
*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*
Hari ini adalah hari berbahagia bagi seluruh warga Kerajaan Sanggana Kecil. Meski sumber utama dari kebahagiaan itu adalah Joko Tingkir dan Siluman Lidah Kelu yang menikah, tetapi kebahagian rakyat Sanggana Kecil bukan karena keduanya menikah, tetapi karena pesta besar yang diadakan.
Pesta besar digelar di Istana. Semua rakyat di dua kadipaten diundang hadir. Jelas undangan untuk makan-makan tanpa perlu pakai amplop tempel. Menu utama adalah ikan bakar tanpa tulang, maksudnya tulangnya sudah dibuang. Pasukan Penguasa Telaga pimpinan Garis Merak harus kerja ekstra untuk menangkap ikan-ikan besar.
Kelompok yang paling bergembira saat akad nikah adalah para siluman dari Pasukan Siluman Generasi Pertama. Para pendekar berkebutuhan khusus itu mendominasi keriuhan dengan gayanya masing-masing.
Karena pernikahan ini disaksikan langsung oleh Joko Tenang dan Ratu Getara Cinta serta sebagian besar permaisuri, maka acara ijab kabul dilaksanakan di panggung yang cukup tinggi, sehingga ribuan pasang mata bisa dengan leluasa menyaksikan.
Sementara di panggung yang berbeda, orkestra klasik bernama Gamelan Raja Ratu Purba mengiringi dengan nada-nada pentungan dari satu gong ke gong yang lain.
Detik-detik kelegalan pernikahan pun siap dilakukan. JokoTingkir sudah siap dengan busana mempelai berwarna biru tua yang terang dan berkilau-kilau dengan hiasan seperti logam-logam perak.
Di sisi lain, Siluman Lidah Kelu telah siap dengan balutan keanggunan busana warna putih menyilaukan. Maksudnya menyilaukan untuk standar warna putih kain. Make-up yang digawangi oleh pakar tata rias busana Istana, berhasil merubah sosok seorang komandan pasukan menjadi seorang dewi di hari itu.
“Kedua mempelai dipertemukaaan!” teriak protokol pernikahan.
Siluman Lidah Kelu melangkah pelan-pelan seperti siput menaiki tangga panggung. Ia dituntun oleh Bidadari Wajah Kuning sebagai pendamping. Senyum selalu mekar di wajah cantik si nenek genit, seolah-olah dia yang akan ijab kabul.
Joko Tingkir didampingi oleh sahabat lama, yaitu Parsuto. Dan akhirnya kedua mempelai bertemu di tengah-tengah panggung yang megah, megah untuk ukuran di masa itu.
Ketika Joko Tingkir yang sejak tadi menunduk karena malu-malu ayam, mengangkat wajahnya dan memandang wajah calon istrinya, terkejutlah dia.
“Siapa dia?” tanya Joko Tingkir terkejut, dia pangling.
Hebohlah para pemirsa mendengar Joko Tingkir tidak mengenali calon istrinya.
Dak!
“Aww!” pekik Joko Tingkir saat tiba-tiba sebuah alas kaki melesat menghantam kepala belakangnya. Saking terbawa oleh suasana yang penuh bahagia, Joko Tingkir jadi hilang waspada.
Seketika semua orang terkejut melihat pengantin pria ditimpuk menggunakan sandal.
“Woi, Joko Tingkir! Mana ada pengantin yang lupa kepada calonnya? Hihihi!” teriak Siluman Otak Kurcaci, wanita gemuk yang berwajah meriah oleh riasan tebal dan terang.
“Hahaha! Joko Tingkir pasti terpesona dengan kecantikan Bidadari Wajah Kunyit …. Eh, kok Wajah Kunyit, sih? Bidadari Wajah Kuning maksudku. Sampai lupa wajah balon sendiri!” teriak Abna Hadaya alias Ki Renggut Jantung, di sisinya menempel Ratu Puspa yang ingin ikut berbaur.
“Hihihi!” tawa Ratu Puspa, kali ini ia tidak banyak tingkah.
“Calon sendiriii, Gustiii!” teriak para pendekar siluman meralat kata-kata Abna Hadaya yang mereka anggap sebagai calon raja karena menikahi Ratu Puspa.
“Hahaha …!” Tawa para hadirin mendengar hal itu. Joko Tenang dan para istrinya turut tertawa pula di tribun kehormatan.
