
*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*
“Lapor, Gusti Ratu! Ada pesan rahasia dari selatan!” ucap seorang prajurit berpakaian hitam-hitam sambil menghormat dengan berlutut.
Ratu Aninda Serunai yang saat itu sedang berjalan di salah satu koridor Istana, menghentikan langkahnya. Ia dikawal oleh Siluman Satu Rupa dan sepuluh dayang. Kenang Indah lalu bergerak mengambil lintingan daun pisang yang dibawa oleh si prajurit. Kenang Indah memberikannya dengan hormat kepada Ratu Aninda Serunai.
Ratu Aninda Serunai lalu membuka lintingan daun pisang muda itu. Ia membaca tulisan yang digurat di dalamnya.
“Belasan pendekar berkuda yang mengatakan ‘Jika sampai Kerajaan Siluman sudah takluk’ terlihat di Kademangan Binowengi.”
Itulah isi pesan tersebut.
“Kenang Indah, panggil Siluman Potong Dua menghadap!” perintah Ratu Aninda Serunai sambil memberikan daun pisang itu kepada Kenang Hati.
“Baik, Gusti Ratu!” ucap Kenang Indah patuh. Lalu segera pergi.
“Pergilah, Prajurit!” perintah Ratu Aninda Serunai dengan sikap yang dingin.
“Hamba mohon izin, Gusti Ratu!”
Prajurit pembawa pesan segera beringsut mundur, sementara Ratu Aninda Serunai melanjutkan langkahnya.
“Gusti Ratu Aninda Serunai tibaaa!” teriak prajurit penjaga pintu sebuah ruangan.
Saat itu, Ratu Aninda Serunai sedang menuju ke sebuah ruangan untuk menemui beberapa orang tamunya.
Di ruangan megah tersebut telah duduk menunggu Siluman Ratu Siluman yang sudah lebih dulu menemui tiga orang tamu.
Tamu pertama, dia seorang lelaki tua kurus berkepala botak, tanpa jenggot dan kumis, berpakaian merah terang. Alis tipisnya pun sudah berwarna putih, membuatnya seperti bule pribumi. Di pinggang kanannya ada sebuah guci logam yang tidak diketahui apa isinya. Di pinggang kirinya ada setabung kecil bambu yang berisi beberapa kuas berbeda ukuran. Ia dikenal dengan nama Bocah Kuas Hitam, padahal tidak ada sedikit pun kesan kekanak-kanakan pada tampilannya.
Tamu kedua, dia seorang nenek berbadan tinggi dengan model bahu yang lebar. Dia mengenakan pakaian berlapis yang semuanya berwarna abu-abu. Sepasang matanya berwarna kusam kelabu, tidak terlihat bahwa matanya memiliki pupil warna hitam. Rambut putih sebahunya dibiarkan tergerak tanpa ikatan. Perawakannya terlihat keras, tanpa berbekal senjata. Ia dikenal bernama Pendekar Tanpa Nyawa dari Pulau Kesepian. Ia tokoh hitam yang belum pernah terkalahkan oleh siapa pun.
Tamu ketiga, seorang lelaki tua berambut putih keriting sebahu. Rambutnya diikat sederhana dengan satu ikatan. Orang tua itu membawa sebuah pedang di punggungnya. Gagang pedangnya berbentuk seperti kepala monyet yang sedang berteriak. Kakek berjubah hitam itu bernama Juragan Pedang Monyet.
Masuknya Ratu Aninda Serunai disambut dengan hormat Siluman Ratu Siluman dan ketiga tamu pentingnya.
“Silakan, para Tetua!” ucap Ratu Aninda Serunai, mempersilakan para tamunya kembali duduk.
Siluman Ratu Siluman lalu memperkenalkan ketiganya satu per satu dan asalnya.
“Hamba sudah menceritakan kepada mereka bertiga tentang siapa Gusti Ratu adanya,” kata Siluman Ratu Siluman.
Ratu Aninda Serunai mengangguk.
__ADS_1
“Panglima Siluman Potong Dua tibaaa!” teriak prajurit penjaga pintu.
Seorang lelaki gagah berpakaian hitam-hitam yang menyandang dua pedang bersilang di punggungnya, datang memasuki ruangan itu. Ia yang bernama Siluman Potong Dua. Nama itu melekat kepadanya karena ia selalu membunuh dengan cara memotong dua tubuh lawannya.
Siluman Potong Dua dikawal oleh Kenang Indah.
“Panglima Pasukan Murka Kegelapan menghadap, Gusti Ratu!” ucap Siluman Potong Dua.
“Ada belasan pendekar berkuda terlihat di Kademangan Binowengi. Mereka bermaksud menyerang Kerajaan. Kerahkan seluruh Pasukan Murka Kegelapan. Jangan berani pulang ke Istana jika orang-orang itu tidak mati semua!” perintah Ratu Aninda Serunai.
“Hamba akan laksanakan dan pulang membawa kemenangan!” kata Siluman Potong Dua lantang.
“Pergilah! Aku butuh bukti, bukan teriakan!” perintah Ratu Aninda Serunai dingin.
“Baik, Gusti Ratu. Hamba pamit!” ucap Siluman Potong Dua patuh, lalu izin pamit.
Pemimpin Pasukan Murka Kegelapan itu lalu beringsut mundur dan berbalik pergi.
