
*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*
Putri Manik Sari merasakan tubuhnya terguncang-guncang. Ia tersadar. Ia buka sepasang matanya. Cahaya matahari pagi langsung membias ke retinanya, membuatnya mengerenyit.
Putri Manik Sari jadi mendelik ketika mendapati sebuah wajah wanita yang menatapnya sangat dekat. Melihat Putri Manik Sari sudah bangun, wajah kusut itu tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang hitam-hitam.
“Hah!” kejut Putri Manik Sari, membuatnya buru-buru bangun duduk.
“Hihihi!” tawa wanita yang sejak tadi memandangi Putri Manik Sari dari jarak dekat. Wanita itu tidak lain adalah Surina Asih, kakak dari Ningsih Dirama.
Putri Manik Sari mendapati dirinya berada di sebuah gerobak pedati bersama Surina Asih dan beberapa abdi keluarga Demang Yono Sumoto.
“Hihihi! Anjas Anjas Anjas! Ikan cantiknya sudah bangun!” teriak Gurudi yang duduk di atap bilik kereta kuda.
Anjas Perjana, Ningsih Dirama dan Tirana yang ada di pedati depan, segera menengok ke belakang.
Putri Manik Sari tahu-tahu sudah berkelebat di udara dan mendarat di bak pedati. Tirana dan Ningsih Dirama hanya tersenyum kepada Putri Manik Sari.
“Bagaimana kondisimu, Kak?” tanya Tirana.
“Kalian yang menolongku?” Putri Manik Sari justru bertanya.
“Bisa dikatakan seperti itu,” jawab Anjas.
“Terima kasih,” ucap Putri Manik Sari.
“Apakah Kakak seorang putri?” tanya Tirana sambil menarik lembut ujung jari Putri Manik Sari yang dalam posisi berdiri.
Putri Manik Sari lalu bergerak duduk.
“Aku Putri Manik Sari, putri Prabu Menak Ujung,” jawab Putri Manik Sari.
“Oh, maafkan kami karena tidak mengenali, Putri,” kata Tirana.
“Siapa kalian dan hendak ke mana?” tanya Putri Manik Sari.
“Aku Anjas,” kata Anjas sambil menengok sejenak kepada Putri Manik Sari seraya tersenyum.
Putri Manik Sari terkesiap samar saat melihat sekilas ketampanan lelaki dewasa yang mengusiri pedati.
“Itu adalah istriku, Ningsih Dirama. Wanita yang sangat cantik di dekatmu itu adalah Permaisuri Tirana,” jelas Anjas.
Terkejutlah Putri Manik Sari mendengar status wanita jelita yang baru saja menyuruhnya duduk.
“Kami sedang menuju pulang ke Kerajaan Sanggana Kecil dan akan melewati Kadipaten Repakulo,” kata Tirana. “Apakah kau akan ikut, Kakak?”
“Gusti Permaisuri, jangan menyebutku kakak!” kata Putri Manik Sari cepat.
“Hihihi!” Tirana hanya tertawa.
“Siapa yang berani mau membunuh putri Kerajaan Baturaharja?” tanya Anjas.
“Pengkhianat Mahapati Abang Garang!” desis Putri Manik Sari mendendam. “Di depanku dia menuduh pejabat lain, tetapi justru dialah yang berniat membunuhku!”
“Apakah pakaianku cocok ditubuhmu, Nak?” tanya Ningsih Dirama.
__ADS_1
“Ah, iya. Ini cocok, Kak,” jawab Putri Manik Sari. Lalu dengan ragu ia bertanya, “Siapa yang mengobati lukaku? Kenapa tidak ada bekasnya sedikit pun?”
“Gusti Mulia Raja Anjas yang mengobatimu,” jawab Tirana.
Terkejutlah Putri Manik Sari mendengar status Raja Anjas.
“Jadi, aku berada bersama seorang raja dan ratu?” tanya Putri Manik Sari.
