8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
BMP 33: Bersatunya Dua Raga yang Terpisah


__ADS_3

*Bibir Merah Pendekar (BMP)*


Dengan keyakinan tinggi, Joko Tenang mengambil Mutiara Ratu Panah. Sinar mutiara itu lenyap setelah tersentuh oleh jari tangan Joko Tenang.


Pemuda itu cepat bersiaga, jika-jika ada serangan lain setelah itu. Namun, tidak ada serangan lagi. Akhirnya Joko memutuskan melompat turun. Ia segera berlari menuju ke luar, sementara Mutiara Ratu Panah ada di tangan kanannya.


Ketika memasuki ruangan kedua, Joko Tenang bersiaga, ia khawatir serangan dari batu-batu sinar masih ada. Namun, tidak ada serangan dari batu-batu sinar di dinding gua. Situasi aman. Joko Tenang lega.


“Apa yang terjadi dengan tubuhku?” tanya Joko Tenang dalam hati.


Mendadak Joko Tenang merasakan sejumlah ototnya perlahan melemah, terutama otot tangan dan kaki.


“Sepertinya akan terjadi sesuatu pada diriku. Aku harus cepat…” pikir Joko Tenang.


Joko lalu buru-buru berlari melewati ruang kedua menuju ke ruang depan.


“Kakang Prabu!” sebut Tirana agak berteriak ketika melihat kemunculan Joko di ruang depan Gua Mutiara.


“Joko!” sebut Putri Sri Rahayu pula. Ia tampak tersenyum lega.


“Sesuatu terjadi pada Kakang Prabu!” sebut Tirana saat mengamati langkah Joko Tenang yang tampak berat, seperti orang terluka.


Bluarrr!


Tiba-tiba terdengar suara ledakan dahsyat di tempat yang cukup jauh di istana itu. Bahkan guncangannya terasa hingga di tempat itu.


Tirana dan Putri Sri Rahayu tahu bahwa sesuatu yang besar telah terjadi di satu tempat di dalam Istana, tetapi mereka lebih memilih mempedulikan pemuda yang mereka cintai. Putri Sri Rahayu berpikir bahwa jika ledakan itu terkait kegawatan yang terjadi di kamar ayahandanya, kerajaan ini memiliki banya perwira dan ribuan prajurit tangguh.


Namun Joko Tenang, kini ia sepertinya dalam masalah. Terlihat Joko Tenang kini berwajah pucat. Langkah kakinya begitu berat, seolah susah sekali diangkat untuk dilangkahkan. Tepat ketika Joko berhasil keluar dari dalam gua, ia tidak sanggup melangkah lagi.


Joko Tenang tumbang ke depan, tapi Tirana secepat kilat melesat menahan tubuh suaminya.


“Kakang Prabu! Apa yang terjadi?” tanya Tirana cukup panik.


“Otot-ototku mendadak lumpuh setelah mengambil mutiara itu,” jawab Joko Tenang yang kini tidak bisa mengangkat tangannya juga, tetapi Mutiara Ratu Panah masih terpegang.


“Kakang Prabu pasti terkena racun mutiara itu,” duga Tirana.


Tirana lalu mengecup dahi suaminya, memberinya Kecupan Malaikat. Sinar kuning tipis muncul dan masuk ke wajah Joko Tenang. Setelah menunggu ilmu pengobatan Kecupan Malaikat bekerja, akhirnya Joko Tenang bisa kembali berdiri dengan kaki yang gemetar. Ia pun bisa kembali mengangkat tangannya.


“Ini Mutiara Ratu Panah, Putri. Tolong berikan kepada Gusti Prabu,” kata Joko Tenang sambil memberikan Mutiara Ratu Panah ke telapak tangan Putri Sri Rahayu tanpa menyentuh kulitnya. “Aku berhasil melaksanakan tantangan ke….”


Tiba-tiba Joko Tenang kembali ambruk, seolah kedua kakinya tidak sanggup menahan berat tubuhnya saat berdiri. Tirana tetap menahan tubuh suaminya.


