8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
PCR 16: Tembangi Mendayu Kalah


__ADS_3

*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*


 


Alangkah terkejutnya Tembangi Mendayu mendengar Kerling Sukma berbicara di belakangnya. Pasti Kerling Sukma akan langsung menyerangnya.


Wezz!


Tembangi Mendayu langsung mengerahkan ilmu perisai Selimut Gelap. Tubuhnya seketika diselimuti lapisan hitam yang membuatnya dibungkus seperti kue lemper isi abon daging.


Pak!


Kerling Sukma menghantamkan tinju kanannya ke telapak tangan kirinya sendiri. Hasilnya, sebuah bayangan tinju tangan raksasa berwarna hitam muncul keluar dari tubuh Kerling Sukma. Bayangan tinju yang wujudnya berlipat-lipat kali lebih besar dari tubuh manusia itu, langsung melesat menghantam tubuh Tembangi Mendayu.


Tubuh wanita pertama yang pernah mencium Joko itu, terpental brutal seperti bola kasti dihantam pukulan home run. Tubuhnya itu terpental berputar-putar menghantam keras dinding pagar istana. dinding itu sampai retak karena sedemikian kerasnya.


Bluk!


Setelah menghantam dinding, lapisan hitam yang membungkus tubuh Tembangi Mendayu lenyap. Ia jatuh ke lantai pelataran. Tubuh Tembangi Mendayu tidak remuk pada bagian tulang-tulangnya terkena Tinju Seruduk Tulang. Namun, ketika ia bangun berdiri, ia merasakan sakit pada seluruh tubuhnya, seolah usai ditumbuk oleh ribuan alu.


“Baik, kita akhiri saja di sini!” desis Tembangi Mendayu. “Berani datang, berani pulang sebagai mayat!”


Tembangi Mendayu lalu melompat bersalto ke depan. Ia mendarat dengan posisi kuda-kuda tengah yang kuat. Kedua telapak tangan saling mengait di depan perut. Kedua tangan itu kemudian diselimuti sinar kuning. Sepasang mata Tembangi Mendayu berubah kuning seperti lampu sepeda motor. Ia siap melepaskan ilmu tertingginya yang bernama Murka Semesta Senja.


Kerling Sukma yang melihat gelagat lawannya, ia bisa menerka bahwa Tembangi Mendayu sedang mengerahkan ilmu pamungkasnya.


Kerling Sukma lalu berlari kecil maju mendatangi Tembangi Mendayu. Kedua tangan Kerling Sukma mengeluarkan sinar ungu menyilaukan mata. Terkejutlah Ratu Getara Cinta dan Kusuma Dewi yang mengenali ilmu tersebut. Itu ilmu Roh Langit Empat, salah satu tingkatan ilmu Roh Tujuh Langit.


Tembangi Mendayu yang sudah siap dengan ilmu tertingginya, lalu melesat maju ke depan dengan kedua tangan berbekal sinar kuning bergelombang. Kerling Sukma hanya maju dengan berlari kecil menunggu ketibaan Tembangi Mendayu.


“Jangan bunuh Tembangi Mendayu, Mata Hijau!” teriak Dewi Mata Hati tiba-tiba di saat genting seperti itu. Nara bisa merasakan betapa tingginya kekuatan ilmu Roh Langit Empat.


Ketika pertemuan kedua wanita jelita itu akan terjadi, Kerling Sukma terpaksa memadamkan ilmu Roh Langit Empat-nya, menuruti perintah gurunya.


Boom! Boom!


Zersss!


Ketika Tembangi Mendayu menghantamkan dua sinar kuningnya, Kerling Sukma hanya mengandalkan ilmu perisai Benteng Tiga Lapis. Tiga lapis sinar kuning muncul melindungi tubuh Kerling Sukma. Terdengar dua dentuman dahsyat saat ilmu Murka Semesta Senja menghantam Benteng Tiga Lapis.


Namun, pada saat itu pula, sinar kuning besar berbentuk ular raksasa bersayap kalelawar melesat keluar dari dalam tubuh Kerling Sukma.

