8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mis Kekar 14: Mengobati Bidadari


__ADS_3

*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*


 


Joko Tenang adalah seorang anak yang tumbuh dengan hanya berkeluargakan Ki Ageng Kunsa Pari dan Goceng. Selainnya, ia sangat akrab dengan Resi Putih Jiwa, sang penguasa Alam Kahyangan dan pemilik hewan-hewan raksasa.


Dalam dua purnama terakhir ini, ia telah mengetahui bahwa sebenarnya ia memiliki banyak keluarga, baik dari pihak ayah atau sisi ibu. Mungkin hanya kepada ibu dia memiliki hubungan emosional yang sangat kuat, tetapi kepada yang lainnya biasa saja. Selain ibu, mungkin yang cukup dekat lagi adalah ayah, kakek dan nenek, serta adik tirinya yang bernama Putri Sagiya, sementara yang lain tidak.


Meski demikian, Joko Tenang berusaha menempatkan orang-orang yang berstatus sebagai kerabatnya di posisi yang penting dalam hidupnya.


Karena itu, ketika mendengar kabar Emping Panaswati telah mati dibunuh, ia memendam kemarahan, tetapi tidak begitu merasa kehilangan.


Untuk sementara Joko Tenang mengistirahatkan pasukannya. Ia dan Kerling Sukma memilih berkumpul bersama para pendekar itu dan mendengarkan cerita apa yang terjadi. Hanya Setan Ngompol yang berdiri agak menjauh dari komunitas.


“Jadi, Nenek Emping Panaswati dibunuh saat sore hari?” tanya Joko Tenang mencoba menegaskan.


“Benar, Gusti Prabu,” jawab Murai Manikam.


“Jika ciri-ciri kematiannya seperti itu, hal yang sama menimpa Ki Sombajolo dan Paman Gujara muridnya….”


“Apa?! Ki Sombajolo juga dibunuh?” kejut Petra Kelana memotong kata-kata Joko Tenang.


“Bukan hanya Ki Sombajolo yang menjadi korban, tetapi juga Resi Tambak Boyo,” kata Joko Tenang.


“Apa?!” Kali ini yang terkejut Petra Kelana dan Nenek Rambut Merah.


“Aku hanya mendapat laporan, tidak menyaksikan langsung kematian mereka. Jika dikumpulkan waktu kematian mereka, Resi Tambak Boyo tewas sebelum Ki Sombajolo. Waktu kematian Ki Sombajolo di Gerbang Padepokan Mata Hati, mungkin hampir sama dengan waktu kematian Nenek Emping. Dan waktu kematian Pangeran Mabuk mungkin sama dengan waktu kematian Hantu Kaki Tiga,” papar Joko Tenang.


“Pangeran Mabuk juga?” tanya Petra Kelana yang mengenal semua nama tokoh tua yang disebutkan.


“Pangeran Mabuk adalah calon korban berikutnya setelah Ki Sombajolo. Hanya, aku pun belum tahu kabar tentang Pangeran Mabuk itu,” kata Joko Tenang.


“Ada yang tidak masuk akal,” kata Nenek Rambut Merah, membuat mereka memandang wanita tua itu. Lalu katanya lagi, “Bagaimana mungkin dua pembunuhan dengan waktu yang hampir bersamaan, tetapi lokasinya berjauhan?”


“Benar,” kata Petra Kelana. “Atau mungkin….”


“Ada dua kelompok pembunuh,” sambung Kerling Sukma. “Dua kelompok pembunuh dengan senjata dan cara membunuh yang sama.”


“Menarik,” ucap Petra Kelana. Ia berpikir keras mencoba untuk menerka, “Siapa tokoh tua aliran hitam yang memiliki ciri-ciri serba putih, dengan jumlah lebih dari tiga orang, tiga orang adalah nenek-nenek, cara membunuh menggunakan racun dan senjata setebal jari tangan. Sebagai tokoh senior di dunia persilatan, seharusnya aku tidak perlu sulit menerkanya.”


