
*Bibir Merah Pendekar (BMP)*
Pagi itu, Joko Tenang dibawa ke sebuah lorong, seperti ketika ia dibawa ke lorong sebelum bertarung melawan Raksasa Biru dan Tiga Siluman Bayangan. Lorong itu rutenya menurun.
Sementara itu di sebelah atas, Tirana bersama Putri Sri Rahayu. Meski sang putri menyatakan hubungannya dengan Joko Tenang “end”, tetapi ia tetap menghormati Tirana sebagai sahabat dan tamunya.
Putri Sri Rahayu membawa Tirana ke sebuah jendela batu besar setinggi perut mereka. Di jendela yang lain, tampak Prabu Raga Sata dan Panglima Pengawal Prabu, yaitu Siluman Pedang. Ratu Sri Mayang Sih tidak terlihat di sisi suaminya.
Dari jendela batu itu mereka melihat ke bawah. Jauh di bawah sana ada sebuah lahan tanah yang ditumbuhi pohon-pohon tapi miskin dedaunan. Banyak dedaunan kering yang berserakan di tanahnya yang keras. Lahan itu dikelilingi oleh lingkaran tembok batu yang tinggi. Penglihatan dari atas membuat gerakan seekor tikus pun bisa terlihat.
Di sisi atas, tidak hanya dua jendela, tetapi ada banyak jendela batu yang posisinya memutari atas ladang kering tersebut. Namun, kali ini yang diberi akses untuk menonton pertunjukan Ladang Anjing adalah para pejabat dan punggawa prajurit.
Guk guk guk…!
Ketika Joko Tenang mulai mendekati ujung lorong, ia mulai mendengar ada ramai suara gonggongan anjing. Ramai sekali, sepertinya bukan hanya sepuluh dua puluh ekor anjing, tetapi mungkin lebih seratus anjing, atau dua ratus ekor.
“Banyak sekali,” ucap Tirana kepada Putri Sri Rahayu.
“Ada tiga ratus ekor anjing lapar,” kata sang putri yang membuat Tirana mendelik. “Aku yakin Kakang Joko bisa melewatinya.”
“Apakah kau masih mencintai Kakang Prabu, Putri?” tanya Tirana lembut.
“Masih, tetapi tidak semua impian seorang manusia harus terwujud, terkadang harus ada satu yang dikorbankan,” kata Putri Sri Rahayu.
Sementara itu di balik pintu teralis, Joko Tenang sudah berdiri dengan tenang menunggu, meski suara gongongan anjing-anjing di luar sana begitu ramai dan benar-benar tidak nyaman di pendengaran.
Troet troet troeeet!
Tiba-tiba terdengar suara terompet ditiup, sama seperti ketika di pertarungan pertama dan kedua kemarin sore.
“Silakan, Gusti Prabu!” kata prajurit yang membukakan pintu teralis bagi Joko Tenang.
Ketika Joko melangkah melewatinya, prajurit itu kembali menutup pintu dan mengungcinya. Joko Tenang berjalan menuju ujung lorong yang terang.
Ketika mulai memasuki ladang, Joko Tenang melihat ke sekelilingnya, termasuk melihat ke atas. Ia bisa melihat Prabu Raga Sata mengeluarkan kepalanya di jendela dan melambai kepadanya seraya tersenyum.
__ADS_1
Joko pun melihat keberadaan wajah Putri Sri Rahayu yang tidak menjumpainya lagi sejak memutuskan hubungan tadi malam. Ia bersama Tirana menatap ke bawah.
Troet troet troeeet!
Jregg! Jregg! Jregg!
Entah bagaimana caranya, pintu-pintu teralis yang ada di lorong-lorong lain di bawah dinding batu terbuka dengan sendirinya, dengan cara bergerak naik ke atas.
Guk guk guk…!
Setelah itu, ratusan anjing yang sejak tadi berebut ingin keluar, berlarian ramai ke luar. Jika dilihat dari atas, ratusan anjing berlarian kencang dari bawah-bawah tembok batu masuk ke dalam ladang, begitu ramai dan membuat merinding. Mereka tampak begitu lapar dan seolah berebut untuk mencari mangsa. Penciuman mereka langsung bisa menangkap bau manusia di ladang itu.
Sebentar saja, ladang kering itu telah menjadi lautan anjing dan bergerak serentak menuju ke satu titik.
Tidak seperti waktu pertarungan sebelumnya, suasana penonton di sini terlihat lebih hening dan tegang. Mereka semua ingin tahu, bagaima cara Prabu Dira mengatasi ratusan anjing lapar yang beberapa hari tidak diberi makan. Sebagian besar anjing-anjing itu bertubuh kurus, tetapi memiliki kebuasan yang liar.
Di atas sana, Tirana dan Putri Sri Rahayu memendam kekhawatiran juga.
Sementara Joko Tenang agak berdebar juga ketika menyaksikan begitu banyak anjing berlari kencang ke arahnya, melewati batang-batang pohon yang tumbuh kering.
“Tidak mungkin menggunakan ilmu Lima Jerat Terakhir atau Tinju Dewa Hijau,” pikir Joko Tenang sambil berlari maju menyambut kedatangan para anjing.
Sebelum ada seekor anjing yang melompat menerkam Joko, dari dalam cincin di jari tangan kanan keluar Macan Penakluk yang langsung menerkam dan menangkap seekor anjing. Pada saat yang sama, tinju hijau Joko menghantam leher seekor anjing yang juga menyerangnya.
