
*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*
Raja Anjas telah memperingatkan rombongannya untuk bersiaga. Mereka sudah mulai memasuki Hutan Maruk. Kuda mereka berlari dengan kecepatan sedang di jalan hutan yang bisa disebut setapak, sehingga kuda membentuk satu barisan saja.
Mereka terus memasuki Hutan Maruk lebih dalam. Jika mereka bisa melewati hutan itu, mereka akan tembus ke Kadipaten Banyukuat, daerah permukiman yang paling dekat dengan Kerajaan Siluman.
Senja yang mulai turun membuat hutan semakin temaram.
Kuda yang berjalan paling depan adalah Siluman Lidah Kelu. Uniknya, di belakangnya berjalan kuda yang ditunggangi oleh Joko Tingkir. Posisinya itu bukan karena perintah, tetapi insiatif sendiri. Anjas dan Ratu Sri Mayang Sih membiarkannya. Sementara Siluman Lidah Kelu cuek.
Anjas dan Petra Kelana sebagai dua orang terkuat dalam rombongan tersebut sudah mulai merasakan adanya nuansa jebakan.
Namun, belum lagi kedua lelaki itu memperingatkan kepada rombongannya, Siluman Lidah Kelu sudah berteriak.
“Ada yang aneh di depan! Hati-hati pelangkap!” teriak Siluman Lidah Kelu.
Semua kompak menghentikan lari kuda dan memandang fokus ke depan.
Mereka semua melihat kegelapan di depan sana. Pemandangan pepohonan hutan tertutupi oleh warna hitam. Suasana yang temaram semakin gelap.
“Belakang juga gelap!” teriak Setan Ngompol yang berkuda paling buntut.
Sebagian menengok ke belakang. Pemandangan yang tadi lumayan terang kini menghitam. Tinggal pemandangan di sisi kanan dan kiri yang terlihat pepohonan dan dedaunannya.
“Serangan datang!” teriak Anjas keras.
Seset! Seset…!
Dari dalam kegelapan sebelah depan berlesatan hujan anak panah berjumlah puluhan. Warna alam yang hitam membuat kemunculan serangan nyaris tidak terlihat oleh mata, sehingga sifatnya mengejutkan.
“Awas, Gadis Cadel!” teriak Joko Tingkir sambil melompat lebih dulu menerkam tubuh Siluman Lidah Kelu.
Semua pendekar berlompatan dari punggung kudanya menghindari serangan puluhan anak panah itu. Ada yang menghindar sehingga tidak terjangkau oleh anak panah. Ada pula yang menghindar, tetapi masih terjangkau, sehingga harus melakukan tangkisan pula.
Kuda-kuda menjadi sasaran tidak bersalah. Mereka meringkik keras ketika sejumlah anak panah menusuki, memaksa mereka berlari liar membawa luka yang pedih.
__ADS_1
“Ak!” jerit Arya Permana, saat satu anak panah menancap tembus di lengan kirinya.
“Apa yang kau lakukan?!” bentak Siluman Lidah Kaku sambil mendorong kuat tubuh Joko Tingkir yang memeluknya di semak belukar.
“Menyelamatkanmu!” kilah Joko Tingkir setelah tubuhnya tersurut sejauh satu langkah.
“Aku bukan anak kecil lagi!” bentak Siluman Lidah Kelu dengan mata mendelik cantik.
“Serangan datang lagi!” teriak Petra Kelana memperingatkan.
Serangan serupa datang dari kegelapan yang ada di belakang. Para pendekar itu bergerak gesit menghindar dan menangkis puluhan anak panah yang datang lagi. Tembangi Mendayu cepat bergerak ke dekat Arya Permana dan menangkis panah-panah yang datang.
Semakin banyak kuda yang terluka oleh panah dan hampir semua kuda itu kabur menyelamatkan diri.
Tembangi Mendayu cepat mematahkan batang anak panah pada lengan kirinya. Membuang batang ekornya dan menarik kepalanya lolos dari lengan Arya.
“Akh!” rintih Arya Permana.
“Tutup lukanya!” perintah Tembangi Mendayu lalu ia merobek ujung bajunya cukup panjang, tapi tidak sampai membuat kulit tubuhnya terlihat.
“Ciaat!” pekik Anjas Perjana sambil menghentakkan lengan kanannya ke depan sana.
Anjas Perjana Langit melepaskan angin pukulan Badai Malam Dari Selatan. Tidak tanggung-tanggung, angin dahsyat yang besar menderu hebat menumbangkan puluhan pohon besar yang ada di depan sana. Warna hitam kegelapan langsung sirna dan terlihatlah pemandangan yang porak-poranda, seperti usai dihempas gelombang tsunami. Batang-batang pohon bergelimpangan dengan tanah-tanah yang berantakan akibat terbongkar oleh akar-akar yang terbebas.
