8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mata Batu 19: Kecurigaan Penasihat


__ADS_3

*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*


Penasihat Angger Buda berjalan menelusuri koridor Istana. ia sengaja berkeliling karena ada kondisi yang agak aneh.


Awalnya ia bertujuan menemui Prabu Menak Ujung. Seharusnya ia hanya akan melewati dua koridor. Namun, ketika ia melihat ada yang berbeda pada sebagian prajurit yang berjaga, ia memutuskan untuk berkeliling. Di senjata milik sebagian besar prajurit dalam Istana ada pita biru, meski tidak semua.


“Prajurit!” sebut Angger Buda ketika ia memutuskan berhenti di depan seorang prajurit jaga yang senjatanya diikat dengan pita biru.


“Hamba, Gusti!” sahut prajurit itu seraya menghormat.


“Kenapa senjata kalian diikat dengan pita biru?” tanya Angger Buda dingin.


“Ini perintah, Gusti,” jawab prajurit itu.


“Siapa yang memerintahkan?” tanya Angger Buda mengejar.


“Gusti Senopati, Gusti,” jawab prajurit itu enteng.


Angger Buda lalu pergi begitu saja. Di tempat yang lain, ia menanyakan hal yang sama pada seorang prajurit yang tidak menggunakan pita biru.


“Kenapa kau tidak memakaikan pita biru di senjatamu seperti yang lain?” tanya Angger Buda.


“Hamba tidak mengerti tentang itu, Gusti,” jawab prajurit itu.


“Kenapa kau tidak pakai sedangkan teman-temanmu yang lain memakainya?!” tanya Angger Buda lagi, kali ini nadanya keras menunjukkan bahwa ia marah.


“Hamba benar-benar tidak tahu, Gusti!” jawab prajurit itu sambil turun berlutut, takut mendapat hukuman dari Penasihat. “Hamba tidak tahu kenapa mereka memakai pita biru!”


“Huh!” dengus Angger Buda kesal, lalu melangkah pergi.


Kali ini lelaki tua itu langsung menuju ke taman belakang karena Prabu Menak Ujung sedang pergi memantau anjing-anjing piaraannya.


Di belakang Istana ada sebuah taman yang luas. Pada satu sisi bagiannya ada penangkaran anjing yang jumlahnya tidak tanggung-tanggung, seratus lebih.


Guk guk guk…!


Ketika memasuki taman, Angger Buda bisa mendengar ramainya suara gonggongan. Semakin dekat ke penangkaran, maka semakin riuhlah suasananya.


Tampak di luar kandang penangkaran, Prabu Menak Ujung sedang bermain bersama seekor anjing sebesar kuda berbulu putih bersih. Anjing itu jenis Kintamani asal pulau Walidwipa (Bali). Biasanya tingginya hanya kisaran setengah meter, tetapi yang ini justru dua kali lipat.


Bersama Prabu Menak Ujung ada Salik Jejaka sebagai bodyguard sang prabu. Agak jauh dari sang raja ada enam prajurit jaga, tiga di antaranya menggunakan pita biru pada senjatanya.


Ketika Angger Buda datang, ia memandangi ketiga prajurit itu untuk beberapa saat.


“Hormat sembah hamba, Gusti Prabu!” ucap Angger Buda seraya turun berlutut dengan kedua telapak tangan menempel di depan dahi.


“Bangunlah, Penasihat!” perintah Prabu Menak Ujung sambil melempar sebuah bola kayu cukup jauh ke tengah taman.

__ADS_1


Guk guk guk!


Anjing Kintamani besar itu cepat berlari mengejar arah jatuh bola.


“Ada hal penting apa sehingga kau mendatangiku di sini?” tanya Menak Ujung.


“Maafkan hamba, Gusti. Apakah Gusti Prabu tidak melihat keanehan di Istana hari ini?” tanya Penasihat Angger.


“Apa yang aneh?” tanya Menak Ujung kerutkan kening.


“Sebagian besar prajurit di Istana mengenakan pita biru pada senjatanya. Itu hal yang tidak pernah terjadi di istana ini. Seperti ketiga prajurit itu, Gusti!”


Angger Buda menunjuk halus kepada prajurit jaga. Hal itu membuat Salik Jejaka terkejut, tetapi hanya di dalam hati.


“Kurang ajar! Penasihat menaruh curiga!” maki Salik di dalam hati. Namun, ia berusaha bersikap tenang.


“Prajurit! Kau! Ke mari!” panggil Angger Buda dengan menunjuk jelas prajurit yang dimaksud.


Prajurit yang ditunjuk segera datang dan langsung berlutut menghormat. Pada gagang pedangnya ada sehelai pita biru terikat.


“Hamba, Gusti Prabu!” ucap prajurit itu.


“Jawab yang jujur! Siapa yang memerintahkan kalian untuk menggunakan pita biru pada senjata kalian dan apa maksudnya?!” tanya Angger Buda bernada marah.


“Ampuni hamba, Gusti Prabu!” ucap prajurit itu ketakutan sambil turun bersujud di tanah. “Kami hanya melaksanakan perintah Gusti Senopati, Gusti Prabu!”


