8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mis Kekar 20: Bertemu Cinta Lama


__ADS_3

*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*


 


Kondisi Pangeran Mabuk sungguh memperihatinkan. Ia terbaring seorang diri di bak pedati, tidak ada yang duduk menemaninya karena takut teradiasi racun yang tidak terlihat, tetapi terasa oleh penciuman.


Ia dikawal oleh enam orang muda berkuda. Mereka menyewa satu pedati dan seorang sais yang mau mengantar sampai ke Kerajaan Sanggana Kecil.


Untuk mengimbangi kecepatan pedati yang ditarik oleh satu ekor kuda, mereka memacu kudanya dengan kecepatan pelan.


“Aku melihat kau cenderung jatuh hati kepada Joko Tingkir, Tembangi,” kata Gadis Cadar Maut yang kudanya berlari di sisi kuda adiknya.


“Kakak jangan mengada-ada. Bagaimanapun, aku sulit untuk melupakan Joko Tenang,” bantah Tembangi Mendayu.


“Kau harus bisa lepas dari keterikatan rasa dengan Joko Tenang. Ia sudah berbeda. Ia kini seorang raja yang bergelimang wanita dan dikelilingi banyak prajurit,” kata Gadis Cadar Maut yang melihat adiknya belum juga move on.


“Betul kata kakakmu, Tembangi. Kau harus bisa mengakui bahwa kita ini adalah pasangan serasi, paling serasi di dunia!” sahut Joko Tingkir tiba-tiba yang memajukan kudanya berlari santai di sisi lain kuda Tembangi.


“Dasar penyadap!” maki Tembangi Mendayu sambil melirik tajam kepada Joko Tingkir.


“Ayolah, apalah salahku? Kakakmu saja setuju jika kita menjalin hubungan, apalagi sampai merajut cinta,” kata Joko Tingkir.


“Aku tahu mana lelaki mata keranjang dan yang setia!” ketus Tembangi Mendayu.


“Terbukti bahwa Joko Tenang lebih mata keranjang, tetapi hatimu masih saja menggantung di bawah bayang-bayang bibir merahnya,” debat Joko Tingkir.


“Aku sudah tahu alasan Joko Tenang menikahi banyak wanita, jadi jangan pernah kau menyebutnya mata keranjang. Meski istrinya sekebun, tetapi dia tetap lelaki yang setia!” tandas Tembangi Mendayu.


“Hahaha! Buktinya kau dicampakkan dan dilupakan,” kata Joko Tingkir yang didahului dengan tawa paksanya.


“Kau semakin menjengkelkan, Tingkir!” bentak Tembangi Mendayu marah. “Dengarkan baik-baik! Joko Tenang tidak mencampakkanku, tapi aku yang tidak mau berbagi cinta!”


Ia lalu memacu kudanya dan berjalan di sisi kuda Arya Permana.


“Eh, dia malah mendekati adipati ingusan itu!” gerutu Joko Tingkir seraya mendelik.


“Hihihi!” Gadis Cadar Maut hanya tertawa melihat pertengkaran dua anak muda itu.


“Ayolah, Kak! Bujuk Tembangi dan katakan bahwa aku adalah lelaki sejati dalam cinta!” kata Joko Tingkir kepada Gadis Cadar Maut.


“Lelaki sejati itu tidak mengandalkan tangan dan lisan orang lain dalam meraih cintanya,” kata Gadis Cadar Maut lembut.

__ADS_1


“Haaah!” desah Joko Tingkir lemas, seolah putus harapan.


Gadis Cadar Maut hanya tersenyum di balik cadarnya.


“Di depan ada rombongan pasukan kerajaan,” kata Arya Permana.


“Itu rombongan prajurit Kerajaan Sanggana Kecil,” kata Tembangi Mendayu, langsung mengenali model seragam puluhan prajurit pejalan kaki yang mengawal sebuah kereta kuda mewah.


“Apakah yang ada di dalam kereta mewah itu Joko Tenang?” tanya Arya Permana lagi.


Deg!


Tiba-tiba jantung Tembangi Mendayu berdegup kencang. Jika benar orang yang ada di dalam kereta kuda adalah Joko Tenang, apakah dia siap untuk bertemu.


“Tapi aku sudah bertekad akan menuntut perhitungan jika bertemu dengannya…” kata Tembangi Mendayu, tapi di dalam hati.


“Jokooo!” teriak Joko Tingkir sambil menggebah kudanya berlari cepat ke depan, mengejar rombongan prajurit Kerajaan Sanggana Kecil yang berjalan agak jauh di depan. “Joko! Berhenti!”


Ternyata panggilan Joko Tingkir itu membuat rombongan tersebut berhenti.


Kuda Joko Tingkir berlari melewati barisan para prajurit dan berhenti di sisi kereta kuda yang sudah berhenti. Pintu bilik kereta dibuka dari dalam.


Joko Tingkir bisa langsung melihat ke dalam bilik. Ia melihat Joko Tenang yang langsung tersenyum kepadanya. Namun, Joko Tingkir terkejut melihat keberadaan wanita cantik berwajah kuning yang duduk di hadapan sahabatnya itu, ditambah dua orang dayang.


