
*Bibir Merah Pendekar (BMP)*
“Ningsih! Ningsih! Ningsih! Hihihik…!” teriak Gurudi sambil berlari riang menuju sebuah bangunan rumah besar yang terbuat dari kayu.
Rumah itu memiliki halaman bertaman kecil tapi indah, lengkap dengan kolam dan air mancurnya. Di bagian belakang rumah ada air terjun kecil. Lingkungan rumah itu dipagar dengan pagar papan yang dicat berwarna ungu. Meski pagarnya pendek, tetapi tidak bisa dilompati. Ada sebuah gapura yang menjadi pintu gerbang halaman rumah mewah itu.
“Ningsih! Ningsih! Ningsih! Hihihik…!” teriak Gurudi lagi sambil melewati gapura.
Zerb!
Ketika Gurudi melintasi gapura tersebut, tubuh Gurudi seperti menembus sebuah dinding permukaan air. Seperti ada gelombang air yang kemudian ketika berhenti beriak, seperti tidak ada lapisan apa-apa.
Lingkungan rumah itu sebenarnya adalah sebuah penjara gaib. Letaknya ada di dalam istana batu yang besar, yaitu Istana Kerajaan Siluman. Cahaya untuk lingkungan rumah itu berasal dari lubang besar di sebelah atas.
Gurudi adalah salah satu orang yang diberi izin khusus bisa keluar masuk ke dalam penjara gaib tersebut.
Seorang wanita cantik kemudian muncul dari dalam rumah karena mendengar panggilan Gurudi yang jarang ia lakukan sampai berulang-ulang seperti itu.
Wanita berpakaian hitam dengan bawahan berwarna putih itu sudah berusia matang, sekitar usia empat puluh lima tahun, tetapi sisa-sisa kecantikannya masih terlihat jelas yang menunjukkan bahwa ia sangat jelita di masa mudanya. Terlebih ia memiliki bibir yang merah alami seperti warna darah segar.
“Kenapa kau gembira sekali, Gurudi?” tanya wanita bernama Ningsih itu, lengkapnya Ningsih Dirama.
“Hihihik…! Ada kekeke… kejutan untukmu, Ningsih,” jawab Gurudi sambil melompat-lompat kecil dalam langkah kakinya.
“Kang Mas Anjas datang?” terka Ningsih.
“Bububu… bukan. Hihihik! Kau papapa… pasti tidak akan pepepe… pernah menyangkanya. Hihihik!”
“Ayo, ceritakan kepadaku, Gurudi. Aku nanti menangis jika kau membuatku penasaran,” kata Ningsih merajuk, seolah ia masih gadis belia.
“Kau pepepe… pernah aku cecece… ceritakan tentang kencing kucing. Mamama… masih ingat?” tanya Gurudi.
“Iya, aku masih ingat. Kau bercerita tentang kebiasaan kucing untuk menandai wilayah kekuasaanya dengan air kencingnya. Dan kau memiliki ilmu yang bernama Kencing Kucing untuk menandai seseorang. Salah satu orang yang pernah kau tandai adalah Joko Tenang anakku,” kata Ningsih Dirama. Kemudian Ningsih tiba-tiba mendelik terkesiap oleh dugaannya sendiri, “Jangan-jangan kau melihat Joko, Gurudi?”
“Hihihik…!”
Gurudi malah tertawa berkepanjangan dan senang.
“Kau tertawa senang, berarti kau bertemu dengannya. Ada di mana anakku, Gurudi?” tanya Ningsih seperti orang yang lupa diri. Ia menangis seketika, tetapi sebenarnya perasaannya begitu gembira. Ia bahkan memegang kedua lengan kecil Gurudi dan mengguncang-guncangkannya. “Di mana kau melihat Joko? Apakah dia ditangkap oleh Prabu Raga? Katakan, Gurudi! Jangan hanya tertawa!”
“Tatata… tapi lelele… lepaskan tubuhku!” kata Gurudi yang tubuhnya terguncang-guncang seperti boneka tanpa kekuatan.
