8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Rajungan 13: Mencuri Obrolan Rahasia


__ADS_3

*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*


Di dalam gelapnya malam, enam orang sedang berkumpul di pinggir sungai. Tidak ada api penerangan, mereka hanya mengandalkan cahaya rembulan besar di atas langit yang cerah.


Empat orang dari mereka sudah pernah tercatat di dalam cerita ini. Mereka adalah Siluman Gendut, Sepa Maraga, Muni Kelalap, dan si kakek gagah Domba Hidung Merah.


Orang kelima adalah seorang pemuda tampan bertubuh agak kurus tanpa berotot, tidak seperti para pendekar lelaki pada umumnya. Rambut pemuda berpakaian serba jingga itu panjang sepunggung. Jika dipandang dari belakang, besar kemungkinan orang akan salah paham karena disangka sosok wanita cantik. Sikapnya lebih feminim. Ia adalah Siluman Bola Kilat, tetapi saat ini ia sedang memakai identitas Pendekar Bola-Bola dan Ketua Kelompok Jago Sodok.


Orang keenam adalah seorang lelaki tua berbaju hijau tapi berjubah hitam. Rambutnya berwarna hijau karena dicat layaknya anak punk. Kepalanya dililit oleh gelang kayu berwujud lingkaran ular berwarna hijau. Pada kedua pergelangan tangannya ada ular hijau kecil sungguhan yang melingkar damai. Ia seorang tokoh tua persilatan, tapi dikenal sebagai pendekar aliran hitam yang bernama Aki Ular Biru. Jangan tanyakan kenapa julukannya Ular Biru, padahal ularnya berwarna hijau.


Keenam orang ini sedang melangsungkan rapat terbatas. Mereka duduk melingkar tanpa ditengahi api unggun.


“Kita telah berhasil membuat para pendekar tahu bahwa pusaka yang ada di Gua Lolongan adalah yang tak terkalahkan. Dengan begitu, mereka akan berbondong-bondong ke sana dan masuk perangkap yang dipasang oleh Putri Dua Matahari,” kata Siluman Gendut.


“Aku tadi melihat beberapa pendekar tua aliran putih melintas. Apakah mereka juga menuju Gua Lolongan?” kata Domba Hidung Merah.


“Aku yakin mereka juga termakan berita itu,” kata Pendekar Bola-Bola dengan nada mengayunnya seperti putri pingitan.


“Bisa kita simpulkan bahwa sandiwara kita di tengah-tengah orang persilatan untuk mempengaruhi mereka berhasil. Kita akan melihat hasilnya besok. Ketika mereka mungkin untuk melakukan perjalanan ke Gua Lolongan, pagi besok pasti mereka akan berlomba-lomba,” kata Aki Ular Biru.


“Tapi aku penasaran, apakah pusaka itu benar-benar ada,” kata Muni Kelalap.


“Aku juga tidak tahu,” jawab Siluman Gendut.


“Tapi menurutku, terlalu rendah jika Malaikat Dewa Raja Siluman menciptakan keramaian besar seperti ini hanya dengan bualan berita bohong. Aku yakin pusaka itu benar-benar ada. Hanya, apakah itu benar-benar pusaka tidak terkalahkan atau sekedar pusaka biasa,” kata Aki Ular Biru yang tergabung dalam Kelompok Jago Sodok pimpinan Pendekar Bola-Bola. Statusnya sama dengan Muni Kelalap dan Domba Hidung Merah, yaitu tokoh tua sakti yang bergabung di bawah komando Kerajaan Siluman.


“Jika benar itu adalah pusaka tanpa tanding, apa kau tertarik untuk memilikinya, Aki Ular?” tanya Muni Kelalap.


“Jika seandainya aku memilikinya, apakah kau tertarik untuk berpindah hati kepadaku, Muni?” Aki Ular Biru justru balik bertanya seraya tersenyum demon.


“Kau pikir kau bisa bersaing denganku, Aki Ular? Hahaha!” sahut Domba Hidung Merah jumawa.


“Aku heran dengan kalian, sudah setua ini masih berebut cinta,” kata Siluman Gendut.


“Daripada kau, Gendut, yang kau perebutkan hanya paha ayam!” balas Muni Kelalap.

__ADS_1


“Hahahak…!” tawa mereka bersama mendengar umpatan si nenek.


“Hihihik…!”


Tiba-tiba di selipan tawa berjemaah mereka ada tawa perempuan muda yang begitu nyaring. Seiring itu, entah kapan adanya, tiba-tiba di tengah-tengah lingkaran mereka berdiri sesosok tubuh wanita mungil cantik jelita. Namun, sosoknya juga terlihat menyeramkan, karena rambut keritingnya yang lebat lagi panjang memberi kesan keramat. Ditambah tawa cekikikannya yang menusuk gendang telinga sampai ke segala persendian.


