
*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*
Seratus orang jumlahnya. Semuanya berperawakan pendekar dengan gaya masing-masing yang berbeda. Sebagian dari mereka membawa jenis senjata yang berbeda-beda. Lengkap. Semua jenis karakter seolah-olah ada di dalam rombongan tersebut.
Mereka memasuki Desa Lamongan, desa yang sempat ramai oleh para pendekar dunia persilatan sekitar beberapa pekan lalu.
Masuknya rombongan itu di saat bukan musim pendekar, mengejutkan warga setempat.
“Ada apa lagi ini, Cungir?” tanya seorang warga lelaki kepada rekannya sesama warga.
“Jangan-jangan seperti waktu itu. Kita buat penginapan mahal lagi, Kang Somat!” kata Cungir.
“Tapi ini seperti satu pasukan,” kata Somat.
“Iya ya. Sepertinya mereka sekedar lewat.”
“Aaa, ujung-ujungnya juga berhenti di Rumah Makan Nyi Blotot!”
“Iya ya. Semakin kaya raya Nyi Blotot,” kata Cungir.
Rombongan pendekar itu memang akhirnya berhenti dan memasuki Rumah Makan Nyi Blotot yang saat itu sepi, karena sedang tidak musim pendekar.
“Mana pemilik rumah makan ini?” tanya seorang lelaki bertubuh kecil mungil tapi berotot keras. Ia mengenakan pakaian hitam mengilap. Kepalanya diikat dengan pita hitam sebagaimana layaknya seorang pendekar. Lelaki kecil berhidung mancung itu tidak membawa senjata apa-apa. Namun, dialah pemimpin rombongan pendekar tersebut. Ia bernama Siluman Raksasa. Entah, apakah julukan itu bertujuan mengolok-olok atau hanya untuk menakuti-nakuti anak tikus.
Seorang lelaki berusia sekitar tiga puluhan tahun, berkumis tebal dan berjenggot tipis, datang menyambut dengan senyum lebarnya yang ramah. Lelaki yang mengenakan baju bagus berwarna putih bersih itu bernama Jantang Sewo.
“Selamat datang, para pendekar. Silakan duduk, kami siap melayani dengan sebaik-baiknya!” kata Jantang Sewo.
“Kami ada seratus orang. Kami semua adalah pembunuh. Kami mau makan tanpa bayar di sini,” ujar Siluman Raksasa dengan suaranya yang agak cempreng. Nada suaranya santai.
Mendeliklah Jantang Sewo mendengar niatan itu. Itu berarti dia akan rugi seratus porsi makanan jika memenuhi permintaan itu. Namun jika tidak, apakah dia dan para pelayannya akan dibunuh.
“Apakah kau bersedia memberi makanan cuma-cuma atau kami yang akan mengambil sendiri?” tanya Siluman Raksasa, masih bernada santai.
__ADS_1
Namun, ketika melihat ke belakang orang kecil itu, berjubel para pendekar dengan sebagian besar tatapan yang tajam, bahkan ada yang mendelik kepada Jantang Sewo.
“Ba… baik, Pendekar. Si… silakan, silakan duduk!” kata Jantang Sewo tergagap, mulai dilanda ketakutan.
Maka puluhan para pendekar itu segera berebut tempat. Jelas, jika menuruti jumlah kursi berdasarkan meja, itu tidak cukup bagi mereka. Akhirnya sebagian berlesehan. Maka padatlah rumah makan itu.
“Panggilkan juga kepala desa ke mari!” perintah Siluman Raksasa.
“Aku sendiri kepala desanya,” jawab Jantang Sewo.
“Baguslah. Kami juga mau bermalam di sini. Kami mau beristirahat dengan tenang. Ingat, tanpa bayaran. Kalian tidak akan rugi. Keuntungan kalian pada beberapa pekan lalu sangat besar,” ujar Siluman Raksasa.
“Baik, Pendekar,” ucap Jantang Sewo.
Maka, Rumah Makan Nyi Blotot bekerja keras untuk bisa memenuhi permintaan seratus pendekar itu.
Siluman Raksasa lalu pergi duduk di meja yang telah disediakan untuknya. Ia satu meja bersama empat rekannya yang lain.
Rekan pertama adalah seorang pemuda bertubuh tinggi kurus berkepala botak plontos. Di kepalanya nyaris tidak ada rambut, karena sepasang alisnya seperti segaris coretan saja. Di punggungnya terpasang sebuah pedang lengkap dengan warangkanya yang berwarna hitam. Ia bernama Siluman Pedang Botak, meski yang botak adalah kepalanya, bukan pedangnya.
Rekan kedua, ia seorang pemuda tampan berhidung mancung. Ia memiliki sepasang alis yang tebal dan jenggot pendek tapi lebat. Ia memiliki tubuh yang gagah dengan kekekaran yang standar. Ia mengenakan pakaian warna hijau gelap. Senjatanya ada pada kakinya. Di kakinya ada pisau unik yang dipasang di tulang kering. Maka, jika kaki itu menendang, akan menjadi seperti golok atau kapak. Ia bernama Siluman Kaki Tajam.