“Hahaha! Kenapa, Putri? Bukankah kau juga seorang putri?” kata Anjas yang didahului dengan tawanya.
“Jadi, jadi siapa yang mengganti pakaianku?” tanya Putri Manik Sari agak ragu, ia khawatir jika itu dilakukan oleh Anjas.
“Hihihi!” tawa Tirana. Lalu jawabnya, “Aku yang melakukannya. Tubuhmu masih terjaga, Sayang.”
“Tapi aku sedikit menyentuhnya karena untuk mengobatimu,” kata Anjas.
Mendeliklah Putri Manik Sari. Agak memerah wajah cantiknya karena malu. Ningsih Dirama dan Tirana hanya tertawa melihat reaksi Putri Manik Sari.
“Siapa sebenarnya kalian?” tanya Putri Manik Sari.
“Jelaskanlah, Permaisuri Penjaga!” perintah Anjas.
“Gusti Mulia Raja Anjas adalah raja Kerajaan Sanggana, kerajaan kuat di tengah pedalaman hutan. Ibu Ningsih Dirama adalah istri Gusti Mulia. Aku adalah Permaisuri Tirana, Permaisuri Kedua dari Prabu Dira, raja Kerajaan Sanggana Kecil yang ada di utara wilayah Kerajaan Baturaharja. Aku adalah menantu Gusti Mulia Raja Anjas. Kami sedang menuju ke Kerajaan Sanggana Kecil,” tutur Tirana. “Apakah kau sudah mengerti, Putri?”
Putri Manik Sari mengangguk-angguk.
“Kalian seperti keluarga bahagia,” kata Putri Manik Sari.
Tirana hanya tersenyum lembut kepada Putri Manik Sari.
“Anjas Anjas Anjas! Lihat!” teriak Gurudi dari atas bilik kereta kuda. Ia menunjuk jauh ke depan.
Rombongan itu adalah rantai manusia. Antara satu orang dengan orang yang lain diikat sambung-menyambung. Kedua pergelangan tangan mereka diikat tali yang saling menyambung. Demikian pula kedua kaki mereka diikat dengan tali tambang.
Mereka adalah para lelaki, wanita hingga anak-anak yang berjalan dengan kondisi lemah. Mereka semua tidak mengenakan baju. Para lelaki hanya mengenakan celana yang kotor dan sebagian bahkan sobek-sobek. Tubuh mereka berkeringat, kotor dan menderita luka-luka cambukan. Para wanita hanya mengenakan kain pinjung sebatas dada, itupun ada dari mereka yang memakai kain robek sehingga bagian tubuh terbuka lebar tanpa bisa ditutupi.
Jumlah orang-orang yang diikat itu mencapai lima puluh orang. Ada sepuluh orang lelaki berpakaian pendekar yang mengawal mereka. Dua di antaranya menunggang kuda. Delapan lelaki lain yang berjalan kaki berbekal cemeti di tangan masing-masing.
Lelaki tua yang berjalan paling depan dalam kondisi terikat, memandang nyalang saat melihat keberadaan rombongan pedati Anjas.
“Gusti! Tolong selamatkan kami dari penjahat Repakulo!” teriak lelaki tua itu.
Terkejut lelaki bercambuk melihat tindakan lelaki tua itu.
“Diam kau!” teriak lelaki itu sambil mencambuk keras tubuh lelaki tua itu.
“Akk!” jerit lelaki tua tadi.
“Ayaaah!” teriak satu suara perempuan dari barisan tengah.
Dak! Buk!
Lelaki pengawal yang mencambuk menendang kaki kanan si lelaki tua sehingga jatuh terlutut. Menyusul satu tinju keras menghantam pelipis kanannya. Orang tua itu jatuh tergeletak meringis kesakitan. Temannya jadi ikut tertarik jatuh terlutut.
“Kisanak! Hentikan!” seru Anjas akhirnya.
