
*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*
Sess! Ctar!
Tiba-tiba warga ibu kota Jayamata dikejutkan oleh ledakan sinar merah di langit yang tinggi. Pada umumnya, warga Ibu Kota tidak mengerti sinar apakah itu, yang sepertinya berasal dari Istana. Namun, bagi sejumlah orang, ledakan sinar merah itu adalah panggilan bagi mereka.
Puluhan lelaki segera berlarian mendadak. Tidak lupa mereka mengambil rompi hijau yang mereka simpan di kediaman masing-masing dan mengenakannya. Mereka juga membawa sebuah pedang berwarangka hijau gelap.
Sebanyak tiga puluh lelaki dengan usia kisaran dua puluh lima hingga empat puluh tahun, berlari dan berkumpul berbaris di pusat Ibu Kota.
“Pasukan Tangkal Bencanaaa, berhitung! Satu!” teriak sang komandan yang adalah seorang lelaki gagah. Namanya Sang Kancil.
“Dua! Tiga! Empat…!” teriak satu demi satu orang yang berbaris, layaknya pasukan Praja Muda Karana (Pramuka) Regu Kancil.
“Tiga puluh!” teriak orang terakhir dengan begitu lantang dan meyakinkan.
“Pasukan Tangkal Bencanaaa, lari!” teriak Sang Kancil lalu lari lebih dulu.
Tiga puluh orang yang bernama Pasukan Tangkal Bencana segera berlari teratur dengan langkah kaki yang kompak. Mereka benar-benar seperti pasukan militer yang sudah lulus pelatihan baris-berbaris.
Pertunjukan itu jelas menarik perhatian warga Ibu Kota. Mereka terlihat tersenyum-senyum yang artinya mereka suka menonton pertunjukan yang jarang terjadi.
Plok plok plok…!
Bahkan ada masyarakat yang bertepuk tangan.
Pasukan Tangkal Bencana adalah pasukan khusus yang dipendam di Ibu Kota, fungsinya semata-mata untuk melindungi Prabu Menak Ujung dan menjamin keselamatannya. Pasukan ini ada sejak Menak Ujung menduduki tahta setelah membunuh Prabu Arta Pandewa.
Mereka terus berlari menuju gerbang Istana Baturaharja. Ketika mereka mendekati gerbang Istana, dari arah dalam berlari seekor kuda yang ditunggangi oleh Salik Jejaka.
“Sial! Pasukan Tangkal Bencana sudah dipanggil. Prabu Menak sudah siap menghadapi pemberontakan,” kata Salik Jejaka dalam hati. Ia lalu berteriak kepada prajurit penjaga gerbang, “Jangan biarkan pasukan penyusup masuk!”
Ketika berteriak seperti itu, Salik Jejaka dan kudanya melewati sisi Pasukan Tangkal Bencana lalu meninggalkannya.
“Pasukan pelindung Gusti Prabu tiba, buka pintu gerbang!” teriak Sang Kancil sambil berlari menunjukkan tanda perintahnya kepada prajurit penjaga gerbang yang berjumlah enam orang.
Melihat para prajurit itu justru menutup pintu gerbang dengan rapat, Sang Kancil cukup memberi isyarat tangan kepada pasukannya yang tidak mau berhenti berlari.
Maka empat prajurit Pasukan Tangkal Bencana cepat berkelebat di udara dan menyerang keenam prajurit tanpa ampun. Keenam prajurit itu tidak bisa berkutik saat dengan mudahnya mereka disembelih oleh para prajurit Pasukan Tangkal Bencana. Skill tarung mereka sangat berbeda.
Bak!
Dua orang berkelebat menerjang pintu gerbang hingga terbuka.
Ketiga puluh prajurit khusus itu terus berlari masuk ke dalam lingkungan Istana.
__ADS_1
Dari arah dalam muncul Angger Buda yang berkuda. Di belakangnya berlari lima puluh prajurit yang dipimpin oleh Adimuka dan Tibamaling. Angger Buda tidak tahu bahwa pasukan yang dibawanya adalah pasukan pengkhianat.
Angger Buda berniat melakukan penyergapan di kediaman Mahapati Abang Garang.
“Minggir! Pasukan pelindung Gusti Prabu!” teriak Sang Kancil yang langsung menuju ke arah kaputren.
Pasukan Tangkal Bencana terus berlari masuk dan pasukan yang dibawa Penasihat terus bergerak ke luar Istana.
Pada saat itu pula, seorang prajurit di Istana mengeluarkan pita hitam dari balik pakaiannya. Setelah tidak terlihat lagi ada pergerakan pasukan, prajurit itu mulai berjalan keliling melewati para prajurit jaga.
Para prjurit yang berbekal pita biru, saat dilalui oleh prajurit berpita hitam, tiba-tiba menyerang prajurit yang tidak berpita. Serangan-serangan itu bersifat membunuh.
Para prajurit berpita biru bergerak saling bergabung lalu membunuh para prajurit yang tidak bertanda pita. Pembunuhan pun terjadi hampir di setiap sudut. Pembantaian pun terjadi dalam kekacauan.
Pasukan Tangkal Bencana sempat melihat aksi pembunuhan yang dilakukan oleh Pasukan Walang Kekek, tetapi mereka lebih fokus pergi ke Kaputren.
“Hormat!” teriak Sang Kancil setibanya di hadapan Prabu Menak Ujung.
“Pasukan Tangkal Bencana memberi hormat, Gusti Prabu!” ucap ketiga puluh orang itu.