__ADS_1


Tubuh Kerling Sukma terpental hebat ke belakang sampai berguling-guling di lantai pelataran. Pada saat itu pula, Tembangi Mendayu terjengkang saat tubuhnya ditabrak oleh ular sinar kuning yang bernama Kerling Emas.


Kelebihan makhluk penghuni Cincin Mata Langit milik Kerling Sukma adalah ketika menyerang seseorang, maka orang tersebut akan kehilangan daya napasnya dan membuatnya mati karena tidak bisa bernapas.


Terlihat, ketika Tembangi Mendayu jatuh terjengkang, ia langsung sulit bernapas. Mulutnya terbuka dengan napas megap-megap, seolah kehabisan oksigen karena terkena COVID-19.


Wess! Tuk tuk tuk! Pak!


Sebelum Tembangi Mendayu benar-benar mati, Ratu Getara Cinta cepat berkelebat kepada gadis cantik sakti itu. Tiga totokan cepat Ratu Getara Cinta sarangkan pada leher dan wilayah dada Tembangi Mendayu. Selanjutnya ia tapak dada atas Tembangi yang posisinya terbaring mau mati. Ratu Getara Cinta menyalurkan tenaga dalamnya untuk mencegah saluran napas gadis itu tersumbat.


Kerling Sukma telah berdiri dan menyeka darah yang ada keluar dari mulut. Ular terbang penghuni Cincin Mata Langit datang masuk ke dalam tubuhnya.


Tembangi Mendayu hanya memandangi wajah jelita Ratu Getara Cinta yang sedang berusaha menyelamatkannya.


Tampaknya upaya Ratu Getara Cinta berbuah hasil. Tembangi Mendayu mulai bisa bernapas normal.


“Kau sudah bisa bernapas, Tembangi,” kata Ratu Getara Cinta setelah menarik telapak tangannya dari dada Tembangi Mendayu.


“Terima kasih, Gusti Ratu,” ucap Tembangi Mendayu, kali ini menaruh hormat dengan menyebut Getara Cinta “Gusti Ratu”. Ia segera bangun berdiri. Sejenak ia memandang kepada Kerling Sukma yang nyaris membunuhnya.


“Perkara cinta itu selalu rumit. Kau tidak perlu mengorbankan nyawa hanya untuk mengobati sakit hatimu. Jika kau bersedia, tunggulah Kakang Prabu selama tiga hari. Kakang Prabu pasti akan menemuimu,” ujar Ratu Getara Cinta.


“Baiklah jika itu keputusanmu. Aku berharap kau tidak mendendam kepada kami,” kata Ratu Getara Cinta.


“Aku berharap tidak bertemu langsung dengan Joko. Jika itu terjadi, aku pasti akan mendendam kepadanya,” kata Tembangi Mendayu. “Aku pergi, Gusti Ratu!”


Tanpa menghormat, Tembangi Mendayu lalu melangkah pergi membawa rasa malu, sakit hati, dan kekalahan telak. Ia berlalu di depan Kerling Sukma. Ia memandang tajam kepada Permaisuri Mata Hijau. Tembangi Mendayu mengarahkan tangan kanannya ke arah tombak emasnya yang tergeletak. Tombak itu melesat tertarik ke dalam genggaman Tembangi Mendayu.


Penonton pun bubar satu demi satu.


“Pertarungan yang bagus, Mata Hijau!” puji Nara sambil membelai kepala Kerling Sukma yang adalah murid kesayangannya.


“Kenapa Permaisuri Guru melarangku membunuhnya?” tanya Kerling Sukma.


“Bagaimanapun, dia adalah orang yang lebih dulu mencintai dan dicintai oleh Kakang Prabu dibandingkan kita. Tidak ada alasan pula untuk membunuhnya selain memberinya pelajaran atas keangkuhannya,” kata Nara.


“Terima kasih, Permaisuri Mata Hijau!” ucap Kusuma Dewi. “Dengan begitu Tembangi Mendayu tidak akan penasaran lagi ingin membunuhi istri-istri Kakang Prabu.”


