
*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*
Satu rombongan pasukan terus bergerak di wilayah kekuasaan Kerajaan Baturaharja. Mereka adalaha pasukan dari Kerajaan Sanggana Kecil.
Di barisan depan berjalan tiga ratus pasukan Kerajaan Sanggana Kecil yang berseragam hitam-hitam, dipimpin oleh Senopati Batik Mida yang berjuluk Panglima Dada Perkasa.
Setelah itu ada kereta kuda berwarna merah terang dipadu warna kuning. Kereta kuda itu disaisi oleh Chang Chi Men yang berjuluk Dewi Selendang Maut. Di dalamnya duduk anggun Permaisuri Yuo Kai yang ditemani oleh Bo Fei. Di sisi kanan kereta kuda berjalan kuda putih yang ditunggangi oleh Putri Sagiya, adik tiri Joko Tenang.
Di belakang kereta kuda berjalan dua kuda. Satu kuda ditunggangi oleh Adipati Pangeran Kubur alias Prabu Banggarin, satu kuda lagi ditunggangi oleh Nyai Kisut. Di belakang Nyai Kisut duduk Senandung Senja yang sangat mesra merangkul perut.
Bagian terbesar dari rombongan itu adalah dua ribu pasukan berseragam kuning hitam yang merupakan pasukan Kerajaan Balilitan. Pasukan itu dipimpin oleh Mahapati Turung Gali.
Au au…!
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh lolongan serigala yang bersahut-sahutan. Semua pasukan segera memandang ke atas sebuah bukit yang ada di depan. Mereka bisa melihat keberadaan lima ekor serigala, satu di antaranya ditunggangi oleh Permaisuri Sandaria.
“Ada apa, Chi Men?” tanya Permaisuri Yuo Kai menggunakan bahasa negerinya.
“Permaisuri Sandaria dan kelima serigalanya ada di atas bukit,” jawab Chi Men.
Kelima serigala itu lalu berlari kencang menuruni bukit untuk menghadang rombongan pasukan tersebut.
Seiring itu, dari balik bukit muncul rombongan berkuda yang adalah Surya Kasyara, Sugigi Asmara, dan sepuluh prajurit Sanggana Kecil.
Senopati Batik Mida menghentikan laju pasukannya.
“Nyai Kisut! Itu anjing!” teriak Senandung Senja ketakutan. Ia semakin kencang memeluk perut Nyai Kisut.
“Itu bukan anjing, itu serigalanya Permaisuri Sandaria. Mereka tidak akan menggigit kita,” kata Nyai Kisut.
“Hormat hamba, Gusti Permaisuri!” ucap Senopati Batik Mida saat Sandaria telah tiba di depan rombongan.
“Hormat hamba, Gusti Permaisuri!” ucap ketiga ratus prajurit Sanggana Kecil.
“Ya ya ya. Hihihi!” ucap Sandaria seraya tertawa riang. Ia dan Satria lalu berjalan santai mendekati kereta kuda. Sementara empat serigala lainnya tetap berada di depan.
Tampak wajah Senandung Senja pucat berkeringat di balik punggung Nyai Kisut.
“Hormat hamba, Gusti Permaisuri!” ucap Putri Sagiya menghormat dari atas kudanya.
“Putri cantik ikut juga rupanya,” ucap Sandaria seraya tersenyum dan mengerutkan hidung mungilnya.
Sandaria lalu turun dari punggung Satria. Bo Fei membukakan pintu bilik kereta. Sandaria lalu naik ke bilik kereta dan duduk berseberangan dengan Permaisuri Yuo Kai.
__ADS_1
“Hihihi! Senang bisa berjuang bersama Kakak,” kata Sandaria.
“Bagaimana hasil kunjunganmu, Permaisuri Keenam?” tanya Permaisuri Yuo Kai.
“Baturaharja bisa kita kalahkan,” jawab Sandaria. “Aku sudah memilihkan tempat yang bagus untuk pasukan beristirahat.”
Auuu…!
Tiba-tiba Satria melolong panjang.
“Sepertinya kita kedatangan musuh, Kakak,” kata Sandaria.
Ia lalu bergerak turun dari bilik kereta. Permaisuri Yuo Kai juga ikut turun. Tampak Satria memandang ke arah lereng bukit. Di sana berdiri lelaki tua berjubah abu-abu. Sosok itu tidak lain adalah Raja Akar Setan. Satria yang pernah bertarung melawan orang itu tentu mengenalinya sebagai musuh.
“Nyai Kisut, itu Guru Raja Akar!” pekik Senandung Senja girang bukan main.
Mendengar hal itu, Sandaria jadi menghadapkan wajahnya kepada Nyai Kisut.
“Apakah orang tua itu gurumu?” tanya Sandaria.