“Kau ada di jalanan ini, Tingkir?” tanya Joko Tenang, masih duduk di dalam kereta.


Joko Tingkir segera turun dari kudanya. Ia melirik sejenak kepada Bidadari Wajah Kuning.


“Aku bersama rombongan. Kami membawa Pangeran Mabuk yang keracunan. Kami pun sedang menuju ke Sanggana Kecil,” jawab Joko Tingkir.


“Oh,” desah Joko Tenang. Ia lalu bergerak keluar dan turun dari kereta.


Seturunnya di jalan, ia memandang ke belakang rombongannya.


Wuss! Tap! Pak!


“Uhg!”


Tiba-tiba sesosok tubuh wanita berkelebat cepat menerjang ke arah Joko Tenang.


Tanpa menghindar dan tetap bersikap tenang, Joko Tenang menangkap kasut dan telapak kaki Tembangi Mendayu yang mengandung tenaga dalam tinggi, tanpa membuat Joko Tenang terdorong sedikit pun.

__ADS_1


Ketika kaki lain Tembangi Mendayu mencoba menendang susul, Joko Tenang cepat melepas pegangannya dan menapak telapak kaki gadis itu.


Tembangi Mendayu terlempar lalu ia mendarat terhuyung dan nyaris jatuh.


“Tembangi Mendayu?” sebut Joko Tenang terkejut dan menerka. Ia cepat menghampiri gadis cantik jelita itu dengan senyum yang lebar.


Alangkah tersentuhnya hati Tembangi Mendayu melihat reaksi Joko Tenang ketika mengenalinya. Namun, ia sudah terlanjur marah, bahkan gejolak di dalam dadanya membuat sepasang matanya berair hendak menangis.


Sesp!


Tiba-tiba Tembangi Mendayu melesatkan sinar merah kepada Joko Tenang yang datang kepadanya. Serangan berbahaya itu mengejutkan semua orang, termasuk Gadis Cadar Maut yang tidak mengerti mengapa adiknya sampai berbuat itu.


Namun, sinar merah itu tidak memberi celaka apa-apa, ketika Joko Tenang menarik sedikit baju rompinya guna melindungi dadanya. Sinar merah itu lenyap masuk ke dalam kain merah rompi pusaka yang selalu Joko Tenang kenakan.


“Kenapa kau menyerangku, Tembangi?” tanya Joko Tenang heran.


“Kenapa kau tidak mau menemuiku saat aku datang ke istanamu?! Kenapa kau membiarkan aku terhina di tangan permaisruimu?! Aku sangat ingin memberimu pelajaran, Joko Tenang?!”


Kemarahan terpendam Tembangi Mendayu meledak keras dengan sepasang mata yang sudah menitikkan air bening.


Kemarahan Tembangi Mendayu itu mengejutkan semua orang, termasuk Joko Tenang sendiri. Joko Tingkir sampai ternganga menyaksikan kemarahan Tembangi Mendayu yang dahsyat. Yang lain pun hanya terdiam menyaksikan drama cinta itu.


Gadis Cadar Maut yang sudah turun dari kudanya, segera menghampiri adiknya.


“Aku tidak bermaksud melakukan itu semua kepadamu, Tembangi,” kata Joko Tenang lembut seraya tersenyum kecil. Ia juga tidak mau menyalahkan gadis itu, yang datang ke Istana dengan kesombongannya. “Kau telah salah mengerti.”


“Aku selama ini setia menunggu pertemuan denganmu, tetapi kenapa kau begitu teganya tidak mengenangku sedikit pun di dalam hatimu? Kenapa, Joko?!” tanya Tembangi Mendayu, masih berteriak sambil menangis.


“Tembangi, jaga sikapmu!” kata Gadis Cadar Maut lembut sambil merangkul bahu adiknya.


“Bibi, Cadar Maut!” sapa Joko Tenang seraya tersenyum, ia masih mengenali wanita bercadar itu.


Dari dalam bilik kereta keluar Bidadari Wajah Kuning. Kemunculannya membuat Gadis Cadar Maut dan Tembangi Mendayu mendelik, karena mereka berdua mengenal tokoh tua berfisik muda itu. Sementara kaum muda yang lain terkejut karena melihat jenis kecantikan yang aneh.


Semakin sakit hati Tembangi Mendayu melihat Bidadari Wajah Kuning keluar dari dalam kereta, yang artinya dia memiliki hubungan asmara dengan Joko Tenang.


“Segila apa sebenarnya kau, Joko? Sampai nenek-nenek pun kau cintai!” tukas Tembangi Mendayu benar-benar marah.


“Kenapa adikmu begitu marah dengan usia tuaku, Cadar Maut?” tanya Bidadari Wajah Kuning yang terkejut karena tidak tahu apa-apa, tetapi sudah dipojokkan dengan sebutan negatif.


“Maafkan adikku, Bidadari,” ucap Gadis Cadar Maut. Lalu katanya kepada Tembangi, “Ayo, tenangkan dirimu, Tembangi!”

__ADS_1


Tembangi Mendayu menurut, tetapi tatapannya tajam kepada Joko Tenang, seolah raja muda itu benar-benar telah menghancurkan perasaan dan cintanya. (RH)


 


__ADS_2