
*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*
“Siluman Gendut!” panggil Ratu Sri Mayang Sih sambil berjalan mendatangi seorang lelaki gendut yang sedang duduk di kursi sambil makan, ayam goreng di tangan kanan dan lalapan timun di tangan kiri.
Lelaki gemuk itu mengenakan baju biru terang yang besar. Rambut gondrongnya diikat sederhana dengan pita putih.
Lelaki gemuk yang dipanggil Siluman Gendut itu menengok ke arah sumber suara. Melihat wajah wanita yang datang, alangkah terkejutnya Siluman Gendut. Ia buru-buru berhenti makan dan turun dari kursinya. Ia turun berlutut.
“Hormat hamba, Gusti Ratu,” ucap Siluman Gendut.
“Bangunlah!” perintah Ratu Sri Mayang Sih.
Siluman Gendut buru-buru bangun berdiri.
“Sepa Maraga, cepat siapkan….”
“Tidak perlu, Siluman Gendut!” cegah Ratu Sri Mayang Sih cepat. “Aku sedang terburu-buru menuju Gunung Prabu. Aku mampir hanya untuk menukar kuda dengan yang lebih kuat!”
“Sepa Maraga, cepat sediakan delapan kuda yang terbaik untuk Gusti Ratu!” perintah Siluman Gendut.
“Baik, Ketua!” ucap pendekar berpakaian hitam bersenjata pedang pada pinggangnya. Pendekar bernama Sepa Maraga itu segera beranjak ke luar. Ia mengajak beberapa rekannya.
“Silakan duduk, Gusti!” ucap Siluman Gendut.
“Apa yang akan kau lakukan setelah menguasai kadipaten ini, Siluman Gendut?” tanya Ratu Sri Mayang Sih tanpa duduk di kursi yang dipersilakan oleh Siluman Gendut.
“Hamba menunggu kedatangan Siluman Hitam dari Ibu Kota Baturaharja, Gusti,” jawab Siluman Gendut.
“Kau harus tahu, sekarang bukan Malaikat Dewa Raja Iblis yang menjadi junjunganmu, karena dia sudah mati,” ujar Ratu Sri Mayang Sih.
“Apa?!” kejut Siluman Gendut. “Lalu, perintah siapa yang sekarang kami harus patuhi?”
“Kerajaan Siluman sekarang diperintah oleh Jin Gurba. Kalian tunggu saja,” kata Ratu Sri Mayang Sih.
Blaarr!
Tiba-tiba satu ledakan keras yang bahkan mengguncang tempat itu terdengar.
“Ini pasti ulah lelaki bercaping itu!” rutuk Ratu Sri Mayang Sih lalu berbalik dan melangkah ke luar.
Lima Pangeran Dua Putri segera mengikuti. Siluman Gendut mau tidak mau juga harus ikut ke luar.
Di luar pekarangan rumah adipati bergelimpangan delapan lelaki muda yang mengeroyok Anyam Beringin. Dua di antaranya adalah Bedak Kerang dan Jambang. Namun, dengan ekspresi menahan rasa sakit, mereka bergerak bangkit.
__ADS_1
Tiba-tba dari berbagai arah datang berlarian para lelaki berbaju tanpa lengan. Jumlah mereka sampai dua puluh orang. Ditambah delapan orang yang sudah ada, jadi ada sebanyak dua puluh delapan orang.
Mereka mengepung posisi Anyam Beringin. Sementara para pendekar lain, termasuk Domba Hidung Merah dan Muni Kelalap, hanya menyaksikan dari jauh.
“Kalian memang kurang ajar, calon istriku adalah junjungan kalian, tetapi kalian mempelakukanku seperti maling kuda!” kata Anyam Beringin.
Ia lalu melayangkan sepuluh caping yang berputar-putar di udara. Kesepuluh caping bambu itu tidak bergerak turun sedikit pun.
“Gusti Ratu, apakah kami harus turun tangan untuk menghentikan orang bercaping itu?” tanya Pangeran Keriting kepada Ratu Sri Mayang Sih.
“Tidak perlu, biarkan dia,” jawab Ratu Sri Mayang Sih.
“Gusti Ratu, kudanya sudah siap,” lapor Siluman Gendut yang melihat delapan kuda sudah didatangkan oleh Sepa Maraga dan rekan-rekannya.
“Ayo!” kata Ratu Sri Mayang Sih sambil beranjak ke samping kediaman adipati.
“Seraaang!” teriak para pendekar Tinju Dewa yang mengeroyok Anyam Beringin.
Anyam Beringin yang berjuluk Dewa Seribu Tameng itu menggerakkan kedua tangannya. Maka, sepuluh caping yang sudah melayang di udara melesat cepat menyerang orang-orang yang bergerak maju.
Des des des!
Mereka berpentalan satu demi satu dihantam oleh caping-caping itu. Meski hantaman caping-caping itu tidak langsung melumpuhkan, dan mereka masih bisa cepat bangun kembali lalu menyerang ulang, tetap saja mereka harus jatuh bangun, seperti judul lagu dangdut. Tinju-tinju mereka masih kalah tenaga oleh kekuatan caping-caping terbang tersebut.
Ratu Sri Mayang Sih dan ketujuh abdinya sudah menggebah kudanya untuk melanjutkan perjalanan menuju Kerajaan Sanggana Kecil.
“Hiaat!” teriak Anyam Beringin serius sambil melompat naik tinggi ke udara.
Suuut! Bluamm!
