
*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*
Seperti anak muda yang sedang malam mingguan, Ki Ageng Kunda Poyo mengajak Emping Panaswati duduk berdua di salah satu dahan pohon mangga sambil makan buah pisang bersama. Mereka menonton film berjudul “Purnama Sehari Lagi” di bioskop alam malam. Ki Ageng Kunda Poyo menyajikan sesisir pisang matang sebagai nikmatan mereka berdua di malam itu.
Jika bisa bicara, mungkin pohon mangga akan marah dan mencaci maki keduanya. Seharunya mereka makan buah mangga, bukan malah makan pisang. Alangkah sakit hatinya si pohon mangga, karena pohon juga punya perasaan.
Demikian pula tongkat Ki Ageng Kunda Poyo yang berdiri tegak di sisi si kakek. Sebagai simbol pemuja buah nanas, seharus Ki Ageng makannya buah nanas, bukan pisang.
"Aku sebenarnya berat hati menerima pusaka itu dititipkan di kediamanku, tetapi aku tidak bisa menolak karena aku punya utang nyawa kepada Putri Bibir Merah. Meski dia tidak menyinggung perihal itu, tetapi aku yang merasa tidak enak. Dan aku juga tidak tahu, tiba-tiba berita tentang keberadaan pusaka itu bisa bocor!” kata Ki Ageng Kunda Poyo bernada emosional. Wajahnya mengerenyit menyesalkan apa yang telah terjadi terhadapnya.
“Hah! Bocor?” sebut ulang Emping Panaswati terkejut. “Siapa orang yang tahu bahwa kau menyimpan Tongkat Jengkal Dewa?”
“Tiba-tiba seorang gadis yang mengaku bernama Putri Aninda Serunai datang ke guaku bersama lima anak buahnya. Mereka bisa melumpuhkanku. Putri itu mengambil pusaka tersebut….”
“Putri itu tidak mati ketika mengambilnya?” tanya Emping Panaswati antusias, memotong kata-kata Ki Ageng Kunda Poyo.
“Dia mengaku keturunan Ratu Bibir Darah dan putri dari Ningsih Dirama. Bibirnya memang merah. Tidak matinya dia saat memegang pusaka itu, membuatku yakin dia adalah keturunan keluarga besarmu, Emping.”
“Putri dari Ningsih Dirama. Aku tidak begitu akrab dengan anak itu maupun ibunya. Tidak aku sangka anak itu punya putri yang hebat. Setahuku Ningsih Dirama tidak memiliki bekal kesaktian,” ucap Emping Panaswati lirih seperti bicara kepada dirinya sendiri, sambil mulut tuanya yang masih bergigi mengunyah pisang.
“Jika Aninda Serunai itu seorang putri, itu artinya ibunya seorang ratu. Sayangnya, dia tidak menyebutkan dia itu putri dari kerajaan mana. Karena itulah aku segera pergi ke Kadipaten Mendiko. Ternyata Adipati Yono Sumoto sudah diturunkan derajatnya menjadi demang di Kademangan Uruk Sowong. Dan Ningsih Dirama katanya sudah dibuang ke Hutan Angker karena teluh jahat. Saat aku ke Kademangan Uruk Sowong, ternyata Adipati juga sudah pindah bersama anak dan menantunya. Tidak ada yang tahu ke mana,” kisah Ki Ageng Kunda Poyo.
“Lalu?” tanya Emping Panaswati.
“Lalu aku di sini berdua denganmu!” jawab Ki Ageng Kunda Poyo agak keras dengan maksud berseloroh.
“Hihihi!” kekeh Emping Panaswati yang masih memiliki selembar daun dan sekelopak bunga di hati tuanya.
“Lalu aku buru-buru menuju Jurang Lolongan. Aku tidak mau terlambat. Aku harus menyampaikan masalah ini. Sebab, ini bisa sangat berbahaya. Bisa-bisa kejadian puluhan tahun lalu terulang kembali,” kata Ki Ageng Kunda Poyo. “Aku memiliki kecurigaan tentang keramaian para pendekar yang berbondong-bondong menuju Gua Lolongan.”
“Aku berencana pergi ke gua itu sebelum pergi ke Jurang Lolongan,” kata Emping Panaswati.
“Kita pergi berdua, Emping!” ajak Ki Ageng Kunda Poyo.
“Aku sangat senang jika kita pergi berdua, Kunda Loyo. Hihihi!”
Jleg! Krak!
“Akk!”
Tiba-tiba sesosok berjubah kuning melesat melayang di udara dan mendarat di ujung dahan, tempat kedua orang tua itu duduk.