Tirana cepat memberikan Kecupan Malaikat kepada Joko Tenang. Setelah menunggu sejenak, ilmu pengobatan Tirana itu tidak memberikan reaksi apa-apa. Tirana kembali memberikan Kecupan Malaikat, bahkan sampai dua kali.


Namun, setelah menunggu, tubuh Joko Tenang tidak berubah.


“Tirana, cepat bebaskan Ibu!” kata Joko Tenang lirih.


“Tapi kondisi Kakang Prabu sedang bahaya,” kata Tirana.


“Kebebasan Ibu lebih penting daripada nyawaku. Ingat, aku tidak pernah berbakti kepada ibuku. Inilah kesempatan terakhirku, Tirana!” kata Joko. Lalu katanya lagi, “Yakinlah, aku tidak akan mati.”

__ADS_1


Tirana menatap tanpa berkedip wajah suaminya yang putih memucat.


“Baik, Kakang,” ucap Tirana akhirnya. Ia lalu beralih kepada Putri Sri Rahayu, “Putri, jika kau memang masih mencintai Kakang Prabu, tolong bawa Kakang pulang ke Sanggana Kecil. Tiuplah benda ini untuk memanggil Gimba.”


Tirana menunjukkan peluit bambu yang menjadi kalung Joko Tenang.


“Baik,” jawab Putri Sri Rahayu lalu mengambil kalung peluit di leher Joko Tenang.


Sesss!


Tiba-tiba dari balik pakaian bawah Putri Sri Rahayu muncul aliran asap merah tebal. Seolah-olah di dalam tubuh sang putri ada dipasang selang yang berfungsi mengeluarkan asap sedemikian banyaknya.


Dalam waktu singkat, asap merah yang banyak bergulung-gulung menyelimuti tubuh bawah Putri Sri Rahayu. Kini asap merah yang tidak buyar itu membawa tubuh sang putri naik ke udara.


“Kalian berdua, nanti sampaikan kepada Ayahanda bahwa aku pergi ke Kerajaan Sanggana Kecil!” kata Putri Sri Rahayu kepada kedua pengawal kembarnya.


“Baik, Bidadari!” ucap mereka patuh, lalu balik kanan lalu berjalan pergi.


“Pergilah bebaskan Selir Ningsih, Tirana!” kata Putri Sri Rahayu.


“Baik, aku percayakan Kakang Prabu kepadamu, Putri,” kata Tirana. Ia lalu meletakkan tubuh Joko Tenang yang lumpuh, tapi masih bisa berbicara dan terjaga.


Bress!


Tirana lalu melepaskan sinar merah jaring laba-labanya ke lantai. Ia segera melangkah masuk ke dalam ilmu Lorong Laba-Laba-nya.


Sesss!


Posisi Gua Mutiara yang berada di luar ruangan membuat Putri Sri Rahayu tinggal naik ke atas untuk sampai kepada alam lepas. Asap merah yang mengangkap tubuh Joko Tenang mengikuti Putri Sri Rahayu.


Meski aksi sang putri terlihat oleh sejumlah prajurit yang berjaga, tetapi mereka tahu siapa orang yang terbang itu.


Fuuut…!


Ketika Putri Sri Rahayu sudah sampai tinggi di udara lepas, dia kemudian meniup peluit bambu pemberian Resi Putih Jiwa.


Tidak butuh waktu lama.


Kaaak!


Di kejauhan langit sana, terdengar suara koakan burung. Putri Sri Rahayu menunggu sambil mengenakan sarung tangannya yang berwarna merah.


Tidak berapa lama, Gimba muncul terbang turun ke arah posisi Putri Sri Rahayu yang melayang tinggi di atas Istana Siluman.


Kaaak!


Wusss!


Gimba berkoak kencang lalu menyambar tubuh Joko Tenang dan Putri Sri Rahayu.


“Kembali ke Kerajaan Sanggana Kecil, Gimba!” teriak Putri Sri Rahayu.


Kaaak!

__ADS_1


Gimba berkoak lalu langsung meninggalkan kawasan udara Kerajaan Siluman.


Sementara itu di sekitar Istana Terlarang, Tirana muncul di tempat yang tersembunyi. Ia mengintip sekilas dari jauh situasi di sekitar Istana Terlarang. Ternyata di luar Istana Terlarang ada pengamanan pagar betis oleh prajurit berseragam hijau gelap.