Selain itu, di kejauhan telah bergelimpangan belasan lelaki berseragam hitam-hitam tanpa nyawa.
“Serang!” teriak seseorang tiba-tiba, tapi tidak terlihat wujudnya.
Blar blar blar…!
Mereka yang menunggu serangan hujan panah atau serangan pasukan yang maju, jadi terkejut. Ternyata serangan itu berwujud ledakan-ledakan yang terjadi di pangkal-pangkal dahan pohon yang ada di sekeliling mereka. Akibatnya, serangan hanya berupa timpaan banyak dahan dan dedaunan pohon dari sisi atas.
Tembangi Mendayu cepat menarik tubuh Arya Permana ke pinggir, lalu buru-buru membalut luka pada lengan Arya Permana agar darahnya tidak banyak keluar.
“Terima kasih, Tembangi!” ucap Arya Permana.
“Hmm!” gumam Tembangi Mendayu sambil tersenyum manis kepada adipati tampan itu.
__ADS_1
Para mendekar sedikit dibuat repot menghindari timpahan dahan-dahan itu, karena banyak rantingnya, juga banyak dedaunannya.
Pada saat itulah, muncul puluhan orang berseragam hitam-hitam dari berbagai arah, kecuali dari arah yang sudah di hancurkan oleh Anjas dengan angin pukulannya.
“Seraaang!” teriak orang-orang yang menyergap itu. Mereka adalah Pasukan Murka Kegelapan yang dikomandani oleh Siluman Gelap.
Mereka menyerang di saat para pendekar sibuk menghindar dan menangkisi dahan-dahan yang jatuh secara random.
“Hebat, kehadiran mereka bisa tidak begitu terasa oleh kita!” kata Anjas kepada Ratu Sri Mayang Sih. Ia selalu berada di sisi sang ratu, menunjukkan kelelakiannya sebagai seorang pelindung.
“Mereka pasukan khusus,” kata Ratu Sri Mayang Sih sambil menyambut serangan seorang penyerangnya.
“Kalian, lindungi diri kalian sendiri, ada aku yang melindungi Ratu!” perintah Anjas kepada Lima Pangeran Dua Putri, yang sejak tadi memposisikan diri di sekeliling Ratu Sri Mayang Sih.
Pangeran Keriting yang berposisi sebagai pemimpin dari Lima Pangeran Dua Putri, memberi anggukan kepada keenam rekannya. Setelah itu, mereka bebas bertarung tanpa memikirkan ratunya.
Pasukan khusus itu memiliki kemampuan yang cukup tinggi dibandingkan prajurit biasa. Mereka bisa terbang sana sini. Meski kemampuan individu mereka masih di bawah para pendekar, tetapi jumlah mereka yang banyak membuat para pendekar harus sedikit berjuang keras.
Raja Anjas benar-benar melindungi Ratu Sri Mayang Sih. Dengan tenaga dalam di kedua tangannya, Anjas menjadi perisai berputar bagi sang ratu, membuat wanita dewasa nan cantik itu merasa dimanjakan.
Semua serangan pedang dari orang-orang berpakaian hitam-hitam tidak ada yang bisa menyentuh Anjas dan Ratu Sri Mayang Sih. Tebasan-tebasan hanya sampai sebatas satu jengkal dari tangan Anjas ketika ditangkis. Tenaga dalam membuat mata pedang tertahan untuk menyentuh kulit Anjas.
Ketika datang serangan dari sisi lain yang mengincar Ratu Sri Mayang Sih, Anjas dengan gesit akan berpindah tempat dan menangkis. Seolah-olah Anjas berada di setiap sisi tubuh Ratu Sri Mayang Sih.
Bukan hanya menangkis, Anjas juga menyerang balik. Tangkis, serang, tangkis, serang, demikianlah irama lagu pertarungannya.
Untuk Petra Kelana atau Pangeran Lidah Putih, tidak perlu diragukan lagi. Sambil merem pun ia bisa bertarung dengan santai. Ia tidak banyak bergerak. Hanya kedua tangannya yang bergerak sana dan sini. Pedang biasa tidak berlaku terhadap kulitnya.
Tep! Ting! Set!
“Aaak!”
Telapak tangannya yang telanjang menangkap dua pedang yang datang menyerang. Lalu dua bilah besi itu dipatahkan dengan mudah. Selanjutnya, potongan ujung pedang dilesatkan membunuh tuannya sendiri.
Datang lagi dua tebasan, dengan muda ia tangkap lalu tarik, membuat kedua pemilik pedang ikut tertarik lebih akrab dengan Petra Kelana.
Bak!
__ADS_1
Setelah dekat, barulah dihantam pukulan tenaga dalam yang keras, meremukkan rongga dada. (RH)