Alangkah terkejutnya keduanya saat pangkal dahan yang mereka duduki patah, membuat tubuh mereka berdua bersama dahannya langsung meluncur jatuh. Emping Panaswati bahkan sampai menjerit.
Jleg!
__ADS_1
Namun, keduanya bisa mendarat dadakan dengan baik di tanah. Keduanya langsung mendongak, sebab sosok yang datang itu tidak turut jatuh meski tempat berpijaknya telah jatuh.
Sosok berjubah kuning yang menggendong seseorang itu melayang di atas, seolah tidak memiliki berat ataupun gaya gravitasi. Untuk melihat jelas siapa adanya sosok di atas tersebut, Ki Ageng Kunda Poyo dan Emping Panaswati serentak melangkah mundur.
Seiring itu, sosok tersebut bergerak pelan turun lurus hingga menginjak tanah yang gelap.
Sosok itu ternyata seorang wanita muda cantik jelita berambut pendek seperti lelaki. Namun, sepasang matanya hitam semua seperti diisi oleh kelereng berwarna hitam. Wanita berjubah kuning itu menggendong sosok lelaki besar pada kedua tangannya. Seorang muda berambut gondrong lurus, berwajah tampan seperti wanita berbibir merah, tetapi memiliki tubuh yang gagah berotot. Ia mengenakan pakaian putih yang dilapisi rompi merah terang.
Terkejutlah kedua orang tua itu saat mengenali wanita jelita berjubah kuning.
“Dewi Mata Hati!” sebut keduanya bersamaan.
“Kalian kompak dan sehati sekali,” komentar Dewi Mata Hati sambil menurunkan bocah gede yang digendongnya, yaitu Joko Tenang. Suami paling tercinta.
Setelah berdiri tegak, Joko Tenang tersenyum ramah kepada kedua orang tua itu. Ia dan istrinya berpenampilan layaknya pendekar biasa tanpa ada asesoris berbau bangsawan.
“Hormatku kepada kedua tetua!” ucap Joko Tenang sembari menjura hormat dengan sedikit membungkuk dan kedua tangan bertemu di depan dahi.
“Hormatku, Dewi Mata Hati!” ucap Emping Panaswati berubah menaruh hormat.
“Hormatku, Dewi Mata Hati!” ucap Ki Ageng Kunda Poyo pula.
Namun, kedua orang tua itu menatap curiga kepada pemuda tampan yang mereka nilai seperti banci, yaitu lelaki cantik yang pesolek, sampai-sampai bergincu seperti wanita.
“Apa-apaan ini, Dewi Mata Hati? Kau muncul dengan menggondol lelaki pesolek seperti itu. Apakah terjadi sesuatu kepadamu yang mengubah jiwamu?” tanya Ki Ageng Kunda Poyo. Ia sangat tahu bahwa Dewi Mata Hati adalah mantan kekasih kakaknya, Ki Ageng Kunsa Pari. Dia juga sangat tahu bahwa Dewi Mata Hati adalah pembunuh adik perempuannya. Namun, ia sudah memaafkan wanita tua berfisik muda itu lantaran insiden tersebut terjadi karena ketidaksengajaan.
“Hah!” pekik Ki Ageng Kunda Poyo dan Emping Panaswati bersamaan, sehingga terkesan lucu.
Ingin rasanya Joko Tenang tertawa, tapi khawatir jadi masalah.
“Apakah kalian selama ini menyangka aku dikutuk Dewa sehingga tidak akan bisa menikah dan mengubah keperawananku?” tanya Nara. “Lihatlah tingkah kalian berdua, sudah tua tetapi masih memadu kasih.”
“Eh eh eh, tidak begitu Dewi Mata Hati. Kami baru bertemu. Wajar jika dua sahabat melepas rindu!” kilah Emping Panaswati membela diri. “Tapi, kenapa kau memilih suami semuda ini? Apalagi kewanitaan seperti ini? Bukankah masih banyak lelaki yang sepantar dan juga masih gagah?”
“Kau mau mengajakku ribut, Emping?” tanya Nara dengan nada yang tetap datar.
“Ti… tidaaak. Habisnya, kau muncul menjadi aneh-aneh seperti ini, hehehe!” jawab Emping Panaswati berkelit, lalu terkekeh paksa agar Nara tidak marah.
“Kalian akan lebih terkejut lagi jika tahu siapa suamiku ini,” ujar Nara.
“Siapa?” tanya Ki Ageng Kunda Poyo.
“Aku mendengar semua yang kalian berdua bicarakan sejak awal. Sebenarnya aku enggan singgah menemui kalian, karena pastinya kalian justru akan menilaiku buruk. Namun, karena apa yang kalian bicarakan menyangkut hal penting yang kami ketahui dan menyangkut pula dengan suamiku, maka aku menemui kalian. Suamiku adalah Joko Tenang.”