“Joko Tingkir, apakah kau tidak mengenali calon istrimu sendiri?” bentak Bidadari Wajah Kuning.
“Hahaha! Bukan seperti itu. Aku sudah mengenalinya. Aku hanya terpesona, karena Lidah Kelu terlihat lebih cantik dari sebelumnya,” kilah Joko Tingkir sambil tertawa cengengesan.
“Seandainya kau tidak memujiku balusan, aku akan hajal kau di lanjang!” desis Siluman Lidah Kelu.
Terkejut Joko Tingkir mendengar itu.
“Itu artinya, setelah pernikahan ini, kau tidak akan dihajar di ranjang,” bisik Parsuto, yang membuat Joko Tingkir kian terkejut.
“Pengucapan ikatan suci dan janji setiaaa!” teriak protokol pernikahan.
Maka naiklah Pendekar Seribu Tapak sebagai Dukun Kawin.
Dukun Kawin adalah jabatan baru di Kerajaan Sanggana Kecil karena maraknya pernikahan di Istana lebih marak daripada musim belah durian. Dukun Kawin fungsinya seperti seorang penghulu. Nantinya, dia akan mencatat pernikahan itu untuk dijadikan dokumen catatan sipil Kerajaan, padahal orang tua itu tidak akrab dengan dunia tulis-menulis. Mencatat pernikahan adalah ide dari Permaisuri Yuo Kai dengan dalih penertiban catatan sipil.
“Kenapa Wajah Kuning yang disuruh menjadi janda?!” teriak Siluman Kuping Buntu memprotes protokol pernikahan.
__ADS_1
Dak!
“Aww!” pekik Siluman Kuping Buntu saat kepalanya ditepok menggunakan sandal dari belakang.
“Kuping Buntu, jangan bikin ulah!” kecam Siluman Mata Sebelah, orang yang memukul kepala rekannya sendiri.
“Siapa yang meludah?” bantah Siluman Kuping Buntu kesal karena merasa difitnah.
“Hahaha!” tawa rendah para penyaksi pernikahan mendengar keributan tidak penting tersebut.
“Ucapkan kata-kata ikatan suci!” perintah Pendekar Seribu Tapak kepada Joko Tingkir.
“Baik, Tetua,” ucap Joko Tingkir seraya tersenyum penuh semangat.
Sambil tersenyum lebar, Joko Tingkir maju lebih dekat kepada Siluman Lidah Kelu. Ia raih kedua tangan wanita yang lebih tua darinya itu.
“Sayangku, Siluman Lidah Kelu. Aku tempuh seribu jalanan menerabas hutan ilalang dan menuruni jurang mendaki gunung. Aku seberangi sungai, aku selami samudera dan aku gapai bintang-bintang. Itu demi untuk bertanya, maukah kau menjadi istriku?”
“Ya, aku belsedia menjadi istlimu,” jawab Siluman Lidah Kelu sambil tersenyum dan tertunduk malu.
“Bagaimana, Gusti Prabu dan Gusti Ratu?” tanya Pendekar Seribu Tapak kepada Joko Tenang dan Ratu Getara Cinta.
“Sah!” jawab Joko Tenang dan Getara Cinta bersamaan.
“Yeee!” sorak Joko Tingkir sambil tiba-tiba melesat meninggalkan panggung itu dengan membawa tubuh Siluman Lidah Putih.
Joko Tingkir berlari di udara, di atas kepala-kepala kerumunan di sekeliling panggung. Tindakan Joko Tingkir itu mengejutkan semua orang, terutama bagi Dukun Kawin.
“Pengantin tidak tahu diri!” maki Pendekar Seribu Tapak. Lalu teriaknya, “Aku nyatakaaan sah!”
“Makaaan!” teriak sebagian besar hadirin begitu gembira.
Suasana pernikahan terakhir bagi Joko Tenang ini sangat berbeda dengan yang kemarin. Suasananya tenang, kusyuk, tidak ada yang berani berteriak atau tertawa, apalagi sampai lempar sandal.
Orang-orang yang berkerumun di sekitar panggung utama pun bukan lagi para pendekar pasukan siluman, melainkan para tokoh tua sakti dari Barisan Putih. Awalnya mereka hadir di Kerajaan Sanggana bukan untuk menghadiri acara pernikahan, terlebih mereka tidak menyiapkan amplop tempel. Mereka datang untuk menyaksikan penghakiman terhadap pengkhianat besar, yaitu Nenek Peti Terbang.