Petra Kelana geleng-geleng kepala sendiri, merasa prihatin dengan daya ingatnya.


“Apakah Kakang Prabu tidak curiga dengan dua kakek serba putih yang kita jumpai di jalan tadi?” tanya Kerling Sukma.

__ADS_1


“Apakah karena mereka sama-sama tua dan sama-sama serba putih?” tanya balik Joko Tenang kepada istrinya.


“Benar. Tidak hanya itu, mereka memiliki senjata seperti kayu kecil warna putih. Mungkin senjata itu yang dipakai untuk menusuk,” jawab Kerling Sukma.


“Bukankah dugaan kuatnya, luka itu adalah tusukan jari?” kata Joko Tenang.


“Bukan tusukan jari!” bantau Petra Kelana cepat. “Aku sudah memperhatikan luka di leher korban, lingkarannya lebih halus dan rapi dibandingkan lingkaran jari.”


“Di dalam perjalanan tadi, kami sempat bertemu dan adu kesaktian dengan dua orang kakek berperawakan serba putih. Karakter mereka sangat angkuh. Permaisuriku telah membuat mereka terluka parah. Jika ternyata mereka adalah bagian dari kelompok pembunuh ini, adalah waktu yang tepat untuk memburunya selagi dua orang dari mereka terluka,” kata Joko Tenang.


“Aku lebih setuju memburu daripada kita yang diburu!” kata Nenek Rambut Merah.


“Baiklah, aku akan memecah pasukanku untuk melakukan perburuan, tapi aku ingin menawarkan pengobatan kepada nisanak itu lebih dulu,” kata Joko Tenang, lalu beralih memandang kepada Bidadari Wajah Kuning yang masih tergeletak di tanah.


“Namanya Bidadari Wajah Kuning,” kata Petra Kelana memperkenalkan Bidadari Wajah Kuning.


“Oh, aku melihatnya di antara para tokoh tua di Jurang Lolongan,” kata Joko Tenang.


Joko Tenang lalu berjalan menghampiri Bidadari Wajah Kuning.


“Nisanak Bidadari, apakah kau bersedia aku obati?” tanya Joko Tenang kepada wanita berwajah aneh tapi cantik itu.


“Jika pilihan lainnya adalah mati, tentu aku memilih diobati,” jawab Bidadari Wajah Kuning sambil meringis kesakitan.


“Jangan menyentuhnya, Gusti. Racun pada tubuhnya ganas!” kata Petra Kelana mengingatkan.


“Jika tubuhnya beracun, lalu bagaimana kau bisa menotoknya, Tetua?” tanya Joko Tenang.


“Aku kebal racun,” jawab Petra Kelana.


“Jika demikian, biarkan Tetua yang mencuci dulu tubuhnya. Sebab, pengobatanku hanya menyedot racun di dalam tubuh, bukan membersihkan serbuk racun di luar tubuh,” kata Joko Tenang.


“Hah!” pekik Bidadari Wajah Kuning.


“Hahaha! Kau bercanda, Gusti!” kata Petra Kelana jadi salah tingkah.


“Tidak tidak tidak!” kata Bidadari Wajah Kuning cepat. “Aku tidak sudi dimandikan oleh lelaki mata keranjang sepertimu, Petra!”


“Eh! Apa kau bilang, Bidadari? Aku mata keranjang? Kenyataan apa yang kau lihat sehingga menuduhku buruk seperti itu? Selama ini aku hanya setia berusaha mendapatkan cinta Dewi Ara, bersaing dengan Dewa Kematian, tapi justru Gusti Prabu yang mendapatkan wanita yang aku cintai. Wajar jika setelah itu aku mencari pujaan hati baru. Aku sangat menolak jika aku disebut mata keranjang!” kata Petra Kelana berapi-api.


“Maafkan aku sudah membuat Tetua patah hati,” ucap Joko Tenang tapi tanpa nada penyesalan.


“Tidak apa-apa, sudah rezekimu, Gusti Prabu. Hahaha! Lagi pula, terlalu banyak wanita cantik untuk aku pilih setelahnya,” kata Petra Kelana menghibur diri lalu melirik kepada Murai Manikam.

