8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
PCR 20: Izin dari Ningsih


__ADS_3

*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*


 


Rombongan Raja Anjas bermalam tidak jauh dari Gunung Prabu. Meski sudah tidak terlalu jauh dari Kerajaan Sanggana Kecil, mereka tetap memutuskan bermalam karena rute gelap akan menyulitkan rombongan besar.


Menjelang malam mereka memakamkan para prajurit yang tewas. Para prajurit yang lain juga ditangani lukanya. Rombongan mereka sudah terpantau oleh teliksandi Kerajaan Sanggana Kecil.


Laporan tentang keberadaan rombongan Raja Anjas segera sampai ke Istana. Ratu Getara Cinta segera mengirim utusan berupa sejumlah pasukan kecil yang dipimpin oleh dua orang Pengawal Bunga Permaisuri Tirana, yaitu Legam Pora dan Semai Lena yang bergelar Sayap Perak.


Legam Pora adalah seorang pendekar berkulit hitam berbaju putih. Ia tergolong pemuda yang usianya masih di bawah tiga puluh tahun. Senjatanya adalah sebilah celurit yang dipasang di punggung dan sebatang tongkat pendek dari besi yang dipasang di kaki kanan. Ia mantan anak buah Penagih Nyawa di Hutan Malam Abadi.


Sementara Semai Lena adalah pendekar wanita mantan anak buah Pangeran Kubur. Ia selevel dengan Sekarembun. Semai Lena memiliki postur tubuh dan penampilan cenderung seperti lelaki. Rambutnya lurus sebahu, gaya jalannya pun seperti lelaki. Namun, ia tetap bisa dipastikan sebagai seorang wanita karena memiliki dada dan pinggul yang lebih besar daripada lelaki, termasuk lehernya tidak berjakun.


Malam-malam pasukan kecil yang terdiri dari dua Pengawal Bunga dan sepuluh prajurit biasa itu, tiba di tempat Raja Anjas dan rombongannya bermalam.


Sebelumnya Permaisuri Tirana sudah mengenali siapa dua pengawal pribadinya.


“Kembalilah kalian dan laporkan kepada Gusti Prabu siapa saja yang ada di dalam rombongan ini. Kami akan tiba pada pagi hari!” perintah Tirana kepada kedua Pengawal Bunga.


“Baik, Gusti Permaisuri,” ucap Legam Pora.


“Ada pesan dari Gusti Ratu untuk Prabu Anjas,” kata Semai Lena.


“Katakanlah, Prajurit!” perintah Anjas yang ada bersama Tirana dalam menerima para utusan itu.


“Kedatangan Gusti Prabu Anjas sedang ditunggu oleh Ratu Sri Mayang Sih di Istana Sanggana Kecil,” ujar Semai Lena.


“Oh ya? Hahaha!” ucap Anjas terkejut, lalu tertawa pelan. “Baik, aku tidak akan lari dari Ratu Sri Mayang Sih.”


Setelah itu, para utusan itu pulang menembus gelap dan menerobos hutan.


Pada tengah malam, Raja Anjas sedang berduaan dengan Ningsih Dirama. Anjas bersandar pada sebongkah batu dan Ningsih Dirama berbaring berbantalkan paha suaminya. Tidak jauh di depan mereka ada api unggun.


Hampir semua orang yang ikut dalam rombongan mereka sudah terlelap. Tirana sudah tertidur di dalam tenda. Di pintu tirai tenda, duduk termangu Putri Manik Sari sambil memandangi kebersamaan Anjas dan istrinya di kejauhan.


Semua warga sudah terlelap nyenyak, terbawa oleh rasa lelah karena seharian melakukan perjalanan. Ada sejumlah pasukan yang melakukan jaga malam.


“Sayang, tadi utusan dari Sanggana Kecil memberi tahu aku, Ratu Sri Mayang Sih sedang menunggu kedatanganku di sana,” kata Anjas kepada istrinya.


“Hah!” kejut Ningsih Dirama. “Apakah Ratu Sri akan membalas dendam atas kematian Prabu Raga?”

__ADS_1


“Sepertinya demikian. Aku menduga, ketika bertemu di tengah jalan, Ratu Sri sangat terburu-buru untuk sampai ke Sanggana Kecil. Kini dia sudah di sana, berarti urusannya sudah terselesaikan dan kini dia menungguku untuk membalas dendam,” kata Ajas. “Menurutmu bagaimana, Sayang?”


“Ratu Sri Mayang Sih tidak pernah jahat kepadaku selama aku dipenjara di Istana Siluman. Aku kasihan kepadanya. Kini dia kehilangan suami karena kau, Kang Mas,” kata Ningsih Dirama tanpa maksud menyalahkan suaminya.


“Prabu Raga Sata layak untuk mati. Selain dia memang musuh dunia, dia juga telah membuat istriku menderita selama dua puluh tahun. Ratu Sri Mayang Sih harus menerima kenyataan bahwa suaminya memang layak mati, cepat atau lambat. Apakah aku harus membunuhnya juga agar urusan dendam ini terselesaikan?”


“Jangan, Kang Mas. Jika Kang Mas membunuh Ratu, Kang Mas begitu jahat, sama jahatnya seperti Prabu Raga. Jika Kang Mas membunuh Ratu, Putri Sri Rahayu pasti akan mendendam. Putri Sri Rahayu adalah menantu kita, Kang Mas,” kata Ningsih Dirama.


“Jadi, apakah aku harus menikahi Ratu Sri Mayang agar dia kembali memiliki suami dan bahagia?” tanya Anjas.