“Benar, Gusti. Itu guru hamba. Namanya Raja Akar Setan,” jawab Nyai Kisut.
“Jemput gurumu itu dan bawa ke mari. Dia telah menyerangku!” perintah Sandaria.
“Hah!” kejut Nyai Kisut dan Senandung Senja.
“Baik, Gusti!” ucap Nyai Kisut cepat.
Wanita muda berfisik tua itu lalu menggebah kudanya keluar dari barisan. Ia menuju ke lereng bukit.
“Hihihi! Sandaria bisa galak juga ya,” ucap Sandaria sambil tertawa sendiri.
Raja Akar Setan jadi terkejut melihat dua wanita penunggang kuda yang mendatanginya.
“Kenapa Gema Ripah dan Putri Wilasin ada bersama mereka?” tanya Raja Akar Setan heran.
Ia lalu berkelebat turun menghadang kuda Nyai Kisut.
“Guru ke mana saja? Kami berdua selalu jadi buruan para prajurit Baturaharja. Kami berdua hampir mati. Aku pikir Guru sudah mati dibunuh oleh orang-orangnya Menak Ujung. Guru membuat kami bersedih saja, pergi menghilang tanpa pamit seperti setan!” kata Nyai Kisut dengan pengucapan yang cepat.
“Aku merampungkan ilmu Akar Bumi Setan!” jawab Raja Akar Setan. “Bagaimana bisa kalian bersama pasukan Kerajaan Sanggana Kecil?”
“Prabu Dira menolong kami dan menjamin keselamatan kami. Prabu Dira bahkan ingin menggulingkan Menak Ujung untuk mengembalikan tahta Baturaharja kepada Putri Wilasin,” jelas Nyai Kisut. “Apakah Guru telah menyerang Gusti Permaisuri Sandaria?”
“Iya. Maksudku agar Kerajaan Sanggana Kecil marah dan menyerang Baturaharja,” kilah Raja Akar Setan.
__ADS_1
“Guru pintar buat masalah! Hihihi…!” celetuk Senandung Senja lalu tertawa nyaring.
“Gara-gara Guru, Gusti Permaisuri jadi marah kepada kita!” rutuk Nyai Kisut. “Guru harus menghadap kepada Gusti Permaisuri!”
“Aku dan Permaisuri Sandaria sudah akrab, jadi kalian tidak perlu khawatir,” kata Raja Akar Setan.
Clap!
Tiba-tiba sosok Raja Akar Setan hilang begitu saja dan muncul di hadapan kedua permaisuri.
“Raja Akar Setan menjura hormat, Gusti Permaisuri!” ucap lelaki tua menyeramkan itu.
“Hihihi! Sepertinya kau rindu dengan permaisuri imut,” tawa Sandaria.
“Hahaha! Maafkan kelancanganku karena sudah membuat marah cucu Serigala Perak,” kata Raja Akar Setan santai.
“Jadi benar jika kau mengenal nenekku, Kek?” kata Sandaria.
“Aku termasuk sahabat lama Serigala Perak.”
“Berarti tidak ada hal yang harus dipermasalahkan. Perkenalkan, ini adalah Permaisuri Yuo Kai, kakakku. Dia yang memimpin penyerangan ke Baturaharja,” kata Sandaria.
“Senang berkenalan denganmu, Raja Akar Setan,” ucap Permaisuri Yuo Kai.
“Satu kebanggaan bagiku, Gusti Permaisuri,” ucap Raja Akar Setan.
Pada saat itu, Raja Akar Setan menangkap keberadaan Pangeran Kubur yang membuatnya terkejut.
“Prabu Banggarin?”
“Ya, dia memang Prabu Banggarin!” tandas Permaisuri Yuo Kai.
“Bahagia kau masih bisa mengenaliku, Raja Akar!” sahut Pangeran Kubur. Ia lalu turun dari kudanya.
“Bukankah kau sudah mati?” tanya Raja Akar Setan.
“Aku diselamatkan. Kemudian aku bersembunyi di Gunung Prabu,” jawab Pangeran Kubur.
“Syukurlah. Berarti Putri Wilasin masih memiliki keluarga,” ucap Raja Akar Setan. Ia lalu kembali fokus kepada kedua permaisuri, “Aku sengaja datang menyongsong kalian, karena saat ini Menak Ujung sedang digulingkan.”
“Apa?” kejut Sandaria dan Pangeran Kubur.
“Siapa yang menggulingkan Menak Ujung?” tanya Pangeran Kubur.
“Aku tidak tahu,” jawab Raja Akar Setan.
__ADS_1
“Lebih baik kita rundingkan di tempat peristirahatan,” kata Permaisuri Yuo Kai.
“Benar, Kakak,” dukung Sandaria. Ia lalu melompat naik ke punggung Satria. “Kita lanjutkan perjalanan!” (RH)