Dengan adanya acara pernikahan, itu keberuntungan tersendiri bagi mereka, karena jamuan lebih melimpah.
“Kedua mempelai dipertemukaaan!” teriak protokol perkawinan.
Nang ning nong! Nang ning nong!
Suara gamelan terdengar lebih bersemangat dengan musik yang indah, mengiringi langkah-langkah anggun sepasang kaki gadis cantik nan jelita, yang berjalan dalam balutan busana warna putih cemerlang, seperti putihnya baju iklan deterjen.
Ginari. Wanita bermata bening itu dikemas oleh pakar rias Istana menjadi mempelai wanita yang begitu memukau mata, tidak hanya memukai selera kaum batangan, tetapi juga membuat iri kaum dewi-dewi.
Ingin rasanya Riskaya, putri cantik mendiang Ki Rawa Banggir, menangis melihat tingginya nuansa cinta yang terpancar. Rasa sesal pun seolah meliputi hati ketiga janda mendiang Senggara Bolo. Sementara itu, di balik tiang Istana, Bidadari Wajah Kuning menangis tanpa suara karena tingginya rasa cemburu yang hadir di dalam dadanya. Seandainya ia tidak punya rasa malu, mungkin ia akan memohon kepada Dewi Mata Hati dan Dewi Geger Jagad agar mengizinkannya menikah dengan Joko Tenang. Namun sayang, ia masih memiliki rasa malu yang tinggi, meski urusan genit ia sudah tidak malu.
Ternyata bukan hanya mereka, ada satu gadis lagi yang begitu cemburu, yaitu Kumala Rimbayu yang datang bersama dua murid Dewi Mata Hati, yaitu Robenta yang berjuluk Pendekar Tongkat Merah dan Sobenta yang pernah berjuluk Pendekar Seruling Panjang, karena Sobenta telah hilang kesaktiannya.
Ginari yang berjalan sambil tersenyum manis rasa bahagia, di dampingi oleh Permaisuri Tirana yang memegangi satu tangannya. Di belakang keduanya berjalan Permaisuri Kerling Sukma dan Permaisuri Kusuma Dewi mengiringi.
Benar-benar pemandangan terindah yang pernah mereka lihat selama hidup. Kecantikan keempat wanita jelita itu akan menghantui tujuh hari tujuh malam, karena memang akan membuat terbayang-bayang bagi orang yang memandangnya. Terbukti, kini semua mata tertuju hanya kepada para bidadari itu.
Para pendekar yang punya mulut bocor pun tidak berkutik dibuatnya, selain ternganga. Anyam Beringin yang berjuluk Dewa Seribu Tameng bahkan sampai menyeka air liurnya.
Pada pernikahan Joko Tenang dengan Ginari ini, seluruh istri Joko Tenang hadir paripurna. Kemarin sore, Permaisuri Sri Rahayu tiba bersama ayah mertuanya dari Kerajaan Siluman. Ratu Lembayung Mekar juga tiba bersama kedua pangerannya dan sejumlah pejabat yang dikawal oleh seribu pasukan.
Yang juga istimewa pada hari itu adalah kehadiran Ki Ranggasewa, guru Ginari yang pernah menyandang gelar Setan Genggam Jiwa. Ia sampai menitikkan air mata ketika melihat kemunculan murid kesayangannya, terlebih sebelumnya ia telah mendapat kisah Ginari yang terpaksa harus dilumpuhkan seluruh kesaktiannya.
Bukan hanya itu, kedua ibu Permaisuri Kerling Sukma, yakni Gatri Yandana dan Lili Angkir datang dari Perguruan Tapak Tiga. Termasuk kakak tiri Kerling Sukma, yaitu Jaga Manta yang merupakan Ketua Perguruan Tiga Tapak. Ia datang bersama istrinya, Helai Sejengkal yang masih mengidap Racun Naga Es. Rencananya, di sini Helai akan diobati oleh Tabib Rakitanjamu atau oleh Joko Tenang sendiri.
__ADS_1
Para kerabat yang datang dari jauh, sebelumnya memang telah direncanakan akan dijemput oleh sekelompok prajurit utusan.
Akhirnya, Joko Tenang dipertemukan dan dihadapkan dengan jodoh pertamanya, tetapi yang terpaksa ia nikahi giliran terakhir. Ginari tersenyum lebar malu-malu, sampai-sampai gigi bersihnya tersingkap indah. Joko Tenang juga ikut tersenyum lebar dan semuanya pun tersenyum, seolah turut merasakan kebahagiaan itu. Untuk kali ini, Dewi Mata Hati tersenyum, meski senyumnya tipis.