__ADS_1
Buru-buru Ningsih Dirama melepaskan lengan Gurudi.
“Joko anakku. Apakah kau mencari ibu, Nak? Ibu sangat rindu kepadamu, Nak. Hiks hiks…!” ucap Ningsih Dirama lirih sambil mendongak menatap ke awang-awang. Ia menangis terisak.
“Jojojo… Joko datang bersama Bibibi… Bidadari Asap Racun, Ningsih. Jojojo… Joko juga datang bebebe… bersama gadis cantik sesese… seperti cantiknya cacaca… cantik. Hihihik….!”
“Bersama Sri Rahayu?” kejut Ningsih Dirama. “Tapi, apakah kau yakin dia adalah Joko Tenang putraku, Gurudi?”
“Aku yayaya… yakin, Ningsih. Bibirnya mememe… merah seperti bibirmu. Aku mememe… melihat tanda kuning di dadada… dahinya. Itu tanda ilmu Kekeke… Kencing Kucing yang aku oleskan di dadada… dahinya. Hihihik…” tandas Gurudi dengan kegagapannya.
“Seperti apa putra Joko sekarang, Gurudi?”tanya Ningsih yang bingung, apakah harus gembira atau sedih, atau cemas.
“Sangat tampan, hihihik! Mimimi… mirip kau, Ningsih! Hihihik! Sesese… sepertinya dia jujuju… juga sakti seperti Anjas. Hihihik!
“Bisakah kau bawa dia ke sini, Gurudi?” tanya Ningsih begitu berharap.
“Sususu… sulit,” jawab Gurudi pelan.
“Kalau begitu, cepat kau pergi kepadanya. Katakan kepadanya bahwa aku dipenjara di sini, Gurudi. Dan jangan sampai Joko bertemu dengan Prabu Raga!” kata Ningsih yang berubah panik dan cemas.
“Sesese… sepertinya Joko sususu… sudah bertemu dengan Pepepe… Perabu, Ningsih.”
“Apa?!” kejut Ningsih. Ia tampak begitu cemas dan tidak bisa tenang. “Apa yang harus aku lakukan? Prabu Raga pasti tahu bahwa itu adalah putraku yang ditinggalkan di hutan, Gurudi. Aku takut dia akan membunuh Joko.”
“Cepat kirim pesan, Gurudi. Tapi, kau harus selalu mengawasi anakku. Pastikan Joko tidak kenapa-kenapa, Gurudi!”
“Baik, Ningsih! Hihihi!” teriak Gurudi sambil melompat kecil di tempatnya. “Aku pepepe… pergi, Ningsih. Tututu… tunggu kabar dariku!”
“Iya, aku akan sangat menunggumu,” kata Ningsih. Lalu ucapnya lirih, “Oh, Joko. Akhirnya kau datang ke tempat Ibu, Nak. Ibu rindu sekali.”
Gurudi lalu berlari gembira. Kali ini ia hanya tertawa-tawa kecil. Setelah meninggalkan rumah yang bernama Istana Terlarang itu, Gurudi pergi ke suatu tempat. Ia seperti seekor hewan peliharaan Istana yang bebas ke mana saja. Meski ada prajurit yang berjaga, ia tidak pernah dipermasalahkan, karena memang tempat-tempat yang didatanginya bukan tempat terlarang. Gurudi sudah tahu di mana saja tempat-tempat terlarang untuk di masuki di dalam istana itu.
Hingga akhirnya, Gurudi tiba di area dapur istana yang besar dan luas. Di bagian atas dinding dapur yang tinggi, ada lubang-lubang yang menjadi jalan masuknya cahaya dari luar.
Di dapur istana itu banyak orang yang bekerja dan sibuk dengan tugasnya masing-masing.
“Gurudi! Tolong bawakan keranjang bawang merah itu!” teriak seorang pelayan wanita minta tolong.
“Sisisi… siap! Hihihik!” sahut Gurudi dengan tetap ceria.
Ia segera melompat naik ke atas meja, lalu mengangkat dengan kedua tangan pendeknya. Ia lalu melompat ke sisi wanita yang tadi meminta bantuannya.
