8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mis Kekar 24: Bantuan Datang


__ADS_3

*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*


 


“Tebaklupaaa!” teriak Serak Buto yang melihat kondisi Tebaklupa.


Teriakan Serak Buto itu juga mengejutkan Reka Wani dan Surti.


Tsuk!


“Aaak!”


Serak Buto yang semakin marah, bergerak cepat menusukkan tongkat putihnya ke dada seorang pendekar Hantu Sanggana. Pendekar muda itu tidak bisa mengelak sehingga tongkat putih menusuk tembus dadanya.


“Gandang Segaaa!” teriak seorang pendekar Hantu Sanggana lainnya, terkejut melihat sahabatnya tertusuk. “Hiaat!”


Pendekar Hantu Sanggana itu berkelebat cepat maju sambil menghentakkan lengan kanannya, sementara telapak tangannya membara hijau seperti lampu neon.


Paks!


“Hukr!” keluh pendekar tersebut ketika beradu telapak tangan dengan pukulan Serak Buto yang bersinar putih keruh.


“Fukrr!” Serak Buto yang kondisinya sama-sama memendam luka dalam parah, jadi terjajar dengan mulut menyemburkan darah segar yang banyak.


Sementara pendekar Hantu Sanggana yang diajaknya bentrok juga harus terkapar. Selain menderita luka dalam, ia juga terpapar racun dari pukulan Serak Buto.


Kejadian tidak terduga justru dialami oleh Reka Wani.


Bermula ketika Murai Manikam melompat terbang dari punggung kudanya dan langsung menghilang dari pandangan mata. Murai Manikam memiliki ilmu menghilang yang tinggi, karenanya dia dijuluki oleh gurunya Anak Halus.


Demi membalas kematian nenek Emping Panaswati, sepertinya dia harus unjuk tingkat kesaktian kali ini.


Clap! Baks!


Reka Wani yang sedang terkejut melihat Tebaklupa sudah terbujur kaku menjadi mayat, semakin terkejut dengan kemunculan tiba-tiba Murai Manikam yang sangat dekat di depannya.


Satu hantaman telapak tangan kanan Murai Manikam pada dada Reka Wani, membuat si nenek langsung terlompat ke belakang lalu jatuh dengan punggung terlebih dulu.


“Akk! Pinggangku!” jerit Reka Wani.


Murai Manikam lalu maju sambil kedua tangan mengayun dari atas ke bawah, seperti orang mengapak kayu.


Clap! Bsret!


Sebelum terkena serangan, Reka Wani tiba-tiba menghilang dari tempatnya, membuat tenaga tebasan tangan Murai Manikam hanya membelah tanah berbatu.


Clap!


Cepat pula Murai Manikam menghilang.


Karena lawannya menghilang bersama Murai Manikam, Setan Ngompol segera mengambil kesempatan dengan berkelebat kepada Serak Buto yang dalam kondisi gawat.


Tak tak tak!


Setan Ngompol melancarkan serangan tangan yang cepat. Dengan kelabakan, Serak Buto menangkis serangan-serangan itu menggunakan tongkat putihnya.

__ADS_1


“Sudah mau mati, tapi masih susah matinya!” gerutu Setan Ngompol sambil terus mencecar Serak Buto.


Serak Buto sendiri tidak berani lagi mengerahkan sejumlah ilmunya yang bertenaga dalam tinggi, itu bisa membunuhnya sendiri.


Clap!


Ketika satu tendangan bertenaga dalam tinggi mengibas menjadi serangan selanjutnya kepada dirinya, Serak Buto memilih menghilang.


Wuut!


Setan Ngompol cepat melemparkan sarung pesingnya ke salah satu arah, seperti hendak menangkap hantu. Sarung itu melesat berputar dalam posisi melingkar lebar.


Blet!


“Akh!” jerit Serak Buto, saat lingkaran sarung Setan Ngompol berhasil menjeratnya.


Hasilnya, Serak Buto muncul terlihat dalam kondisi sudah terikat oleh sarung bau pesing Setan Ngompol.


Pada saat itulah, Limarsih dan tiga pendekar Hantu Sanggana bergerak cepat untuk memangsa. Dua orang melakukan lompatan, sementara Limarsih dan seorang pendekar berkujang maju dengan cepat.


“Bahaya!” pekik Sutri saat melihat posisi Serak Buto.


Zoss!


Di sela-sela pertarungannya melawan Nenek Rambut Merah, Surti melepaskan sinar putih sebesar kepala ke arah posisi Serak Buto yang sedang tersudut.


Ses ses!  Bluar!


Sinar putih itu dimaksudkan menyerang dua pendekar Hantu Sanggana yang berada di udara, di atas Serak Buto dengan tangan sudah berbekal sinar biru dan ungu.


Mendapat serangan dari jauh, kedua pendekar yang sudah mengudara itu terkejut. Sinar ilmu yang seharusnya akan dihantamkan kepada Serak Buto, terpaksa mereka adu dengan sinar putih milik Surti.


Tseb! Crass!


“Akkr!”


Meski selamat dari serangan atas, Serak Buto yang terbelit oleh sarung, tidak mampu menghindari tusukan pedang Limarsih yang datang cepat dari depan. Di susul kelebatan pendekar berkujang, menyayatkan kujangnya ke leher Serak Buto.


