
*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*
Rombongan pimpinan Mahapati Abang Garang harus bermalam di pinggir sungai.
Mahapati Abang Garang, Putri Manik Sari, Adipati Tulang Sampit, dan Nayaka Segar Labu sedang mengelilingi api unggun seperti kegiatan malam perkemahan.
“Seharusnya Gusti Putri berada di dekat Gusti Prabu di saat-saat gawat seperti ini,” kata Abang Garang.
“Aku tidak melihat situasi gawat di Istana,” kata Putri Manik Sari.
“Berita teliksandi yang aku terima, Salik Jejaka memiliki gelagat untuk melakukan pengkhianatan,” kata Abang Garang.
“Apa?” ucap Putri Manik Sari agak terkejut.
Set! Trek!
Tiba-tiba dari dalam kegelapan melesat sebutir batu yang tepat jatuh di api tengah-tengah mereka. Mereka sontak terlompat dari duduknya masing-masing.
“Siapa itu?!” teriak Putri Manik Sari gusar sambil memandang tajam ke dalam kegelapan sungai.
Sejumlah prajurit Baturaharja cepat berdatangan.
“Aku akan mengejarnya!” kata Putri Manik Sari.
“Lebih baik…” seru Abang Garang terputus, karena Putri Manik Sari sudah melesat ke dalam kegelapan.
“Apakah lebih baik aku menyusul Gusti Putri, Gusti?” tanya Nayaka Segar Labu.
“Tidak perlu, Putri seorang yang sakti,” kata Abang Garang.
Putri Manik Sari berkelebat cepat menerobos kegelapan. Ia dapat melihat bayangan hitam dalam kegelapan yang berlari di seberang sungai.
Seet! Bsrek!
Putri Manik Sari tiba-tiba melesatkan serangkum angin tajam ke seberang sungai. Terdengar suara berisik ketika serangan itu mengenai pepohonan.
Putri Manik Sari bisa melihat bahwa orang yang diserangnya bisa menghindar. Ia cepat berkelebat di atas air untuk sampai ke seberang.
Setibanya di seberang, seolah ada sejumlah orang yang menyerangnya sekaligus. Putri Manik Sari cepat menghalau semua serangan dengan ketangguhan pukulannya.
Kini, Putri Manik Sari dikepung oleh sepuluh sosok berpakaian serba hitam. Sosok itu terlihat sama, yaitu wanita semua.
Kejab berikutnya, pengeroyokan terjadi. Putri Manik Sari bergerak sangat cepat dan lincah menghadapi pengeroyokan itu.
Bak bak! Blas! Blas!
__ADS_1
Pada satu kesempatan, dua pukulan bertenaga dalam tinggi Putri Manik Sari berhasil menghajar keras dada dua lawannya. Putri Manik Sari agak terkejut ketika mengetahui bahwa dua lawan yang dihajar tahu-tahu raganya menghilang begitu saja.
“Rupanya aku menghadapi ilmu bayangan,” pikir Putri Manik Sari.
Putri Manik Sari segera mengubah taktik bertarungnya. Ia segera melesat maju sambil menusukkan kedua tangannya, kemudian ia mengibaskan kedua tangannya ke belakang.
Sets! Sets! Blass! Blass!
Dua kiblatan sinar putih membabat kedelapan pengeroyok yang tersisa. Lima orang berhasil menghindar, tetapi tiga sosok yang terkena langsung menghilang.
Sets! Sets! Blass! Blass!
Putri Manik Sari kembali melesatkan kiblatan sinar putih, melenyapkan sosok lawannya satu per satu. Ketika semua lawannya lenyap, tiba-tiba muncul seorang wanita yang di belakangnya ada puluhan sosok bayangan hitam pula.
Putri Manik Sari mendelik terkejut.
Wuss!
Tiba-tiba dari samping menderu angin pukulan. Putri Manik Sari cepat melompat melenting tinggi, membuat angin itu lewat di bawahnya.
Pada saat itu pula, puluhan orang yang terlihat seperti pasukan itu, berlompatan tinggi ke udara dan menyerang Putri Manik Sari di udara. Sang putri cepat melesatkan sinar-sinar putih.
Namun, Putri Manik Sari harus terkejut, ternyata puluhan sosok wanita yang menyerangnya di udara tidak wujud, sebab ketika mereka dihantam, mereka hanya seperti fatamorgana.
Tus tus!
“Hekh!”
Tubuh Putri Manik Sari meluncur jatuh ke pinggir sungai. Ia merasakan lehernya begitu sakit dan panas terasa terbakar. Ia tidak tahu ilmu apa yang mengenainya.