“Terima kasih, Gurudi!” ucap wanita yang sedang memotongi kentang yang banyak. Setelah memotong kentang, rencananya ia akan memotongi bawang merah.
__ADS_1
“Gurudi, Gurudi!” teriak seorang pelayan wanita lainnya.
“Ada apa, Nganinem?” tanya Gurudi kepada seorang wanita tua yang masih sehat.
“Aku kewalahan mengulek kacang-kacang ini, bantu aku biar cepat. Nanti aku akan mengajakmu ke tempat rahasia lain,” kata Nganinem.
“Baik! Hihihik!” sahut Gurudi.
Gurudi sangat disukai di lingkungan para pelayan Istana, karena dia tidak pernah mengatakan “tidak” jika dimintai bantuan, kecuali ia dalam tugas darurat. Gurudi yang pada dasarnya adalah orang sakti, sangat cekatan jika melakukan suatu hal yang sifatnya membantu.
Seperti halnya Nganinem, ia sebagai pelayan tertua di dalam istana itu. Ia banyak mengetahui ruangan-ruangan rahasia yang ada di dalam Istana. Pada suatu hari, Nganinem yang bersahabat akrab dengan Gurudi mengajak lelaki cebol itu masuk ke salah satu jalan rahasia yang ada di Istana. Kegembiraan Gurudi jadi sangat berlebih setelah mengetahui ada jalan-jalan rahasia. Melihat Gurudi begitu gembira mengetahui keberadaan jalan rahasia, Nganinem lalu sering mengajak Gurudi masuk ke dalam ruangan rahasia yang ia ketahui, demi membuat Gurudi gembira.
Tempat dan jalan rahasia sudah menjadi rahasi umum di antara para pelayan. Banyak di antara mereka yang sudah tahu dan bahkan pernah memasukinya. Jadi, mereka tidak heran jika Nganinem secara terbuka menawarkan kepada Gurudi.
“Apakah kakaka… kalian semua ingin mememe… melihat pertunjukanku?!” teriak Gurudi kepada semua pekerja dapur yang ada, setelah ia selesai membantu mengulek kacang tanah.
“Mau!” teriak mereka serentak.
“Hihihik…!” Gurudi tertawa berkepanjangan. “Aku bababa… baca mantera dulu!”
Semua pekerja dapur dan para koki sejenak berhenti demi melihat pertunjukan apa yang akan dibuat oleh Gurudi. Membuat pertunjukan untuk menghibur para pelayan di dapur adalah hal yang beberapa kali ia lakukan.
Gurudi mulai menempelkan bibirnya pada genggaman tangan kanannya.
“Jojojo… Joko bertemu Raga Sasasa… Sata. Ningsih sususu… sudah tahu Joko dadada… datang ke Kekeke… Kerajaan Siluman!” ucap Gurudi sangat pelan di dalam genggamannya.
Sementara mereka yang menunggu aksi Gurudi, mendengar ucapan itu seperti bacaan kalimat mantera yang tidak jelas.
“Hiah! Hihihik…!” teriak Gurudi sambil melempar genggaman tangannya ke atas.
Sriing!
Dari genggaman tangan itu terlempar serbuk sinar yang berwarna-warni ke udara dan menimbulkan suara berdesing nyaring.
Plok plok plok…!
“Hahaha…!” semua orang bertepuk tangan sambil tertawa senang melihat serbuk sinar yang banyak dan warna-warni, memberi keindahan.
Serbuk sinar itu lalu buyar dan melayang terbang keluar dari ruangan lewat lubang udara di atas.
“Hihihik…!” tawa Gurudi berkepanjangan sambil melompat-lompat kecil di tempat dan bertepuk tangan, sementara pandangannya melihat kepergian serbuk sinar warna-warni itu.
Para pelayan dan juru masak kembali melanjutkan pekerjaannya. Sementara Gurudi segera pergi meninggalkan dapur setelah usai mengirim pesan rahasia. (RH)
__ADS_1