Bress!


Tirana kembali melepaskan ilmu Lorong Laba-Laba-nya untuk masuk ke dalam Istana Terlarang.


Hanya dalam hitungan detik, Tirana telah masuk ke dalam Istana Larangan, mengejutkan Ningsih Dirama dan Gurudi yang ada di dalam.


“Tirana Tirana Tirana! Hihihik…!” sorak Gurudi gembira melihat kemunculan Tirana.


“Tirana, apa yang terjadi? Suara ledakan apa tadi?” tanya Ningsih Dirama cemas, sebab ia sudah mendengat dari Gurudi bahwa Anjas Perjana telah datang menyusup ke kamar Prabu Raga Sata.


“Aku tidak tahu, Ibu,” jawab Tirana. “Kondisi Istana sedang gawat. Di depan dijaga ketat. Kita harus segera keluar meninggalkan tempat ini, Ibu!”


“Di mana Joko?” tanya Ningsih Dirama.


“Kakang Prabu telah terbang pulang ke Kerajaan,” jawab Tirana tanpa memberi tahu kondisi suaminya.


Bress!


Tirana cepat memegang tangan Ningsih Dirama dan Gurudi.


“Jaga tawamu, Gurudi!” kata Tirana mengingatkan Gurudi sambil menarik kedua orang itu masuk ke dalam jaring sinar.


Ketiga orang itu akhirnya bisa keluar dari Istana Terlarang.


Di tutupnya semua pintu rahasia oleh para prajurit Kerajaan Siluman, membuat Tirana harus menggunakan ilmu Lorong Laba-Laba-nya berulang-ulang. Mereka hanya bisa keluar melalui jalan rahasia dan ilmu lintas ruang milik Tirana.


Berbeda cara bagi Anjas Perjana. Ia kabur membawa Ratu Sri Mayang Sih. Agar tidak terlihat oleh para prajurit, Anjas menggunakan ilmu tabirnya.


“Anjas Anjas Anjas! Hihihik…!” panggil Gurudi saat melihat keberadaan Anjas yang sedang melanjutkan pengobatannya terhadap Ratu Sri Mayang Sih. Mereka kini berada di dalam hutan, tempat yang telah disepakati oleh Anjas dan Gurudi untuk bertemu.


“Hormat hamba, Gusti Mulia!” ucap Tirana sambil turun berlutut menghormat.


Anjas Perjana lalu menengok ke belakang melihat mereka yang datang.


Pandangan Anjas langsung terpaku pada sosok dan wajah Ningsih Dirama yang sudah meneteskan air mata. Membuncahlah pula perasaan haru Anjas Perjana Langit melihat keberadaan wanita yang sangat dicintainya itu.


Perlahan Anjas bangkit dan membiarkan Ratu Sri Mayang Sih. Anjas kini berdiri dan menghadap kepada Ningsih. Keduanya saling bertatapan, seolah tidak percaya bahwa mereka kini bisa berhadapan langsung.


“Kang Mas Anjas!” ucap Ningsih Dirama lirih dan bergetar.


“Ningsih!” sebut Anjas lalu melangkah cepat ke depan dan langsung memeluk tubuh istrinya yang telah terpisah selama dua puluh tiga tahun.


“Huuu… hiks hiks…!” Meledaklah tangis Ningsih Dirama. Kedua tangannya memeluk kencang tubuh gagah suaminya, seolah takut jika dilepaskan lagi.


“Terima kasih sudah bersabar sekian lama, Sayang!” bisik Anjas sambil satu tangannya mengelus-elus kepala Ningsih Dirama.


Ratu Sri Mayang Sih hanya terdiam memandangi adegan yang ia benci tetapi membawanya ke dalam suasana haru juga. Sementara Tirana masih berlutut. Gurudi melompat-lompat kecil di tempatnya sambil senyum-senyum sendiri.


Cukup lama kedua orang yang saling sangat mencintai itu berpelukan. Anjas dan Ningsih saling mencucurkan tangis haru kebahagiaan. (RH)

__ADS_1


__ADS_2