8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
De Bude 17: Mandi Malam Bertunas Cinta


__ADS_3

*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*


Mau tidak mau, Joko Tenang dan rombongan harus bermalam di pinggiran sebuah sungai, yang tidak jauh dari rute menuju Jurang Lolongan. Joko Tenang dan para permaisuri juga harus beristirahat tanpa tenda, kecuali satu, yaitu untuk Dewi Geger Jagad dan bayinya. Tidak adanya lagi perbekalan tenda membuat mereka membuat tenda rakitan.


Kuda-kuda yang mereka sembunyikan di suatu tempat sebelumnya, ternyata tidak hilang.


Laporan bahwa para permaisuri dan pasukan belum makan seharian, membuat Joko Tenang memerintahkan menyembelih sejumlah kuda untuk santap malam. Jikapun memaksa untuk berburu, hasilnya belum tentu akan mencukupi.


Di saat Joko Tenang sedang berkumpul bersama para permaisurinya dan Dewi Geger Jagad, Senopati Batik Mida pergi turun ke sungai. Ia ingin membersihkan diri. Namun, ketika lelaki tinggi besar itu masuk ke dalam air di bawah cahaya purnama, ada orang yang terkejut.


“Siapa itu?!” tanya berteriak satu suara wanita, seiring ada suara pergerakan air.


Pertanyaan itu mengejutkan Senopati Batik Mida. Dari suara wanita tersebut dan suara air, Panglima Dada Perkasa tahu di mana posisi si wanita, yaitu sekitar lima tombak dari posisinya. Namun, gelap yang temaram membuat Batik Mida hanya melihat keberadaan bayangan kepala hingga dada atas di permukaan air.


“Aku, Senopati Batik Mida!” sahut Batik Mida cepat. “Maafkan aku! Aku kira tidak ada orang yang mandi. Aku akan segera pergi!”


“Jika kau tidak berniat berbuat macam-macam, mandilah di sana, jangan bergerak ke sini, atau nyawamu melayang. Aku tidak peduli meskipun kau prajurit kesayangan Gusti Prabu!” kata wanita itu.


“Maafkan aku, bukannya bermaksud lancang. Siapakah kau? Aku khawatir jika orang yang berbicara ini adalah Gusti Permaisuri,” kata Senopati Batik Mida santun.


“Aku bukan permaisurimu, tapi aku Dewi Bayang Kematian!” jawab wanita itu.


“Oh, sekali lagi maafkan aku, Pendekar!” ucap Batik Mida.


“Tidak mengapa. Tidak usah terlalu santun seperti itu, aku bukan junjunganmu. Sebut saja namaku Dewi, Senopati,” kata Dewi Bayang Kematian berubah ke nada normal.


“Baik, baik, Dewi. Hahaha!” ucap Senopati lalu tertawa pelan bernada malu-malu.


Batik Mida dan Dewi Bayang Kematian kemudian terdengar saling memainkan air sungai. Tidak lama kemudian, Dewi Bayang Kematian memanggilnya.


“Senopati!”


“Hamba… eh, aku, Dewi!” sahut Senopati kikuk dan jadi salah tingkah di dalam kegelapan.


“Hihihi!” tawa Dewi Bayang Kematian, membuat senopati itu jadi malu sendiri. “Sudah berapa lama kau mengabdi kepada Prabu Dira?”


“Kerajaan Sanggana Kecil baru berdiri selama dua purnama, Dewi,” jawab Batik Mida.


“Baru dua purnama, tetapi sudah sehebat ini?” kejut Dewi Bayang Kematian.

__ADS_1


“Itu karena kepemimpinan Gusti Prabu dan para permaisurinya,” kata Batik Mida.


“Bagaimana kau bisa bertemu dengan Prabu Dira?”


“Hamba, eh, aku adalah prajurit pendekar di Kerajaan Sanggana, kerajaan yang diperintah oleh ayahnya Gusti Prabu,” kata Batik Mida yang memancing tawa kecil wanita cantik itu.


“Kau sendiri, apakah sudah memiliki anak?” tanya Dewi Bayang Kematian, pertanyaannya sudah mulai masuk ke ranah personal.


“Hahaha! Jangankan anak, istri saja belum punya,” jawab Batik Mida seraya tertawa malu.


“Ah, aku hampir tidak percaya jika lelaki segagah Senopati belum beristri. Namun aku yakin, Senopati pasti sudah memiliki kekasih tambatan hati,” kata Dewi Bayang Kematian.


“Hahaha!” tawa Batik Mida lagi, entah apa arti dari tawanya itu. “Aku tidak memiliki kekasih. Memikirkannya saja hampir tidak pernah. Aku tidak seberuntung kau, Dewi.”


“Hihihi!” Kini giliran Dewi Bayang Kematian yang tertawa. “Aku selalu disakiti oleh lelaki. Meski aku cantik, tetapi kekasihku selalu menyakitiku. Mereka selalu menduakan aku. Semua lelaki sama, suka mendua.”


“Tidak semua lelaki, Dewi. Buktinya aku. Aku tidak pernah menduakan wanita, karena aku memang tidak punya kekasih, jadi tidak ada yang bisa aku duakan. Hahaha!” kata Batik Mida bermaksud berseloroh.


“Hihihi!” Dewi Bayang Kematian jadi tertawa agak panjang mendengar selorohan sang senopati. “Apakah kau tidak ingin mencoba kesetiaanmu?”


“Maksudmu, Dewi?” tanya Senopati tidak mengerti.


