8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Rajungan 28: Jurang Lolongan


__ADS_3

*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)* 


 


“Apakah perlu aku dampingi untuk sampai ke Jurang Lolongan, Tetua?” tanya Permaisuri Tirana kepada Datuk Kramat.


“Tidak perlu, kondisiku sudah lebih baik. Terima kasih, Tirana,” ucap Datuk Kramat yang sudah mengantongi kartu nama Permaisuri Penjaga itu.


Seet!


Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh lesatan benda besar di udara. Jika hanya lesatan sebuah senjata, itu sudah biasa bagi orang-orang sakti. Namun, yang melesat kali ini adalah sebuah peti kayu besar berwarna hitam mengilap.


Di atas peti yang lebih cocok disebut peti mati ala negeri asing itu, duduk seorang wanita tua berjubah hitam, yang ujungnya berkibar seperti sayap Superman saat peti itu terbang. Pada sanggulan rambut putihnya ada tiga tusuk rambut dengan corak yang berbeda. Nenek berpipi kempot itu terlihat lucu, karena ia memiliki satu gigi tua yang tonggos seperti gigi Petruk dan Gareng versi komik karya Tatang S.


Peti mati hitam itu kemudian mendarat di tanah seperti pesawat tanpa roda, tidak jauh dari Siluman Harimau Hitam dan Tirana.


“Datuk Kramat, kau sudah tua, tidak butuh lagi perhatian gadis cantik secantik itu. Ayo ikut kendaraanku saja!” ajak wanita tua itu. Ketika ia berbicara, giginya sudah seperti pagar tua, sudah banyak yang hilang.


“Tirana, aku akan ikut Nenek Peti Terbang,” kata Datuk Kramat.


“Silakan, Tetua,” ucap Tirana santun dengan senyum manisnya yang selalu menyejukkan.


Datuk Kramat yang sudah pulih kesehatannya tujuh puluh lima persen, melangkah menghampiri peti yang tertutup. Ia lalu naik ke bagian tengah dan duduk bersila berhadapan dengan wanita tua yang bernama Nenek Peti Terbang itu.


“Ayo, Kuming!” kata Datuk Kramat.


Laksana kendaraan tercanggih di zaman itu, bagian depan peti itu terangkat sedikit lalu melesat terbang tanpa ada mesin jet atau knalpot. Jangan tanyakan bagaimana caranya peti itu bisa terbang tanpa sayap.


Peti mati dan kedua orang tua sakti itu terbang mengikuti jalan menurun meninggalkan persimpangan tiga tersebut.

__ADS_1


“Siapa wanita-wanita cantik di punggung serigala itu, Datuk? Aku teringat dengan Santa Marya Serigala Perak,” tanya Nenek Peti Terbang yang punya nama asli Kuming Rara.


“Salah satunya adalah cucu Serigala Perak. Mereka semua istri murid Kunsa Pari. Mereka adalah anak-anak muda yang akan jadi penerus kita sebagai orang-orang sakti aliran putih. Kesaktian para wanita muda itu sangat mengerikan. Mereka baru saja menolongku dari keroyokan para pendekar yang bernafsu memperebutkan pusaka tanpa tanding,” jelas Datuk Kramat agak panjang.


“Pusaka tanpa tanding apa?” tanya Kuming Rara.


“Aku juga tidak tahu. Awalnya aku kira keramaian orang persilatan itu terkait dengan acara di Jurang Lolongan. Ternyata itu adalah siasat kotor orang-orang Kerajaan Siluman. Grrr!” kata Datuk Kramat yang berujung suara geraman halus seperti geraman harimau. Ia masih menyisakan kemarahan karena telah dijadikan korban fitnah.


Clap!


“Hihihi…!”


Kuming Rara dan Datuk Kramat mendadak dikejutkan oleh kemunculan tiba-tiba sosok seorang wanita muda berpakaian putih. Meski muda, tetapi rambut panjangnya yang tergerai bebas berwarna putih semua. Yang aneh, wajah cantik jelitanya berwarna kuning, benar-benar kuning seperti warna bendera partai, bukan kuning artian warna kulit orang Asia.


Wanita cantik bersabuk kuning itu tertawa nyaring seperti dedemit perawan, sambil memandangi kedua orang tua yang kini satu peti dengannya. Kemunculannya yang tiba-tiba di atas peti yang melesat cepat di udara jelas menunjukkan tingkat kesaktiannya.