Di ruangan pusat komando Pasukan Murka Kegelapan, Siluman Potong Dua memberi perintah kepada beberapa wakilnya.
“Guras, kau kirim pesan kepada Siluman Gelap, agar memimpin semua Pasukan Murka Kegelapan yang ada di bawah komandonya. Basmi rombongan pendekar yang berasal dari Kademangan Binowengi dan sedang menuju ke Kerajaan. Perintahkan bertarung sampai mati!” perintah Siluman Potong Dua kepada anak buahnya yang bernama Guras.
“Baik!” jawab Guras.
Guras segera pergi setelah menghormat.
“Bundung, kumpulkan semua pasukan kita yang ada di Istana. Kita akan turun berperang sampai mati!” perintah Siluman Potong Dua.
“Berperang sampai mati?” sebut ulang prajurit yang bernama Bundung. Ia terkejut.
“Hanya dua pilihan, mati di medan tempur atau mati di tangan Gusti Ratu!” tandas Siluman Potong Dua. Lalu bentaknya, “Cepat pergi laksanakan!”
“Baik, Gusti Panglima!” ucap Bundung, lalu buru-buru pergi, takut mendapat amarah tambahan.
“Kalian berdua, pastikan semua persenjataan terbawa dengan lengkap!” perintah Siluman Potong Dua kepada dua anak buah lainnya.
“Baik, Gusti Panglima!” ucap keduanya.
Seperginya semua anak buahnya, Siluman Potong Dua lalu melengkapi pakaiannya, sebab ia akan terjun langsung ke dalam pertempuran yang tidak main-main.
Singkat cerita, pesan dan perintah dari Siluman Potong Dua sudah sampai di tangan Siluman Gelap yang berada di Hutan Maruk. Ia berada jauh dari Istana Siluman dengan membawahi tiga ratus Pasukan Murka Kegelapan, yang merupakan pasukan khusus Kerajaan Siluman.
Siluman Gelap adalah sosok lelaki berkulit hitam legam. Ia bersenjatakan sebuah bola logam hitam sebesar bola futsal yang tergantung di pinggangnya.
__ADS_1
Ia bekerja cepat menyebar pasukannya dan melakukan pengintaian di sejumlah tempat.
Pada satu ketika, ada prajuritnya yang datang membawa laporan penting.
“Komandan, kami melihat dua pendekar memasang tanda di pertigaan jalan dekat Sungai Bening Abang!” lapor prajurit berseragam hitam-hitam itu.
“Tanda apa yang mereka pasang?” tanya Siluman Gelap.
“Kami tidak melihat jelas, kami mengawasi dari jauh,” jawab prajurit itu.
“Tunjukkan tempatnya!” perintah Siluman Gelap.
Siluman Gelap lalu pergi berkuda bersama prajuritnya tapi hanya sampai pinggir hutan. Siluman Gelap dan prajuritnya harus keluar dari Hutan Maruk dengan berlari mengandalkan ilmu peringan tubuh.
Setelah cukup jauh melesat ke arah Sungai Bening Abang, mereka berhenti di tempat pengintaian prajurit Pasukan Murka Kegelapan.
“Bagaimana?” tanya Siluman Gelap kepada prajurit yang masih bersiaga di pos pengintaiannya.
“Dua pendekar itu sudah pergi, Gusti,” jawab prajurit yang ditanya.
Sejenak mereka melihat keadaan pertigaan di jalanan menurun yang menuju ke arah sungai, yang bernama Sungai Bening Abang. Tidak ada siapa pun di sana.
“Kita lihat apa yang mereka pasang!” ajak Siluman Gelap.
Siluman Gelap dan prajurit pendampingnya segera berkelebat pergi. Prajurit Pasukan Murka Kegelapan semuanya memiliki ilmu peringan tubuh, sehingga mereka bisa berlari cepat di udara.
Dalam waktu singkat, Siluman Gelap dan prajuritnya tiba di bawah sebuah pohon di pertigaan jalan. Jalan yang menurun menuju aliran sungai dan arah lain jalan menanjak menuju Kademangan Uruk Sowong.
Siluman Gelap melihat satu pelepah pisang diikat di dahan pohon. Pelepah pisang itu memiliki daun yang bagus, tidak ada belahan atau robekan sedikit pun.
“Ini tanda milik Pasukan Siluman Generasi Pertama. Tanda itu menunjukkan agar tidak melalui Hutan Maruk,” kata Siluman Gelap yang mengenali tanda jenis pelepah pisang itu.
“Apa yang harus kita lakukan, Komandan?” tanya si prajurit.
“Hmm…” gumam Siluman Gelap berpikir. Setelah diam sebentar, ia kemudian memerintahkan, “Beri dua robekan pada daun pisangnya. Orang yang mengerti akan mengira tanda itu dirusak dan diubah arahnya. Padahal kita hanya merobek saja tanpa merubah arah.”
“Baik, Komandan!”
Maka prajurit itu segera melompat menggapai daun pisang. Ia memberi dua robekan menggunakan jarinya.
“Kita harus menyiapkan penyergapan yang hebat, karena kita diperintahkan bertarung sampai mati. Jika kita bisa membunuh mereka, kita tidak akan mati!” desis Siluman Gelap. (RH)
__ADS_1