8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Rajungan 19: Pertarungan Pengawal Bunga


__ADS_3

*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)* 


 


Wus wus wus…!


Alangkah gembirannya Reksa Dipa setelah lama tidak bertarung. Ilmu Sukma Bayang Wujud-nya kembali bekerja.


Lima bayangan serupa dengan wujud Reksa Dipa melesat keluar melompat dari dalam tubuhnya. Kedua tangannya masing-masing berbekal sinar merah.


Zess zess zess…!


Blar blar blar…!


Sepuluh sinar merah melesat meledakkan sepuluh titik. Hanya sekali serang, sekitar sepuluh anggota Kelompok Jago Sodok tewas dengan tubuh hancur, mengurangi jumlah lawan secara signifikan.


Tang ting tang ting…! Tseb!


Pedang kembar Nyi Mut membuat seorang lawannya kelabakan menangkis dengan tongkatnya. Tahu-tahu kedua ujung pedang Nyi Mut sudah menusuk perut lawan.


Surya Kasyara mengamuk dengan jurus mabuknya. Serangan tongkat dua orang yang mengeroyoknya tidak ada yang dapat menyentuhnya.


Buk buk! Pak pak!


Dengan posisi separuh kayang, Surya Kasyara gantian berhasil mendaratkan tinjunya bergantian ke kedua lawannya. Lalu ia bergerak cepat berbalik dan menampar wajah kedua lawannya, seperti menantu sedang menampar wajah mertua.


Fruut! Dak!


“Aaak!”


Lawannya balas menyerang dengan tongkatnya, tetapi Surya meliuk menghindar sambil menyemburkan tuak di dalam mulutnya ke wajah lawan. Sementara bawah bumbung tuaknya melesat dari sisi bawah ke atas menghantam dagu lawan satunya.


Lelaki yang wajahnya tersembur oleh ilmu Semburan Ular Mabuk menjerit kesakitan karena wajahnya rusak kepanasan. Lelaki satunya terlompat dan terjengkang keras dengan tulang dagu yang remuk.


Kemahiran tarung Surya Kasyara dan para pendekar tingkat menengah lainnya, yang tergabung dalam Pasukan Pengawal Bunga semakin bagus. Sebab, pada masa tidak bertugas mereka terus berlatih di bawah pengawasan Permaisuri Kerling Sukma.


Tidak jauh dari Surya Kasyara bertarung Sugigi Asmara. Ternyata, bahkan untuk urusan bertarung, Sugigi Asmara tidak mau jauh-jauh dari Surya Kasyara. Ia khawatir jika Pasukan Pengawal Bunga sudah berkumpul, banyak wanita cantiknya.


Tek! Dak!


Sugigi Asmara menangkis babatan tongkat lawannya dengan tancapan ujung kerisnya, membuat gerakan tongkat terhenti. Lalu cepat ia bersalto dengan gerakan kaki memanjang menjangkau kepala lawan. Tumit kanan Sugigi Asmara menghantam keras kepala lawannya, memaksa lelaki bertongkat itu terlutut ke tanah dengan pandangan berubah gelap.


Cras!


Sugigi Asmara menyembelih lawannya dengan satu gerakan mengibas. Tahu-tahu leher lawan sudah menyemprotkan darah seperti hewan kurban.


Sementara itu, Tangpa Sanding dikeroyok dua orang bertongkat. Belajar dari kekalahannya saat melawan Senopati Batik Mida di hari pernikahan Prabu Dira, Tangpa Sanding melakukan serangan tanpa henti kepada lawannya.


Trak!


Begitu kuat batang tangan Tangpa Sanding sehingga batang tongkat yang menghantamnya patah sendiri.


“Jangan kasih napas!” teriak Tangpa Sanding sambil maju dengan serangan tinju yang cepat bertubi-tubi.

__ADS_1


Bak bik buk bek bok!


Perut, dada dan wajah lawan ditinju habis-habisan hingga tumbang benar-benar tanpa nyawa.


Setelah itu, Tangpa Sanding langsung beralih ke satu lawannya dan melakukan hal yang sama.


Berbeda dengan yang lainnya, Sekarembun berdiri menunggu dua lawannya sambil kedua tangannya bertaut di belakang punggung, laksana seorang guru.


“Hiaaat!” pekik kedua lelaki penyerangnya sambil ayunkan tongkatnya.


