
*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*
Setelah menempuh perjalanan dua hari dua malam, rombongan Permaisuri Sandaria akhirnya tiba di depan sebuah rumah besar yang cukup luas pekarangannya. Rumah itu terbuat dari kayu-kayu yang kuat tetapi masih berlantai tanah keras, sehingga terlihat sejumlah dipan di teras dan pinggir halaman yang di naungi pohon besar.
Itu adalah kediaman Senopati Duri Manggala di Jayamata, ibu kota Kerajaan Baturaharja.
Sebagaimana biasa, Sandaria tidak akan lepas dari kebersamaan kelima serigalanya yang bernama Satria, Kemilau, Bintang, Bulan, dan Belang.
Satria adalah serigala terbesar dan pemimpin dari serigala lainnya. Semua bulu serigala yang lebih besar dari kuda itu berwarna hitam pekat. Sepasang matanya berwarna kuning dengn pupil merah. Di lehernya melingkar lonceng gelang berwarna hitam pula.
Serigala bernama Kemilau memiliki bulu berwarna kuning kemerahan. Ekornya berwarna sangat merah sehingga seperti merah darah. Matanya putih dengan pupil berwarna merah. Di lehernya ada lonceng gelang berwarna emas. Besarnya seperti sapi hamil.
Serigala bernama Bintang berbulu abu-abu dengan mata berwarna ungu. Ia hanya berkalung kulit tebal yang punya gandulan logam berbentuk bintang bermata lima.
Serigala bernama Bulan berbulu putih bersih bermata merah. Hanya ada sedikit warna hitam pada bagian atas moncongnya. Kalungnya sejenis dengan kalung Bintang, tetapi bandulannya berbentuk bulan sabit.
Serigala yang bernama Belang berbulu hitam pada bagian kepala dan putih pada bagian tubuh dan kaki. Matanya berwarna biru dengan pupil hitam. Ia adalah serigala terkecil dengan postur sebesar kuda dewasa.
Sandaria duduk di punggung Satria. Bersama rombongan itu ada dua belas kuda yang menyertai, sepuluh di antaranya adalah prajurit Kerajaan Sanggana Kecil yang berseragam hitam-hitam. Dua lainnya adalah Surya Kasyara yang bergelar Pendekar Gila Mabuk dan Sugigi Asmara. Keduanya adalah anggota Pasukan Pengawal Bunga.
Jika Surya Kasyara adalah seorang pemuda tampan yang selalu membawa bumbung tuak, maka Sugigi Asmara adalah seorang gadis bergigi tonggos dengan bagian tubuh depan juga yang menonjol menggairahkan. Gadis berbaju hijau muda berusia dua puluh tiga tahun itu, menyandang senjata keris yang diselipkan di perutnya.
Sebagai Pengawal Bunga, Surya Kasyara dipasangkan dengan Sugigi Asmara yang khusus mengawal Permaisuri Sandaria jika melakukan suatu perjalanan.
“Gusti Senopati! Gusti Senopati!” teriak dua prajurit penjaga gerbang halaman rumah. Mereka panik ketakutan sambil berlari masuk menuju pintu rumah.
Bagaimana tidak takut jika didatangi lima ekor serigala yang tingginya lebih tinggi dari kepala mereka?
Senopati Duri Manggala yang baru pulang dari Istana, terpaksa keluar lagi dengan didampingi oleh istrinya yang bertubuh gemuk.
__ADS_1
Senopati Duri Manggala adalah seorang lelaki separuh abad yang masih gagah dengan fisik kekar berotot. Ia tidak mengenakan baju dan hanya bercelana hitam. Wajahnya dihiasi dengan kumis tebal. Ada hiasan ring perak di kepalanya dan pada kedua lengan kekarnya.
“Ada apa, Kutara?” tanya Senopati Duri Manggala dengan kening berkerut kepada prajurit rumahnya.
“Kita diserang makhluk siluman, Gusti!” jawab prajurit yang bernama Kutara.
Senopati Duri Manggala dan istrinya segera melemparkan pandangannya ke arah luar halaman. Maka terkejutlah sang senopati.
Senopati Duri Manggala lalu melangkah pergi menuju gerbang halaman rumahnya.
Dan kini sang senopati berdiri di hadapan Satria.
“Bukankah kalian….”
“Aaah, Senopati ternyata masih ingat aku. Hihihi!” seru Sandaria lalu tertawa pendek, memotong kata-kata lelaki besar itu.
Sandaria lalu menepuk pelan leher Satria. Serigala hitam itu lalu bergerak turun merendahkan tubuhnya. Ketika Satria menurunkan tubuhnya, Sugigi Asmara segera turun dari punggung kudanya. Ia segera datang untuk memegang tangan Sandaria yang melambai ke samping. Sandaria turun dengan anggun, bersama senyum manisnya yang menggemaskan mata lelaki.
