8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Rajungan 14: Perjalanan Malam Kunda Poyo


__ADS_3

*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*


 


Ki Ageng Kunda Poyo berkelebat dalam kegelapan, seolah ia keturunan kalelawar. Terangnya rembulan yang besar, membuat pemandangan malam tidak begitu gulita.


Tadi sore ia sempat mampir ke Desa Lamongan, bukan untuk membeli soto, tetapi untuk mengamati situasi ramainya desa tersebut. Sebenarnya dia sudah mendengar desas-desus adanya kehebohan di Gua Lolongan saat singgah di desa sebelumnya.


Namun, ketika tiba di Desa Lamongan, pendekar yang datang menuju Gua Lolongan terlalu banyak dan tidak wajar. Yang menimbulkan pertanyaan di benak Ki Ageng Kunda Poyo adalah, apakah acara besar di Gua Lolongan ada hubungannya dengan acara di Jurang Lolongan.


Di Desa Lamongan, Ki Ageng Kunda Poyo samar-samar mendengar isu pusaka tanpa tanding yang ada di Gua Lolongan.


Ia tidak memilih bermalam atau beristirahat di desa itu, tetapi meneruskan perjalanan menuju daerah Lolongan.


Dalam perjalanannya di malam hari itu, Ki Ageng Kunda Poyo memutuskan berhenti, ketika ia melihat ada api unggun kecil dan aroma daging bakar, tidak begitu jauh dari jalanan.


Api unggun itu dihadapi oleh dua orang wanita muda gemuk, tapi cantik-cantik dan putih-putih. Keduanya tidak lain adalah Nila Bilangan dan adiknya Nira Bilangan. Keduanya sedang asik memanggang daging.


Ketika Ki Ageng Kunda Poyo datang mendekati tempat mereka, keduanya menengok.


“Bolehkah aku ikut menghangatkan diri bersama kalian?” tanya Ki Ageng Kunda Poyo.


“Menghangatkan diri? Maksudmu apa, Kek? Apakah karena kami berdua gemuk lalu kau anggap bisa menjadi selimut bagimu?” tanya Nila Bilangan ketus.


“Hehehe! Aku sudah tua, sudah tidak punya waktu untuk berpikiran mesum seperti itu. Bukankah kalian punya api yang panas?” kata Ki Ageng Kunda Poyo.


“Hihihi!” Nira Bilangan jadi tertawa sendiri, menertawakan kakaknya.


“Kenapa kau tertawa?” hardik Nila kepada adiknya yang justru tidak berhenti tertawa. Lalu katanya kepada Ki Ageng Kunda Poyo, “Tapi beri tahu lebih dulu siapa kau adanya, Kek. Kami tidak mau tanpa sadar duduk bersama binatang buas.”


“Hehehe! Aku bernama Ki Ageng Kunda Poyo. Hanya itu, Nak,” jawab Ki Ageng Kunda Poyo.


“Oh!” desah terkejut kedua wanita gemuk itu. Meski mereka tidak mengenal sosok Ki Ageng Kunda Poyo, tetapi mereka mengenal nama itu.


Sontak keduanya berubah ekspresi wajah dan bergerak bangkit. Mereka segera menjura hormat.


“Maafkan kami karena tidak mengenali Ki Ageng,” ucap Nila Bilangan bernada santun.

__ADS_1


“Sepertinya kalian mengenal namaku?” tanya Ki Ageng Kunda Poyo sambil melangkah lebih mendekat.


“Kami berdua adalah murid Ratu Naga Lembah Seribu,” jawab Nila Bilangan.


“Oooh! Hehehe!” desah panjang Ki Ageng Kunda Poyo lalu terkekeh. “Jadi, guru kalian yang cantik itu pernah bercerita tentang aku.”


“Benar, Ki Ageng,” jawab Nira Bilangan.


“Silakan, Ki Ageng!” kata Nila Bilangan setelah melapangkan tempat duduk yang berupa gelondongan batang pohon.


“Terima kasih. Senang bisa bertemu dengan sesama aliran putih yang jelas,” kata Ki Ageng Kunda Poyo sambil bergerak duduk di batang kayu yang panjang.


Kedua gadis gemuk cantik itu hanya tersenyum dan ikut duduk kembali di tempatnya. Mereka kembali membenahi daging burung yang mereka sedang panggang menggunakan bilah bambu.


“Apakah gurumu diundang juga ke Jurang Lolongan?” tanya Ki Ageng Kunda Poyo.


Nila dan Nira jadi saling pandang mendapat pertanyaan itu.


“Kami tidak tahu tentang itu, Ki Ageng. Kami dalam perjalanan menuju Gua Lolongan, bukan Jurang Lolongan,” jawab Nila Bilangan.


“Kalian berdua termasuk orang yang jauh dari daerah ini, bagaimana bisa kalian jauh-jauh hanya untuk pergi ke Gua Lolongan?” tanya Ki Ageng Kunda Poyo.


