
*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*
Kepulangan Prabu Dira Pratakarsa Diwana dan Permaisuri Sandaria disambut mesra oleh Ratu Getara Cinta dan para permaisuri lainnya.
Janila, Wuri Semai dan Iing Bulih hanya bisa terkejut dan terkesima ketika melihat kecantikan penuh jelita Ratu Getara Cinta dan para permaisuri. Mereka seketika merasa bahwa kecantikan yang mereka miliki tidak bisa dibandingkan dengan istri-istri Prabu Dira.
Joko Tenang tanpa sungkan memperkenalkan ketiga janda dari Pendekar Raja Kawin. Untuk Bidadari Wajah Kuning tidak perlu diperkenalkan, terlebih ia sungkan bertemu dengan Dewi Ara.
Joko Tenang bahkan meminta Permaisuri Nara untuk mendeteksi emosi yang dipendam oleh ketiga wanita tersebut. Hasilnya, ketiga janda Senggara Bolo itu lolos seleksi.
Ketika mereka saling berkumpul dalam kesantaian, Joko Tenang menceritakan apa yang terjadi di Kerajaan Balilitan. Untuk sementara Janila, Wuri Semai dan Iing Bulih diistirahatkan di kamar tamu sebagai wanita yang merdeka, tetapi terikat dalam perlindungan sang raja.
Kepulangan Joko Tenang juga disambut dengan kehebohan, karena mereka pulang dengan membawa Nenek Peti Terbang. Wanita tua yang dalam kondisi terluka parah itu, diikat di punggung kuda saat dibawa ke Kerajaan Sanggana Kecil.
“Wanita Iblis kau, Nenek Peti!” maki Riskaya penuh kemarahan sambil menendang wajah bengkak Kuming Rara yang saat itu masih terkulai di atas kuda.
“Hentikan!” seru Joko Tenang saat melihat upaya penghakiman dari Keluarga Ki Rawa Banggir. “Nenek Peti Terbang sudah tidak berkesaktian lagi. Jangan sampai dia mati sebelum diadili di persidangan!”
Untuk sementara, Kuming Rara ditempatkan di penjara. Ia akan menghadapi pengadilan setelah pernikahan Joko Tenang dengan Ginari dan pernikahan Joko Tingkir dengan Siluman Lidah Kelu.
Namun, pernikahan yang diadakan terlebih dulu adalah pernikahan Joko Tingkir dengan Siluman Lidah Kelu.
Untuk menyampaikan rencana tersebut, Joko Tenang memilih akan menyampaikan langsung kepada Joko Tingkir yang tidak muncul menyambut kepulangannya.
Semasuknya Joko Tenang di kamar Joko Tingkir, terkejutlah Joko Tenang serta Ratu Getara Cinta dan Tirana. Mereka melihat Joko Tingkir dipasung di tembok seperti tahanan ODGJ. Kedua pergelangan kaki Joko Tingkir dipasung dengan pasungan logam berat. Kedua tangannya juga diikat menggunakan rantai yang ditarik ke atas, sehingga kedua tangannya menggantung.
“Kenapa Tingkir dipasung seperti ini, Lidah Kelu?” tanya Ratu Getara Cinta, karena itu tanpa sepengetahuannya.
“Aku memasungnya kalena Tingkil selalu ingin belkuda sebelum kami menikah, Gusti Latu,” jawab Siluman Lidah Kelu.
“Hahaha!” tawa Joko Tenang dan kedua istrinya mengetahui hal itu.
“Kau sudah pulang, Joko. Berarti aku dan Siluman Lidah Kelu sudah bisa menikah?” tanya Joko Tingkir.
“Besok kalian menikah. Tapi biarkan Tingkir tetap dipasung seperti ini sampai pernikahannya terjadi!” perintah Joko Tingki.
__ADS_1
“Joko! Kau begitu tega membiarkan aku tetap terpasung seperti ini. Aku bukan orang gila. Aku bisa mengendalikan diri!” teriak Joko Tingkir.
“Kau memang bukan orang gila, tapi kau gila wanita!” sahut Joko Tenang sambil melangkah keluar meninggalkan sahabatnya yang dijaga langsung oleh si cantik Siluman Lidah Kelu, calon istri Joko Tingkir.
“Apakah Tetua Pangeran Lidah Putih masih di sini?” tanya Joko Tenang kepada kedua istrinya.
“Masih, Kakang Prabu,” jawab Tirana.
“Kirim utusan untuk mengundangnya ke Taman Angsa!” perintah Joko Tenang.
“Baik, Kakang Prabu,” ucap Ratu Getara Cinta patuh.
Sang ratu lalu memerintahkan salah seorang pelayannya untuk pergi membawa pesan kepada Petra Kelana yang berjuluk Pangeran Lidah Putih.
Dari arah lain, muncul Permaisuri Yuo Kai yang dikawal oleh Bo Fei dan Chang Chi Men dengan dayang berjumlah sepuluh orang. Joko Tenang dan kedua istrinya menyambut dengan senyum lebar.
“Hormatku kepada Kakang Prabu dan Gusti Ratu,” ucap Permaisuri Yuo Kai sambil merendah hormat.
“Bangunlah, Permaisuri Negeri Jang!” kata Joko Tenang.
