8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
PCR 19: Cerita Kusuma Dewi


__ADS_3

*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*


 


Tangpa Sanding seorang lelaki berusia empat puluh tahun berbaju hijau tanpa lengan, memperlihatkan lengan kekarnya yang bertato bunga warna merah.


Ia datang menghadap kepada Permaisuri Kusuma Dewi yang duduk menikmati pemandangan kolam ikan. Di sekitar kolam ada dua angsa putih sebagai penguasa daerah taman tersebut.


Kusuma Dewi yang kini berada di Istana Walangan, didampingi oleh seorang wanita cantik berhidung mancung. Rambut panjangnya digelung lalu diikat dengan pita merah. Ia mengenakan pakaian serba putih, kontras dengan Kusuma Dewi yang saat itu mengenakan pakaian berwarna merah hati. Wanita yang seumuran dengan Kusuma Dewi itu menyandang senjata berupa bambu kecil berwarna biru terang yang diselipkan di balik pinggangnya. Itu adalah senjata sumpit. Wanita itu bernama Sekarembun, pendekar wanita dari kelompok Manusia-Manusia Sakti Gunung Prabu. Tingkat kesaktiannya ada di atas Tangpa Sanding.


Jika dulu Tangpa Sanding adalah salah satu pendekar tingkat empat dalam Manusia-Manusia Sakti, maka Sekarembun berada di tingkat enam.


“Hormat hamba, Gusti Permaisuri,” ucap Tangpa Sanding.


“Bangunlah, Tangpa Sanding!” perintah Kusuma Dewi.


“Hamba sudah bertemu dengan Pangeran Getih Buana. Pangeran mengundang kita untuk datang saat ini!” lapor Tangpa Sanding.


“Aku ingin membersihkan diri lebih dulu, Sekarembun,” kata Kusuma Dewi.


“Baik, Gusti Permaisuri,” ucap Sekarembun sebagai salah satu Pengawal Bunga.


Maka Kusuma Dewi membersihkan diri yang kemudian mengenakan pakaian baru tapi seragam dengan pakaian sebelumnya. Ia bersama kedua Pengawal Bunga-nya lalu pergi ke kediaman Pangeran Getih Buana yang ada di dalam lingkungan Istana Walangan.


Setibanya di Wisma Pangeran Ketiga, Kusuma Dewi dan kedua pengawalnya disambut langsung oleh Pangeran Getih Buana.


Pangeran Getih Buana adalah seorang pemuda tampan berusia dua puluh tujuh tahun. Ia memiliki tubuh yang atletis dan kekar berisi. Penampilannya memakai celana warna biru gelap tanpa baju. Ia hanya mengenakan selendang yang diselempangkan di tubuhnya, membuat sebagian tubuh perkasanya terlihat. Sejumlah perhiasan emas menghiasi tubuhnya, dari jari tangan, lengan, leher hingga kepala. Bahkan kedua telinganya ditindik dengan anting bermata permata merah.


“Selamat datang di kediamanku, Gusti Permaisuri Kusuma Dewi!” ucap Pangeran Getih Buana sambil tersenyum ramah, lalu menghormat secukupnya sebagai tuan rumah.


“Terima kasih sudah berbaik hati mengundangku, Pangeran Getih,” ucap Kusuma Dewi yang tampil dalam kejelitaan yang penuh pesona. Usai mandi membuat kejelitaan Kusuma Dewi terlihat begitu segar. Sementara pedang samurainya dibawa oleh Sekarembun.


“Silakan, silakan, Gusti Permaisuri!” kata Pangeran Getih mempersilakan.

__ADS_1


Di teras Wisma Pangeran Ketiga itu ada sebuah meja batu pualam warna hijau indah. Di sekelilingnya ada kursi bambu berbantal yang akan terasa nyaman untuk diduduki. Di atas meja pualam sudah tersedia seperangkat alat minum. Ada sejumlah dayang yang berdiri agak jauh dari meja tapi siap melayani.


Pangeran Getih Buana duduk berseberangan meja dengan Permaisuri Getih Buana. Tampak Getih Buana bersikap begitu ramah kepada tamunya.


“Maafkan aku jika bertanya, apakah Pangeran kenal dekat dengan Curaina?” tanya Kusuma Dewi langsung to do point.


“Hahaha!” tawa Getih Buana. Ia lalu memberi isyarat kepada dayangnya untuk menuangkan minuman. Lalu katanya kepada Kusuma Dewi, “Curaina adalah wanita tercantik yang pernah aku temui dalam hidupku. Bisa mengenalnya dan berhubungan dekat dengannya adalah anugerah Dewata bagiku.”


“Tidak aku sangka Curaina bisa mendapatkan seorang yang terbaik dari lelaki Walangan,” kata Kusuma Dewi. “Kami berasal dari desa yang sama, jatuh ke jurang bersama-sama, berguru dengan guru yang sama, tapi kemudian berpisah oleh dorongan emosi masing-masing.”


“Tentunya Curaina pun tidak akan menyangka bahwa teman seperjuangannya telah menjadi seorang permaisuri,” kata Getih Buana. Lalu katanya tiba-tiba mengalihkan pembicaraan, “Ah, itu Curaina sudah tiba!”


Pangeran Getih Buana segera bangun dari duduknya untuk menyambut seorang gadis jelita yang berjalan masuk ke teras wisma.