“Kalian pasti pergi tanpa sepengetahuan guru kalian!” terka Ki Ageng.


Kedua gadis gemuk itu hanya tersenyum kecut, membenarkan terkaan Ki Ageng Kunda Poyo.


“Kami hanya penasaran, Ki Ageng,” kilah Nila Bilangan.


“Hehehe! Dalih yang terlalu lemah jika hanya sekedar penasaran, lalu kalian jauh-jauh meninggalkan Lembah Seribu. Aku duga kalian pasti ingin mencoba peruntungan. Semoga dugaanku salah. Kalian tidak perlu sungkan. Itu urusan kalian berdua dengan Ratu Naga. Namun, aku hanya memberi sedikit nasihat. Suasana yang tercipta saat ini sangat tidak normal, seperti memang sengaja diciptakan seperti ini. Kalian bisa bayangkan, jika puluhan atau ratusan pendekar semuanya menginginkan pusaka itu, seperti apa kacaunya situasi yang akan terjadi,” tutur Ki Ageng Kunda Poyo.


“Iya, Ki Ageng,” ucap keduanya.


“Tapi, apakah kalian tahu nama pusaka di Gua Lolongan itu?” tanya Ki Ageng Kunda Poyo.


“Tidak, Ki Ageng,” jawab Nila Bilangan.


“Apakah di Jurang Lolongan juga ada acara besar, Ki Ageng?” tanya Nira Bilangan, mengalihkan arah perbincangan.

__ADS_1


“Benar. Aku menduga bahwa guru kalian pun diundang ke Jurang Lolongan,” jawab Ki Ageng Kunda Poyo.


Set! Tak! Duss!


Tiba-tiba dari kegelapan melesat satu benda kecil menyerang Ki Ageng Kunda Poyo. Cekatan si kakek menangkis dengan tongkatnya, membuat benda yang adalah bluluk itu, terpental ke arah lain dan menancap di sebatang pohon. Bluluk adalah sebutan orang Jawa untuk kelapa yang masih kecil sekali.


Mereka bertiga cepat menoleh kepada sumber lemparan.


“Kunda Loyo! Aku cari-cari ke mana-mana, eh malah ada di sini dengan dua perempuan cantik!”


Belum lagi mereka sempurna melihat sosok yang menyerang, Ki Ageng sudah kembali diserang, tapi kali ini serangan verbal.


“Terima kasih, Nek!” ucap Nila dan Nira bersamaan sambil tersenyum imut karena merasa dipuji.


“Aku tidak memuji kalian, tetapi aku sedang memarahi si tua bangka ini. Aku cari ke rumahnya, tidak ada. Aku cari di jalan, tidak ada. Aku tanya diriku, tidak tahu. Aku tanya burung, dia terbang. Aku tanya bajing, dia loncat. Aku tanya angin, dia berembus. Hah, melelahkan!” celoteh si nenek yang adalah Emping Panaswati dengan emosi.


Kedua gadis gemuk hanya tersenyum karena merasa lucu. Sementara si kakek hanya mendelik.


“Aku dengar dari Putri Bibir Merah bahwa Tong!” kata Emping Panaswati melanjutkan cerocosannya.


Namun, kata-kata Emping Panaswati terputus karena dengan gerakan yang cepat, tahu-tahu Ki Ageng Kunda Poyo membekap mulut tua si nenek dengan tangan tuanya.


“Jangan bicara sembarangan di depan orang yang tidak kau kenal!” bisik Ki Ageng Kunda Poyo sambil menarik Emping Panaswati menjauh dari tempat itu.


“Mesra sekali,” ucap Nila Bilangan sambil tertawa kecil melihat pertengkaran kedua sepuh itu.


“Kami pergi, Nak. Terima kasih atas tempat duduknya!” teriak Ki Ageng Kunda Poyo sambil melambai kepada Nila dan Nira Bilangan.


Nila dan Nira hanya membalas lambaian tangan Ki Ageng Kunda Poyo seraya tersenyum lebar.


“Singkirkan tangan genitmu!” bentak Emping Panaswati setelah menepis tangan si kakek yang sejak tadi betah membekap mulut perempuan.


“Aku tidak genit, aku berbincang dengan kedua murid Ratu Naga Lembah Seribu,” kilah Ki Ageng Kunda Poyo.


“Oh, rupanya ratu kecantikan itu juga datang ke Jurang Lolongan,” ucap Emping Panaswati seolah panas hati.


“Ada apa kau mencariku, Emping?” tanya Ki Ageng Kunda Poyo.

__ADS_1


“Aku mau menanyakan, kenapa keponakanku si Bibir Merah menitipkan Tongkat Jengkal Dewa kepadamu?” jawab Emping Panaswati.


“Aku benar-benar dapat apes, Emping!” kata Ki Ageng Kunda Poyo serius dan setengah berbisik, menunjukkan perkara yang mereka bahas bersifat rahasia. “Ah, lebih baik kita cari tempat yang nyaman dan asik untuk berdua.” (RH)


__ADS_2