8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
De Bude 23: Adu Kekuatan Mata


__ADS_3

*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*


 


Bum bum bum…!


Blar blar blar…!


Suara dentuman peraduan dua tenaga sakti terdengar begitu menggema, seolah mengguncang seluruh udara yang menyelimuti alam.


Disusul lagi ledakan bertubi-tubi yang menghancurkan tanah berumput, menjadi medan seperti tanah ladang yang baru saja dibajak oleh traktor secara acak.


Padahal, semua bisa menyaksikan dari jarak yang aman, sosok Nara dan Dewi Ara hanya berdiri diam saling berhadapan dalam jarak lima belas tombak.


“Mereka bertarung dengan kesaktian mata mereka,” kata Sandaria kepada Joko Tenang. Keduanya berdiri begitu rapat di antara Ratu dan para permaisuri yang lain, karena Sandaria berdiri sambil memeluk lengan kanan suaminya, seolah tidak mau melepaskan.


Bum bum bum…!


Blar blar blar…!


Kembali ledakan-ledakan tanpa wujud terjadi di udara, di saat kedua petarung jelita itu masih saling berdiri diam di tempatnya. Disusul sejumlah ledakan beruntun yang membongkar tanah arena tarung.


Pada saat yang sama, dari dalam hutan muncul serombongan orang yang Joko Tenang dan para permaisuri kenal. Orang-orang itu adalah Tiga Malaikat Kipas, Ki Ageng Kunsa Pari, Pendekar Seribu Tapak, Serigala Perak dan keempat serigalanya, Nenek Tongkat Lentur, Ki Sombajolo, Gujara, dan Joko Tingkir.


Adanya pertarungan di luar hutan membuat rombongan orang-orang sakti itu berhenti dan memilih menonton tempat itu.


“Tidak bisa dihindari,” ucap Ki Ageng Kunsa Pari.


“Ilmu Tatapan Ratu Tabir inilah yang digunakan oleh Dewi Ara membunuhi para pembunuh ayahnya,” kata Minati Sekar Arum sambil mengipasi leher dan wajahnya dengan kipas merah.


“Tapi apakah ilmu itu bisa mengalahkan Mata Dewa Gelap Nara?” tanya Ewit Kurnawa yang tidak memerlukan jawaban.


“Kita lihat saja hasilnya, tidak akan lama lagi,” kata Iblis Timur.


Tiba-tiba sosok Dewi Mata Hati melakukan gerakan-gerakan yang begitu cepat di tempatnya, dari gerakan menangkis, mengelak, hingga meloncat dan melompat, seolah sedang menghindari serangan cepat tanpa wujud. Sementara di seberang sana, Dewi Ara tidak melakukan gerakan apa pun selain memandang.


Zerzz!


Dari dalam tubuh Nara melesat keluar sinar biru berwujud kalajengking bersayap kupu-kupu. Makhluk itu melesat ke angkasa. Pada saat yang sama, giliran Dewi Ara yang melakukan gerakan-gerakan cepat di tempatnya, semodel apa yang dilakukan Nara tadi. Rupanya Nara balas menyerang dengan serangan serupa.

__ADS_1


Dalam kondisi sedang menghindar dan menangkis serangan kekuatan mata dari jarak jauh tersebut, Dewi Ara mendapat serangan lain dari kalajengking terbang yang menukik turun.


Dewi Ara cepat melompat mundur dengan tubuh berputar cepat di udara seperti gangsing.


Zess!


Dari putaran tubuh itu melesat cepat satu tombak sinar biru dari ilmu Tombak Algojo. Tombak sinar itu mengenai makhluk sinar sehingga hancur menjadi serbuk sinar. Sinar biru itu melesat cepat pulang kepada majikannya.


Wes! Wes!


Ketika Dewi Ara mendarat, tiba-tiba dia langsung melesat maju. Pada saat yang sama, sosok Nara juga melesat maju.


Namun, kompak keduanya berhenti pada jarak hanya lima tombak. Tubuh keduanya terlihat condong ke depan dengan kuda-kuda yang kokoh, seolah sedang berusaha mendorong satu dinding yang tidak tampak. Sepasang kaki Nara dan Dewi Ara sama-sama melesak masuk ke dalam tanah sebatas pergelangan kaki. Ada api warna biru yang muncul dari bawah kaki mereka, membuat rumput yang mereka pijak terbakar.


Terlihat pula wajah Dewi Ara mengerenyit menahan kekuatan besar yang coba ditaklukkan oleh kekuatan matanya. Demikian pula dengan Nara. Baru kali ini wajah jelitanya terlihat mengerenyit.


Bluar! Blar blar blar!


Tiba-tiba satu ledakan sinar merah yang samar terlihat di pertengahan jarak pandang keduanya, lalu menjalar cepat ledakan-ledakan lain yang beruntun ke arah wajah kedua wanita itu.


Tubuh Nara dan Dewi Ara sama-sama terpental ketika ledakan sinar itu berakhir di depan wajah mereka berdua. Namun, keduanya sanggup mendarat dengan baik dan langsung maju kembali seperti tadi, terhenti pada jarak lima tombak dengan wajah dan dada saling membusung maju.