Pada puncak lompatannya, Anyam Beringin menunjukkan telunjuknya lurus ke bumi. Satu garis sinar merah melesat ke tanah. Setibanya di tanah, sinar merah itu meledakkan tenaga sakti ke segala arah, menciptakan gelombang dahsyat.
Puluhan lelaki anggota Tinju Dewa berpentalan lalu jatuh tidak karuan. Beruntung mereka hanya menderita kesakitan dan sulit bangun tanpa ada yang meninggal. Sementara Anyam Beringin sudah menghilang dari tempat itu.
“Ketua, pasukan Mahapati Abang Garang telah tiba!” lapor seorang pendekar penjaga batas pusat kadipaten.
“Rapikan kekacauan ini!” perintah Siluman Gendut.
Tidak berapa lama, rombongan pasukan yang dipimpin oleh Mahapati Abang Garang sudah tiba. Mahapati Abang Garang disambut langsung oleh Siluman Gendut, Ketua Tinju Dewa yang adalah seorang lelaki usia empat puluh tahun, Domba Hidung Merah, Muni Kelalap, dan beberapa pendekar utama.
Bersama Abang Garang turut Adipati Tulang Sampit, Nayaka Segar Labu, Siluman Bayang Seribu, dan Siluman Tangan Seribu.
Tampak Siluman Gendut dan orang-orangnya memandangi Adipati Tulang Sampit yang merupakan musuh yang mereka perangi.
Mahapati Abang Garang alias Siluman Hitam duduk pada kursi yang telah disediakan oleh Siluman Gendut.
__ADS_1
“Prabu Menak Ujung sudah digulingkan oleh Siluman Mata Elang dan Siluman Sepuluh. Kita diperintahkan untuk segera berangkat ke Jurang Lolongan. Adipati Tulang Sampit akan kembali mengurus kadipaten ini, tetapi dia sudah ada di bawah kuasa kita. Hari ini kita berangkat ke Jurang Lolongan sekarang juga!” ujar Abang Garang.
“Apakah semuanya berangkat ke Jurang Lolongan?” tanya Domba Hidung Merah.
“Pasukanku akan tinggal di sini dan biarkan sebagian dari Kelompok Tinju Dewa tetap menjaga keamanan di kadipaten ini!” perintah Abang Garang.
“Sepa Maraga, kumpulkan semua para pendekar, hari ini juga kita akan pergi ke Jurang Lolongan!” perintah Siluman Gendut.
“Baik, Ketua!” ucap Sepa Maraga patuh.
Sementara itu, kedelapan kuda yang ditunggangi Ratu Sri Mayang Sih dan ketujuh abdinya berlari kencang. Sementara Dewa Seribu Tameng terus mengikuti di belakang.
Ketika rombongan mereka berlari cepat di jalan tepi jurang, tiba-tiba ada serangan.
Ses! Bluarr!
Selarik sinar putih tiba-tiba muncul melesat menghantam sisi atas tebing batu yang ada di atas jalan. Hancuran tebing batu yang berupa bongkahan-bongkahan batu besar dan kecil berguguran ke bawah menghujani rombongan kuda.
Ses! Bluarr!
Tidak hanya pada tebing batu di atas, tetapi juga serangan selarik sinar putih mengenai jalan depan yang akan dilalui oleh para kuda.
Para kuda pun menjadi panik, terlebih batu-batu menghujani mereka. Kepala kuda yang ditunggangi oleh Ratu Sri Mayang Sih bahkan tertimpa batu, membuat kuda itu hilang kendali dan jatuh ke jurang.
“Gusti Ratu!” teriak sebagian abdi yang melihat jatuhnya Ratu Sri Mayang Sih.
Mereka melihat ada sejumlah caping melesat cepat memburu jatuhnya Ratu Sri Mayang Sih ke dalam jurang. Jelas itu upaya Anyam Beringin untuk menyelamatkan wanita yang ditaksirnya.
Sementara Pangeran Mayat juga terjatuh bersama kudanya, tetapi ia masih dapat berpegangan pada tonjolan batu di bibir jurang.
Putri Embun buru-buru meraih tangan Pangeran Mayat dan menariknya.
Anyam Beringin tidak peduli lagi apa yang telah terjadi dan siapa yang menyerang mereka, ia memutuskan melompat terjun ke dasar jurang yang dalam. Sepasang kaki Anyam Beringin menginjak dua caping, dua tangannya juga berpegangan pada caping, sementara ada sepuluh caping lain yang turut terbang terjun bersamanya.
Tiba-tiba sesosok tubuh berkelebat dari sisi atas lalu turun di depan Lima Pangeran Dua Putri. Lelaki yang sudah tua itu berwajah rusak karena luka bakar yang cukup parah. Ia membawa sebilah pedang besar di punggungnya. Orang itu tidak lain adalah Panglima Siluman Pedang.
“Lima Pangeran Dua Putri!” sebut Siluman Pedang. “Ratumu sudah jatuh dan pasti mati. Mengabdilah pada Jin Gurba!”
“Tidak! Jika pun memang Gusti Ratu sudah mati, kami akan mengabdi pada Bidadari Asap Racun!” tandas Pangeran Keriting.
“Kalian akan menyesal!” kecam Panglima Siluman Pedang. Ia lalu berkelebat pergi.
“Kita harus mencari Gusti Ratu di bawah sana!” kata Putri Pelangi.
“Semoga saja lelaki bercaping itu bisa menyelamatkan Gusti Ratu,” ucap Pangeran Keriting. (RH)
__ADS_1