8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Darah Keras 15: Serangan Membutakan


__ADS_3

*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*


 


“Bertarung sampai matiii!” teriak suara pemberi komando yang masih belum menampakkan wujudnya.


Teriakan itu memberi tekanan ketegangan terhadap Raja Anjas dan rombongannya. Teriakan itu juga memberi bahan bakar kenekatan kepada pasukan berseragam hitam-hitam, yang sebagian rekannya sudah berserakan dan bertumpukan menjadi mayat di tengah Hutan Maruk itu.


“Seraaang!” teriak si pemberi komando lagi dengan suara yang menggelegar.


Di saat prajurit Pasukan Murka Kegelapan jumlahnya masih banyak, dari sebelah atas, tepatnya dari atas pepohonan sekitar tempat itu, berlompatan puluhan prajurit berpedang. Mereka turun seperti serombongan laba-laba yang turun dengan benang dari bokongnya.


Kemunculan pasukan gelombang ketiga itu membuat pertempuran tengah hutan itu kian ramai.


Namun, Anjas menggunakan cara singkat.


“Ciaat!” pekik Anjas Perjana.


Wuss!


Gelombang angin pukulan Badai Malam Dari Selatan kembali dilepas, tapi ke arah atas. Separuh dari pasukan yang turun dari atas terhempas laksana layangan ditiup badai. Puluhan prajurit khusus itu terbang sampai keluar dari ketinggian hutan lalu jatuh di kejauhan. Cara singkat itu bisa mengurangi jumlah lawan dengan signifikan.


Masing-masing pendekar perlu cukup berjuang melawan pasukan tersebut.


Gadis Cadar Maut dan Tembangi Mendayu sudah memainkan tombak terbangnya. Tombak kayu dan tombak emas mereka terbang berseliweran menusuk tembus tubuh para prajurit. Cara itu membuat jumlah lawan berkurang dengan cepat.


Lima Pangeran Dua Putri juga mengamuk dengan hebat. Khusus Pangeran Derajat yang terluka panah, berduet dengan Putri Embun. Meski terluka, Pangeran Derajat masih sanggup bertarung dengan kuat menggunakan kedua kakinya. Putri Embun bertindak ganda, ia juga berperan sebagai perisai bagi Pangeran Derajat, kekasihnya.


Dengan terpincang-pincang, Siluman Lidah Kelu masih terus bertarung. Mau tidak mau, ia harus membebaskan Joko Tingkir menjadi pelindungnya. Si pemuda yang memang memiliki kesaktian level tinggi, menunjukkan kebolehannya di depan sang target cinta. Ia kali ini memainkan ilmu Petani Memanen Malam.


Kepada prajurit yang datang mendekat, tangan kiri Joko Tingkir menghentak yang telapaknya melesatkan garis sinar merah menyengat, lalu telapak tangan kanan melesatkan sinar merah bulat pipih.


Zerzz! Ses! Bles!


Garis sinar merah membuat prajurit yang terkena berhenti bergerak karena menikmati setruman, sementara sinar merah bulat melesat membolongi leher lawan. Seperti itu cara kerja ilmu Petani Memanen Malam.


Gerakan dan serangan Joko Tingkir bekerja sangat cepat, sampai-sampai tidak ada prajurit yang bisa mendekat dalam jarak rapat. Jika ada yang lolos, cakaran Siluman Lidah Kelu siap merobek.


Di kala pasukannya dibantai hingga tinggal sedikit yang tersisa, tampak seseorang lelaki berkulit hitam, berpakaian hitam-hitam, berdiri gagah di atas sebatang dahan. Ia menatap medan tarung dengan tatapan tajam dan napas memburu. Orang itu tidak lain adalah Siluman Gelap.


“Bertarung sampai mati!” teriak Siluman Gelap lantang dari tempatnya berdiri. Suaranya cocok dengan suara yang sejak tadi memberi komando tanpa wujud.


Teriakan Siluman Gelap menarik perhatian Anjas dan para pendekar. Mereka menyempatkan diri memandang ke arah dahan tempat lelaki kulit hitam itu berdiri. Remangnya senja membuat wajahnya semakin gelap terlihat.


Namun, sejak angin Badai Malam Dari Selatan menerpa ke atas, suasana tengah hutan itu cukup terang karena bagian atas pepohonan terpangkas gundul.