Seruan Anjas itu membuat satu pendekar berkuda segera maju menghadang kuda pedati Anjas. Pendekar itu memelihara jenggot sepanjang setengah jengkal. Di punggungnya ada sebuah pedang besar. Ia bernama Balang Sengkar.
__ADS_1
“Siapa kalian dan mau ke mana?” tanya Balang Sengkar bernada kasar.
“Kau akan menyesal jika tahu siapa kami,” kata Anjas.
“Hah! Hahaha!” kejut Balang Sengkar, lalu tertawa terbahak mendengar perkataan Anjas.
“Satu orang telah minta tolong kepada kami, itu artinya kami harus menolong mereka,” kata Anjas.
“Jangan pernah mencoba turut campur urusan orang-orang Kelompok Tinju Dewa!” teriak Balang Sengkar sambil menunjuk kepada wajah Anjas.
Baks! Blugk!
Tiba-tiba tubuh Permaisuri Tirana telah melesat di udara. Telapak kaki kanan Tirana telah mendarat keras di dada Balang Sengkar, membuat lelaki besar itu terpental jatuh terjengkang ke tanah keras.
Terkejut orang-orang yang melihat kejadian itu.
“Beraninya kau menunjukkan jarimu ke wajah Gusti Mulia Raja Anjas!” teriak Tirana marah dengan tatapan yang tajam.
“Uhuk uhuk uhuk!”
Balang Sengkar cepat bangun sambil terbatuk-batuk menahan sesak pada dadanya. Ia cepat mencabut pedang besarnya.
Enam lelaki pengawal tawanan cepat berdatangan dengan pedang yang terhunus.
Wuss!
Namun, ketika mereka hendak menyerang Tirana beramai-ramai, satu gelombang angin yang muncul dari tubuh Tirana menerpa mereka dengan halus.
Terkejutlah Balang Sengkar yang mematung dengan tangan terangkat tinggi siap menebaskan pedang besarnya. Enam prajurit lainnya juga terdiam mematung terkena ilmu Pemutus Waktu milik Tirana.
Set!
“Aakk…!” jerit Balang Sengkar dalam posisi tetap mematung, ketika Tirana merebut pedang seorang pengawal dan menebas putus lengan kanan Balang Sengkar. Darah segar mengucur deras dari potongan tangan itu.
Tiba-tiba lelaki berambut gondrong muncul naik ke udara sambil siap melesatkan tombak besi ke arah Tirana.
Sett!
Tombak besi itu melesat cepat kepada Tirana. Namun, orang yang baru kali ini melihat kesaktian Tirana, hanya bisa terkesiap. Tombak besi itu lumer seperti lapisan cokelat es krim terkena panas, ketika sampai dua jengkal dari tubuh Tirana.
Wuss!
Setelah itu, Tirana melesatkan segulung angin pukulan yang menghantam tubuh pendekar pelempar tombak. Pendekar itu terhempas agak jauh.
“Gurudi! Bebaskan semua tawanan itu!” perintah Anjas.
“Hihihik…!” tawa Gurudi sambil melompat turun dan berlari menuju kepada orang-orang yang diikat.
Bres! Bres! Buks!
Tirana menghentakkan tenaga dalamnya. Keenam pengawal yang mematung berpentalan lalu jatuh berjengkangan.
Sementara untuk Balang Sengkar mendapat hantaman pukulan jarak jauh bertenaga dalam tinggi. Ia terjengkang jauh sambil muntah darah dengan tangan tinggal satu.
“Pergilah kalian! Orang-orang ini menjadi milik kami!” seru Anjas.
Pendekar berambut gondrong cepat naik ke kudanya, lalu memilih kabur. Beberapa pengawal yang masih bisa berbuat, cepat kabur pula mengejar pimpinan mereka.
__ADS_1
Sementara Balang Sengkar sudah terkapar tidak bernyawa.
“Seorang permaisuri bisa seganas itu? Padahal tadi senyumnya begitu lembut…” kata Putri Manik Sari dalam hati. (RH)