“Mencoba kesetiaanmu dengan cara memiliki kekasih. Nanti kau akan tahu, apakah benar kau adalah lelaki setia atau lelaki pendua hati. Selama kau tidak memiliki kekasih, kau tidak akan pernah tahu, meski kau mengaku sebagai lelaki setia.”


“Apa? Kenapa?” tanya Dewi Bayang Kematian terkejut.


“Ibuku sangat menginginkan aku menjadi orang yang bermartabat dan setia dalam tugas dan pekerjaan. Sebagai seorang prajurit, ibuku sangat menginginkan aku menjadi seorang prajurit yang bisa diandalkan dan dipercaya. Ibu melarangku jatuh cinta kepada seorang wanita karena wanita adalah godaan yang hebat, godaan yang bisa merusak segala sesuatu yang benar,” tutur Batik Mida.


“Hah! Tapi manusia butuh cinta dan kasih, memimpikan memiliki keturunan penerus!” kata Dewi Bayang Kematian dengan nada agak keras.


“Ibuku hanya berpesan, jika aku memang akhirnya menyukai seorang wanita, maka langsung nikahi dia, ikat dengan perkawinan. Itu cara agar wanita itu tidak menjadi sekedar makhluk penggoda,” kata Batik Mida lagi.


“Oh, seperti itu ya,” ucap Dewi Bayang Kematian seraya tersenyum malu sendiri di dalam kegelapan. Lalu katanya lagi, “Aku sudah selesai, aku naik lebih dulu, Senopati!”


“Silakan, Dewi!” ucap Batik Mida.


Dewi Bayang Kematian lalu bergerak ke tepi dan naik keluar dari air.


Mendelik terkejut Batik Mida saat lirikannya tanpa sengaja menangkap bayangan tubuh Dewi Bayang Kematian dari sisi samping, tanpa busana. Meski hanya warna hitam yang terlihat, tetapi itu sangat mengejutkan. Buru-buru dia meluruskan pandangannya ke seberang sungai yang gelap. Ia bukan lelaki yang kurang ajar atau suka mencuri kesempatan.

__ADS_1


Setelah mengenakan pakaiannya dengan lengkap, Dewi Bayang Kematian melangkah pergi dengan langkah yang santai. Sementara Batik Mida melanjutkan mandinya.


Tidak berselang lama, Batik Mida pun memutuskan selesai. Ia juga naik dari air dalam kondisi bugil, karena semua celananya ia letakkan di atas rumput.


“Kau sudah selesai, Senopati?” tanya seorang wanita tiba-tiba kepada sang senopati yang sedang bergerak naik.


“Hah!” pekik Batik Mida sangat terkejut dan spontan melempar tubuhnya ke belakang.


Jbur!


Wanita beraroma wangi itu tahu-tahu berdiri di bibir tanah, tepat di atas Senopati yang naik tanpa pakaian.


Sang senopati pun kembali masuk ke dalam air sungai.


“Hihihi…!” tawa wanita yang tidak lain adalah Dewi Bayang Kematian. Ia tertawa begitu kencang, menertawakan Batik Mida.


Lelaki berkumis tebal itu kembali muncul ke permukaan, tapi hanya sebatas dada.


“Apa yang kau lakukan, Dewi?” tanya Batik Mida tanpa bernada marah.


“Maafkan aku, Senopati. Aku hanya berniat menjahilimu! Hihihi…!” kata Dewi Bayang Kematian. Sambil tertawa terus, ia berbalik dan melangkah pergi.


“Ada-ada saja,” keluh Batik Mida.


Setelah kejadian itu, Batik Mida harus memastikan dulu bahwa tidak ada orang lagi yang berada di atas. Setelah yakin, Batik Mida akhirnya naik dan mengenakan celananya. Ia adalah senopati yang tidak pernah memakai baju, tapi pakai celana.


Batik Mida lalu kembali ke tempat mereka bermalam.


Saat tiba di area peristirahatan, Batik Mida melihat Dewi Bayang Kematian sedang duduk berkumpul bersama para permaisuri. Di sana tidak ada Joko, karena Joko memilih pergi dengan alasan yang halus, ketika Dewi Bayang Kematian minta bergabung. Para permaisuri yang tahu cerita berjudul “Joko dan Dewi Bayang Kematian” hanya tertawa rendah.


Saat melihat Batik Mida melintas agak jauh dari posisi kumpul, Dewi Bayang Kematian melambai kepada prajurit itu.


Mendapat lambaian dan senyuman dari Dewi Bayang Kematian, Batik Mida hanya tersenyum sambil mengangguk wajah sebagai respon.


Semua permaisuri dan Murai Manikam jadi menengok dan melemparkan pandangan kepada Batik Mida, yang berwarna gelap karena kurangnya cahaya. Terkejut Batik Mida ketika melihat semua junjungannya memandang kepadanya. Ia jadi malu, lalu terpaksa berhenti dan menghormat kepada para permaisuri dari jarak jauh. Setelah itu dia segera pergi ke basis pasukannya.


“Kenapa kau melambai kepada Senopati, Dewi?” tanya Kerling Sukma.


“Aku baru saja mandi bersama dengannya,” jawab Dewi Bayang Kematian sambil tersenyum.

__ADS_1


“Hah!” desah terkejut para permaisuri.


“Hihihi! Mandi satu sungai, tapi tidak satu tempat,” tandas Dewi Bayang Kematian yang membuat para permaisuri lega. “Tapi aku jatuh cinta kepada Senopati. Aku mau menumpang kawin dengannya di istana kalian.” (RH)


__ADS_2