Gadis jelita itu berpakaian serba kuning berpadu warna putih. Penampilannya sebagai seorang pendekar wanita dengan pedang berwarna hijau muda yang bergantung di sabuk kulitnya yang berwarna putih. Gadis itu bertubuh agak kecil dengan wajah yang imut. Rambutnya yang ikal hitam diikat sebagian dengan pita berwarna putih agar tidak terkesan liar. Dialah wanita yang bernama Curaina.


Curaina tersenyum lebar saat Getih Buana brjalan menyambutnya. Sementara Kusuma Dewi memilih tetap duduk sambil meminum minumannya di gelas keramik.


Setelah melihat punggung Kusuma Dewi sejenak, Curaina kembali memandang serius kepada Getih Buana.


“Siapa tamu Kakang?” tanya Curaina curiga.


“Permaisuri dari Kerajaan Sanggana Kecil. Tapi Gusti Permaisuri bukan tamuku, melainkan tamumu,” kata Getih Buana.


“Tamuku?” sebut ulang Curaina heran. Seingatnya, ia tidak memiliki hubungan dekat dengan seorang permaisuri, hanya mengenal permaisuri ibu dari kekasihnya itu.


“Begitu beruntung kau mendapatkan seorang pangeran sebagai kekasih, Cucur,” kata Kusuma Dewi.


Mendengar suara itu dan dirinya disebut “Cucur”, nama olokan yang diberikan oleh teman-teman sekampungnya, membuat Curaina langsung menduga siapa adanya wanita berpakaian merah hati itu. Namun, tidak ada sahabatnya yang berstatus permaisuri, tapi seorang pendekar dalam kelompok penjahat.


Kusuma Dewi akhirnya berdiri dari duduknya. Ia pun berbalik dan langsung memandang tersenyum kepada Curaina.


“Ak! Kusuma Dewi!” pekik Curaina terkejut.

__ADS_1


“Lancang kau hanya menyebut namaku! Aku sekarang seorang permaisuri!” bentak Kusuma Dewi dengan senyum yang langsung hilang.


Agak terkejut Curaina dibentak seperti itu.


“Hihihi…!” tawa Kusuma Dewi melihat keterkejutan Curaina.


Tawa Kusuma Dewi membuat Curaina justru merengut. Ia menyodok bahu kiri Kusuma Dewi dengan kepal tangan kanannya, membuat Tangpa Sanding dan Sekarembun bergerak hendak menyerang Curaina, tetapi Kusuma cepat memberi tanda agar tidak bertindak.


“Kau pasti memiliki niat terselubung dengan menyamar menjadi seorang permaisuri. Baru beberapa pekan lalu kau masih anggota Gerombolan Kuda Biru!” tukas Curaina tanpa mengindahkan gerakan tertahan Tangpa Sanding dan Sekarembun.


“Hihihi…!” Kusuma Dewi semakin tertawa berkepanjangan mendengar tudingan Curaina. “Kakang Prabu Joko Tenang yang mengangkatku menjadi seorang permaisuri. Aku sudah menikah dengan cintaku.”


“Kau sudah menikah dengan Joko Tenang?” tanya Curaina terkejut.


“Iya. Aku mencarimu untuk membujukmu menikah dengan Kakang Prabu Joko Tenang dan meninggalkan Pangeran Getih Buana,” kata Kusuma Dewi blak-blakan.


Perkataan Kusuma Dewi itu membuat Getih Buana mendelik terkejut.


“Aku memang sangat mencintai Joko Tenang, tapi itu sebelum kenal dengan Pangeran Getih Buana. Lembaran mimpiku bersama Joko Tenang sudah tertutupi oleh lembaran mimpiku bersama pangeranku, Getih Buana,” ujar Curaina lalu terakhir ia memandang tersenyum bahagia sambil meraih lengan kanan kekar Getih Buana.


“Seperti itulah, Kakang Prabu. Jadi, Curaina sudah merasa bahagia dengan kekasihnya. Bahkan ia menolak untuk jadi permaisuri,” kata Kusuma Dewi mengakhiri ceritanya kepada suaminya, Joko Tenang di kamar sang prabu.


“Baiklah jika demikian,” ucap Joko Tenang. “Lalu bagaimana dengan Tembangi Mendayu?”


“Ia sangat marah ketika mengetahui aku telah menjadi permaisuri Kakang Prabu. Ia tambah marah saat mengetahui Kakang Prabu telah beristri tujuh wanita. Kami bertarung dan aku kalah. Ia memaksa dibawa bertemu dengan Kakang. Aku membawanya agar amarahnya bisa berakhir. Aku sangat yakin dia akan tunduk oleh kesaktian para permaisuri,” jawab Kusuma Dewi.


“Meskipun Tembangi Mendayu ingin menjadi istri Kakang Prabu, aku akan sangat menentang. Tembangi Mendayu terlalu angkuh dan lancang. Seharusnya dia tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang ratu, tetapi sedikit pun ia tidak menunjukkan rasa hormat!” kata Kerling Sukma.


“Aku sependapat dengan Permaisuri Mata Hijau. Aku akui Tembangi Mendayu sangat cantik dan sakti, tapi sikapnya sangat tidak bisa diterima. Aku justru khawatir jika Permaisuri Nara turun tangan untuk membungkam Tembangi Mendayu,” kata Ratu Getara Cinta.


Permaisuri Nara hanya diam tidak berkomentar.


“Adalah hal yang tidak masalah jika kedua wanita masa laluku itu menolak rantai cinta ini,” kata Joko Tenang. (RH)

__ADS_1


__ADS_2