Sosok yang kejelitaannya terlihat samar karena malam yang temaram, membuat keenam orang itu tidak terkagum-kagum, tetapi justru terkejut ngeri.


“Hak!” pekik mereka terkejut serentak, sambil kompak melompat mundur dan memasang kuda-kuda siap tarung.


“Hihihik…!” sosok yang adalah Permaisuri Sandaria itu, semakin tertawa melihat keterkejutan keenam orang yang tidak dikenalnya itu.


“Siapa kau?!” tanya Siluman Gendut dengan membentak.


“Aduh, kalian lucu sekali. Hihihi…!” kata Sandaria sambil berusaha mengerem tawanya.


“Jangan coba-coba berurusan dengan kami, Nak!” kata Aki Ular Biru memperingatkan.


“Apa maksudmu muncul tiba-tiba di sini? Apakah kau mencuri dengar pembicaraan kami, hah?!” tanya Muni Kelalap geram.


“Sepertinya dia buta,” bisik Domba Hidung Merah kepada Muni Kelalap. Ia curiga karena melihat sepasang mata Sandaria yang tertutup dan memegang tongkat biru kecil.


“Permisiii!” ucap Sandaria sambil bangun berjalan dengan tongkat diletakkan di depan langkahnya. Ia hendak lewat di antara Muni Kelalap dan Pendekar Bola-Bola.


“Tunggu!” ucap Muni Kelalap sambil membentangkan ujung tongkatnya ke depan tubuh Sandaria.


Sandaria jadi menahan langkahnya saat merasakan keberadaan ujung tongkat di depan badannya.


“Aku hanya sekedar lewat kok, Nek!” kata Sandaria lalu memukulkan tongkat biru kecilnya kepada ujung tongkat Muni Kelalap.


Tak! Drert!


Setelah Sandaria memukul ujung tongkat Muni Kelalap, ada getaran kuat dari titik pukulan itu lalu menjalari tongkat hingga ke tangan si nenek, membuat tubuhnya ikut bergetar seperti cara bekerjanya alat pemadat tanah stamper kuda.


Kelima orang lainnya yang melihat Muni Kelalap sampai bergetar sebentar seperti itu, jadi terkejut.

__ADS_1


“Permisiii!” ucap Sandaria sambil melangkah kembali, sementara ia tersenyum lebar seperti seorang maling yang licik.


“Jangan biarkan perempuan itu pergi! Tangkap!” teriak Siluman Gendut.


Orang yang pertama bertindak adalah Pendekar Bola-Bola.


Seet!


Ia cepat melesatkan sebuah sinar merah berbentuk bola pingpong. Namun, sinar merah itu tidak mengenai sesiapa pun, karena Sandaria yang datang tiba-tiba kini menghilang dengan tiba-tiba.


Mereka berenam jadi mendelik celingak-celinguk mencari keberadaan wanita kecil berambut lebat itu.


“Sial! Siapa wanita itu? Dia telah mencuri dengar pembicaraan kita!” gusar Siluman Gendut.


“Aku belum pernah bertemu dengan wanita berciri seperti itu. Buta dan sakti,” kata Aki Ular Biru.


“Jika ada di antara kita yang melihat wanita itu, langsung tangkap saja!” kata Siluman Gendut.


Di tempat lain.


Cring!


Suara lonceng kalung terdengar di area perkemahan yang ada di balik sebuah hutan bambu. Seiring itu sosok serigala hitam yang nyaris tidak terlihat karena malam, muncul begitu saja, seolah keluar dari lapisan alam. Di punggungnya duduk Sandaria yang baru saja berjalan-jalan.


Jleg!


Sandaria turun dengan cara bersalto dan mendarat indah di tanah yang penuh dedaunan bambu kering.


Ia pergi melangkah dengan ujung tongkat birunya di depan kaki. Ia pergi mendatangi api unggun yang sedang dikitari oleh empat wanita jelita, yakni Permaisuri Yuo Kai, Permaisuri Tirana, Permaisuri Kerling Sukma, dan Permaisuri Kusuma Dewi.


Permaisuri Sri Rahayu memilih istrihat lebih awal di tendanya.


“Dari mana saja kau, Sandaria?” tanya Tirana.


“Hihihi! Aku baru saja menjahili kelompok yang merancang keramaian pendekar ini,” jawab Sandaria yang didahului dengan tawanya. Ia lalu ikut ambil duduk di sisi Kusuma Dewi. (RH)

__ADS_1


__ADS_2