
*Bibir Merah Pendekar (BMP)*
Ningsih Dirama terkejut. Seketika ia bangun duduk dari rebahannya di ranjang.
“Ada yang masuk!” ucap Ningsih lirih tapi tegang.
Ningsih Dirama cepat mengambil pisau tajam yang ia simpan di bawah tilam. Itu adalah pisau yang selalu ia siapkan setelah kasus pemerkosaan dilakukan oleh Prabu Raga Sata. Dengan cara mengancam dirinya, Prabu Raga Sata sudah tidak pernah menyentuhnya lagi, selain datang menemuinya hanya untuk melihat.
Tuk tuk!
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar, tanpa didahului dengan suara langkah kaki. Ketukan itu semakin membuat Ningsih Dirama tegang. Ia menduga itu adalah Prabu Raga yang ingin mencuri kesempatan di saat waktunya tidur.
“Ibu!” panggil satu suara perempuan dengan lembut.
“Tirana?” sebut Ningsih berubah lega, tetapi belum maju ke pintu kamar.
“Iya, Ibu,” jawab suara di balik pintu.
Ningsih Dirama langsung membuang pisaunya ke atas kasur. Dengan senyum yang mengembang, Ningsih Dirama bergegas ke pintu dan membuka palang penguncinya. Ketika pintu dibuka, terkejutlah Ningsih Dirama dengan bibir merah yang sedikit terbuka.
Bukan sosok Tirana yang berdiri di depan pintu, tetapi sosok seorang pria tampan berbibir merah. Keremangan cahaya dian dari dalam kamar tidak menggelapkan wajah Joko Tenang di hadapan ibunya.
Joko Tenang tersenyum lembut kepada Ningsih Dirama. Senyum lembut yang dibarengi dengan tatapan mata yang berkaca-kaca. Hati pendekarnya bergetar luluh menatap wajah cantik yang selama ini ia tidak bisa gambarkan dalam lamunan dan mimpinya. Air mata pendekar itu akhirnya terjun bebas segaris sebagai awal pembuka dari pertemuan yang begitu mengharukan.
Ningsih Dirama tidak pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya, sehingga ia pun tidak tahu siapa namanya dan siapa dia. Namun, bibir merah alami yang dimiliki oleh pemuda cantik itu membuat Ningsih sangat yakin, pemuda itu adalah Joko Tenang, nama dan orang yang sebelumnya di hari itu disebut-sebut oleh Gurudi dan Tirana.
Terayun-ayun perasaannya saat itu merasakan kebahagiaan yang begitu hebat. Rasa kerinduannya kepada Joko Tenang bayi seketika meroket tinggi. Ingin rasanya Ningsih menyentuh wajah Joko saat itu juga. Perasaan bahagia yang memendam kerinduan akut menghasilkan racikan air mata penuh haru dan syukur.
“Jojo… Joko? Joko anakku?” ucap Ningsih lirih dan agak tergagap, bukan karena tertular penyakit bawaan Gurudi, tetapi karena merasa tidak percaya dengan apa yang ditatapnya saat itu.
Dan ketika air mata kedua Joko mengalir membentuk garis kebahagiaan di wajahnya, Joko Tenang jatuh ke depan memeluk kedua kaki ibunya.
__ADS_1
“Ibuuu….!” ucap Joko Tenang seraya menangis, ia memeluk kuat kedua kaki ibunya, tapi tidak menyulitkan ibunya berdiri. “Maafkan aku, Ibu. Aku baru menemukan Ibu sekarang!”
“Jokooo, Anakkuuu…! Huuu huuu huuu…!” jerit Ningsih Dirama kencang. Tangisnya pecah seperti seorang ibu yang yang ditinggal mati anaknya.
Ningsih Dirama juga menurunkan tubuhnya dan memeluk anaknya dengan kuat.
Tangis ibu dan anak itu berlanjut agak panjang, tapi tidak selama durasi satu lagu. Tirana yang berdiri agak jauh di belakang, turut terbawa dalam tangis haru.
Dilihatnya Ningsih Dirama menciumi wajah putranya seperti orang kesetanan karena terlalu bahagianya. Jari Ningsih bahkan menyentuh bibir Joko Tenang, bukan sentuhan syahwat, tetapi sentuhan kasih sayang, karena bibir Joko mewarisi bibirnya.
“Merah bibirmu benar-benar alami, Joko. Hihihi!” ucap Ningsih lalu tertawa dalam tangisnya.
“Ibu pasti hidup menderita di penjara ini,” ucap Joko Tenang sambil mengusap air mata ibunya dengan jari-jari kasarnya. “Ibu harus ikut aku, tinggal di Istana Sanggana Kecil. Aku punya kerajaan, Ibu. Di sana Ibu akan bebas dan tidak terpenjara lagi.”
“Iya, kau harus bawa Ibu pergi, Joko. Ibu tidak mau bertemu dengan orang jahat itu lagi!” kata Ningsih.
Joko Tenang kembali memeluk tubuh ibunya.
