
*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*
Raja Anjas Perjana Langit, Ningsih Dirama, Permaisuri Tirana, dan Gurudi sudah melalui perjalanan dua hutan. Kini mereka menggunakan pedati yang ditarik oleh seekor kuda, sehingga lari pedati bisa lebih cepat. Orang yang mensaisi pedati adalah Anjas. Gurudi duduk di belakang bersama dua wanita cantik. Suara tawanya yang cekikikan seperti anak kecil terlalu sering terdengar. Namun, itulah Gurudi adanya.
Ratu Sri Mayang Sih memutuskan tidak ikut dengan mereka. Ia memutuskan untuk kembali ke Istana Siluman.
“Kau tidak perlu khawatir dengan keadaan suamimu, Gadis Penjaga,” kata Anjas tanpa memandang ke belakang. “Jika Mutiara Ratu Panah disentuh dalam keadaan bersinar, dia akan menyerang orang yang menyentuhnya. Namun setahuku, serangan itu tidak akan membuat sampai mati. Jika memang Joko jadi lumpuh, itu tidak akan membunuhnya. Setahuku serangan itu akan bekerja selama tiga hari.”
“Syukurlah kalau bagitu, Gusti Mulia,” kata Tirana. “Nah, di Kademangan Uruk Sowong inilah keluarga Ibu tinggal.”
Mereka baru saja melewati batas daerah Kademangan Uruk Sowong. Ketika mereka sudah memasuki pusat Kademangan, dari arah depan muncul sekelompok pasukan prajurit berkuda berseragam hijau gelap, menunjukkan bahwa mereka adalah prajurit Kerajaan Siluman.
“Berhenti!” seru seorang prajurit yang memimpin sepuluh prajurit berkuda itu. Meski mengenakan seragam yang sama, tetapi pemimpin prajurit itu mengenakan ikat kepala yang berbeda dari rekan-rekannya. Ia bernama Ketua Prajurit Baletan.
Anjas pun menghentikan jalan kudanya, sehingga pedati pun berhenti. Ningsih Dirama dan Tirana terkejut.
“Hihihik!” Gurudi justru tertawa cekikikan sendiri melihat para prajurit menghentikan pedati mereka.
“Mau ke mana kau, Kisanak?” tanya Baletan yang tetap duduk di punggung kudanya.
Sementara prajurit yang lain melongoki bak pedati yang beratap gedeg melengkung. Namun, para prajurit itu tidak menemukan siapa pun di dalam bak pedati.
“Hamba mau ke kediaman Demang Yono Sumoto, Gusti,” ucap Anjas dengan sikap yang sangat merendah.
“Untuk urusan apa?” tanya Baletan lagi.
“Rumput makanan kuda, Gusti. Ki Demang suka meminta hamba membawakan rumput jenis bagus yang kesegarannya lebih tahan lama untuk kuda-kudanya.”
“Ya sudah, jalan!” perintah Baletan.
“Terima kasih, Gusti,” ucap Anjas. Ia lalu menggebah pelan kudanya setelah Baletan memberinya jalan.
Pasukan kecil prajurit Kerajaan Siluman itu segera pergi. Mereka selalu menghentikan orang yang melakukan perjalanan. Lalu bagaimana Ningsih Dirama dan Tirana tidak terlihat keberadaannya? Padahal mereka tetap duduk apa adanya di dalam bak. Mereka tidak terlihat karena Anjas menutupi mereka dengan ilmu perisai dan tabirnya. Tirana tidak heran dengan peristiwa seperti itu, ia bisa merasakan keberadaan lapisan tabir yang menutupi keberadaaan mereka.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju kediaman Demang Yono Sumoto.
“Maaf, Gusti Mulia. Tolong berhenti sejenak!” seru Tirana tiba-tiba.
“Ada apa, Gadis Penjaga?” tanya Anjas.
“Lihat wanita di sudut tembok itu!” tunjuk Tirana ke arah pagar tembok yang ada di jalan utama pusat kademangan.
Di sudut tembok tampak ada seorang wanita berpakaian compang-camping, kusut dan dekil, sedang berjongkok makan nasi berwadah daun pisang. Ia makan dengan kusyuk tanpa tengak-tengok lagi.
“Itu Bibi Surina!” kata Tirana.
Deg!
__ADS_1
Tersentaklah jantung Ningsih Dirama. Seketika kesedihan meliputi dada dan pikirannya. Ia tidak menyangka kondisi kakaknya akan seburuk itu.
“Mbakyu Surina…” ucap Ningsih lirih dan menitikkan airmata.
“Aku mau menemuinya, Kang Mas,” kata Ningsih Dirama sambil beranjak turun dari pedati.
“Tapi, Gusti…” ucap Tirana ragu hendak mencegah.
Namun, Ningsih Dirama sudah terlanjur turun, dibantu oleh Gurudi.
Ningsih Dirama langsung menghampiri wanita yang memang Surina Asih adanya. Anjas Perjana membiarkan istrinya. Sementara Tirana sudah mempunyai dugaan apa yang akan terjadi.