__ADS_1


Murai Manikam yang dilirik jadi mendelik lalu buru-buru buang pandangan ke arah lain. Ia khawatir Joko Tenang curiga terhadapnya.


“Baiklah, jika kau tidak sudi dimandikan oleh Tetua, tentunya kau sudi jika hanya diangkat olehnya ke dalam kereta kudaku?” tanya Joko Tenang.


“Baik,” jawab Bidadari Wajah Kuning.


“Ah, kau berlagak jual mahal, Bidadari. Padahal aku juga yang menahan racun itu menyerang jantungmu,” gerutu Petra Kelana sambil bergerak dan berjongkok untuk mengangkat tubuh Bidadari Wajah Kuning.


Petra Kelana lalu membawa tubuh Bidadari Wajah Kuning dengan kedua tangannya.


“Temanilah Permaisuri, Murai!” kata Joko Tenang kepada Murai Manikam seraya tersenyum manis kepadanya.


“Baik, Gusti Prabu,” jawab Murai Manikam seraya tersenyum dengan hati yang bahagia karena sudah diajak bicara oleh raja tampan itu.


“Limarsih, sesekali datanglah ke Istana menjenguk adikmu,” kata Joko Tenang pula kepada Limarsih seraya tersenyum manis kepadanya.


“Nanti aku pasti datang ke sana,” kata Limarsih, yang juga hatinya berbunga tumbuh daun karena diajak bicara pula.


Joko Tenang lalu melangkah pergi menuju kereta kudanya. Ketika tiba di posisi sepuluh pendekar Pasukan Hantu Sanggana, Joko Tenang memberi perintah.


“Pergilah beberapa dari kalian mengambil air sebanyak dua ember. Jangan membuat aku menunggu lama!” perintah Joko.


“Baik, Gusti Prabu!” jawab mereka serentak, meski kemudian hanya empat orang pendekar yang pergi melesat untuk mencari air.


Petra Kelana sudah meletakkan tubuh Bidadari Wajah Kuning di dalam bilik kereta.


“Apakah kau bisa mengobatinya tanpa menyentuhnya, Gusti Prabu?” tanya Petra Kelana ragu.


“Aku juga kebal racun,” jawab Joko Tenang seraya tersenyum kepada Petra Kelana.


“Oh,” desah Petra Kelana singkat. Ia lalu meninggalkan Joko Tenang, membiarkan raja itu hanya berdua dengan si nenek cantik di dalam kereta. Lalu ucapnya lirih sambil berjalan, “Menang banyak Raja Joko.”


Petra Kelana langsung pergi menghampiri Kerling Sukma yang sedang berbincang dengan Murai Manikam.


“Gusti Permaisuri, apakah kau tidak khawatir membiarkan suamimu hanya berdua di dalam sana?” tanya Petra Kelana, seolah ia tidak setuju dengan keadaan itu.


“Aku mengenal baik suamiku. Kakang Prabu sudah memiliki sepuluh istri, jikapun dia ingin menambah sepuluh lagi, kami para istrinya tidak akan mempermasalahkannya,” jawab Kerling Sukma.


“Hah!” pekik Petra Kelana. Ia lalu memandang khawatir kepada Murai Manikam. Ia khawatir Murai Manikam memanfaatkan lubang cahaya itu lebih bersemangat ingin menjadi istri Joko Tenang.


“Hihihi!” tawa Murai Manikam mendengar jawaban Kerling Sukma dan melihat reaksi Petra Kelana.


Ujung-ujungnya Petra Kelana jadi memandang kepada Limarsih. Ia mendelik kaget saat melihat Limarsih justru mengejeknya dengan juluran ujung lidahnya, membuat gadis itu terlihat justru menggemaskan.

__ADS_1


“Kakang Prabu tidak akan berbuat kurang ajar kepada Bidadari, Tetua,” kata Kerling Sukma kepada Petra Kelana. (RH)


__ADS_2