Rekan keempat juga seorang wanita, tapi masih muda dan cantik, plus seksi. Leher baju hijaunya terlalu lebar, membuat jepitan bukitnya tampil begitu menggaris. Meski bagian bawah jubah tanpa kancing warna merahnya sampai betis, tetapi ia mengenakan celana pendek ketat warna hitam setengah paha, bahkan agak naik lagi. Rupanya celana pendek sudah merambah gaya pakaian pendekar wanita. Ia membawa busur kecil tanpa anak panah. Ia bernama Siluman Panah Kosong.
Mereka berlima adalah pemimpin dari para pendekar itu. Siluman Raksasa adalah pemimpin tertingginya.
Makanan yang lebih dulu diantarkan oleh para pelayan adalah untuk meja para pemimpin. Namun, Siluman Raksasa bertindak unik.
“Makanan untuk kami harus yang belakangan. Berikan dulu kepada pasukanku,” kata Siluman Raksasa.
“Baik, Pendekar,” ucap pelayan itu patuh.
Maka para pelayan pun memprioritaskan untuk memenuhi makan puluhan pendekar lainnya terlebih dahulu.
“Besok, kita tidak boleh terburu-buru menyerang. Pelajari medan terlebih dulu untuk mengatur perhitungan. Menurut mata-mata kita, medan yang kita lalui sangat tidak mudah,” kata Siluman Raksasa kepada keempat pendekar bawahannya. “Dan sering-seringlah ingatkan orang-orang kalian agar tidak membuat keributan, terlebih di desa seperti ini. Jangan sampai tujuan kita terbaca sebelum kita menyerang.”
__ADS_1
“Baik, Panglima,” ucap keempat rekan Siluman Raksasa.
Di saat para pendekar itu menunggu pelayanan, seorang nenek gemuk berpakaian kuning berjalan masuk. Dia membawa dua payung yang terlipat. Payung warna merah ia jadikan sebagai tongkat-tongkatan dan payung berwarna hijau ada di punggungnya. Dia adalah Bidadari Payung Kematian, salah satu tokoh tua aliran putih yang pernah hadir dalam pertemuan di Jurang Lolongan.
Ketika melihat masuknya Bidadari Payung Kematian, Siluman Raksasa dan keempat bawahannya tahu bahwa nenek itu bukan bagian dari mereka.
“Biarkan saja,” ucap Siluman Raksasa.
Bidadari Payung Kematian mengedarkan pandangannya kepada para pendekar yang juga memandangnya.
“Ramai sekali. Jarang-jarang ada kawanan pendekar sebanyak ini,” pikir Bidadari Payung Kematian.
Ia tetap berjalan masuk melewati para pendekar yang memenuhi lantai rumah makan tersebut.
“Tolong sisihkan buat aku satu piring saja, atau setengah piring,” ujar Bidadari Payung Kematian kepada pelayan yang ditemuinya.
“Mohon maaf, Nek. Makanan kami habis hanya untuk mereka. Ini pun mungkin akan kurang,” kata pelayan itu lalu berlalu pergi mengantarkan makanan.
“Apakah iya seperti itu? Tapi di kedai-kedai kecil pasti ada makanan,” pikir Bidadari Payung Kematian.
Nenek gemuk itu lalu melangkah menuju pintu. Namun, setibanya di pintu, ia justru duduk di ambang pintu. Ia mencolek seorang pendekar wanita yang duduk di dekat pintu masuk.
“Ada apa, Nek?” tanya wanita bersenjata tombak yang dicolek.
“Kalian ini siapa? Dari mana dan mau ke mana?” tanya Bidadari Payung Kematian.
“Aku hanya prajurit, aku tidak berhak menjawab. Bertanyalah kepada panglima kami,” jawab pendekar wanita itu lalu menunjuk ke arah meja pemimpin.
“Apakah kau memiliki keperluan terhadap kami, Nek?” tanya Siluman Raksasa yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Bidadari Payung Kematian.
Hal itu agak mengejutkan Bidadari Payung Kematian. Ia menengok ke belakang, lalu segera berdiri.
“Aku hanya penasaran. Kalian ini siapa, dari mana dan mau ke mana dalan rombongan sebanyak ini?” tanya Bidadari Payung Kematian.
“Kami para pendekar yang sedang menuju ke Gunung Galang untuk suatu keperluan. Di sini kami sedang beristirahat,” jawab Siluman Raksasa santun.
__ADS_1
“Hah, sepertinya aku harus mencari makan di tempat lain,” kata Bidadari Payung Kematian. “Terima kasih atas jawabanmu, Kisanak!”
Maka pergilah Bidadari Payung Kematian meninggalkan Rumah Makan Nyi Blotot. (RH)