8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mata Batu 4: Pertemuan Dua Ratu


__ADS_3

*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*


Inilah untuk pertama kalinya Kerajaan Sanggana Kecil mengerahkan dua per tiga pasukannya. Pasukan militer dan pendekar dikerahkan untuk menyambut tamu yang diduga mengajak perang. Pertama kali pula Pasukan Hantu Sanggana dan Pasukan Pedang Putri dikerahkan ke garis depan.


Ratu Lembayung Mekar dan ribuan pasukan Kerajaan Balilitan telah tiba di barat kaki Gunung Prabu. Di sebuah lembah, mereka membangun perkemahan dan basis militernya.


Sebelum pertemuan dua kekuatan kerajaan, Ratu Lembayung Mekar terlebih dulu mengutus utusan kepada Prabu Dira Pratakarsa Diwana untuk menyampaikan surat.


“Bacakan!” perintah Joko yang terbaring di ranjangnya.


Permaisuri Kerling Sukma yang menerima gulungan surat kain, segera membuka surat tersebut.


“Teruntuk Raja Kerajaan Sanggana Kecil yang sakti dan perkasa. Salam hormat dari Ratu Lembayung Mekar, penguasa baru Kerajaan Balilitan dan janda dari Raja Galang Madra. Aku datang bersama lima belas ribu pasukan. Aku mengajak Yang Mulia bertemu di barat Gunung Prabu untuk berunding. Hormatku, Ratu Lembayung Mekar,” baca Kerling Sukma. Lalu katanya kepada suaminya, “Lihat, ada cap Kerajaan Balilitan.”


Joko Tenang melihat sejenak surat yang ditunjukkan oleh Kerling Sukma.


“Ratuku Sayang, pergilah temui Ratu Lembayung Mekar. Usahakan untuk menghindari perang. Nyawa manusia sangat berharga. Namun, bawa sebagian besar pasukan kita!” perintah Joko Tenang.


“Baik, Kakang Prabu,” ucap Ratu Getara Cinta.


“Permaisuri Mata Hijau, temani kakakmu!” perintah Joko Tenang.


“Baik, Kakang Prabu,” ucap Kerling Sukma.


“Adikku sayang, kawal Ratu!” celetuk Putri Sagiya.


“Hahaha!” tawa Joko Tenang mendengar celetukan adiknya. Lalu katanya, “Adikku Sayang, kawal Ratu dan Permaisuri!”


“Baik, Kakang Prabu,” ucap Putri Sagiya seraya tersenyum senang. Putri Sagiya memang harus berlapang dada, ia terkadang harus tenggelam di antara para istri kakak tirinya itu.

__ADS_1


“Utusan, kembalilah dan sampaikan kepada ratumu bahwa kami akan menemuinya di barat Gunung Prabu!” seru Ratu Getara Cinta kepada prajurit utusan yang menunggu di luar kamar.


Setelah itu, Permaisuri Kerling Sukma dan Senopati Batik Mida segera mempersiapkan pasukannya.


Setelah semuanya siap, berangkatlah mereka menuju sisi barat kaki gunung. Reksa Dipa, Nyi Mut, Tangpa Sanding, dan Sebilah Rengkuh turut sebagai Pengawal Bunga. Reksa Dipa dan Nyi Mut mengawal sang ratu, sedangkan Tangpa Sanding dan Sebilah Rengkuh mengawal Permaisuri Kerling Sukma.


Dan sampailah pasukan Kerajaan Sanggana Kecil di lembah barat Gunung Prabu.


Kini pasukan kedua kerajaan telah saling pandang dari jauh. Sangat jelas terlihat ketimpangan perbandingan jumlah kedua pasukan. Di sisi barat, pasukan Kerajaan Balilitan berjumlah lima belas ribu prajurit. Sementara di sisi timur, pasukan Kerajaan Sanggana Kecil kurang dari seribu orang.


Ternyata, pihak Kerajaan Balilitan sudah membangun sebuah tenda cukup besar di tengah-tengah medan yang kosong. Tenda besar itu kosong tanpa penjagaan oleh seorang pun prajurit.


Tampak dari pihak pasukan Kerajaan Balilitan berlari seorang penunggang kuda yang di punggungnya terselip sebuah bendera putih, sebagai tanda bahwa ia seorang utusan.


Senopati Batik Mida memberi isyarat agar prajurit utusan juga maju untuk menemui utusan musuh di tengah-tengah jarak.


