8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Darah Keras 9: Lamaran Joko Tingkir


__ADS_3

*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*


 


“Hei, Gadis Cadel! Yang tertawa banyak, kenapa aku saja yang kau serang!” protes Joko Tingkir.


“Kalena wajahmu yang paling menjengkelkan!” jawab Siluman Lidah Kelu.


“Wah, kata siapa? Aku lebih ganteng dari pada Setan Ngompol, Lanang Jagad, atau Arya Permana, atau Tetua Petra Kelana!” sewot Joko Tingkir, membuat mereka yang berada di atas kuda tertawa. “Jika kau sampai menyerangku lagi, aku yakin kau akan jatuh cinta kepadaku!”


“Aku ingin buktikan, apakah koalanmu itu hanya omong kosong besal atau kau memang mampu membuatku jatuh cinta! Hiat!” kata Siluman Lidah Kelu lalu merangsek maju dengan melancarkan serangan tangan dan kaki.


Duel pun terjadi antara dua pemuda yang belum saling kenal itu.


“Kita istrahat di sini lebih dulu, sampai kedua anak muda itu menyelesaikan pertikaiannya!” perintah Raja Anjas.


Mereka lalu meminggirkan kuda-kudanya dan mencari tempat beristirahat yang nyaman. Setelah melihat ke sekitar, Anjas lalu pergi ke sebuah kedai sederhana berlantai tanah, tetapi terlihat cukup beragam kue jajanannya.


Mereka yang muda-muda memilih menonton pertarungan antara Joko Tingkir dengan Siluman Lidah Kelu.


“Kau salah memilih belulusan denganku, Kisanak!” seru Siluman Lidah Kelu sambil melancarkan serangan tangan kosong yang bertenaga dalam tinggi lagi cepat.


“Kaulah yang salah memilih lawan tarung!” balas Joko Tingkir tidak kalah yakin, meski saat itu ia agak kerepotan menghadapi serangan menggebu Siluman Lidah Kelu.


“Lasakan Cakalan Halimau Ganas!” seru Siluman Lidah Kelu, lalu merangsek maju menyerang dengan jurus cakaran yang cepat dan berniat merobek apa pun yang Joko Tingkir miliki.


“Cakaran harimau apa? Cakaran Harimau Nanas! Hahaha!” ledek Joko Tingkir sambil melangkah mundur-mundur menangkis dan mengelaki serangan cakaran itu.


Tanpa sadar, Joko Tingkir mundur ke arah Petra Kelana yang berdiri menonton dengan serius.


“Bertarungnya yang benar!” kata Petra Kelana sambil mendorong kuat punggung Joko Tingkir yang menghampirinya.


“Hak!” pekik Joko Tingkir terkejut karena mendapat dorongan kuat dari Petra Kelana, membuat tubuhnya justru maju cepat ke depan.


Bduk!


“Hahahak…!” tawa para penonton terpingkal-pingkal melihat insiden yang terjadi.


Dorongan Petra Kelana membuat Joko Tingkir maju tanpa terkendali. Ia menabrak cium tubuh dan wajah Siluman Lidah Kelu. Siluman Lidah Kelu hanya bisa terkejut, karena gerakan si pemuda di luar dugaan. Keduanya jatuh bertindihan, dengan tubuh Joko Tingkir menindih tubuh indah Siluman Lidah Kelu. Naasnya lagi, setelah tabrakan wajah yang tidak indah, kini bibir Joko Tingkir mencokot hidung bangir lawannya, bukan bibirnya.


“Tingkir! Kenapa kau cium hidungnya?” teriak Arya Permana sambil tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


“Aku baru tahu gaya ciuman Joko Tingkir. Hihihi…!” ucap Tembangi Mendayu pula yang tidak bisa menahan tawanya.


Muda mudi itu harus menahan malu, terlihat wajah keduanya memerah salah tingkah. Joko Tingkir cepat menarik wajahnya dari wajah Siluman Lidah Kelu.


Buk!


Siluman Lidah Kelu yang berada di bawah, cepat menarik tekuk kakinya ke perut Joko Tingkir, lalu menghentakkannya ke atas, mendorong tubuh Joko Tingkir terlempar cukup jauh.


Jleg!


Joko Tingkir dapat mendarat dengan baik.


“Daripada kalian saling tarung dan nanti melukai, lebih baik kalian kawin saja!” seru Petra Kelana.


“Setuju!” sahut Pangeran Keriting lalu tersenyum lebar, sisa dari tawa panjangnya.


“Aku setuju!” sahut Joko Tingkir, membuat Siluman Lidah Kelu mendelik. “Akan aku buktikan kepada para wanita di sini, bahwa aku bukanlah pemuda yang tertolak!”


“Hihihi! Aku ingin lihat, seberapa hebat kau menggaet wanita, Tingkir. Atau kau memang benar-benar pecundang!” sahut Tembangi Mendayu memanasi.