Set!


Sekarembun cepat meniup sumpit birunya. Sekali tiup, bukan satu jarum yang melesat, tetapi lima sekaligus. Kelima jarum itu menancap di leher satu lelaki sebelum ia mengayunkan tongkatnya. Seketika lelaki itu terhenti bergerak dan tumbang.


Sekarembun cepat membungkuk menyelamatkan kepalanya dari hantaman tongkat lawan yang lain.


Set!


Sambil membungkuk seperti itu, Sekarembun kembali meniupkan sumpitnya. Lima jarum beracun yang tidak terlihat melesat menancapi dada lawan. Maka selesai sudah.


Tak! Cras! Tak! Cras!


Di sisi lain, Legam Pora yang berkulit hitam nyaris senada dengan gelap malam, menggunakan dua senjata, yakni sebuah celurit di tangan kanan dan toya pendek di tangan kiri. Irama pertarungan Legam Pora terlihat mudah dan indah. Tangkis, bacok, mati. Tangkis, bacok, mati.


Dengan toya pendeknya Legam Pora menangkis, lalu langsung tangan kanannya membacok dengan celurit. Maka lawan mati. Datang lagi satu serangan tongkat, Legam Pora menangkis, lalu membacok dan lawan pun mati. Terkesan mudah.


Tidak jauh dari Legam Pora, Semai Lena yang berjuluk Sayap Perak juga menunjukkan kelasnya.


Hanya dengan melompat dan mengibaskan lengannya satu per satu, wanita yang seperti lelaki itu membunuh cepat dua lawannya.


Saat ia mengibaskan lengan kanannya, melesat bayangan sayap burung berwarna perak yang mengembang. Bayangan itu langsung memotong tongkat lawannya, sekaligus menyayat panjang tubuh depan lawan. Demikian pula saat tangan kanannya mengibas, bayangan sayap burung muncul menebas lawan yang lain.


Sebilah Rengkuh yang bersenjatakan dua toya pendek, memilih mendesak satu lawannya untuk bertarung jarak pendek, satu kondisi yang membuatnya lebih unggul.


Tak buk! Bubuk bubuk! Tak tak! Buk tuk tuk!


Begitu cekatan Sebilah Rengkuh memblokir tongkat panjang lawan bergantian dengan menghajar tubuh musuh. Laksana penabuh genderang perang yang cekatan. Berujung dua tusukan ujung toyanya yang menjebol kedua dada lawannya.


Agak berbeda cara bertarung Pengawal Bunga yang bernama Sumi alias Gendang Tepuk Jongkok. Wanita bertubuh pendek itu memainkan gendang kayu yang menjadi senjata dan alat musiknya.


Tak tak!


Lelaki bertongkat yang menjadi lawannya tiba-tiba berjongkok sendiri di tempat saat mendengar dua tepukan gendang.


Dang dang dang…!


Dengan gerakan jari-jari yang mahir, Sumi kemudian menabuh gendang kayunya. Hasilnya, lawan Sumi melompat-lompat di tempat dalam posisi berjongkok, mirip kodok melompat-lompat dalam toples tertutup.


Set! Tseb!


Tiba-tiba tangan kanan Sumi melesatkan sebilah pisau terbang yang menancap di tengah batang leher musuh. Setelah membuat lawan terpengaruh mengikuti irama gendang, Sumi lalu mengeksekusi. Sumi sepertinya tidak boleh ikut orkes dangdut, kasihan biduannya.


Pengawal Bunga yang bernama Gebuk Bertabuh mengandalkan dua toya pendek berwarna merah sepanjang dua jengkal, tetapi pada salah satu ujungnya ada besi berbentuk bola sebesar kepalan tangan. Senjata itu versi kecil senjata tongkat yang menjadi senjata para penyergap.

__ADS_1


Tang! Prak!


Bak bik buk bek bok…!


Gebuk Bertabuh mengadu bola besi toyanya dengan bola pada ujung tongkat panjang milik lawan. Suara dentingan yang tercipta menunjukkan bahwa bola di ujung tongkat lawan juga terbuat dari besi padat. Namun, tongkat lawan harus patah ketika bola besi pada toya lain milik Gebuk Bertabuh menghantam batang tongkat musuh.