Sementara itu, Ratu Lembayung Mekar telah berdiri di atas kereta kuda perangnya. Orang yang menjadi saisnya adalah Mahapati Tarik Sewu.


Setelah kedua utusan bertemu dan saling tukar informasi, mereka kembali berbalik pulang dan mengabarkan kepada ratu masing-masing.


“Lapor, Yang Mulia Gusti. Dari pihak Kerajaan Balilitan, Ratu Lembayung Mekar sendiri yang akan berunding, dikawal oleh Mahapati Tarik Sewu!” lapor prajurit utusan.


Sementara di pihak Kerajaan Balilitan.


“Lapor, Gusti Ratu! Pihak Kerajaan Sanggana Kecil akan mengutus Ratu Getara Cinta dan akan didampingi oleh Permaisuri Kerling Sukma!” lapor prajurit utusan.


“Apa? Ratu dan permaisuri?” ucap Ratu Lembayung heran. “Kenapa bukan Prabu Dira yang datang?”


“Ataukah mungkin Prabu Dira sedang tidak ada di istananya…” kata Mahapati Tarik Sewu.

__ADS_1


“Baiklah, jika memang harus perang tidak masalah!” kata Ratu Lembayung Mekar. Lalu perintahnya, “Jalan!”


Ratu Lembayung Mekar adalah seorang wanita berusia empat puluh lima tahun, beberapa tahun lebih tua dari Ratu Getara Cinta. Meski usianya sudah matang, tetapi ia masih sangat cantik. Kehalusan, kebersihan dan kekencangan kulit cerahnya, masih begitu jelas terlihat. Ia begitu megah dengan pakaian biru terangnya yang dipadu warnah hitam pakaian perangnya.


Mahapati Tarik Sewu adalah seorang lelaki bertubuh agak kurus, tetapi memiliki otot-otot tangan dan tubuh yang keras. Ia mengenakan baju perang berbahan kulit yang tebal berwarna hitam, yang pada bagian dadanya dilapisi lempengan logam. Ada hiasan berbahan emas melingkar di kepalanya. Senjatanya adalah sepasang kujang yang dipasang pada kedua lengan kekarnya.


Mahapati Tarik Sewu lalu menggebah kuda penarik kereta berwarna merah tersebut. Kereta meninggalkan pasukan berkuda yang berbaris di belakang.


Melihat kereta kuda sang ratu sudah berjalan menuju tenda tengah medan, Ratu Getara Cinta dan Permaisuri Kerling Sukma memacu kudanya dengan langkah yang sedang.


Kereta kuda Ratu Lembayung Mekar tiba lebih dulu di tenda. Ketika Ratu Getara Cinta dan Permaisuri Kerling Sukma tiba, maka terpesonalah Ratu Lembayung Mekar. Ia yang merasa begitu cantik, ternyata wanita yang dimiliki oleh Prabu Dira tidak kalah cantiknya. Terlebih ketika melihat keindahan mata hijau Kerling Sukma.


Pemakaian tiara yang berbeda dan penampilan Ratu Getara Cinta yang lebih megah, membuat Ratu Lembayung Mekar bisa menerka yang mana ratu dan yang mana permaisuri.


“Silakan, Ratu!” ucap Ratu Lembayung Mekar mempersilakan kedua istri Joko itu untuk masuk lebih dulu.


“Silakan!” kata Ratu Getara Cinta juga.


Akhirnya Ratu Lembayung Mekar mandahului masuk ke dalam tenda yang cukup megah. Ia didampingi oleh Mahapati Tarik Sewu. Setelahnya barulah Ratu Getara Cinta dan Permaisuri Kerling Sukma yang masuk.


Di dalam tenda tidak ada benda apa pun kecuali dua buah kursi yang saling berhadapan dalam jarak dua depa.


“Silakan!” kata Ratu Lembayung Mekar.


Kedua ratu itu duduk di kursi dan saling menatap dalam senyum.


Mahapati Tarik Sewu berdiri agak jauh di belakang kursi ratunya. Kerling Sukma pun melakukan hal yang sama, meniru Mahapati. Namun, keduanya masih bisa mendengar jelas apa yang diperbincangkan oleh kedua ratu tersebut.


Sementara para pemimpin pasukan yang sudah siap, harus menunggu hasil dari perundingan tersebut. Jika salah satu ratu saja memutuskan perang, maka perang pun akan terjadi. (RH)

__ADS_1


__ADS_2