Wess! Bress! Suss! Bluarr!
Jbur!
Tiba-tiba sesosok wanita berkelebat cepat ke atas jatuh tubuh Putri Manik Sari. Kedua telapak tangan wanita itu telah bersinar hijau yang langsung dibantingkan kepada tubuh Putri Manik Sari.
Sang putri langsung menyilangkan kedua tangannya seperti gaya Wonder Woman. Ada ledakan cahaya putih yang disusul dengan ledakan tenaga yang keras.
Wanita yang melintas di atas tubuh Putri Manik Sari terpental keras dan jatuh di dalam kegelapan. Sementara sang putri terlempar masuk ke dalam air.
“Jangan biarkan wanita lolos!” teriak wanita yang baru saja beradu ilmu dengan Putri Manik Sari.
Sosok lelaki muda segera melompat naik ke udara. Kedua tangannya bertemu tinggi di atas kepala lalu memunculkan sebola besar sinar ungu berpijar.
Zerzz! Bruasrr!
Bola sinar ungu dilesatkan ke dalam air sungai yang gelap dengan perkiraan serangan itu akan mengenai tubuh Putri Manik Sari. Air sungai terlompat tinggi ke udara.
__ADS_1
Di dalam air sungai yang dalam, tubuh Putri Manik Sari yang sudah terluka parah berputar-putar.
Tiba-tiba di seberang sungai muncul banyak prajurit yang membawa obor masing-masing. Suasana seberang sungai berubah terang.
“Di mana putri itu?” tanya Mahapati Abang Garang dari seberang sungai kepada dua orang yang menyerang Putri Manik Sari.
“Ada di dalam sungai. Aku yakin dia sudah mati!” sahut pemuda berpakaian biru gelap, ia adalah Siluman Tangan Seribu.
“Pasukan panah!” teriak Abang Garang.
Pasukan panah segera bergerak menempatkan diri. Pasukan panah mengarahkan bidikannya ke arah air sungai.
“Panah!” perintah Abang Garang.
Set set set…!
Puluhan anak panah melesat ke dalam air sungai, menembak buta tanpa jelas targetnya ada di mana.
“Panah terus!” perintah Abang Garang.
Maka para prajurit melakukan pemanahan berulang-ulang ke dalam sungai.
Di saat pasukan Baturaharja itu terus memanah, Putri Manik Sari masih bisa melihat apa yang terjadi dari balik akar pohon pinggi sungai. Namun, kondisinya yang terluka parah dan sangat lemah, membuatnya memutuskan menghanyutkan diri tanpa suara.
Putri Manik Sari sangat tidak menyangka bahwa Mahapati Abang Garang berada di balik upaya pembunuhannya.
“Cari yang teliti!” perintah Abang Garang kepada pasukannya.
Para prajurit telah berhenti memanah ke dalam air. Mereka kini melakukan pencarian dengan bermodal penerangan obor.
Gagal menemukan tubuh Putri Manik Sari di sekitar sungai itu, Abang Garang memerintahkan pencarian lebih ke hilir.
“Aku membawa pesan dari Putri Dua Matahari,” ujar wanita berpakaian hitam yang bisa menampilkan wujudnya dalam jumlah banyak. Dia adalah Siluman Bayang Seribu.
Siluman Bayang Seribu dan Siluman Tangan Seribu adalah dua siluman tersakti dari Siluman Sepuluh. Ketika kedelapan rekan mereka ditugaskan membantu Salik Jejaka untuk menggulingkan Prabu Menak Ujung, keduanya ditugaskan untuk membunuh Putri Manik Sari.
“Katakan!” perintah Abang Garang.
“Siluman Hitam, kau harus mengarahkan Kelompok Tinju Dewa ke arah Jurang Lolongan!” ujar Siluman Bayang Seribu.
“Apa? Mengapa jadi berubah rencana?” tanya Abang Garang yang memiliki julukan Siluman Hitam.
“Aku tidak tahu. Mungkin Putri Dua Matahari merasa Baturaharja sudah pasti kita rebut,” kata Siluman Bayang Seribu.
“Kami berdua harus memastikan Kelompok Tinju Dewa dan Kelompok Jago Sodok bergerak ke arah Jurang Lolongan, karena di sana akan hadir banyak tokoh sakti aliran putih,” kata Siluman Tangan Seribu.
“Baiklah,” kata Abang Garang. (RH)
__ADS_1
**********
Mulai chapter ini masuk seasson "Prlabuhan Cinta Ratu (PCR)"