“Serak Butooo!” teriak Surti melihat nasib rekannya.


Jadilah nasib Serak Buto seperti onta disembelih.


Bluar!


Tiba-tiba di satu tempat di udara, muncul sinar putih sebesar kepala dan sinar kuning yang melesat zigzag. Lalu bertemu di pertengahan jarak, menciptakan ledakan tenaga sakti yang dahsyat.


Setelah itu, dari balik udara terlihat dua tubuh terlempar ke arah yang saling berlawanan dan saling menjauh. Kedua tubuh itu adalah Reka Wani dan Murai Manikam yang baru saja bertarung di balik layar kehidupan.


“Hoekh!” Murai Manikam muntah darah setelah jatuh keras di tanah bukit.


“Hoekr!” Reka Wani pun keras menghantam tebing batu lalu jatuh terlutut dan muntah darah.


“Kurang ajar, pendekar wanita dari mana ini? Dia membuatku seperti tikus kejebur sumur!” maki Reka Wani.


Ia cepat bangkit berdiri.

__ADS_1


“Mustahil mengandalkan ilmu Tabir Surya. Wanita ini bisa dengan mudah menemukanku,” batin Reka Wani.


Sejenak Reka Wani melihat nasib rekan-rekannya. Ia terkejut ketika melihat tubuh Serak Buto sudah tergeletak. Di sisi lain, rekannya Surti kini dikeroyok oleh Nenek Rambut Merah, Setan Ngompol, dan Limarsih.


Sementara Petra Kelana dan para pendekar Pasukan Hantu Sanggana rehat sejenak, menunggu hasil. Mereka pun harus meringankan luka dalam beberapa rekan yang terluka.


“Mereka sebentar lagi kalah,” kata Hantam Buta, masih di tempat pengintaian.


“Benar. Kita tidak perlu turun tangan,” timpal Warok Genang.


Sementara itu, Murai Manikam yang sudah dalam kondisi terluka dalam, telah kembali bertarung. Dia berlari maju dengan cepat. Reka Wani yang menjadi lawannya juga cepat maju sambil tusukkan tongkatnya meski jarak masih jauh.


Zess zess zess!


Clap!


Tiga sinar merah berbentuk bola golf melesat dari ujung tongkat putih nenek Reka Wani.


Namun, ketiga sinar itu melesat tanpa sasaran karena tahu-tahu Murai Manikam menghilang dalam larinya.


Clap! Daks!


Bsruukr!


Melihat tindakan Murai Manikam seperti itu, Reka Wani memilih cepat menghilang pula. Namun, sebentar kemudian terdengar suara hantaman, yang disusul munculnya tubuh Reka Wani yang jatuh tersungkur di tanah berkerikil. Rupanya di balik layar Reka Wani mendapat satu hajaran dari Murai Manikam.


“Hebat, Cantikku!” teriak Petra Kelana girang melihat jatuhnya Reka Wani.


Setelah jatuhnya Reka Wani, di udara atas muncul sosok Murai Manikam yang kedua tangannya sudah berbekal sinar kuning sebesar kepala orang. Itu adalah ilmu Bulan Kiamat, salah satu ilmu tertinggi Murai Manikam.


Werss!


Sinar kuning itu melesat menderu seram menyerang Reka Wani yang dalam posisi tersudut di tanah.


Buru-buru Reka Wani melesat rendah berusaha menjauhi sinar besar itu sejauh-jauhnya.


Bluaar!


Ledakan hebat terjadi menghancurkan tanah bukit. Sementara Reka Wani masih bisa selamat, tetapi daya ledak ilmu Bulan Kiamat memberi dorongan keras kepadanya. Hal itu membuat Reka Wani jatuh bergulingan di tanah miring.


Clap!


Lagi-lagi Murai Manikam menghilang dari pandangan.


“Seraaang!”


Tiba-tiba terdengar teriakan orang banyak dari kejauhan. Keramaian itu mengejutkan mereka semua dan mengalihkan perhatian.


Dari ujung jalan sisi barat, muncul puluhan orang berseragam hitam-hitam, tapi model seragamnya berbeda dengan seragam prajurit pasukan Kerajaan Sanggana Kecil.


Orang-orang itu berlari menggunakan ilmu peringan tubuh mendekati pusat pertarungan. Hal itu menunjukkan bahwa kepandaian kanuragan mereka di atas level prajurit biasa.


“Pasukan Khusus Kerajaan Siluman!” sebut Reka Wani. Ia sedikit pun tidak tahu tentang akannya Pasukan Khusus dari Kerajaan Siluman hadir di Jalur Bukit itu.


Tap! Zerzz!

__ADS_1


Alangkah terkejutnya Reka Wani. Tahu-tahu tengkuknya ada yang mencengkeram kuat dari atas. Tepat ketika cengkeraman tangan itu menekan, ada sengatan listrik yang kuat.


Tubuh nenek putih itu mengejang. Niatnya untuk menusuk Murai Manikam yang menyerang dari atas dengan posisi tubuh tegak terbalik, tidak sanggup ia lakukan, sebab setruman itu. (RH)


__ADS_2