Ningsih Dirama melangkah pelan-pelan mendekati Surina. Wanita kumal itu hanya menengok sedikit melihat kaki Ningsih Dirama. Setelahnya, ia kembali melanjutkan makannya.
“Mbakyu Surina!” sebut Ningsih Dirama pelan dan lembut.
Seketika Surina Asih terkejut lalu terdiam. Tangannya yang hendak menyuap berhenti di tengah jalan.
“Mbakyu Surina!” panggil Ningsih lagi.
Dengan perasaan takut, pelan-pelan Surina berpaling menengok ke atas. Ia langsung menatap wajah Ningsih.
“Aaa…! Ampuni aku, Ningsih! Aku tidak berniat membunuhmu! Ampuni aku, Ningsih!” teriak Surina ketakutan bukan main sambil memasukkan kepalanya ke dalam tekukan lututnya.
Terkejut Ningsih Dirama melihat reaksi Surina.
“Mbakyu, kau tidak membunuhku, aku masih hidup,” kata Ningsih Dirama.
Tirana datang menyentuh bahu Ningsih Dirama. Ningsih menengok dan mendapati Tirana sudah berada di dekatnya.
“Ibu, biar aku yang membujuknya. Ibu kembalilah ke pedati,” kata Tirana lembut kepada Ningsih.
Dengan berat hati Ningsih bergeser mundur.
Tirana maju dan berjongkok di samping Surina. Tirana menyentuhkan tangannya pada bahu Surina Asih.
“Aaa…!” jerita Surina Asih saat merasakan bahunya disentuh.
“Bibi Surina!” sebut Tirana lembut.
Terdiam seketika Surina dari jeritannya. Ia terkejut, terkejut karena mengenali suara itu.
Surina cepat mengangkat wajahnya dan menengok melihat sekali lagi orang yang ada di sampingnya. Dilihatnya wajah jelita Tirana yang tersenyum sejuk. Wajah wanita yang pernah memberinya sekeranjang buah apel.
“Hihihi! Orang baik!” ucap Surina tertawa.
“Bibi Surina mau ikut aku?” tanya Tirana seraya tetap tersenyum lembut.
__ADS_1
“Mau mau mau!” ucap Surina sumringah sambil mengangguk cepat.
“Bawa makanan Bibi!” kata Tirana.
“Iya, hihihi!” ucap Surina. Dengan senang hati ia segera membungkus sendiri sisa makanannya.
Tirana segera memberi isyarat kepada Ningsih Dirama yang berdiri di dekat pedati. Tirana menunjuk bibirnya lalu membekapnya sendiri.
“Tutup bibirmu, Sayang. Jangan sampai kakakmu melihat bibirmu!” kata Anjas yang mengerti maksud Tirana.
Ningsih segera membekap mulutnya, menutupi bibir dan hidungnya dengan telapak tangannya.
Sementara itu, Tirana sudah menuntun Surina menuju pedati. Surina membawa bungkusan nasinya yang belum habis. Surina memandangi Anjas, memandangi Ningsih dan Gurudi.
“Hihihik!” Gurudi hanya tertawa.
“Hihihi!” Surina balas tertawa pendek.
Mereka semua akhirnya sudah naik ke pedati. Gurudi pindah duduk di sisi Anjas.
Ketika Surina kembali membuka bungkusan nasinya, Tirana menyempatkan diri mengecup dahi dekil wanita itu. Surina hanya tersenyum tanpa menggubris apa yang dilakukan oleh Tirana kepadanya. Sementara Ningsih menangis dalam diam melihat kondisi kakaknya.
Sebelum pedati itu sampai di kediaman Demang Yono Sumoto, Surina sudah menghabiskan makananannya. Namun, ketika melihat lingkungan tempat yang mereka datangi, alangkah terkejutnya Surina.
“Aaak!” jerit Surina sambil bangkit berdiri di atas pedati yang masih berjalan. Namun, ia tidak jadi melompat karena Tirana lebih dulu menotoknya.
Tirana cepat menangkap jatuh tubuh Surina.
Mendengar jeritan itu, Demang Yono Sumoto yang baru saja hendak menaiki kudanya di halaman, jadi terkejut. Ia cepat pusatkan perhatiannya ke luar halaman.
Pedati itu sudah tiba di depan tembok pagar rumah Demang Yono Sumoto.
Pandangan Demang Yono fokus kepada lelaki tampan yang menjalankan kuda.
Tirana segera berdiri dan melambaikan tangan kepada Demang Yono Sumoto. Sang demang segera pusatkan perhatiannya kepada wanita cantik itu.
“Permaisuri Tirana?” sebut Demang Yono Sumoto agak ragu.
“Bopooo!” teriak Ningsih Dirama kencang sambil melambaikan tangannya pula.
Sangat terkejutlah Demang Yono Sumoto. (RH)
*************
Author mohon maaf 🙏🙏🙏
__ADS_1
Belakangan update nya kurang deras. Bulan ini, selain banyak kegiatan pribadi, juga beberapa orang dekat wafat, ditambah kondisi kesehatan yang kurang prima.
Semoga di bulan berikutnya, bisa kembali stabil up nya.