8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Perjaka 13: Ginari Tagih Nikah


__ADS_3

*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*


 


Kaaak!


Suara koakan yang terdengar di seluruh wilayah Sanggana Kecil itu membuat semua orang di dalam Istana tersentak kecil. Orang-orang yang paling gembira mendengar suara burung itu adalah Ratu Getara Cinta dan permaisuri yang lain. Jelas mereka rindu. Jangankan ditinggal satu dua hari atau lebih, ditinggal sekedip mata saja, rasanya seperti kehilangan banyak darah.


Adapun bagi para pendekar tua yang belum pernah mengetahui atau mendengar tentang burung Joko Tenang, mereka hanya bertanya-tanya, suara keras apakah gerangan yang muncul di gelapnya langit malam.


“Hihihi!” tawa Sandaria sambil buru-buru membuka pintu kamarnya dan berlari begitu riang.


Bugk!


“Ak!” pekik Sandaria setelah bokong sekal mungilnya menghantam lantai Istana.


Ini untuk pertama kalinya, Sandaria yang melihat dengan mata batin menabrak seseorang sehingga membuatnya jatuh terduduk.


“Permaisuri Guru. Hehehe!” sapa Sandaria lalu tertawa cengengesan.


Sandaria telah menabrak Dewi Mata Hati, satu-satunya orang buta yang ilmu mata batin dan perasanya lebih tinggi dari Permaisuri Serigala. Meski bersikap dingin, Nara memang sengaja menjahili Sandaria yang suka jahil.


“Hihihi …!” tawa bersama Kerling Sukma dan Kusuma Dewi yang menjadi saksi langsung insiden tersebut.


Sementara Permaisuri Yuo Kai hanya tersenyum melihat Sandaria terduduk di lantai. Menyusul pula kemunculan Ratu Getara Cinta yang tersenyum.


Dewi Ara keluar pula dari kamarnya dan langsung menghampiri Sandaria. Ia mengulurkan tangannya kepada gadis mungil menggemaskan itu. Seraya tertawa kecil, Sandaria bangkit berdiri sambil berpegangan pada tangan Dewi Ara.


Kamar-kamar semua istri Joko Tenang letaknya berdampingan dan berhadapan. Pintu-pintu kamar itu dipertemukan pada satu ruangan lebar yang membentuk pola lingkaran. Sekarang, pada setiap pintu memiliki tanda ukiran kayu yang dipasang pada sisi atas. Seperti ukiran kepala serigala selebar telapak tangan di pintu kamar Sandaria dan ukiran tameng perang pada pintu kamar Tirana.


Namun, saat itu Tirana tidak terlihat keluar dari kamarnya.


“Di mana Permaisuri Penjaga?” tanya Kusuma Dewi.


“Di kamar Ginari,” jawab Ratu Getara Cinta.


Kumpulan Dewi Bunga itu lalu bersama-sama meninggalkan kamar-kamar mereka menuju ke pelataran Istana.


Kaaak!


Suara koakan Gimba terdengar lagi dan lebih kencang. Bertepatan dengan mendaratnya Gimba yang memberikan embusan angin keras dari kepakan sayapnya, para istri tiba di koridor luar.


Di sisi lain, sejumlah tokoh tua sakti yang memilih masih bermalam di Istana, terlihat berkumpul hanya untuk tahu suara burung dan menyaksikan kepulangan sang raja.

__ADS_1


Sebelumnya, dalam pertemuan hari itu, diputuskan bahwa mereka akan melakukan pertemuan dengan Joko Tenang. Pertemuan akan dilaksanakan malam jika Joko pulang di awal malam, tetapi akan pagi jika Joko pulang lebih malam.


Joko Tenang pulang tidak hanya bersama Gimba seekor, tetapi bersama tiga orang lain. Ketiga orang itu adalah Petra Kelana alias Pangeran Lidah Putih, Bidadari Wajah Kuning dan Bidadari Payung Kematian.


Joko Tenang bersama Petra Kelana bertempat di kaki Gimba, sementara kedua nenek duduk di pangkal leher si burung. Alangkah senangnya kedua Bidadari tua itu ditempatkan di atas burung, terlebih bagi Bidadari Wajah Kuning.


Joko Tenang langsung mendatangi para istrinya yang berjalan menyambut. Sebagaimana biasa, peluk cium penuh cinta dan mesra tersaji. Meronta-rontalah jiwa-jiwa jomblo para tokoh tua yang menyaksikan dari jauh keakuran Joko Tenang dengan para istrinya.


“Benar-benar menang banyak,” ucap Ki Ageng Kunda Poyo yang melihat dari kejauhan.


“Apanya yang menang banyak? Kau pikir Joko sedang main judi?” timpal Siluman Kera Langit.


“Memang seharusnya Prabu Dira yang pantas memimpin dunia persilatan aliran putih. Dengan kepemiliki Hewan Alam Kahyangan, aku rasa tidak akan ada yang meragukannya,” kata Raja Pisau Langit, Ketua Besar Barisan Putih saat ini.