Selanjutnya, Gebuk Bertabuh mengamuk seperti orang gila. Lelaki brewok itu menggebuki lawannya dengan hantaman bola besi bertubi-tubi. Matilah lawan dengan daging menjadi kornet yang sudah halus ditumbuk.


Pengawal Bunga yang bernama Gemara adalah seorang wanita bertubuh indah dengan penampilan seksi. Ia mengenakan rok panjang, tetapi pada bagian sisi kanan dan kirinya ada belahan tinggi nyaris mencapai pinggul. Ketika berjalan saja, sudah menarik lirikan mata lelaki, apalagi sampai melakukan tendangan. Gila sudah.


Lelaki yang menjadi lawannya dibuat terpaku ketika ia menghindari serangan tongkat, lalu melompat menjepit leher musuh. Jepitannya bukan dengan cekikan tangan, tetapi menggunakan dua kaki. Sehingga kedua paha Gemara yang putih mulus memeluk kuat wajah lawannya.


Tseb!


“Hekh!” keluh lelaki itu karena tanpa terlihat Gemara menusukkan golok pendeknya ke perutnya.


Pengawal Bunga yang bernama Hantam Buta mungkin bisa diragukan kependekarannya. Tubuhnya yang besar berotot seperti raksasa muda, hanya mengandalkan kekuatan fisik.


Ketika Hantam Buta menyerang, ia hanya berlari kencang tanpa kecepatan tambahan sebagai orang sakti.


“Hiaaat!” teriak Hantam Buta seperti badak mengamuk.


Prakr!


Tongkat lawannya menyambut dengan memukul kencang kepala Hantam Buta. Karena yang mengenai kepala adalah bagian batang, tongkat itu patah. Sementara Hantam Buta tidak terpengaruh, ia terus berlari menangkap tubuh lawannya yang tidak bisa mengelak. Tubuh lawannya dicekik oleh pelukannya yang begitu kuat, seolah ingin meremukkan tulang-tulang.


Dakr!


Hantam Buta menghantamkan kepalanya ke wajah lawannya yang tidak berkutik sehingga berdarah, bahkan terdengar ada suara tulang yang pecah.


Bduk!


Dengan tetap memeluk kuat tubuh lawannya, Hantam Buta mengangkat tubuh itu lalu membantingnya ke tanah dengan posisi kepala yang lebih dulu, mirip pegulat wrestling. Wajah yang lebih dulu menghantam tanah membuat anggota penyergap itu patah leher.


“Huaaa!” teriak Hantam Buta sambil merentangkan kedua lengannya dan kepala mendongak ke langit, sebagai bukti keperkasaannya.


Lintang Salaksa seorang pendekar wanita yang terbilang belia. Ia cantik, meski tidak secantik Sandaria. Dalam usia belia ia sudah memperlihatkan bakatnya, yaitu menggaruk. Singkat cerita, dua lawannya semua tewas dengan cakaran kuku tangannya yang bisa memanjang. Keunggulannya adalah tubuh mungil dengan gerakan yang gesit dalam bertarung. Namun, berbeda dengan Sandaria, Lintang Salaksa memiliki karakter dingin, meski tidak sedingin Reksa Dipa.


Pengawal Bunga bernama Warok Genang. Lelaki berkumis tebal berjubah biru gelap itu bersenjata dua utas cambuk. Cambuk berwarna putih memiliki serbuk racun, cambuk hitam memiliki tiga bilah pisau pada ujungnya.


Ketika tangan kanan melecut cemeti putih hingga ke depan wajah musuh, maka ada serbuk racun yang terhambur.


“Ha ha ha haaaccih!” bersin musuh tanpa bisa menahan.


Pada saat musuh bangkis itulah, cambuk hitam melecut merobek leher lawan.


Sementara Bo Fei, pengawal setia Permaisuri Yuo Kai, dengan mudah membunuh dua musuhnya dengan pedang terbangnya.


Adapun Chang Chi Men menghabisi tiga lawannya dengan ilmu Cakaran Naga Langit.


Para permaisuri hanya menyaksikan para Pengawal Bunga menunjukkan kehebatannya masing-masing.


Di saat ketujuh belas Pengawal Bunga membereskan semua pasukan penyergap bersenjata tongkat, Permaisuri Sandaria justru masih belum bertarung melawan Siluman Bayang Seribu. Ia sengaja tidak tergesa untuk memberi tekanan psikis terhadap wanita sakti itu. (RH)

__ADS_1


__ADS_2