“Apakah aku akan disambut di sini saja, Senopati? Kau harus tahu, saat ini aku adalah permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil,” ujar Sandaria.
Mendelik terkejutlah Senopati Duri Manggala mendengar status Sandaria. Terlebih, ia tidak akan lupa jasa wanita kecil itu ketika menolongnya dalam peperangan di Jalur Bukit kurang dari sebulan yang lalu.
“Oh, maafkan aku, Gusti Permaisuri. Aku tidak mengetahui kedudukan, Gusti,” ucap Senopati seraya buru-buru menghormat.
“Tidak mengapa, Senopati. Namaku Permaisuri Sandaria. Aku baru saja menjadi seorang permaisuri di sebuah kerajaan yang juga baru dibangun. Namun, aku memiliki urusan yang sangat penting untuk aku tanyakan kepada Senopati, sehingga aku memilih datang sendiri ke kediaman Senopati. Dan aku mementingkan menemui Senopati lebih dulu dibandingkan pergi menemui Prabu Menak Ujung,” ujar Sandaria.
“Eee lebih baik kita bicara di dalam saja, Gusti Permaisuri,” kata Senopati Duri Manggala.
“Baik,” ucap Sandaria.
__ADS_1
Mereka lalu berjalan masuk ke halaman. Dengan sikap layaknya seorang ratu, Sandaria berjalan anggun dengan ujung tongkat birunya diletakkan di depan langkahnya. Ia berjalan biasa layaknya seorang yang melihat. Senopati Duri Manggala berjalan di sisinya.
Di belakang sang permaisuri berjalan Surya Kasyara dan Sugigi Asmara.
“Maafkan aku, Gusti. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih atas pertolongan Gusti saat peperangan di Jalur Bukit,” ucap Senopati Duri Manggala.
“Terkadang kita harus saling menolong ketika kita menghadapi musuh yang sama,” kata Sandaria.
Singkat cerita, duduklah Sandaria berhadapan dengan Senopati Duri Manggala di atas dipan di teras rumah. Di tengah-tengah mereka tersaji sekeranjang buah.
“Apa yang ingin aku tanyakan sebenarnya sudah aku ketahui jawabannya. Namun, aku hanya ingin mendapat keterangan dan cerita yang benar dari pejabat Baturaharja,” ujar Sandaria.
“Hal apa yang ingin Gusti pastikan dariku?” tanya Senopati Duri Manggala.
“Tahta Kerajaan Baturaharja. Siapa sebenarnya pemilik sah tahta Kerajaan Batu Raharja?” tanya Sandaria seraya tersenyum tipis.
Terkejutlah Senopati Duri Mandala mendengar pertanyaan itu.
“Maafkan hamba, Gusti. Itu adalah pertanyaan yang sangat berbahaya,” kata Senopati Duri Manggala dengan wajah berubah tegang.
“Baiklah, Senopati. Itu artinya kau tidak bersedia menceritakannya. Seperti yang aku katakan tadi, aku sudah tahu jawabannya. Namun, kekhawatiranmu itu telah memberi jawaban kepadaku bahwa kau memang tahu siapa pewaris sah tahta Baturaharja. Hihihi!” kata Sandaria lalu tertawa kecil.
Sandaria lalu bergerak turun dari duduknya di atas dipan. Sugigi Asmara segera memegangi satu tangan junjungannya.
“Berita tentang kedatanganku ke kediaman Senopati tentu akan sampai kepada Prabu Menak Ujung. Tentunya akan menimbulkan pertanyaan. Dan akan lebih berbahaya lagi bagi Senopati jika aku menjadi musuh bagi Prabu Menak Ujung. Kemungkinan besar Senopati akan terseret. Aku berharap Senopati bisa mengambil posisi yang benar dari sekarang. Sebab, kedatanganku bertemu dengan Prabu Menak Ujung adalah awal dari kehancurannya dimulai. Kerajaan Sanggana Kecil akan mengembalikan tahta itu kepada pewaris sahnya,” tutur Sandaria.
“Apa?!” kejut Senopati Duri Manggala.
“Apa yang Senopati lihat dalam perang di Jalur Bukit adalah sebagian kecil dari kekuatan Kerajaan Sanggana Kecil. Karena Senopati adalah orang yang mengetahui kebenaran yang sebenarnya, maka aku berani membuka pintu untuk Senopati. Aku harap Senopati bisa memikirkannya dengan baik,” kata Sandaria lagi.
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu, Sandaria melangkah menuju kepada Satria.
Senopati Duri Manggala hanya memandangi kepergian wanita sakti itu dengan pikiran yang berkecamuk. (RH)