
*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*
Pengobatan ilmu Serap Luka harus melalui sentuhan tangan kepada kulit. Jadi, itu yang Joko Tenang lakukan terhadap Bidadari Wajah Kuning. Agar penyerapannya bisa terpusat dan seimbang, Joko Tenang harus menempelkan tangannya pada tengah-tengah dari badan si nenek cantik.
Namun, Joko Tenang tidak mau kurang ajar. Jadi dia tidak meminta tengah-tengah badan depan, melainkan tengah-tengah punggung Bidadari Wajah Kuning. Ternyata yang kuning dari Bidadari Wajah Kuning hanya wajah hingga setengah leher, warna pada kulit yang lainnya normal, yaitu putih mulus.
Ini pertama kalinya Joko Tenang menggunakan ilmu Serap Luka sejak kesaktiannya kembali. Namun, berbeda dari yang dulu, kini Joko Tenang bisa leluasa menyentuh, tidak perlu lagi memakai rapalan dukun sableng yang tidak jelas maksudnya.
“Gusti Prabu, bagaimana nasib Dewi Geger Jagad?” tanya Bidadari Wajah Kuning di sela-sela pengobatannya.
“Dia baik-baik saja dan sudah menjadi permaisuriku,” jawab Joko Tenang.
“Berarti Nara….”
“Keduanya sudah hidup harmoni dan melupakan dendam masa lalu….”
“Apa? Hidup harmoni? Mereka tidak saling bunuh?” kejut Bidadari Wajah Kuning, sampai-sampai ia menengok ke belakang, membuat sedikit badan depannya terlihat oleh Joko.
“Eeeh, jangan berbalik!” kata Joko Tenang sambil buru-buru menyetir kedua bahu Bidadari Wajah Kuning agar menghadap lurus ke depan. “Kami bisa menyelesaikannya bersama dengan baik.”
“Kesaktian apa yang kau miliki sehingga bisa meluluhkan dendam keduanya?” tanya Bidadari Wajah Kuning begitu heran.
“Kekuatan cinta,” jawab Joko Tenang.
“Apakah kau benar-benar lelaki sejati, Gusti Prabu?” tanya Bidadari Wajah Kuning.
“Hahaha!” tawa Joko Tenang mendengar pertanyaan itu. “Jika aku lelaki sejati, lalu apa yang akan kau lakukan?”
“Hihihi!” tawa Bidadari Wajah Kuning terdengar genit.
Paks!
Joko Tenang kembali menempelkan telapak tangannya ke punggung halus Bidadari Wajah Kuning. Joko Tenang sudah menarik keluar semua racun yang ada di dalam tubuh si nenek cantik. Ia kini sedang menyelesaikan tahapan akhir, yaitu menyegarkan tubuh pasiennya.
Bidadari Wajah Kuning tersenyum ketika merasakan ada hawa sejuk yang menjalar ke seluruh anggota tubuhnya. Stamina dan kesegaran tubuhnya kini kembali lagi.
“Baik, sudah selesai, Nek,” kata Joko Tenang sambil menarik tangannya.
“Jangan menyebutku Nenek. Kau tidak lihat bahwa aku masih muda dan cantik?” sergah Bidadari Wajah Kuning.
__ADS_1
“Hahaha!” tawa rendah Joko Tenang. Ia lalu mendekatkan dua bumbung bambu yang berisi air. “Bersihkan tubuhmu dari sisa racun. Aku akan ambilkan pakaian permaisuriku untuk kau kenakan.”
“Terima kasih, Gusti Prabu. Kau sungguh baik hati,” ucap Bidadari Wajah Kuning.
“Jangan pernah percaya dengan kebaikan lelaki, hahaha!” gurai Joko Tenang.
“Hihihi!” tawa Bidadari Wajah Kuning sambil menengok memandang wajah tampan Joko Tenang sekilas. Melihat ketampanan berondong itu, hati tuanya masih sanggup untuk berbunga seribu musim.
Joko Tenang lalu bergerak keluar dari bilik kereta. Ia pergi ke kereta yang mengangkut para dayang. Saat itu kereta dayang kosong karena para dayang sedang berada bersama Permaisuri Kerling Sukma. Joko Tenang mengambil pakaian ganti warna hijau gelap milik Kerling Sukma untuk diberikan kepada Bidadari Wajah Kuning.
Joko Tenang kembali ke kereta kuda miliknya.
“Bidadari, ini pakaianmu!” kata Joko Tenang tanpa membuka pintu lebih dulu.
“Masukkan saja, Gusti Prabu!” kata Bidadari Wajah Kuning.
Joko Tenang pun membuka pintu bilik kereta.
“Oh, maafkan aku, Bidadari!” ucap Joko Tenang cepat sambil memejamkan kedua matanya.