“Apa maksudnya?!” tanya Angger Buda lagi, membentak.


Anjing besar telah kembali kepada Menak Ujung dengan mambawa bola kayu di mulutnya.


“Jurig! Bunuh!” perintah Menak Ujung kepada anjingnya setelah mengambil bola di tangannya.


Graugr!


“Aakk…! Ampun, Gusti Prabu! Ampuuun! Akk!” jerit prajurit itu ketika anjing yang bernama Jurig itu langsung menerkamnya.


Terkejut kelima prajurit jaga yang menyaksikan langsung hal itu. Salik Jejaka tetap berdiri tenang.


“Izinkan hamba bicara, Gusti!” ucap Salik Jejaka, tanpa ambil peduli dengan prajurit yang sedang diamuki oleh Jurig.


“Katakan!” perintah Menak Ujung.


“Jika Gusti Prabu mengizinkan, hamba bisa mencari tahu kepada para komandan prajurit,” kata Salik Jejaka. “Sebab tidak mungkin kita bertanya kepada Senopati Duri Manggala.”


“Lakukanlah!” perintah Menak Ujung.


“Hamba mohon undur diri, Gusti!” ucap Salik Jejaka lalu menghormat dan pergi.

__ADS_1


Angger Buda hanya memandangi kepergian Salik Jejaka dengan lirikan yang tidak bersahabat.


“Apakah kau juga mencurigai Salik Jejaka?” tanya Menak Ujung.


“Tadi malam dia bertemu seseorang di penginapan Ibu Kota. Bahkan membunuh seorang teliksandi kita, Gusti,” jawab Angger Buda.


“Jurig! Hentikan!” seru Menak Ujung kepada anjingnya, setelah melihat prajurit yang diserang sudah tidak bergerak alias sudah mati.


Jurig pun melepas tubuh prajurit yang sudah berlumur darah dari luka cakar dan gigitan yang parah.


“Menurutku Salik Jejaka adalah orang yang setia. Namun, jika sampai dia mau memberontak, aku ragu dia akan berhasil,” kata Menak Ujung.


“Teliksandi kita juga melihat keberadaan sejumlah orang berperawakan pendekar di kediaman Mahapati, Gusti. Namun, tidak bisa diketahui siapa mereka sebenarnya. Sangat aneh jika Mahapati pergi ke Repakulo, tetapi kediamannya justru ramai oleh orang asing,” kata Angger Buda.


“Kirim pasukan untuk menangkap orang-orang itu!” perintah Menak Ujung.


“Baik, Gusti Prabu!” ucap Angger Buda. “Jika demikian, hamba mohon diri, Gusti!”


Menak Ujung hanya mengangguk. Angger Buda menghormat lalu berjalan mundur dan berbalik pergi.


“Buang mayatnya ke dalam kandang!” perintah Menak Ujung kepada kelima prajurit yang berdiri.


“Baik, Gusti Prabu!” ucap mereka serentak.


Menak Ujung lalu melangkah pergi. Jurig segera mengikuti.


Beruntung bagi dua prajurit lain yang berpita biru. Mereka tidak ikut diinterogasi seperti rekan mereka yang harus mati diamuk anjing besar.


Pasukan Walang Kekek yang baru diaktifkan pada faktanya tidak tahu siapa komandan mereka. Mereka hanya mengikuti perintah melalui tanda pita. Namun, mereka telah dibekali jawaban yang seragam jika sampai ada yang bertanya tentang ketidakbiasaan itu.


Ada juga Pasukan Walang Kekek yang sudah lama aktif, tetapi keberadaan mereka berada di luar Istana. Seperti pasukan Walang Kekek yang dikomandani oleh Adimuka dan Tibamaling, dua orang anak buah Mahapati Abang Garang.


Dalam perjalanannya ke kaputren, Menak Ujung diam-diam memperhatikan prajurit-prajurit jaga yang dilaluinya. Memang benar, sebagian dari mereka mengenakan pita biru pada senjatanya.


“Kosongkan Kaputren dari pejagaan!” perintah Menak Ujung kepada para prajurit yang berjaga di kaputren.


Maka para prajurit yang berjaga, baik yang berpita biru maupun yang tidak, segera pergi meninggakan posnya masing-masing, sehingga kaputren benar-benar kosong dari prajurit.


“Ada apa, Kakang Prabu?” tanya Permaisuri Lulu Pemajang yang keluar karena mendengar teriakan suaminya.


“Mungkin akan ada upaya untuk menggulingkanku,” jawab Menak Ujung tetap tenang.


“Di mana Manik Sari?” tanya Menak Ujung.


“Entahlah, Kakang,” jawab Lulu Pemajang.


“Anak itu pasti ikut pasukan Mahapati ke Repakulo,” terka Menak Ujung setelah menghempaskan napas berat.

__ADS_1


Sess! Ctarr!


Tba-tiba Menak Ujung melesatkan sinar merah panjang ke arah langit. Sinar seperti komet itu kemudian meledak nyaring di atas ibu kota Jayamata. (RH)


__ADS_2