“Hakk!” pekik Ki Ageng Kunda Poyo terkejut bukan main, sampai-sampai ia termundur dua tindak dan jatuh terduduk.
__ADS_1
Emping Panaswati jadi ikut terkejut tanpa suara, melihat begitu syoknya Ki Ageng Kunda Poyo ketika mendengar nama “Joko Tenang”.
Ki Ageng Kunda Poyo tidak bergegas bangun.
“Emping, ke marilah! Coba pegang dadaku!” panggil Ki Ageng Kunda Poyo.
Emping Panaswati yang tidak mengerti apa yang terjadi, menurut mendekati Ki Ageng dan meletakkan tangan kanannya pada dada Ki Ageng Kunda Poyo.
“Jantungmu berdebar kencang, Kunda Loyo,” kata Emping Panaswati seraya mendelik.
Sementara itu, betapa kesalnya Dewi Mata Hati di dalam hati melihat adegan berlebihan Ki Ageng Kunda Poyo. Ia tahu kenapa lelaki tua bertongkat buah nanas itu sangat terkejut.
Ki Ageng Kunda Poyo lalu bangun dengan wajah merengut seperti memendam amarah, tetapi ia bingung untuk meluapkannya. Napasnya terlihat memburu-buru seperti napas banteng yang sedang marah.
“Jika kau mau marah, luapkan saja, Kunda Loyo!” kata Emping Panaswati mengompori.
“Kau keterlaluan, Dewi Mata Hati!” teriak Ki Ageng Kunda Poyo akhirnya kepada Dewi Mata Hati, sampai-sampai air liurnya termuncrat keluar. Ia terlihat marah hingga-hingga wajah dan tubuhnya bergetar.
Beg!
“Hukh!” keluh Ki Ageng Kunda Poyo dengan tubuh terlempar ke belakang lalu terjengkang, setelah satu kekuatan tenaga sakti tak terlihat menghantam perutnya dengan keras.
Mereka semua tahu bahwa Dewi Mata Hati yang menyerang Ki Ageng Kunda Poyo. Lelaki tua itu segera bangkit dengan emosi semakin tersulut. Emping Panaswati pun bersiaga, jika-jika perempuan buta itu juga menyerangnya.
Joko Tenang bergerak maju beberapa langkah di depan istrinya.
“Maafkan istriku, Ki Ageng, karena sudah bertindak keras kepadamu. Aku dan Dewi Mata Hati sudah berjodoh, jadi kami harap hal itu tidak dipandang buruk dan tidak dipermasalahkan. Kami hanya ingin tahu tentang pusaka Tongkat Jengkal Dewa yang kalian perbincangkan,” ujar Joko Tenang.
“Baik, aku tidak akan mempermasalahkannya, tapi kau tidak akan bisa lepas dari cap buruk dunia persilatan, Dewi Mata Hati!” kata Ki Ageng Kunda Poyo sambil menahan amarahnya.
“Aku akan melawan dunia karena aku tidak melakukan kesalahan dalam menikahi suamiku!” tandas Nara dengan nada agak meninggi.
“Nenek, Ki Ageng, kami tahu siapa orang yang sekarang memegang Tongkat Jengkal Dewa, yaitu Putri Aninda Serunai. Dia adalah anak dari Malaikat Dewa Raja Iblis,” kata Joko Tenang kembali membalikkan pembicaraan kepada Tongkat Jengkal Dewa.
“Apah?!” pekik kedua orang tua itu bersamaan kembali dengan mata yang sama-sama mendelik.
“Putri Aninda Serunai itu anak dari Raja Kerajaan Siluman? Owwalah Gusti, mati aku kalau seperti ini. Dari tanganku, pusaka itu jatuh ke tangan musuh besar aliran putih? Apes, apes, apes aku!” celoteh Ki Ageng Kunda Poyo resah meratapi nasib sialnya.
“Putri Aninda Serunai adalah adik tiriku,” kata Joko.
“Hah!” desah Ki Ageng Kunda Poyo dan Emping Panaswati terkejut lagi.
“Aku adalah anak dari Ningsih Dirama,” ungkap Joko lagi.
“Hah! Cicitku?” jerit Emping Panaswati.
__ADS_1
“Yaaa, kau adalah pewaris Tongkat Jengkal Dewa yang dimaksud Putri Bibir Merah,” kata Ki Ageng Kunda Poyo lemas. Ia tidak marah lagi, tapi seolah pasrah dengan keadaan. Seolah Joko Tenang datang untuk menagih kepadanya. (RH)