
*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*
“Dewi Geger Jagad! Kau akan mati sementara! Dan ketika kau mati, kau akan bangun dalam kehinaan, dalam kondisi sudah dinodai oleh lelaki yang tidak kau kenal!”
Tiba-tiba perkataan Dewa Kematian terngiang di benak wanita yang bernama Dewi Geger Jagad itu. Pada saat itu, tangan kanan wanita bernama asli Dewi Ara tersebut melemparkan tombak sinar merah dari ilmu Tombak Algojo.
Tombak sinar tersebut melesat cepat kepada Joko Tenang yang sudah tidak berdaya terpaku di dinding. Kepalanya terkulai lemah tanpa tenaga dengan bibir meneteskan darah kental yang bergelayut di bibir, seolah berat untuk melepas bibir merah Joko.
“Joko Tenaang…!” jerit Avabella dengan mata berair menyaksikan detik-detik kematian pemuda miliknya.
Zep!
Namun, sebelum tombak itu menancap di dada Joko Tenang yang sudah tidak memandang kepada serangan, tiba-tiba tombak sinar biru itu terhenti, tepat hanya tiga jari dari kulit dada Joko yang berlumur darah dan keringat.
Avabella hanya mendelik. Joko Tenang hanya bisa membuka matanya dengan sayu, memandang sepasang kaki tanpa sandal dan rambut yang terseret di lantai.
“Kau harus bertanggung jawab, Joko. Aku tidak mau muncul dengan membawa kehinaanku seorang diri!” ucap Dewi Ara dengan menyebut nama Joko Tenang.
Sebelum Tombak Algojo-nya membunuh Joko Tenang, Dewi Ara lebih cepat berpindah tempat dan menahan lesatan tombaknya. Keputusan itu ia ambil di saat kata-kata Dewa Kematian di masa lalu terngiang di benaknya.
Lega hati Avabella melihat keputusan wanita sakti itu. Terlebih setelah tombak sinar itu dilenyapkan kembali oleh Dewi Ara.
“Aku telah berbuat sangat busuk kepadamu, Nisanak. Aku rela jika memang harus mati saat ini,” ucap Joko Tenang lemah.
Plak!
Wajah Joko Tenang terayun keras ketika satu tamparan keras mendarat di pipi kanannya. Darah di dalam mulutnya sampai terlempar ke dinding.
Gelap sudah pandangan Joko Tenang. Ia tidak sadarkan diri.
Zerzz!
“Akkrr!” erang Joko Tenang jadi tersadar, ketika satu jari Dewi Ara menyentuh perut kekarnya. Ia disengat aliran listrik yang tidak terlihat.
“Stooop!” teriak Avabella kepada Dewi Ara.
Plak!
Dewi Ara mengibaskan tangan kanannya, menampar wajah Avabella tanpa menyentuhnya.
“Diam kau, Makhluk Dedemit!” bentak Dewi Ara sambil mendelik tajam kepada wanita bermata biru itu.
“Joko, siapa kau?” tanya Dewi Ara sambil satu jarinya mengangkat dagu Joko Tenang agar pemuda itu memandang kepadanya. Sentuhan jarinya sudah tidak memberi setruman.
__ADS_1
Dengan mata sayu, Joko Tenang memandang wajah cantik yang terlihat samar olehnya, karena pengaruh pandangannya yang memudar.
“Aku pendekar yang jatuh dari atas jurang sana,” ucap Joko Tenang lemah, dengan mulut yang masih penuh darah, bahkan mengalir mengenai jari lentik Dewi Ara.
“Bukan itu maksud pertanyaanku!” bentak Dewi Ara kesal. “Aku akan merusak wajah tampanmu ini jika jawabanmu tidak memuaskanku. Siapa kau?”
“Aku adalah Raja Kerajaan Sanggana Kecil,” jawab Joko Tenang jujur. Sebenarnya dia sudah pasrah. Dia sudah tidak memiliki niat untuk bersiasat agar lolos dari siksaan wanita di depannya. “Tolong bebaskan Avabella. Aku mohon. Biarkan dia kembali.”
“Kau jatuh dari atas, tapi kau masih hidup dan kini membuatku hidup terhina. Siapa gurumu?” tanya Dewi Ara tanpa mengindahkan permintaan Joko Tenang. Sementara jari tangannya masih bertahan di dagu Joko, memaksa pemuda itu terus menatapnya.
“Ki Ageng Kunsa Pari,” jawab Joko Tenang.
Jawaban Joko itu membuat Dewi Ara kerutkan kening.
“Ki Ageng? Maksudmu Kunsa Pari murid Tiga Malaikat Kipas?” tanya Dewi Ara ragu. Sebab pemuda bernama Kunsa Pari yang dia kenal namanya tidak pakai “Ki Ageng”.
“Benar.”
