
*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*
Joko Tenang melalui malamnya bersama Permaisuri Yuo Kai. Sambil olahraga tengah malam, Yuo Kai menyampaikan banyak laporan yang menyangkut dengan tugasnya. Sebagai wanita yang cerdas dan berpendidikan tinggi, ia bisa dengan muda melakukan pekerjaan dua hingga tiga dalam satu waktu. Semuanya bisa terselesaikan dengan memuaskan.
Tidak lupa Yuo Kai memberi pijatan refleksi ala Negeri Jang. Ia tahu bahwa suaminya usai pulang dari perang atau pertarungan besar, yaitu mengalahkan orang tersakti di dunia.
Keesokannya, Prabu Dira Pratakarsa Diwana mengumpulkan para pejabatnya hingga tingkat kepala desa. Sidang dadakan itu dilakukan hanya untuk melihat perkembangan sejumlah program yang sedang dijalankan.
Karena sudah mendapat banyak masukan dari Permaisuri Yuo Kai sebagai Menteri Hukum dan Kebijakan Istana, jadi sidang pun berlangsung tidak lama.
Setelah sidang, Bunga Senja bersama madu dan kedua anaknya, pergi menghadang Joko Tenang yang berjalan di koridor menuju ruang pertemuan dengan para tokoh tua. Bunga Senja, Rani Pinang, Badika, dan Sunana sudah menunggu di luar aula sejak pagi karena mereka belum mendapat kabar tentang Arya Mungga dan Riskaya.
“Urusan dendam kalian sebagian besar telah selesai dengan direbutnya Kerajaan Siluman dan dibunuhnya sebagian besar Pasukan Siluman Generasi Puncak. Sisa pendekar dari pasukan siluman yang berhasil melarikan diri akan diburu. Mereka semua layak mati,” kata Joko Tenang kepada keluarga mendiang Ki Rawa Banggir.
“Lalu bagaimana dengan Riskaya dan Arya Mungga?” tanya Bunga Senja.
“Mereka dalam perjalanan berkuda pulang ke sini,” jawab Joko Tenang seraya tersenyum.
“Terima kasih atas bantuan Gusti Prabu Dira!” ucap Bunga Senja sambil turun berlutut menjura hormat, yang diikuti oleh Rani Pinang dan kedua anak mereka.
“Bangkitlah!” perintah Joko Tenang.
Setelah itu, Joko Tenang pergi ke ruang pertemuan. Tidak semua istri ikut mendampingi Joko Tenang. Para istri yang ikut adalah Ratu Getara Cinta, Tirana, Yuo Kai, Kerling Sukma, Kusuma Dewi, dan Sandaria.
“Aku umumkan kepada para tetua yang aku hormati, bahwa Tongkat Jengkal Dewa kini telah berada di tanganku. Kalian semua tahu apa artinya itu. Namun, aku tidak akan menggunakan pusaka itu, karena aku sudah memiliki pusaka dan kesaktian yang cukup mumpuni. Dan aku tegaskan kembali bahwa Nenek Peti Terbang adalah buronan nomor satu empat kerajaan. Aku harap Barisan Putih bisa mengambil keputusan yang sama dengan keputusanku ini, yaitu menjadikan Nenek Peti Terbang sebagai buruan nomor satu!” seru Joko Tenang di hadapan para tokoh aliran putih setelah pertemuan dimulai.
“Baik. Aku sebagai Ketua Besar Barisan Putih memutuskan bahwa Nenek Peti Terbang adalah buronan nomor satu aliran putih. Jika tidak bisa dibawa ke Kerajaan Sanggana untuk diadili, maka bunuh di tempat!” seru Raja Pisau Langit.
“Baik!” jawab sebagian para pendekar tua. Meski tidak ikut menjawab, sebagian yang lain tetap setuju dengan keputusan itu.
__ADS_1
“Aku dan para istriku, juga para pendekar di bawah pimpinanku, tidak akan bergabung dengan Barisan Putih. Hanya, aku menawarkan kerja sama antara Sanggana Kecil dengan Barisan Putih. Untuk peperangan laut dengan Negeri Tanduk yang kemungkinan akan terjadi di masa depan, Sanggana Kecil akan membangun kekuatan sendiri dengan cara kami. Aku akan membangun kekuatan pesisir dan angkatan laut yang dimulai dari Kerajaan Balilitan. Silakan Barisan Putih membangun kekuatan sendiri untuk menyongsong perang ini!”
Itulah di antara beberapa hal penting yang disampaikan oleh Joko Tenang kepada para pendekar tua. Pada pertemuan ini, terlihat sekali betapa tinggi kharisma seorang Prabu Dira Pratakarsa Diwana di hadapan tokoh-tokoh sakti tua. Terlebih ditambah aura Ratu dan para permaisuri yang begitu anggun, tetapi juga berkesaktian tinggi.