“Aku sangat cemburu, aku sangat cemburu, melihat kalian begitu mesra, Datuk! Hihihi…!” kata wanita wajah kuning itu agak keras, lalu tertawa nyaring.


Wanita yang disebut Bidadari Wajah Kuning itu segera duduk di ujung depan dan berpegangan pada pinggiran peti.


Ternyata mereka terbang melewati bibir jurang, lalu berhenti tepat di atas jurang yang di depannya adalah hamparan alam luas yang terletak jauh di bawah sana.


“Akk!” pekik Bidadari Wajah Kuning saat peti itu meluncur jatuh lurus ke bawah dalam posisi tetap seperti itu.


Ketiga orang itu duduk berpegangan pada pinggir peti agar tidak berpisah dengan peti yang mereka duduki. Meski orang sakti, tetap saja Datuk Kramat dan Bidadari Wajah Kuning merasa jantungnya seolah mau melayang terbang. Rambut Bidadari Wajah Kuning sampai berkibar berdiri ke atas.


Peti itu meluncur deras menuju dasar jurang berbatu yang tertutupi oleh tebalnya kabut. Ternyata dasar jurang itu jauh ke dalam. Hingga akhirnya peti itu menembus lapisan kabut tebal.


Sebelum bawah peti menghantam dasar jurang yang kering berkabut, peti itu lebih dulu berhenti mendadak, melayang dua tombak dari batu dasar jurang. Selanjutnya peti kembali terbang ke depan, lalu berhenti lagi di atas sebuah jurang baru. Lalu jatuh lagi ke bawah.

__ADS_1


Itulah Jurang Lolongan. Ada dua jurang yang harus diterjuni untuk sampai ke Perguruan Bukit Dalam, tempat pertemuan besar tokoh-tokoh sakti aliran putih berlangsung. Pertemuan itu sendiri akan dimulai nanti malam. Belum jelas akan berlangsung berapa lama pertemuan tersebut.


Sama seperti ketika mendarat di dasar jurang pertama, peti terbang itu berhenti tanpa menuyentuh dasar jurang berbatu yang kering.


Selanjutnya adalah pemandangan padang bebatuan. Namun, mereka bisa melihat keberadaan sebuah gapura batu yang tinggi di depan sana. Pada bagian atas gapura ada tulisan pahatan batu yang berbunyi “Gerbang Bukit Dalam”.


Di belakang gapura itu adalah dinding batu yang luas dan tinggi, entah sampai mana tingginya karena mencapai bentangan kabut yang tebal di atas.


Peti kayu kembali terbang melewati padang batu menuju gapura raksasa.


Di bawah gapura ada beberapa orang berpakaian putih-putih. Empat orang wanita muda lagi cantik dan seorang lelaki tua berusia enam puluh tahun lebih.


“Selamat datang di Perguruan Bukit Dalam!” ucap keempat wanita cantik di gerbang, ketika peti terbang berhenti mengambang di depan mereka. Mereka menunduk sambil kedua tangan halusnya menempel di depan dada.


“Kami mohon kepada Tetua untuk memperkenalkan diri!” ucap salah satu wanita yang menjadi juru bicara di gerbang tersebut.


“Aku Bidadari Wajah Kuning!” kata wanita cantik berwajah kuning.


“Aku Siluman Harimau Hitam!”


“Aku Nenek Peti Terbang! Apakah cukup?” seru Kuming Rara.


“Cukup, Tetua,” jawab wanita juru bicara.


Lelaki tua berpakaian putih-putih yang berdiri rapat di dinding batu lalu menekan sebuah pola batu berbentuk persegi enam. Untuk menekan pola batu itu agar masuk melesak ke dalam dinding, harus menggunakan tenaga dalam tinggi.


Jgregr!


Tiba-tiba dinding batu yang berada lima tombak di belakang gapura, membelah diri, tetapi hanya sebagian kecil. Ada pintu batu besar yang terbuka dengan bergeser ke kanan dan kiri. Akhirnya terbuka sebuah pintu besar, yang tidak jauh besarnya sebesar gapura. Pintu itu berbentuk sebuah lorong raksasa dengan panjang kedalaman sejauh lima tombak.

__ADS_1


“Silakan, Tetua!” ucap wanita juru bicara.


Peti terbang pun kembali melesat melewati gapura dan masuk ke dalam lorong batu raksasa. Di balik dinding itu adalah lingkungan Perguruan Bukit Dalam. (RH)


__ADS_2