Pertanyaan itu membuat Ningsih Dirama terkejut, hingga-hingga ia bangun duduk dan menghadap kepada suaminya.


“Tapi, apakah Ratu Sri Mayang mau menikahi lelaki yang sudah membunuh suaminya?” tanya Ningsih Dirama serius.


Giliran Anjas yang mendelik terkejut. Ia tidak menyangka istrinya justru antusias menanggapi pertanyaannya. Ia pikir Ningsih Dirama akan cemburu dan marah mendengar pertanyaannya tadi.


“Jika Ratu Sri tidak keberatan aku persunting, apakah kau tidak cemburu, Sayang?” tanya Anjas serius.


“Kang Mas, sejak aku masih dicalonkan sebagai selir, aku sudah tidak memiliki rasa cemburu. Terlebih sekarang aku mendapati kondisi yang jauh lebih baik dibandingkan menjadi seorang selir. Aku hanya bisa bersyukur dengan kondisi yang lebih baik aku terima saat ini. Aku menjadi iba jika melihat wanita lain bernasib seperti aku atau lebih buruk lagi,” kata Ningsih.


“Lalu bagaimana dengan Putri Manik Sari?” tanya Anjas.


“Kang Mas tertarik kepadanya?” tanya balik Ningsih.


“Aku tidak melihat Putri Manik Sari,” kata Ningsih saat turut memandang ke arah tenda. Ningsih hanya melihat tenda yang dalam kondisi gelap.


“Putri Manik Sari sedang duduk di balik tirai tenda memandangi kita,” tandas Anjas.


“Kenapa Kang Mas begitu jelas melihatnya? Apakah di mata Kang Mas yang terbayang selalu wajah Putri Manik Sari?”


“Hahaha…!” tertawa panjanglah Anjas. Ia membelai kepala Ningsih Dirama. “Aku bisa melihatnya dengan jelas karena aku orang sakti. Sepertinya jika dengan Putri Manik Sari, kau bisa cemburu.”


“Tidak, aku tidak cemburu dengan siapa pun!” bantah Ningsih dengan paras agak merengut.


“Hahaha…! Jika begitu, aku berencana menikahi Putri Manik Sari besok,” kata Anjas di sela-sela tawanya.


“Apa?!” pekik Ningsih Dirama.


“Tidak apa-apa kan, Sayang? Dia terlihat begitu jatuh cinta kepadaku yang masih tampan ini. Aku juga masih kuat untuk menaiki seratus gunung dan menuruni lembah,” ujar Anjas.


“Ya, ti… tidak apa-apa sih. Tetapi, kenapa begitu cepat mau menikahnya?” kata Ningsih agak tergagap dan nadanya berat, wajah cantiknya meringis tanpa sakit.

__ADS_1


“Hahaha…!” Meledaklah tawa Anjas melihat reaksi istrinya sejauh ini. Ia lalu merangkul bahu istrinya dan menariknya agar bersandar pada dadanya. Lalu bisiknya, “Aku hanya menggodamu, Sayang.”


“Kang Mas…” sebut Ningsih merajuk sambil mencubit pelan paha kanan suaminya.


“Kok cubitannya salah sasaran?” tanya Anjas kembali menggoda.


“Hihihi…!” tawa Ningsih yang memahami arti “salah sasaran”, tetapi ia tidak mau meralat salah sasarannya. Lalu tanyanya setelah selesai tertawa, “Tapi bagaimana dengan Ratu Sri Mayang?”


“Apakah kau serius menyuruhku untuk memperistrinya?” tanya balik Anjas.


“Iya,” jawab Ningsih sambil mengangguk sekali.


“Jika ratuku tahu, mungkin bisa runyam urusannya,” kata Anjas.


“Siapa ratu Kang Mas?” tanya Ningsih.


“Ratu Semilir Gita Maya di Kerajaan Sanggana.”


“Apakah Ratu Semilir tahu tentang aku?” tanya Ningsih.


“Tahu.”


“Apakah Ratu Semilir cemburu?”


“Tidak. Sebelum kami menikah, aku sudah memberitahunya bahwa aku sudah memiliki istri, namanya Ningsih Dirama. Karena Ratu Semilir mau menjadi ratuku, maka dia harus mau menerimamu suatu hari nanti,” kata Anjas.


“Tapi aku mau tinggal bersama Joko di Sanggana Kecil, Kang Mas,” kata Ningsih.


“Jika kau tinggal di Sanggana Kecil, berarti kau tidak bisa bertemu denganku setiap hari,” kata Anjas.


“Tidak apa-apa, asalkan aku bertemu putraku setiap hari.”


“Baiklah. Aku akan merelakan diri untuk menempuh perjalanan antar Sanggana. Sepertinya kau sudah lebih mencintai putramu daripada aku.”


“Hihihi…! Kalau Kang Mas itu punya banyak yang bisa dicintai, sedangkan aku hanya punya Joko,” kilah Ningsih.


“Sepertinya Joko tidak mau menerimaku, Ningsih,” keluh Anjas.


“Maksud, Kang Mas?”


“Mungkin karena aku tidak pernah datang menjenguknya sebagai seorang ayah. Sepertinya dia membenciku. Ketika di Istana Siluman, dia tidak memiliki niat sedikit pun untuk bertemu denganku,” kata Anjas.

__ADS_1


“Joko Tenang pasti akan menerimamu, Kang Mas. Aku akan marah kepadanya jika dia sampai tidak mau mengakui ayahnya!” tandas Ningsih.


“Jadi, aku boleh menikahi Ratu Sri Mayang?” tanya Anjas kembali ke topik yang tadi, bermaksud menggoda istrinya lagi. (RH)


__ADS_2