Setelah pertemuan itu, Joko Tenang memutuskan berangkat ke Kerajaan Balilitan. Karena Joko Tenang pergi bersama Sandaria, jadi ia tidak menggunakan jasa Gimba Airlines, tetapi jasa para serigala.
Awalnya, Kusuma Dewi yang diajak pergi oleh Joko Tenang. Namun, Kusuma Dewi dalam masa mempelajari satu ilmu sakti yang diajarkan oleh Nara. Kusuma Dewi memilih untuk fokus mempelajari ilmu tersakti yang akan menjadi miliknya.
Alangkah girangnya Sandaria bisa pergi hanya berdua dengan suaminya, tanpa istri yang lain ataupun prajurit pengawal. Karena mereka berdua menempuh jalur darat, mau tidak mau mereka harus bermalam di tengah jalan.
Sementara itu di tempat lain, tepat di Kademangan Binowengi, rombongan calon pengantin harus bermalam di tempat itu. Pasangan calon pengantin itu adalah Joko Tingkir dan Siluman Lidah Kelu.
Mereka berdua akan menikah di Istana Sanggana Kecil. Perjalanan mereka dikawal oleh Siluman Kuping Buntu, Siluman Tangan Setan, Arya Permana, Lanang Jagad, Arya Mungga, dan Riskaya.
Meski Joko Tingkir dalam kondisi bergembira karena berhasil mendapatkan Siluman Lidah Kelu, tetapi ia juga kecewa karena Tembangi Mendayu gagal menciumnya di depan orang banyak. Hal itu terjadi karena Gadis Cadar Maut dan adiknya telah lebih dulu meninggalkan Istana Siluman, sebelum rombongan Joko Tingkir tiba di Istana Siluman pada dua hari lalu.
Raja Anjas Perjana Langit dan Permaisuri Sri Rahayu memilih mengukuhkan keratuan Sri Mayang Sih di Kerajaan Siluman.
Tok tok tok!
“Ada apa?” tanya Joko Tingkir setengah berteriak.
“Kita bermalam di sini!” teriak Siluman Kuping Buntu.
“Memangnya ini di mana?” tanya Joko Tingkir.
“Kalau kita terus, nanti kita bermalam di alam liar!” sahut Siluman Kuping Buntu.
“Baik!” sahut Joko Tingkir.
“Lebih baik di sini saja, Panglima!” teriak Siluman Kuping Buntu, merujuk kepada Siluman Lidah Kelu, Panglima Pasukan Siluman Generasi Pertama.
__ADS_1
“Baik!” sahut Siluman Lidah Kelu juga.
Tok tok tok!
“Panglima!” panggil Siluman Kuping Buntu setelah mengetuk lagi pintu bilik kereta. “Kita akan kemalaman jika terus melanjutkan perjalanan!”
Pintu bilik kereta kuda lalu dibuka, maka tampaklah wajah Joko Tingkir yang menyembul keluar.
“Ssst!” desis Joko Tingkir sambil meletakkan satu telunjuknya menempel di bibirnya, sebagai isyarat agar Siluman Kuping Buntu berhenti bicara.
Siluman Kuping Buntu terkejut mendelik melihat wajah Joko Tingkir. Pasalnya, bibir dan wajah Joko Tingkir bernoda warna merah yang agak belepotan, seperti warna gincu.
Akhirnya dengan wajah yang mengerenyit seperti menahan hajat encer, Siluman Kuping Buntu hanya manggu-manggut tanda mengerti atas isyarat Joko Tingkir. Pintu bilik kereta kembali ditutup.
“Hehehe!” kekeh Siluman Kuping Buntu karena menghayalkan sesuatu di dalam kepalanya.
Ia lalu memutar kudanya dan bergabung dengan rombongan yang berjalan di belakang kereta kuda.
“Kenapa kau tertawa, Kuping Buntu?” tanya Siluman Tangan Setan yang menunggang kuda tanpa tangan. Ia memegang tali kekang kuda menggunakan giginya.
“Aku tertawa, bukan menangis!” bentak Siluman Kuping Buntu kepada sahabatnya.
“Hahaha!” tawa rekan-rekan yang lain.
Lanang Jagad lalu memberi isyarat gerakan tangan di bibir yang ia senyumkan kepada Siluman Kuping Buntu.
“Hahaha!” Siluman Kuping Buntu malah tertawa. Lalu katanya, “Joko Tingil, dia sudah mulai sebelum menikah. Hahaha! Sudah tidak tahan. Hahaha! Tadi aku lihat bibirnya belepotan gincunya Panglima. Hahaha!”
“Hahaha …!” tawa mereka beramai-ramai.
Rombongan pun menuju ke sebuah penginapan di kademangan itu, penginapan yang sebelumnya pernah mereka inapi. (RH)
__ADS_1