Anjing yang terkena tinju langsung mental jauh seperti tidak ketulungan, dalam kondisi badan yang sudah hancur menjadi anjing bonyok mentah.
Sementara Macan Penakluk tidak bisa diandalkan dalam kondisi seperti itu. Ketika ia medapat serangan dari anjing lain, tubuhnya langsung buyar menjadi serbuk sinar merah dan tersedot lagi ke dalam mata cincin.
Menghindari terkaman anjing ketiga, Joko Tenang cepat melompat naik ke atas dahan pohon yang tidak terlalu tinggi.
Anjing-anjing yang berdesakan berlompatan bergantian untuk menjangkau kaki Joko yang berpijak pada dahan. Kaki Joko masih lebih tinggi dari daya jangkau para anjing.
Namun, ada saja satu dua anjing yang menggunakan punggung teman-temannya sebagai pijakan untuk melompat lebih tinggi. Joko Tenang harus berkelebat ke pohon yang lain untuk menyelamatkan kakinya dari jangkauan cakar anjing.
Joko Tenang benar-benar terkurung oleh lautan anjing yang terus menyalak tanpa henti, menjadi musik horor.
__ADS_1
Di saat posisinya masih aman di atas pohon yang lebih tinggi dari sebelumnya, Joko Tenang lalu mengangkat lurus tangan kanannya dengan menyalurkan tenaga dalam. Selanjutnya, tiba-tiba di tangan kanan Joko tergenggam sebilah pedang buntung berwarna putih. Pedang itu bergagang kepala singa botak tanpa surai yang sedang membuka lebar mulutnya. Joko Tenang mengeluarkan Pedang Singa Suci.
“Waktunya bertarung mati-matian!” teriak Joko Tenang lalu berkelebat jauh dan mendarat di tanah kosong di tengah-tengah lautan anjing.
Joko Tenang sudah siap bertarung layaknya seorang prajurit viking dengan pedangnya. Ia siap berpedang maut dan berdarah-darah.
Guk guk guk…!
Namun, semua penonton harus terheran. Lautan anjing yang mengurung posisi Joko Tenang hanya bisa menyalak di tempatnya dalam desak-desakannya. Tidak ada satu pun anjing yang berlari atau melompat menyerang Joko, padahal mereka sudah puasa Senin Kamis demi hari itu.
Joko Tenang yang sudah siap berpedang mati-matian membunuhi anjing yang melompat kepadanya, juga merasa heran. Baginya, ada sesuatu yang aneh. Tidak ada anjing yang berani melompat menerkamnya, padahal mereka sedang menyalakinya beramai-ramai.
“Apa yang terjadi?” tanya Prabu Raga Sata heran kepada Panglima Siluman Pedang.
“Hamba juga tidak memahami, Gusti Prabu!” kata Panglima Siluman Pedang.
“Pasti karena pedang buntung itu,” terka Prabu Raga Sata.
Sementara itu di bawah sana, Joko Tenang tetap bersiaga tinggi dan tegang, jika-jika ada anjing yang melompat menerkam dari belakang tanpa permisi lebih dulu.
Secara perlahan, Joko Tenang melangkah maju, mendekati salah satu sisi pengepungan itu. Lebih mengejutkan, ternyata anjing-anjing yang didekati bergerak mundur seperti sedang ketakutan, mereka seperti sedang melihat wujud yang menakutkan.
Hampir semua penonton terkejut melihat kejadian di bawah sana. Ratusan anjing yang tadi menunjukkan keliarannya karena kelaparan, tiba-tiba berubah karakter menjadi anjing sayur.
Joko Tenang akhirnya terus berjalan. Kerumunan anjing yang hendak dilaluinya dengan sendirinya mundur atau bergeser mejauh, meski gonggongan mereka terus menyalak.
Melihat keanehan itu, Joko Tenang akhirnya tersenyum. Ketegangannya berubah menjadi ketenangan.
“Sial! Sial! Sial!” maki Prabu Raga Sata gusar melihat keanehan yang terjadi di Ladang Anjing. Ia kesal sendiri. “Bisa-bisanya anjing-anjing itu dibuat tidak berdaya!”
Panglima Siluman Pedang tidak berani berkomentar. Ia hanya membiarkan junjungannya tetap dalam kegeramannya.
“Tidak habis-habisnya Kakang Prabu membuat kejutan,” ucap Tirana di sisi lain.
Hingga akhirnya, pertunjukan di Ladang Anjing pun selesai. Apa yang diperkirakan akan terjadi, ternyata berubah total. Bahkan pertunjukan yang tergelar tidak terlihat seru, kecuali menyisakan pertanyaan yang Joko pun tidak bisa menjawabnya.
__ADS_1
Akhirnya Joko Tenang bisa tiba di pintu lorong seberang Ladang Anjing. Seorang prajurit yang berjaga di sana segera membuka teralis bagi Joko Tenang. Setelah Joko Tenang masuk, pintu segera ditutup kembali. Maka resmilah Joko Tenang berhasil menaklukkan Ladang Anjing, yang artinya ia berhasil memenuhi syarat keempat dari Prabu Raga Sata.
Hal yang sebenarnya terjadi pada ratusan anjing-anjing itu adalah mereka takut, sebab mereka melihat keberadaan singa-singa perempuan tanpa surai berdiri di sekeliling Joko Tenang. Namun, keberadaan singa yang banyak itu tidak diketahui oleh Joko Tenang selaku pemilik Pedang Singa Suci. (RH)