“Aku pasti akan membawa Ibu keluar,” kata Joko Tenang lembut di belakang kepala ibunya. “Tapi Ibu tolong bersabar dulu. Aku harus menyelesaikan urusanku dengan Prabu Raga Sata. Setelah itu, aku akan menyelesaikan urusan Ibu dengan Prabu Raga Sata. Jika memang Ibu menginginkan, aku akan membunuhnya untuk membayar kejahatannya selama ini kepada keluarga kita.”
Ningsih lalu melepas pelukannya pada tubuh anaknya. Ia lalu menarik tangan kanan Joko agar masuk ke dalam kamar.
“Masuklah, agar Ibu bisa lebih jelas memandangmu,” kata Ningsih Dirama.
“Ibu ternyata tidak mengecewakanku,” ujar Joko yang sudah mulai normal kondisi batinnya. Ia pun sudah menyeka air matanya dengan lengan bajunya.
“Untuk hal apa, Joko?” tanya Ningsih Dirama.
“Karena ibuku memang sangat cantik,” jawab Joko.
“Hihihi…!” Mendengar hal itu, Ningsih Dirama jadi tertawa panjang setelah menangis bahagia. Lalu katanya, “Pantas saja kau memiliki banyak istri, ternyata kau pandai memuji.”
“Hahaha!” tawa Joko Tenang lebih santai.
__ADS_1
“Tirana, ke mari, Nak!” panggil Ningsih Dirama saat melihat Tirana hanya berdiri di ambang pintu.
Tirana tersenyum, tapi tidak beranjak dari tempatnya.
“Biarkan aku di sini berjaga, Bu. Waktu kami tidak lama,” kata Tirana.
Ningsih Dirama akhirnya hanya tersenyum kepada menantunya.
“Apakah kau pernah bertemu dengan ayahmu, Joko?” tanya Ningsih Dirama lembut.
“Tidak pernah. Justru aku akan menghajar ayahku jika bertemu karena membiarkan Ibu menderita seperti ini, karena membiarkanku menjadi orang yang tidak tahu siapa ayah dan ibunya!” desis Joko Tenang, seolah menaruh dendam kepada ayahnya.
“Jangan, Joko!” kata Ningsih Dirama cepat. “Ayahmu sudah beberapa kali menemui Ibu di sini, hanya saja ayahmu belum bisa membawa Ibu pergi. Ibu akan sangat bersedih jika kau sampai bertarung melawan ayahmu, Joko.”
“Baik, aku tidak akan membuat Ibu bersedih,” kata Joko Tenang lembut. Ia lalu kembali memeluk ibunya.
Pelukan itu seakan menjadi sumber energi kebahagiaan Ningsih Dirama. Ia terdiam dan tersenyum, seolah menikmati pelepasan rasa rindu kepada anaknya yang selama puluhan tahun ia selalu pikirkan dan hayalkan. Selama puluhan tahun itu, bayangan yang selalu tergambar adalah wujud Joko Tenang yang masih bayi dan menangis kencang. Yang paling menyiksa batinnya adalah ketika mengingat saat Joko Tenang dilempar begitu saja ke lantai rumah di dalam hutan.
Namun, dengan keberadaan Joko Tenang sekarang, yang ada di dalam pelukannya, kenangan menyakitkan itu seolah sudah sirna. Mengingatnya pun sudah tidak memberikan efek sakit. Kini Ningsih bisa melihat Joko yang dulu bayi telah menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan, bahkan menjadi idol para wanita muda hingga nenek-nenek.
“Ada yang datang!” kata Tirana tiba-tiba, membuat Ningsih menjadi tegang mendadak.
“Ningsih Ningsih Ningsih! Hihihik!”
Teriakan panggilan yang khas itu membuat mereka merasa lega, karena yang datang adalah Gurudi, intelijen elit yang dimiliki oleh Raja Anjas.
“Eh, Tititi… Tirana ada di sini? Hihihi…!” ucap Gurudi terkejut saat melihat keberadaan Tirana di ambang pintu kamar. Ia tertawa senang, lalu tambah tertawa saat melihat keberadaan Joko Tenang bersama Ningsih.
Sebagai orang yang pernah menggendong Joko Tenang bayi, tentunya Gurudi sangat bahagia ketika melihat Joko Tenang telah bertemu dengan ibunya.
“Ningsih Ningsih Ningsih! Ada pesan dari Anjas!” kata Gurudi sambil berlari senang ke dalam kamar.
“Apa katanya?” tanya Ningsih cepat. Ia tampak begitu senang.
__ADS_1
Joko Tenang hanya memperhatikan ekspresi ibunya saat mendengar perkataan Gurudi.
“Bibibi... biarkan Joko menyelesaikan urusannya dedede... dengan Rarara... Raga Sata. Pepepe... perintahkan Tititi... Tirana untuk membebaskan Ningsih saat aku dadada... datang. Tututu... tunggu aku di pintu rarara... rahasia sebelum matahari tetete... terbit!” ucap Gurudi mengulang pesan yang ia terima dari Raja Anjas melalui ilmu Pesan Peri, tapi pakai gaya gagap. (RH)