8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mata Batu 6: Keputusan Prabu Dira


__ADS_3

*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*


Tanpa kehadiran Permaisuri Tirana, Permaisuri Sandaria dan Permaisuri Kusuma Dewi, musyawarah terbatas dan tertutup dilakukan oleh Prabu Dira Pratakarsa Diwana alias Joko Tenang dengan para istrinya.


Ratu Getara Cinta telah menyampaikan tawaran yang diajukan oleh Ratu Lembayung Mekar.


“Aku menolak!” Permaisuri kerling Sukma adalah permaisuri pertama yang mengomentari tawaran itu. Lalu katanya dengan tegas, “Jika memang harus perang, kita bisa mengalahkan mereka sebagaimana yang kita lakukan di Jalur Bukit!”


“Bagaimana dengan pandanganmu, Ratu?” tanya Joko Tenang kepada Ratu Getara Cinta. Ia masih dalam kondisi terbaring di tempat tidurnya.


“Aku setuju jika Kakang Prabu menerima Ratu Lembayung Mekar sebagai permaisuri kesembilan setelah Putri Sri Rahayu,” jawab Ratu Getara Cinta.


Pilihan sang ratu membuat Permaisuri Kerling Sukma mendelik.


“Selain kita mendapat limpahan pasukan yang besar, daerah kekuasaan yang luas, dan kekayaan lain, kita bisa menerapkan sistem pemerintahan kita dan segala kebijakan kita pada masyarakat Kerajaan Balilitan yang sudah jadi. Kita bisa menjadikan Kerajaan Balilitan sebagai daerah percontohan jika pemerintahan kita berhasil di sana. Itu artinya, pengalaman di sana bisa kita terapkan di Sanggana Kecil yang masyarakatnya memulai dari awal. Jika ada kebijakan yang gagal diterapkan di sana, berarti itupun jangan dipakai di sini. Seperti kata Kakang Prabu pula, kita harus menghindari jatuhnya banyak nyawa,” ujar Ratu Getara Cinta agak panjang.


“Bagaimana denganmu, Permaisuri Yuo Kai?” tanya Joko.


“Aku menolak. Alasanku hanya karena aku belum terbiasa berbagi kebahagian dengan wanita asing,” jawab permaisuri berjuluk Permaisuri Negeri Jang itu.


“Bagaimana denganmu, Permaisuri Nara?” tanya Joko kepada istri tertuanya.


“Aku setuju dengan pendapat Gusti Ratu. Mungkin Ratu Lembayung bisa menjadi bunga kedelapan, sehingga Kakang Prabu bisa segera pulih tanpa menunggu wanita yang ada di Jurang Lolongan. Kerajaan kita masih terlalu muda, kita harus akui bahwa kita membutuhkan banyak orang untuk cepat membesarkan kerajaan ini. Memang benar kita akan menang jika memaksa berperang. Namun, kita harus berpikir, bagaimana jika kita ada di posisi para prajurit itu? Kita akan berpeluang mati dengan mudah. Menikahi janda Raja Balilitan tidaklah lebih buruk daripada Kakang Prabu menikahiku,” kata Permaisuri Nara.


“Baiklah. Berdasarkan masukan kalian berempat, tanpa bermaksud tidak mementingkan pandangan tiga permaisuri lainnya, aku memutuskan untuk menerima Ratu Lembayung Mekar sebagai istri ke sembilanku,” kata Joko Tenang memutuskan.


Tampak Permaisuri Kerling Sukma menghempaskan napas kecewa. Sementara Permaisuri Yuo Kai hanya diam.


“Dengarkan aku baik-baik. Setahuku, pernikahan dua kerajaan itu biasa terjadi demi kedamaian. Jadi, aku memutuskan itu karena memandang kebaikannya lebih besar daripada perang. Kita pun membutuhkan pasukan yang besar untuk menyongsong kemungkinan perang besar. Namun, aku tidak berharap perang besar akan terjadi seperti di Jalur Bukit, begitu banyak nyawa yang melayang. Permaisuri Tirana tanpa sengaja mendengar satu percakapan rahasia prajurit Kerajaan Siluman. Secara diam-diam orang-orang Kerajaan Siluman telah ditanam di sekitar kekuasaan Kerajaan Baturaharja. Mereka juga menciptakan pemberontakan di beberapa kadipatennya. Tujuannya adalah untuk menggulingkan Prabu Menak Ujung. Itu artinya, dalam upaya merebut kembali tahta Baturaharja untuk dikembalikan kepada Pangeran Kubur, kita menghadapi dua kekuatan besar. Jadi kita butuh pasukan yang besar,” tutur Joko Tenang. “Ratu dan Permaisuri Mata Hijau, pernahkah kalian menceritakan tentang kecantikan Ratu Lembayung?”