“Bersiaplah menjemput kematian!” seru Siluman Gelap.


Set!


Siluman Gelap melesatkan bola hitamnya. Lesatan bola sebesar kepala itu tidak mengincar seorang pun. Tetapi kemudian berhenti melesat di udara, di tengah-tengah pertarungan yang masih terjadi. Bola hitam itu berputar pada titik hentinya.


Tidak adanya yang pernah bertarung melawan Siluman Gelap, membuat mereka tidak bisa menerka apa yang akan terjadi terhadap bola itu. Dugaan yang ada di kepala mereka adalah kemungkinan terjadinya ledakan.

__ADS_1


Blast!


Ternyata benar. Bola itu meledak, tetapi bukan tenaga sakti yang meledak, melainkan warna hitam yang langsung membuat gelap pandangan semua orang yang melihatnya. Anjas, Ratu Sri Mayang Sih, Petra Kelana, dan yang lainnya tiba-tiba hanya melihat warnah hitam, gelap gulita tanpa warna lain. Hal itu seketika membuat mereka terhenyak kaget dan timbul sedikit kepanikan. Sebab mereka tidak tahu, apakah yang mendadak buta itu hanya mereka, atau semua prajurit juga ikut buta.


“Apakah kalian semua tidak bisa melihat?” tanya Anjas berteriak kepada rekan-rekannya.


“Serangan para prajurit ini masih bisa kami atasi!” teriak Joko Tingkir yang masih bisa bertarung meski tidak bisa melihat.


Sama seperti Joko Tingkir, para pendekar yang lain juga bertarung dengan mengandalkan pendengaran dan kepekaannya. Yang menjadi masalah bagi Pasukan Murka Kegelapan, mereka juga ternyata ikut buta.


“Kalian tidak akan bisa mengatasiku! Hahaha!” teriak Siluman Gelap lalu tertawa.


“Biar aku yang urus Setan Hitam ini, aku bisa melihat!” teriak Setan Ngompol.


Siluman Gelap yang sudah melesat di udara hendak menyerang rombongan Anjas, terkejut mendengar teriakan Setan Ngompol.


Ketika bola hitam meledak menyebarkan kegelapan, Setan Ngompol telah melindungi wajahnya dengan kain sarung baunya. Perlindungan itulah yang membuat matanya selamat dari kebutaan.


Setan Ngompol cepat berkelebat memotong lesatan tubuh Siluman Gelap.


Blet!


“Setan alas bangkai!” maki Siluman Gelap sambil menghentakkan kedua tangannya menahan kebutan kain sarung Setan Ngompol. Yang membuatnya memaki adalah bau menyengat dari kain sarung itu.


Bass!


Peraduan dua tenaga dalam tinggi itu membuat keduanya sama-sama terdorong.


Tidak ada jalan lain bagi Siluman Gelap selain menghadapi lelaki jorok itu. Ia awalnya hendak bermain curang, tetapi ternyata ada yang lolos dari Bola Kegelapan-nya. Ia berkelebat maju menyerang Setan Ngompol dengan serangan tangan dan kaki yang cepat dan bertubi-tubi.


“Setan Kuda! Kenapa kau jorok sekali?!” bentak Siluman Gelap gusar bukan main sambil mengerutkan hidungnya.


“Hahaha!” tawa Setan Ngompol mendengar makian lawannya. Namun, tiba-tiba dia berhenti tertawa dengan wajah mengerenyit, “Eh eh eh! Bocooor!”


“Hahaha…!” tawa sebagian pendekar yang mendengar keluhan Setan Ngompol. Mereka tahu bahwa orang tua gemuk itu pipis lagi di celana.


“Jorok! Terlalu jorok! Lebih baik kau dibunuh saja!” maki Siluman Gelap kesal bukan main.


Ia lalu melesat maju dengan kedua tangan yang menghitam kelam sehitam tinta. Sambil keran bawahnya bocor, Setan Ngompol terpaksa maju menyambut serangan dengan mengebutkan kembali sarung pesingnya.


Clap!


Namun, tiba-tiba Siluman Gelap menghilang begitu saja, membuat ujung sarung Setan Ngompol menghantam ruang kosong.