“Ilmu Tatapan Ratu Tabir mungkin begitu digdaya di masa kau membunuh para tokoh aliran putih, Ara, tapi tidak sekarang!” seru Nara sambil terus menekankan kekuatan ilmu Mata Dewa Gelap-nya.


Sret!


Tiba-tiba kuda-kuda Dewi Ara terdorong sejauh sejengkal.


Pergerakan itu membuat semua penonton terkesiap, seolah melihat tanda-tanda kekalahan bagi Dewi Ara.


“Kau tidak akan bisa mengalahkan ilmu Mata Dewa Gelap-ku. Aku mengorbankan kedua mataku demi menguasai kesempurnaan ilmu ini!” seru Nara.


“Akkr!” rintih tertahan Dewi Ara saat sepasang matanya mulai memerah dan kemudian mengeluarkan cairan merah.


“Kedua mata Dewi Ara berdarah, Kakang Prabu!” kata Sandaria bernada tegang kepada Joko Tenang.


“Kakang Prabu, apakah pertarungan ini tidak bisa dihentikan?” tanya Tirana yang tidak tega melihat pertarungan tersebut. Ia sudah menganggap keduanya bagian dari lingkaran cinta Joko Tenang.


Joko Tenang tidak menjawab, ia hanya terdiam.

__ADS_1


“Kakang Prabu,” sebut Ratu Getara Cinta pula, lembut.


“Kita tunggu sebentar lagi. Dewi Ara tidak semudah itu mati,” kata Joko Tenang akhirnya. Ia juga sebenarnya diliputi rasa cemas dan tidak tenang. Jelas-jelas dia sangat tidak ingin salah satu dari keduanya ada yang mati.


Bluar! Blar blar blar…!


Satu ledakan dahsyat tanpa wujud kembali terjadi. Namun, berbeda dari sebelumnya, kali ini tanah di sekitar pusat pertarungan juga berledakan terbongkar naik ke udara. Tubuh Dewi Ara terpental sejauh lima tombak dan jatuh dengan punggung menghantam tanah.


“Hoekh!” Dewi Ara muntah darah yang banyak.


Dewi Ara buru-buru bangkit dengan sepasang mata yang terpejam dan terus mengalirkan darah.


Bruss!


Tiba-tiba seluruh tubuh Dewi Ara dilapisi sinar merah yang menyembur ke atas. Kemudian kedua lengannya bersinar merah menyilaukan.


“Sehebat apa pun ilmu Inti Api Suci, tapi jika Dewi Ara tidak bisa melihat, tidak akan bisa banyak membantu dalam pertarungan,” kata Ki Sombajolo kepada Ki Ageng Kunsa Pari.


“Benar, hasilnya sudah jelas,” kata Ki Ageng Kunsa Pari.


Wez wez wez…!


Dalam kondisi terluka parah, Dewi Ara memaksakan diri melesat maju beberapa tombak lalu menghentakkan sepasang lengannya.


Dari kedua lengan Dewi Ara berlesatan dua puluh sinar merah berekor menyilaukan. Dua puluh sinar itu melesat menyebarkan diri, tetapi kemudian menargetkan satu titik, yaitu Nara.


Bluar bluar bluar…!


Namun, sebelum kedua puluh sinar merah menyilaukan itu sampai kepada tubuh Nara, sinar-sinar itu lebih dulu menghantam sebuah dinding sinar kuning bening yang bediri luas ke atas dan ke samping. Kedua puluh sinar merah Inti Api Suci tidak sanggup menggetarkan dinding sinar itu, apalagi sampai menghancurkannya.


“Dinding Seribu Baja,” sebut Ratu Getara Cinta, teringat masa ketika ia dan kedua permaisuri lainnya dibuat putus asa oleh ilmu perisai itu.


Setelah menggagalkan serangan Inti Api Suci, Dinding Seribu Baja menghilang dan tubuh Dewi Ara tersentak di tempatnya, seolah terkena serangan tanpa terlihat dari Nara.


Dewi Ara yang dalam kondisi tubuh terselimuti sinar merah, merasakan cekikan kuat pada lehernya, pada pinggangnya, pada kedua lengan dan pergelangan tangan, pada kedua paha dan pergelangan kaki. Penguncian yang dilakukan oleh Nara membuat Dewi Ara tidak bisa mengerahkan tenaga saktinya, sinar merah ilmu Inti Api Suci akhirnya padam. Darah semakin banyak yang keluar melalui celah bibir Dewi Ara.


West!


Tiba-tiba tubuh Dewi Ara melesat naik ke atas, seiring wajah Nara bergerak mendongak cepat. Tubuh Dewi Ara naik ke langit bukan atas kehendaknya, tetapi kehendak kekuatan ilmu Mata Dewa Gelap milik Nara.

__ADS_1


Tubuh Dewi Ara terhenti pada posisi yang begitu tinggi, lalu diam melayang di sana.


“Nara menggantung Dewi Ara di langit!” ucap Iblis Timur. (RH)


__ADS_2