“Tidak, Kakang Prabu,” jawab Ratu Getara Cinta dan Permaisuri Kerling Sukma bersamaan.


“Jadi aku menikahi Ratu Lembayung bukan karena dia itu wanita. Menurut dugaanku, jika melihat usia Raja Galang Madra yang tewas oleh Permaisuri Mata Hijau, usia ratunya pun sudah cukup tua. Aku tidak pernah tahu apakah Ratu Lembayung adalah wanita yang cantik atau tidak,” kata Joko.


“Dia wanita yang masih cantik seperti Kakak Ratu!” ucap Kerling Sukma agak ketus. “Kakang Prabu, jika dia sampai tahu bahwa aku yang membunuh suaminya, bukankah itu akan menjadi percikan api dalam mahligai cinta yang besar ini?”


“Karena itu aku akan memberinya syarat. Jika dia menolaknya, terpaksa kita berperang. Biarkan Ratu Lembayung Mekar datang menemuiku. Aku akan menyampaikan langsung syaratku. Dan pertahankan pasukan pada posisinya!” perintah Joko Tenang.


“Aku tidak mau mendampingi Kakak Ratu lagi!” kata Permaisuri Kerling Sukma dengan wajah cemberut.

__ADS_1


Melihat hal itu, Joko Tenang dan Ratu Getara Cinta hanya tersenyum.


“Seharusnya kau belum waktunya menikah, Mata Hijau!” celetuk Permaisuri Nara.


“Guru!” sebut Permaisuri Kerling Sukma semakin cemberut.


“Jika kau cemburu, lebih baik kau periksa keadaan Ginari!” kata Permaisuri Nara.


“Baik, Kak Nara,” ucap Permaisuri Kerling Sukma yang kikuk menyebut Nara dengan sebutan bukan “guru”.


Ratu Getara Cinta lalu pergi kembali ke lembah barat kaki Gunung Prabu. Ia pergi sendiri menggunakan jasa penghuni Cincin Mata Langit.


Sebelum menemui Ratu Lembayung Mekar, Ratu Getara Cinta lebih dulu turun menemui pasukannya. Kedatangan sang ratu memberi kebangkitan mental bagi para prajurit.


Ratu Getara Cinta menemui Putri Sagiya dan Senopati Batik Mida.


“Pertahankan pasukan tetap di sini sampai ada perintah!” perintah Ratu Getara Cinta.


“Baik, Yang Mulia Gusti!” ucap Putri Sagiya dan Senopati Batik Mida.


“Aku akan menjemput Ratu Balilitan untuk menemui Gusti Prabu,” kata Ratu Getara Cinta lalu melompat naik ke punggung macan sinar hijaunya.


“Hormatku, Yang Mulia Ratu!” ucap Ratu Getara Cinta tanpa turun dari punggung macannya. “Gusti Prabu Dira mengundang Yang Mulia Ratu Lembayung untuk bertemu. Gusti Prabu menerima tawaran Yang Mulia, tetapi dengan syarat yang harus disampaikan langsung kepada Yang Mulia. Jika Yang Mulia bersedia memenuhi undangan, silakan naik di depanku!”


“Baik,” jawab Ratu Lembayung Mekar antusias. Ia begitu gembira karena tawarannya ternyata diterima oleh Prabu Dira.


“Jangan lepaskan kewaspadaan, Gusti Ratu!” kata Mahapati Tarik Sewu mengingatkan.


“Jangan khawatir, Mahapati,” kata Ratu Lembayung Mekar. Ia lalu naik duduk di depan Ratu Getara Cinta.


Untuk pertama kalinya, Ratu Lembayung dibawa terbang jauh dan tinggi ke udara.


Singkat cerita, Ratu Lembayung Mekar dibawa menghadap Prabu Dira di kamarnya. Wanita berstatus janda itu agak terkejut melihat Joko Tenang terbaring diam di ranjangnya.


“Hormatku sebagai Ratu Kerajaan Balilitan, Gusti Prabu Dira,” ucap Ratu Lembayung Mekar sambil turun merendah secukupnya. Sementara di dalam pikirannya timbul tanda tanya.


“Bergeserlah sedikit, Ratu. Agar aku bisa memandangmu dengan jelas,” kata Joko Tenang.


Maka bergeserlah Ratu Lembayung Mekar lebih mendekat ke ranjang. Dengan begitu, Joko Tenang bisa melihat dengan jelas wajah cantik sang ratu. Pertemuan pandangan pertama pun terjadi, memberi getaran indah pada hati Ratu Lembayung Mekar.

__ADS_1


“Begitu tampan. Aku tidak menyangka jika Prabu Dira masih semuda ini…” kata Ratu Lembayung Mekar dalam hati.


Sementara Joko Tenang hanya tersenyum melihat kecantikan sang ratu, yang dibalas dengan senyuman manis pula.