Dan tahu-tahu, sosok Siluman Gelap muncul tepat di belakang Setan Ngompol sambil melesatkan pukulan tangan hitamnya.


Sambil tersenyum tipis dengan tatapan yang kejam, Setan Ngompol melompat mundur seraya melempar lepas sarungnya ke arah lain, bukan ke arah musuh.


Siluman Gelap kembali maju memburu. Ketika Setan Ngompol bersiap menyambut dengan kedua tangan membara biru, sosok Siluman Gelap kembali hilang.


Wuut!


Ketika wujud Siluman Gelap menghilang, sarung pesing Setan Ngompol yang melayang tidak karuan tiba-tiba melesat terbang ke satu arah.

__ADS_1


Seiring munculnya Siluman gelap di atas kepala Setan Ngompol dan melesatkan bayangan telapak tangan warna hitam, sarung pesing datang menangkap Siluman Gelap.


Bagks!


Setan Ngompol hanya bisa menahan serangan bayangan telapak tangan itu dengan tangkisan tangan yang membara biru. Akibatnya, Setan Ngompol terjengkang keras.


Namun, Siluman Gelap jatuh pula dalam kondisi tangan dan tubuh sudah terlilit kuat oleh sarung. Siluman Gelap mencoba mengerahkan tenaga saktinya untuk berontak, tetapi bau menyengat dari sarung itu membuatnya pusing dan lemah.


Melihat lawannya telah tidak berkutik, Setan Ngompol berkelebat cepat dari posisi jatuhnya.


Cess!


“Akk!” jerit Siluman Gelap saat lehernya dicengkeram dengan jari-jari yang menyala biru.


Ketika Setan Ngompol menarik cengkeramannya dengan kuat, maka habislah hidup Siluman Gelap.


“Pemimpinnya sudah mati!” teriak Setan Ngompol, membuat senang rekan-rekannya dan membuat panik puluhan prajurit yang masih tersisa.


Para prajurit yang juga mengalami kebutaan jadi bingung, sebab mereka bukan pendekar sakti yang bisa berlari dalam kondisi mata gelap.


“Berhentilah kalian!” seru Anjas cepat kepada pasukan lawan. Jika kalian menyerah, kami akan membiarkan kalian hidup!”


“Kami menyerah!” teriak seorang prajurit cepat, sambil turun berjongkok dan membuang pedangnya.


Puluhan prajurit yang lain akhirnya memilih berjongkok massal dan meletakkan senjatanya. Sebagian besar dari mereka menderita luka.


Anjas dan para pendekar yang lain juga berhenti, masih dalam kebutaan, tetapi mereka tidak merasakan sakit apa pun pada mata.


“Bagaimana, Setan Ngompol?” tanya Anjas.


“Mereka semua menyerah!” sahut Setan Ngompol, satu-satunya orang yang bisa melihat saat itu.


“Apa yang kau lakukan, Tingkil?!” jerit Siluman Lidah Kelu.


Plak!


Terdengar jelas suara tamparan. Siluman Lidah Kelu telah menampar wajah Joko Tingkir.


“Aku ingin memastikan keadaanmu!” teriak Joko Tingkir berkilah.


“Tapi jangan sembalangan pegang-pegang punyaku!” bentak Siluman Lidah Kelu yang terkejut karena tahu-tahu ada yang menyentuh area pribadinya.


“Aku tidak sengaja. Habisnya gelap,” kilah Joko Tingkir.


“Dalam gelap kau bisa menghindali selangan dan membunuh plajulit, tapi kenapa masih bisa telsesat kepadaku?” debat Siluman Lidah Keluh.


“Hahaha…!” Terdengarlah tawa para pendekar yang lainnya.


“Tingkir, apakah kau memang semesum itu?” tanya Petra Kelana.


“Tititi… tidak, Tetua! Sumpah demi guruku, Guru tidak pernah mengajariku mesum!” sahut Joko Tingkir tergagap.


“Lama-lama jika kau seperti itu terus, aku yang akan memotong tanganmu. Ingat, Limarsih sudah menjadi korbanmu!” kecam Nenek Rambut Merah, menyebut nama muridnya.

__ADS_1


Mendelik terkejut Joko Tingkir mendengar ancaman si nenek. Satu kartunya di buka di depan Siluman Lidah Kelu. (RH)


__ADS_2