“Kau mau bertaruh apa? Apa yang akan kau berikan kepadaku jika aku berhasil menikah dengan Gadis Cadel ini?” tanya Joko Tingkir kepada Tembangi Mendayu menantang.


“Baik, kita sepakat!” seru Joko Tingkir lantang. “Akan aku tunjukkan bahwa aku Pangeran Perkasa Dunia, adalah lelaki yang memiliki cinta sejati yang selama ini didambakan oleh setiap wantia!”


“Tetapi aku tidak mendambakan cintamu!” kata Tembangi Mendayu mencibir.


“Hahaha…!” tawa yang lain menertawakan Joko Tingkir,


Sementara Siluman Lidah Kelu hanya terkejut bahwa ia dijadikan target pertaruhan.


Tanpa ada sikap hendak bertarung, Joko Tingkir mendekati Siluman Lidah Kelu dengan senyum manis mengembang.


“Gadis Cadel, bersediakah kau menjadi istriku?” tembak Joko Tingkir langsung, tanpa bunga atau kotak mini berisi cincin mutiara.


Terkesiap Siluman Lidah Kelu mendapat lamaran langsung dari Joko Tingkir. Wajah dan tatapannya menunjukkan kemarahan atas situasi itu, tetapi hatinya jadi terpecah menjadi dua kubu, ada yang pro dan ada yang kontra dalam menyikapi lamaran Joko Tingkir. Ia marah atas situasi itu. Namun, baru kali ini ada seorang pemuda yang melamarnya, sungguh membuat hatinya tersentuh dan bahagia.


“Kakaka… kawin! Kakaka… kawin!” teriak Gulung Lidah mendukung seperti suporter badminton.


“Kakaka… kawin! Kakaka… kawin!” teriak Arya Permana dan Lanang Jagad bersamaan, mengikuti kegagapan Gulung Lidah.


“Kakaka… kawin! Kakaka… kawin! Hahaha…!”

__ADS_1


Akhirnya mereka semua yang terhibur atas pertunjukan tersebut jadi mengikuti gaya Gulung Lidah, lalu tertawa bersama.


Siluman Lidah Kelu semakin kesal melihat situasi itu. Sambil mendengus, akhirnya ia memilih pergi.


“Yaaa!” sorak para penonton kecewa.


“Anak muda payah!” ucap Petra Kelana kecewa.


“Kalian salah, Tetua! Itu bukan sikap sebenarnya. Karena kalian menertawakannya, jadi dia memilih marah!” bantah Joko Tingkir. “Tidak adil jika aku hanya diberi kesempatan hanya sesaat. Jika sampai Kerajaan Siluman sudah takluk dan aku belum mendapatkan cinta Gadis Cadel, aku akan mengaku kalah!”


“Setuju!” teriak Pangeran Botak.


“Baik, setuju!” sahut Tembangi Mendayu pula.


“Kau mengeluhkan anak muda, tapi kau sendiri sampai setua ini masih bujang lapuk,” kata Gadis Cadar Maut saat berjalan di dekat Petra Kelana.


Mendelik Petra Kelana mendapat singgungan dari wanita bercadar itu. Ia hanya memandangi Gadis Cadar Maut yang berlalu, tetapi kemudian dia memilih mengejar sambil menarik kudanya.


“Gadis Cadar Maut!” panggil Petra Kelana.


“Apa?” tanya Gadis Cadar Maut dengan lirikan yang cantik, tanpa berhenti berjalan menuju kedai.


“Apakah kau mau menjadi kekasihku?” tawar Petra Kelana sambil tersenyum lebar dan berjalan di sisi Gadis Cadar Maut.


“Kekasih? Hihihi!” ucap ulang Gadis Cadar Maut, lalu tertawa. “Aku bukan wanita murahan yang hanya mau dijadikan kekasih.”


“Oh, berarti kalau aku lamar menjadi istri, kau mau?” tanya Petra Kelana kian bersemangat.


“Hihihi!” tawa Gadis Cadar Maut yang membuat Petra Kelana ikut tertawa senang. Namun kemudian katanya, “Tidak! Aku malu dengan julukanku yang keramat!”


“Apa?” kejut Petra Kelana.


“Jika aku menikah, maka namaku akan hilang, karena aku akan berubah bukan gadis lagi,” kilah Gadis Cadar Maut.


“Jadi kau memilih untuk menggadis sepanjang hidupmu?” tanya Petra Kelana seakan tidak percaya.


“Iya. Lagi pula siapa yang mau dengan wanita yang tidak jelas wajahnya,” tandas Gadis Cadar Maut.


“Aku jadi tertantang untuk memikat hatimu, Gadis,” kata Petra Kelana dengan nada dan wajah serius.


“Berusahalah. Tapi jangan lupa, kau pun harus siap untuk kecewa,” kata Gadis Cadar Maut. (RH)

__ADS_1


__ADS_2