“Tapi sayang, anak itu tidak mau,” kata Siluman Kera Langit.


Cup!


Tiba-tiba Bidadari Wajah Kuning mencium pipi empuk Bidadari Payung Kematian.


“Heh! Kenapa kau menciumku, Kuning?” hardik Bidadari Payung Kematian terkejut. Dilihatnya Bidadari Wajah Kuning berjalan pergi dengan wajah merengut.


“Dia cemburu melihat Joko Tenang dikerumuni oleh bidadari-bidadari segar.” Justru Petra Kelana yang menjawab pertanyaan Bidadari Payung Kematian. Ia lalu mengikuti Bidadari Wajah Kuning menuju ke tempat para tokoh tua berkerumun.


“Jokooo!”


Tiba-tiba terdengar suara panggilan wanita yang kencang, sampai-sampai para pendekar tua pun mendengar. Mereka jadi memusatkan perhatian kepada wanita yang berteriak itu, termasuk Bidadari Wajah Kuning yang kemudian dilanda rasa cemburu yang bertambah.


“Hihihi!”


Tampak seorang gadis cantik jelita yang bersinar terang di dalam temaramnya suasana malam, berlari menuju kepada Joko sambil tertawa bahagia. Ratu Getara Cinta dan permaisuri yang lain tersenyum melihatnya. Ia adalah Ginari.


Ia berlari meninggalkan Permaisuri Tirana yang tadi datang bersamanya. Tirana tersenyum lebar melihat Ginari begitu gembira menyambut kedatangan Joko Tenang.


“Hahaha!” tawa Joko Tenang gembira pula menyambut kedatangan Ginari yang sudah bisa berlari cepat.


Bluk!


Kencang. Ginari menubruk peluk tubuh Joko Tenang dengan kencang. Pelukan Ginari seperti pelukan yang begitu rindu.


“Kau semakin cantik, Ginari. Maafkan aku karena jarang mengunjungimu,” ucap Joko Tenang.


“Tidak apa-apa,” kata Ginari sambil merenggangkan pelukannya.

__ADS_1


Cup!


Ginari tiba-tiba mencium pipi Joko Tenang.


“Hihihi!” tawa Ginari dengan tatapan yang malu-malu.


“Hahaha!” tawa Joko Tenang setelah mendelik terkejut.


“Kapan kau akan menikahiku, Kakang Prabu?” tanya Ginari.


Joko Tenang kembali agak mendelik mendengar pertanyaan Ginari. Penyebutan “Kakang Prabu” menunjukkan Ginari semakin baik perkembangan psikis dan otaknya.


“Gusti Ratu dan semua permaisuri sudah memberi izin aku menikah dengan Kakang Prabu,” kata Ginari lagi seraya tersenyum.


“Pasti. Pasti aku akan menikahimu, Ginari sayang,” jawab Joko Tenang dengan pasti. Ia lalu membelai kepala Ginari.


“Kakang Prabu!” sapa Tirana seraya tersenyum manis. Ia lalu memeluk sejenak suaminya.


“Menurutmu Ginari bagaimana?” tanya Joko Tenang.


“Sudah sangat sehat, sudah sangat bisa untuk menjadi istri,” jawab Tirana.


“Bagaimana dengan Aninda Serunai?” tanya Nara.


“Aku bisa merebut Tongkat Jengkal Dewa dan memusnahkan kesaktian Aninda Serunai,” jawab Joko Tenang.


Dari sisi lain, seorang wanita yang dikawal oleh dua dayang datang dengan setengah berlari. Melihat kedatangan wanita matang itu, Joko Tenang segera menyongsong.


“Bagaimana Aninda, Joko? Apa yang kau lakukan kepadanya?” tanya Ningsih Dirama cemas.


“Dia masih hidup, Ibunda. Aku hanya memusnahkan semua kesaktiannya. Adapun nasibnya, aku tidak bertanggung jawab,” jawab Joko Tenang.


“Syukurlah jika kau tidak membunuhnya. Seandainya nanti, jika dia harus mati di tangan pendekar lain, aku tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Ningsih Dirama sedih. Ia menitikkan air mata.


“Ibunda jangan bersedih. Sekarang Ibu memiliki putri-putri yang cantik-cantik dan lucu-lucu,” kata Joko Tenang lembut lalu memandang kepada para istrinya.


“Kalau cantik pasti semuanya, tapi kalau lucu, itu hanya aku. Hihihi!” celetuk Sandaria lalu tertawa sendiri.


“Ibunda jangan bersedih, kami akan selalu bersama Ibunda,” kata Tirana pula, menghibur hati Nigsih Dirama.


“Kakang Prabu, para tetua besok ingin bertemu,” ujar Ratu Getara Cinta.


“Baik.” (RH)

__ADS_1


__ADS_2