“Kau harus bertanggung jawab dengan melapor kepada Kakang Prabu yang sedang sakit!” perintah Nara.


“Baik, Permaisuri Nara,” ucap Kusuma Dewi patuh seraya menghormat dan tersenyum.

__ADS_1


“Siapa wanita tadi, Ratu Getara?” tanya Ratu Lembayung Mekar kepada Ratu Getara Cinta. Ia didampingi oleh Mahapati Tarik Sewu dan Senopati Langgapati.


“Namanya Tembangi Mendayu. Dia kekasih masa lalu Kakang Prabu yang ingin menuntut perhitungan kepada Kakang Prabu. Jika dia tidak bersikap angkuh dan lancang, kami akan menerimanya dengan lapang dada, tetapi ia begitu merasa sakti sehingga tidak menghormati tata krama di Istana. Aku rasa pelajaran dari Permaisuri Mata Hijau cukup untuk membuatnya berpikir,” jelas Ratu Getara Cinta.


“Kenapa Prabu Dira tidak menemuinya? Bukankah Prabu baik-baik saja?” tanya Lembayung Mekar.


“Waktu menikah baik-baik saja, tetapi Kakang Prabu menikahi wanita yang kulitnya beracun. Butuh waktu tiga hari untuk pulih,” jawab Ratu Getara Cinta.


“Oh,” desah Ratu Lembayung Mekar yang merupakan calon istri Joko pula. Meski usianya sebanding dengan Ratu Getara Cinta, tetapi ia masih kalah level. Getara Cinta masih gadis ketika dinikahi oleh Joko Tenang dan tingkat kesaktiannya tinggi.


“Tentunya Ratu Lembayung tidak memiliki tubuh yang beracun?” tanya Ratu Getara Cinta berseloroh.


“Hihihi…!” tawa Ratu Lembayung agak panjang.


“Maafkan Kakang Prabu karena belum sempat meluangkan waktu untuk Ratu Lembayung,” ucap Ratu Getara Cinta.


“Aku harus bisa mengerti bahwa tentunya aku sulit untuk menjadi wanita utama bagi Prabu Dira. Aku tidak bisa bersaing dengan wanita seanggun Ratu dan semuda permaisuri lainnya,” kata Ratu Lembayung Mekar.


“Hihihi! Meski Kakang Prabu memiliki istri-istri yang luar biasa, tetapi dia sangat menghargai dan mencintai semua istri-istrinya. Ratu Lembayung tidak akan dikucilkan ketika menjadi istri Kakang Prabu,” kata Ratu Getara Cinta.


Sementara itu, Permaisuri Sri Rahayu menemui ibunya yang ingin kembali ke kamarnya.


“Ibunda Ratu, bagaimana kondisi Ibunda sekarang?” tanya Sri Rahayu.


“Sudah lebih baik. Tabib Raklitanjamu akan rutin mengontrol kondisi tulang Ibunda,” jawab Ratu Sri Mayang Sih.


“Bagaimana dengan Lima Pangeran?” tanya Sri Rahayu lagi.


“Mereka pun sudah diobati oleh Tabib Istana. Mereka sedang masa pemulihan, Gusti Permaisuri,” jawab Putri Pelangi.


“Izinkan aku menyapa, Ratu Sri Mayang Sih,” ucap Ratu Getara Cinta yang mendatangi ibu dan anak itu. Ratu Getara Cinta ditemani oleh Ratu Lembayung Mekar.


“Hormatku, Ratu Getara Cinta!” ucap Ratu Sri Mayang Sih menghormat kepada ratu tuan rumah.


Putri Embun dan Putri Pelangi juga menghormat lebih dalam kepada Ratu Getara Cinta.


“Perkenalkan, ini Ratu Lembayung Mekar, penguasa Kerajaan Balilitan!” Ratu Getara Cinta memperkenalkan Ratu Lembayung Mekar.


“Senang bisa bertemu dengan Ratu Sri Mayang Sih,” ucap Ratu Lembayung Mekar seraya tersenyum ramah.


Maka terjadilah perbincangan ramah tamah di antara ketiga ratu. (RH)

__ADS_1


__ADS_2