“Jangan mempermainkanku!” bentak Dewi Ara mendadak marah.
Zerzz!
“Akk…!” jerit Joko Tenang panjang, sebab setruman kali ini lebih menyakitkan dari sebelumnya.
“Joko Tenang!” sebut Avabella cemas.
Dewi Arah berbalik dan melangkah menuju batu tempat pembaringannya. Rambutnya yang panjang terseret mengikuti langkahnya.
“Aku mengenal Kunsa Pari, tidak mungkin dia memiliki seorang murid yang sama mudanya sepertimu, apalagi kau mengaku sebagai seorang raja!” kata Dewi Ara. “Nyawamu tergantung apakah aku nanti akan hamil atau tidak. Jika aku tidak hamil, kau akan berakhir!”
Sebelum sampai kepada batunya, Dewi Ara berhenti dan memperhatikan dengan seksama kondisi dasar jurang itu. Ia bahkan mendongak agak lama ke atas. Ia sedang mempelajari selak beluk lingkungan tempat ia berada, karena ia berada di tempat itu bukan atas kehendaknya.
Ia ingat, kemarin dia dibunuh oleh Dewa Kematian. Ia sadar, penodaan terhadap dirinya adalah rencana Dewa Kematian untuk membuatnya terhina ketika bangun dari kematian.
“Aku tidak akan mengampunimu, Pratakarsa. Jika aku keluar dari tempat ini, orang pertama yang aku cari adalah dirimu!” desis Dewi Ara.
Ia lalu pergi duduk bersila di atas batu pembaringannya. Ia pejamkan mata.
“Sepertinya aku tertidur begitu lama, sampai-sampai rambut dan kukuku memanjang sedemikian rupa. Tapi rasanya, aku tidur hanya sejenak. Berapa lama sebenarnya aku mati?” pikir Dewi Ara. “Jangan-jangan apa yang dikatakan oleh lelaki berbibir merah itu benar. Berbibir merah? Apakah dia ada hubungannya dengan Ratu Bibir Darah?”
Pertanyaan-pertanyaan itu yang kemudian membuat Dewi Ara kembali membuka matanya.
Sest!
__ADS_1
Tiba-tiba tubuh Joko Tenang yang terpaku lemah di dinding, melesat tertarik di udara datang kepada Dewi Ara. Tubuh Joko Tenang jatuh begitu saja tepat di atas batu, di depan Dewi Ara. Dewi Geger Jagad seperti menghadapi sebuah hidangan besar. Tubuh Joko tergeletak melintang, separuh kakinya terjulur ke bawah.
“Tolong bebaskan Avabella,” ucap Joko Tenang lemah.
“Dia hanya makhluk dedemit penunggu pedang,” kata Dewi Ara mengabaikan. “Jawab pertanyaanku, setiap satu pertanyaan ancamannya satu Sengatan Bintang. Berapa usia Kunsa Pari sekarang?”
“Bebaskan dulu Avabella,” kata Joko Tenang.
Zerzz!
“Akrr!” jerit Joko Tenang dengan tubuh mengejang hebat, saat jari Dewi Ara menyentuh dada perkasanya.
Dewi Ara kembali menghentikan sengatannya.
“Berapa usia Kunsa Pari?” tanya Dewi Ara lagi, masih bernada lembut.
“Bebaskan dulu Avabella,” jawab Joko Tenang lagi.
Zerzz!
“Akrr!” jerit Joko Tenang lagi dengan tubuh mengejang.
Ekpresi Dewi Ara mulai menunjukkan kekesalan.
“Berapa usia Kunsa Pari?” tanya Dewi Ara setengah membentak.
“Bebaskan Avabellah,” jawab Joko Tenang lagi.
Sess! Bluk!
Dewi Ara akhirnya menarik lima sinar biru kecil yang memasung kelima anggota tubuh Avabella di dinding. Wanita jelita berambut pirang itu jatuh ke lantai.
“Pergi!” perintah Dewi Ara sambil mengibaskan telapak tangannya sebagai isyarat pengusiran.
Setelah itu, Avabella menghilang. Maka kini tinggallah Dewi Ara dan Joko Tenang.
Zerzz!
“Akkr!” jerit Joko Tenang lagi untuk ketiga kalinya.
“Ini untuk kebebasan wanita peliharaanmu, Joko. Sekarang jawab pertanyaanku!” tandas Dewi Ara.
“Sekitar delapan puluh tahun,” jawab Joko Tenang.
__ADS_1
Terkesiaplah Dewi Ara mendengar hal itu.
“Delapan puluh tahun? Apakah aku terkubur di sini selama lima puluhan tahun?” membatin Dewi Ara. “Atau, Ki Ageng Kunsa Pari yang dimaksud Joko bukan Kunsa Pari yang aku maksud. Tapi gurunya sama, Tiga Malaikat Kipas….” (RH)