Saat ini, di ruangan itu hadir pula Ratu Getara Cinta, Permaisuri Yuo Kai dan Permaisuri Nara. Ketika pertama memandang wajah Permaisuri Nara, jantung Ratu Lembayung Mekar tersentak terkejut. Ia menduga bahwa Permaisuri Nara adalah wanita yang berkesaktian tinggi, bahkan lebih sakti dari permaisuri yang lain.


“Sepertinya aku masuk ke sarang harimau.” Itulah pikiran Ratu Lembayung saat melihat sosok Permaisuri Nara dan Yuo Kai.


“Terima kasih atas tawaranmu yang begitu menguntungkan, Ratu. Tawaran itu menunjukkan kau percaya kepada kami, padahal kamilah yang membunuh suamimu,” kata Joko Tenang.


“Sepatutnyalah aku dan rakyat Balilitan tunduk kepada orang yang telah mengalahkan penguasa Kerajaan Balilitan, siapa pun itu. Namun, mungkin aku beruntung bahwa ternyata orang yang mengalahkan suamiku adalah seorang yang sangat tampan,” kata Ratu Lembayung.


“Dan aku juga akan tambah beruntung, karena ternyata Ratu Balilitan adalah seorang yang cantik jelita. Namun maafkan aku, Ratu. Aku minta maaf karena tidak bisa langsung menemuimu di medan peperangan. Aku pun minta maaf karena menemuimu dalam kondisi tidak berdaya. Dan aku juga minta maaf karena menerima tawaranmu dengan syarat. Jika Ratu sepakat dengan syaratku, maka Ratu akan menjadi permaisuriku, bukan ratuku. Jika tidak, maka terpaksa kita akan berperang,” kata Joko Tenang.


“Sampaikanlah syarat Gusti Prabu, aku akan mempertimbangkan dan memutuskannya saat ini juga,” kata Ratu Lembayung Mekar.


“Sebelum aku menyampaikan syarat itu, aku ingin tahu lebih dulu tingkat kesaktianmu, Ratu,” kata Joko Tenang. Ia lalu bertanya kepada istrinya, “Bagaimana, Permaisuri Mata Hati?”


“Tingkat kesaktian Ratu Lembayung hampir sejajar dengan Permaisuri Pedang. Jadi Ratu Lembayung tidak bisa masuk sebagai calon Dewi Bunga,” jawab Permaisuri Nara, merujuk kepada julukan Permaisuri Kusuma Dewi.


Melebarlah sepasang mata Ratu Lembayung Mekar mendengar bahwa Permaisuri Nara bisa megetahui tingkat kesaktiannya.


“Bagaimana bisa permaisuri itu bisa menerka tingkat kesaktianku?” tanya Ratu Lembayung Mekar dalam hati.


“Dengan demikian, aku akan menikahimu, Ratu. Namun, syaratku antara lain, aku akan menikahimu di Kerajaan Balilitan di depan rakyat Balilitan. Setelah menikah, kau akan berkuasa di Kerajaan Balilitan dan aku akan tetap bertahta di Sanggana Kecil. Akan ada masanya kita akan jarang bertemu. Pernikahan pun tidak bisa segera dilaksanakan. Aku harus menyelesaikan dulu permasalahan dengan penguasa Kerajaan Baturaharja. Dan kau harus mengizinkan aku memakai pasukan Balilitan sebelum pernikahan kita terlaksana,” ujar Joko Tenang.


“Jadi aku harus menunggu?” tanya Ratu Lembayung Mekar yang sudah jelas jawabannya.


“Aku adalah orang yang menepati janji, Ratu. Jika aku sudah memutuskan akan menikahimu, maka aku akan mencoba memenuhi janji itu meski nyawaku terancam. Aku berharap urusan dengan Kerajaan Baturaharja akan cepat selesai,” kata Joko Tenang.


“Baik, aku setuju. Aku akan menunggumu di Istana Balilitan!” kata Ratu Lembayung Mekar memutuskan.


Tersenyumlah Joko Tenang.


“Selamat datang dan bergabung dalan lingkaran cintaku, Ratu!” ucap Joko Tenang.


Tersenyum Ratu Lembayung Mekar dan Ratu Getara Cinta mendengar ucapan Joko.


“Setelah aku pulih, aku akan langsung menikah dengan Putri Sri Rahayu. Tinggallah untuk beberapa hari di sini agar kau bisa lebih akrab dengan para permaisuri dan kerajaanku. Simpanlah beberapa ribu pasukanmu di Sanggana Kecil dan biarkan sebagian besar pulang ke Balilitan,” kata Joko Tenang.

__ADS_1


“Baik,” ucap Ratu Lembayung Mekar setuju. (RH)


__ADS_2