“Ayo ikut aku ke Taman Angsa!” ajak Joko Tenang.
Tirana memberi ruang kepada Yuo Kai agar berjalan di sisi sang prabu. Ratu Getara Cinta di sisi kanan dan Yuo Kai di sisi kiri. Ada sebanyak tiga puluh dayang yang mengekor di belakang, satu rombongan yang cukup banyak.
Belum cukup satu hari berpisah, Joko Tenang kembali datang menemui tiga janda Pendekar Raja Kawin. Ketiga wanita yang masih dalam masa berduka itu menduga, kedatangan Joko bersama ratunya dan dua permaisuri pasti membawa perkara penting.
“Aku sudah berjanji kepada Ratu dan para permaisuriku untuk tidak mengambil istri lagi, kecuali yang telah disepakati. Jadi, aku tidak bisa memboyong kalian masuk Istana, tetapi aku akan menawarkan kalian lelaki yang terbaik di antara banyak lelaki. Atau kalian ingin memilih sendiri lelaki seperti apa yang harus menjadi calon suami kalian?” ujar Joko Tenang setelah acara penghormatan di lakukan oleh ketiga janda kembang tersebut.
“Aku dan kedua saudara maduku sepakat, kami akan tetap berbagi suami seperti sebelumnya. Bahkan kami pun akan rela hati jika dijadikan sebagai selir dari Gusti Prabu,” kata Janila.
“Terima kasih jika kalian bersedia untukku. Namun, aku sangat tidak berharap memiliki seorang selir, karena aku tidak tega. Sepengetahuanku, kedudukan seorang selir itu sangat tidak baik,” kata Joko Tenang.
“Jika demikian, kami akan menerima siapa pun lelaki yang Gusti Prabu tawarkan kepada kami. Tentunya Gusti Prabu akan memberi kami calon suami yang lebih baik dari sebelumnya,” kata Janila.
“Aku berusaha memberikan kalian yang terbaik, meski bukan yang terbaik,” kata Joko Tenang. “Aku ingin menawarkan seorang sakti, jauh lebih sakti dari mendiang suami kalian. Meski usianya sudah sudah sangat tua, tetapi raganya masih awet muda sebagai seorang pemuda.”
__ADS_1
“Bagaimana, Wuri, Iing?” tanya Janila kepada Wuri Semai dan Iing Bulih.
“Aku menerima,” jawab Wuri Semai.
“Aku pun menerima,” kata Iing Bulih.
Tidak berapa lama, seorang pendekar muda datang menemui Joko Tenang dan para wanitanya. Ia selalu tersenyum manis, memperlihatkan deretan giginya yang putih rapi.
“Hormat hamba, Gusti Prabu,” ucap pemuda berpakaian putih-putih dan berikat kepala pita merah yang panjang sampai ke bokong. Pemuda yang ketampanannya biasa saja itu tidak lain adalah Petra Kelana yang berjuluk Pangeran Lidah Putih. Ketika dia berucap, maka terlihat warna lidahnya yang berwarna putih seputih kapas.
“Lihatlah ketiga wanita ini, Tetua!” perintah Joko Tenang kepada Petra Kelana.
Petra Kelana lalu memandangi Janila, Wuri Semai dan Iing Buli. Ketiga wanita yang dipandang hanya menunduk malu. Namun, mereka sudah bisa menebak siapa pemuda itu.
“Mereka adalah wanita-wanita yang cantik. Apakah mereka calon permaisuri baru Gusti Prabu?” kata Petra Kelana.
“Ketiga wanita ini akan menjadi calon istrimu, Tetua,” kata Joko Tenang.
“Apa?!” kejut Petra Kelana nyaris syok. Ia kembali memandangi ketiga wanita itu.
“Kenapa? Apakah kau lebih memilih ingin menaklukkan hati Murai Manikam?” tanya Joko Tenang.
“Jika itu benar, mereka adalah hadiah yang terlalu bagus untukku, Gusti Prabu,” ucap Petra Kelana jadi salah tingkah.
“Berarti kau sangat senang dengan hadiahku, Tetua. Karena mereka bertiga dalam masa berkabung, pernikahan kalian akan dilaksanakan sepekan kemudian. Jadi manfaatkan masa itu untuk kalian mengakrabkan diri,” kata Joko Tenang.
“Hahaha …!” tawa Petra Kelana berkepanjangan. Lalu ucapnya, “Seratus tahun aku menahan diri dalam kesucian, dalam sehari aku langsung mendapat tiga wanita. Hahaha!”
Joko Tenang dan yang lainnya hanya tertawa mendengar kata-kata Petra Kelana, termasuk ketiga calon istrinya yang tersenyum lebar.
Bagi Janila, Wuri Semai dan Iing Buli, meski Petra Kelana tidak setampan Joko Tenang, tetapi ia lebih baik dari Senggara Bolo.
“Ini adalah Petra Kelana, ternama dengan julukan Pangeran Putih. Aku dapat menjamin bahwa dia adalah lelaki yang baik terhadap wanita,” kata Joko lagi.
Terkesiaplah ketiga wanita itu. Meski mereka tidak pernah mengenal Petra Kelana, tetapi mereka pernah mendengar kemasyhuran nama Pangeran Lidah Suci. (RH)
__ADS_1