Ibu Joko Tenang, Ningsih Dirama, terlihat juga bahagia melihat pernikahan putranya yang katanya adalah terakhir. Ia duduk bersama ayah, ibu dan kakaknya yang sudah makin sehat mentalnya.
Ketika Joko Tenang meraih dan memegang jari-jemari calon istrinya, Ginari tertawa kecil, singkat tapi girang tertahan. Karakter polosnya sisa dari sakitnya masih melekat, menampakkan karakter baru yang sangat berbeda dengan karakter asli Ginari di masa lalu yang dingin dan galak.
“Ucapkan ikatan suci, Gusti Prabu,” kata Pendekar Seribu Tapak selaku Dukun Kawin.
“Ginari,” sebut Joko Tenang lembut.
Sembari tersenyum lebar, Ginari manggut-manggut, seolah sudah tidak sabar untuk mendengar kalimat pengikat dari calon suaminya.
“Aku ingin ….”
“Iya, aku juga ingin! Hihihi!” jawab Ginari langsung memotong kata-kata Joko Tenang. Ia tertawa lalu memandang kepada Tirana yang turut tertawa kecil bersama dua permaisuri lainnya.
Joko Tenang pun tertawa samar. Pendekar Seribu Tapak hanya tersenyum. Tawa rendah terdengar di kalangan para tetua pendekar dunia persilatan.
“Ginari, tunggu sampai Gusti Prabu selesai bicara, baru kau jawab. Mengerti?” kata Pendekar Seribu Tapak mengarahkan dengan lembut, sebab ia yakin bahwa Ginari belum sembuh seratus persen.
“Baik,” jawab Ginari yang terus tersenyum karena begitu bahagianya.
“Silakan, Gusti Prabu,” kata Dukun Kawin.
“Ginari Sayang, aku menginginkanmu untuk menjadi istriku sampai maut memisahkan kita. Apakah kau bersedia menjadi istriku?” tanya Joko Tenang, akhirnya dengan lengkap.
“Iya!” jawab Ginari lantang. Karena lantangnya, sampai-sampai Ginari mendadak diam sendiri, lalu memandang kepada Dukun Kawin.
Hening sejenak. Namun, tiba-tiba Pendekar Seribu Tapak mengangkat tangan kanannya.
“Saaah …!” teriak semua hadirin bersamaan, seolah mereka sudah dikondisikan hanya untuk berteriak “sah”.
“Hahaha …!” tawa kencang Joko Tenang mendapati kejutan itu.
Joko Tenang lalu maju memeluk Ginari yang juga membalas. Joko Tenang mengecup dahi Ginari.
“Apakah sudah sah, Tetua?” tanya Joko Tenang kepada Pendekar Seribu Tapak.
“Sudah sah, Gusti Prabu,” jawab Pendekar Seribu Tapak seraya tersenyum.
Clap!
Tiba-tiba Joko Tenang dan Ginari menghilang dari atas panggung, membuat semua terkejut.
“Hahaha …!”
Namun kemudian, semua pun tertawa.
“Memang lelaki semua sama untuk urusan ranjang pertama, tidak mau menunggu sampai malam pertama,” pikir banyak wanita.
“Silakan para tamu dan rakyat Kerajaan Sanggana Kecil menikmati semua apa yang tersaji. Lima hari lagi, kita akan menyaksikan pernikahan Pangeran Lidah Putih di istana ini juga!” seru Ratu Getara Cinta dengan suara yang mengandung tenaga dalam.
“Hah! Appa?! Pangeran Lidah Putih menikah?!” kejut para pendekar sakti kalangan tua. Pengumuman itu seolah ingin membuat langit runtuh.
Pangeran Barasungka, putra pertama Ratu Lembayung Mekar, harus menghentikan langkahnya ketika ia melihat Bidadari Wajah Kuning duduk menyendiri di Taman Angsa. Wanita cantik berwajah kuning itu membuatnya tertarik.
“Apakah Nisanak Pendekar keberatan jika aku menemanimu dalam kesendirian?” tanya Pangeran Barasungka santun dengan senyum manis mengembang.
“Oh, tidak. Silakan,” jawab Bidadari Wajah Kuning seraya tersenyum tipis. (RH)
__ADS_1