“Hihihi…!” tawa Putri Sagiya yang merasa lucu melihat aksi ramai Sandaria.


Bruss!


Maaf, tidak ada waktu untuk memberi kesempatan bagi para prajurit unjuk ketakutan. Para prajurit itu diterabas begitu saja sehingga mereka semua berpentalan tanpa jelas nasibnya di dalam kegelapan malam.

__ADS_1


Di dalam Ibu Kota, kelima serigala itu tidak terbendung dalam menuju ke Istana.


Fooong! Fooong!


Tiba-tiba dua suara tiupan terompet terdengar panjang yang memperingatkan Istana.


“Sial! Ini pasti ulah permaisuri buta itu!” rutuk Salik Jejaka yang cepat mengenakan bajunya. Ia sambar senjata tongkat pendeknya.


Di gerbang Istana.


“Formasi tombaaak!” teriak prajurit di gerbang Istana.


Puluhan prajurit segera berjongkok rapat di gerbang Istana. Tombak panjang mereka pasang di tanah dan mata tombaknya di arahkan miring ke depan. Serigala sebesar Satria pun pasti akan tewas tertusuk jika berani menabraknya.


Broll!


Namun, Satria dkk sudah memakai lapisan antisenjata, bukan lapisan antigores seharga goceng. Puluhan prajurit itu berpentalan tidak tahu diri ke sembarang arah.


“Seraaang!” teriak ramai pasukan yang muncul dari depan.


“Seruduk, seruduk, seruduk! Hihihi!” teriak Sandaria.


Satria menabrak pasukan yang muncul dari kegelapan Istana seperti sebuah truk kontainer menabrak barisan domba.


“Serbuuu!” teriak sarombongan pasukan lagi dari arah lain.


Kali ini Kemilau yang menerabas pasukan yang baru datang. Para prajurit berpentalan tanpa bisa menyentuh tubuh Kemilau sedikit pun, karena lapisan sinar biru memang berfungsi sebagai perisai sekeras baja.


Dari segala arah mulailah bermunculan pasukan-pasukan yang memilih selain membawa senjata, mereka juga membawa obor, sehingga arena peperangan kondisinya lebih terang.


Raja Akar Setan memilih melompat dari punggung Bulan. Ia naik ke udara malam. Ia hentakkan kedua lengannya.


Traks!


Tiba-tiba tenaga dalam besar yang Raja Akar Setan kerahkan menghancurkan benda-benda berunsur kayu yang ada di sekitar, menjadi serpihan-serpihan kecil yang melayang diam di udara. Lalu….


Set set set…!


Serpihan-serpihan kayu kecil itu berlesatan laksana hujan badai ke segala arah, membunuhi puluhan prajurit sekaligus.


Putri Sagiya rupanya ingin unjuk diri juga. Ia pun melompat ringan meninggalkan punggung Bintang, sambil tangan kanannya mengurai cemeti warna emas peraknya.


Ctas ctas ctas…!


Suara lecutan-lecutan yang menciptakan percikan sinar-sinar emas dan putih terjadi. Sinar-sinar itu bukan sekedar lampu penerang yang indah malam hari, tetapi menyebar dalam jumlah banyak menyerang para prajurit yang datang mengepung. Sinar emas akan membakar jika terkena dan sinar putih akan menyengat.

__ADS_1


Seperti seorang sirkuswati yang berjalan tenang di antara ratusan binatang buas, Putri Sagiya begitu lihai memainkan cemetinya.


Pangeran Kubur juga memilih turun dari punggung Belang.


Wuss! Wuss!


Pangeran Kubur memilih bermain angin. Angin pukulan yang bernama Angin Sepoi Merayu Maut itu bersifat unik. Para prajurit yang terkena tidak diterbangkan atau dibakar, tetapi justru jadi terdiam sejenak seperti sedang menikmati angin lembah. Selanjutnya mereka oleng dan tumbang secara sukarela tanpa nyawa.


Blelet!


Tiba-tiba melesat cepat dua pita berwarna merah dan kuning. Kedua pita itu kompak bekerja sama menangkap dan melilit cemeti Putri Sagiya. Sang putri cukup terkejut sehingga ia sontak membetot cemetinya dengan keras.


Siluman Pita yang muncul sebagai pemilik dua pita juga berdiri menarik kencang kedua pitanya.


Melihat dirinya mendapat lawan yang sepadan, Putri Sagiya akhirnya tersenyum, seolah itu bukan hal yang perlu dikhawatirkan.


Tangan kiri Putri Sagiya bergerak turut memegang gagang cemeti. Ternyata cemeti itu bisa dibagi dua, jalinannya bisa bergerak sendiri memisah diri dan lepas dari jeratan kedua pita Siluman Pita.


Dengan langkah yang santai, Putri Sagiya melangkah maju mendekati Siluman Pita sambil memainkan kedua cemeti emas dan peraknya.


Ctas ctas ctas…!


Ctar ctar ctar…!


Setiap lecutan cemeti Putri Sagiya melesatkan percikan sinar emas dan putih, yang kali ini hanya menyerang Siluman Pita.


Siluman Pita sendiri rupanya harus kerja keras untuk menangkis sinar-sinar itu dengan permainan pita merah dan kuningnya, menimbulkan suara-suara ledakan nyaring.


Dalam pertarungan, dua wanita itu terlihat jelas perbedaan yang mencolok.


Siluman Pita memang bisa menangkal, tetapi ia harus terus mundur untuk menjaga jarak, terlebih tidak semua sinar-sinar kecil itu terbendung.


Cess!


Pada satu kesempatan, satu sinar emas kecil lolos mengenai celana Siluman Pita, menimbulkan nyala api. Hal itu membuat fokus Siluman Pita terganggu, sehingga sinar putih mengenai leher.


“Aaak!” jerit Siluman Pita tertahan karena tersengat.


Buk!


“Hukh!” keluh Siluman Pita dengan tubuh terjengkang, setelah kaki Putri Sagiya yang sejak tadi fungsinya hanya berjalan, mendadak melesat cepat menusuk perut.


Di sisi lain, Pangeran Kubur ditantang oleh Siluman Seribu Tampar, Raja Akar Setan berhadapan dengan Salik Jejaka, Permaisuri Yuo Kai berhadapan Siluman Pepet Cinta, dan Permaisuri Sandaria ditantang Siluman Gigi Biru. (RH)


 ***********

__ADS_1


Pengumuman: Kondisi Author masih sakit berat, jadi harus nyicil tuk selesaikan 1 bab. 😭🙏


__ADS_2