“Bangunlah!” perintah Menak Ujung. “Habisi siapa pun yang datang mendekati Kaputren. Lepaskan anjing-anjing dari kandangnya!”
“Baik, Gusti Prabu!” ucap mereka serentak.
Pasukan Tangkal Bencana segera mengatur posisi di sekitar halaman Kaputren. Dua orang prajurit pergi ke taman.
“Seraaang!” teriak seorang pemimpin prajurit pemberontak berkomando.
“Seraaang!” teriak para prajurit itu ramai-ramai sambil berlarian memasuki halaman Kaputren.
“Jangan sampai ada yang lolos! Habiskaaan!” teriak Sang Kancil menggelegar.
Pasukan Tangkal Bencana menyambut serangan Pasukan Walang Kekek. Pertempuran skala kecil pun terjadi. Sebagai pasukan khusus, Sang Kancil dan rekan-rekan memiliki kemampuan tarung yang lebih unggul, sehingga tidak begitu sulit untuk mengatasi serangan itu.
Prabu Menak Ujung hanya memandangi dari jauh sambal duduk di sebuah kursi. Anjingnya yang bernama Jurig setia di sisi tuannya.
Sementara Permaisuri Lulu Pemajang dan para dayang memilih diam di dalam kamar.
Guk guk guk…!
Tiba-tiba terdengar suara ramai gonggongan anjing yang berlarian.
Mendengar itu, Menak Ujung lalu duduk bersila di kursinya. Ia rentangkan kedua lengannya dengan pengerahan tenaga dalam yang tinggi. Selanjutnya, kesepuluh jari-jarinya menggenggam kencang.
Boom!
__ADS_1
Menak Ujung mengadu kedua tinjunya di depan dada, menciptakan suara peraduan yang cukup nyaring. Setelahnya, tanpa terlihat oleh mata, Kaputren telah dikurung oleh pagar gaib bernama Cangkang Dewa.
Semua personel Pasukan Tangkal Bencana berada di dalam pagar gaib. Demikian pula prajurit Pasukan Walang Kekek yang tersisa. Dengan mudah dan cepat mereka dihabiskan.
“Seraaang!” teriak satu kelompok Pasukan Walang Kekek gelombang kedua.
Mereka berlari kencang hendak masuk ke halaman Kaputren.
Bang bang bang…!
“Uhg! Hukh! Akk!” Para prajurit Pasukan Walang Kekek pada mengeluh ketika mereka yang berlari kencang tahu-tahu menabrak dinding tidak terlihat.
Sebagian terpental terjengkang, sebagian lagi saling tabrak.
Guk guk guk…!
Dari arah taman muncul gerombolan anjing liar yang berlarian langsung menyerang para prajurit pemberontak di luar pagar gaib Cangkang Dewa.
“Kambiiing!” teriak seorang prajurit histeris. Saking terkejutnya, ia sampai salah sebut nama.
Graurg! Aik aik!
“Aak…! Akk…! Akk…!”
Para prajurit jejeritan ketika anggota tubuh mereka mendapat gigitan. Sejumlah anjing pun harus bernasib nahas ketika ditusuk dengan tombak atau dibacok dengan pedang.
Pasukan Tangkal Bencana yang sudah kehilangan lima anggotanya, hanya menyaksikan pertempuran antara Pasukan Walang Kekek dengan para anjing. Mereka menyaksikan dari jarak yang begitu dekat. Sejumlah anjing yang hendak menyerang Pasukan Tangkal Bencana harus menuai kecewa, ketika mereka menabrak pagar gaib yang tidak terlihat tapi sangat kuat keberadaannya.
Prajurit Pasukan Walang Kekek terus berdatangan ke sekitar Kaputren. Satu demi satu anjing-anjing itu berguguran, sementara para prajurit hanya mengalami luka dari yang ringan hingga berat.
Sementara di luar Istana, Salik Jejaka menyempatkan diri berlalu di depan kediaman Mahapati Abang Garang. Ia melihat keberadaan empat orang berperawakan pendekar di depan rumah. Meski tidak akrab, tetapi Salik Jejaka tahu bahwa mereka adalah bagian dari Siluman Sepuluh, siluman yang tadi malam disebut oleh Putri Aninda Serunai.
“Pemberontakan dimulai!” teriak Salik Jejaka kencang, tanpa memelankan lari kudanya.
Keempat lelaki itu hanya memandangi Salik Jejaka yang berlalu begitu saja.
Salik Jejaka terus memacu kudanya menuju luar Ibu Kota. Ia bermaksud pergi ke basis militer untuk memimpin Pasukan Walang Kekek dalam jumlah besar.
“Ayo ayo! Waktunya bekerja!” teriak lelaki berjubah hitam kepada rekan-rekannya yang ada di dalam, sambil menepuk-nepuk ambang pintu. Lelaki berusia separuh abad itu bernama Siluman Seribu Tampar.
Dari dalam rumah Mahapati Abang Garang, keluar dua lelaki dan dua wanita lain. Jadi jumlah mereka sebanyak delapan orang.
“Ayo kita merebut tahta Baturaharja!” kata lelaki bertubuh besar, berbaju merah lengan pendek. Dua batang tangannya dililiti kain kuning dari pergelangan hingga siku. Ia bernama Siluman Badan Batu.
Namun, baru saja mereka meninggalkan rumah Mahapati, tiba-tiba muncul Penasihat Angger Buda dan pasukannya.
__ADS_1
“Berhenti, kalian!” seru Angger Buda lantang. (RH)