Joko Tenang terkejut setelah membuka pintu. Bidadari Wajah Kuning sedang dalam kondisi melepas total pakaian atasnya. Ia sedang menyeka-nyeka tubuhnya menggunakan kain yang dibasahi. Masih untung nenek berbadan aduhai itu membelakangi pintu.
“Tidak apa-apa, Gusti Prabu,” ucap Bidadari Wajah Kuning seraya tersenyum sendiri membelakangi Joko.
Ia lalu menutup pintu.
“Setelah selesai, aku harus memastikan bahwa tidak ada racun susulan yang menyerang,” ujar Joko Tenang.
“Baik, dengan senang hati, Gusti Prabu,” kata Bidadari Wajah Kuning dari dalam.
Joko Tenang lalu melangkah pergi meninggalkan kereta kuda. Joko Tenang menyempatkan diri memandang kepada sais yang tertawa tanpa suara.
Melihat Raja memandanginya, sang kusir sontak berhenti tertawa dan langsung pasang wajah datar.
Joko Tenang langsung mendatangi permaisurinya.
“Pakaianmu aku berikan kepada Bidadari Wajah Kuning untuk mencegah ia keracunan kembali,” ujar Joko Tenang kepada Kerling Sukma.
“Apakah itu membuatnya jatuh cinta, Kakang Prabu?” tanya Kerling Sukma tapi dengan tatapan setajam pisau tumpul.
“Hahaha…!” Joko Tenang jadi tertawa agak panjang mendapat pertanyaan seperti itu. Ia lalu merangkul bahu istrinya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya mencolek dagu indahnya.
__ADS_1
Murai Manikam dan Limarsih hanya bisa tergoda oleh pemandangan mesra itu. Petra Kelana pun mengalihkan pandangannya ke awan impian di langit harapan.
“Jika pembunuhnya belum lama dan masih berada di daerah sekitar sini, maka kemungkinan besar bisa kita temukan jika pencarian disebar,” ujar Joko Tenang kepada Petra Kelana dan Nenek Rambut Merah.
“Baik, aturlah, Gusti Prabu,” kata Nenek Rambut Merah.
“Sebelumnya, kita sepakati dulu, apa pun hasilnya, besok siang kita bertemu di Jalur Bukit. Bagaimana?” ujar Joko Tenang.
“Setuju,” jawab Petra Kelana yang disusul oleh anggukan Nenek Rambut Merah.
“Kita akan menyebar ke empat arah. Jalur Bukit ada di arah utara, berarti kelompok yang mencari ke arah selatan semuanya harus berkuda. Aku minta Tetua memimpin sepuluh prajurit berkuda ke daerah selatan. Permaisuri bersama sepuluh prajurit berkuda dan tiga Pengawal Bunga akan mencari ke utara. Maka kelompok Permaisuri yang akan tiba lebih dulu di Jalur Bukit,” kata Joko Tenang.
“Baik, Kakang Prabu,” kata Kerling Sukma patuh.
“Aku dan pasukan pejalan kaki akan ke timur. Nenek Rambut Merah dan Setan Ngompol, bersama sepuluh pendekar Pasukan Hantu Sanggana mencari ke barat!” kata Joko Tenang lagi.
“Lalu kami bagaimana?” tanya Limarsih.
“Kalian berdua dan Bidadari bebas memilih mau ikut siapa,” kata Joko Tenang.
“Aku ikut Gusti Prabu!” kata Limarsih dan Murai Manikam bersamaan.
Kedua gadis cantik beda usia itu lalu saling menatap. Sementara Kerling Sukma hanya menarik satu sudut bibirnya melihat suaminya masih jadi rebutan.
Melihat Permaisuri Kerling Sukma memandangi mereka berdua, keduanya masing-masing menelan ludahnya.
“Aku ikut Petra Kelana,” kata Murai Manikam akhirnya.
Petra Kelana pun tersenyum lebar.
“Aku ikut guruku,” kata Limarsih pula.
Joko Tenang tersenyum kepada keduanya yang hanya balas tersenyum kecut.
“Aku ikut tabibku!” kata Bidadari Wajah Kuning yang datang mendarat dari layangan tubuhnya.
Wanita berwajah kuning itu mendarat dengan lembut. Ia kini dalam tampilan yang begitu anggun dengan pakaian mewah berwarna hijau gelap. Tinggal kurang asesoris saja.
“Waw! Kau benar-benar begitu pantas menjadi permaisuri kesebelas, Bidadari!” celetuk Petra Kelana.
“Dasar tidak punya adab! Permaisuri masih ada di samping, kau justru memancing biawak!” Nenek Rambut Merah memaki Petra Kelana.
__ADS_1
“Apakah aku salah bicara seperti itu? Aku hanya memberi penilaian,” kilah Petra Kelana. (RH)