8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
De Bude 2: Tiga Kekuatan Hebat


__ADS_3

*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)* 


 


Dia tidak begitu tampan, tapi dia seorang muda. Mengenakan ikat kepala pita warna merah terang dan panjang sampai ke bokong menjadi ciri khasnya. Senyumnya selalu mekar setiap bertemu orang, baik kenal atau tidak, seolah sengaja memamerkan deretan gigi rapinya yang putih bersih. Padahal belum ada iklan pasta gigi pada masa itu. Namun, jika tidak ada orang, dia tidak tersenyum.


Pemuda berbaju putih dan bercelana putih itu termasuk orang yang diperbolehkan masuk, padahal pertemuan di Pendopo Keagungan hanya untuk para senior yang berusia di atas tujuh puluh tahunan.


Ia melangkah memasuki Pendopo Keagungan dan berpapasan dengan Ki Ageng Kunsa Pari yang berjalan menunduk. Ki Ageng Kunsa Pari bahkan tidak mau mengangkat wajahnya meski ia tahu berpapasan dengan seseorang. Pemuda itu bahkan melihat ada setitik air yang jatuh ke bawah dari wajah Ki Ageng Kunsa Pari.


“Kunsa Pari!” tegur pemuda itu layaknya menegur teman sebaya. Ketika ia menyapa, sekilas terlihat lidahnya yang berwarna seputih kapas.


Namun, Ki Ageng Kunsa Pari tidak menjawab. Ia terus berjalan ke luar tanpa mengindahkan si pemuda sedikit pun, meski sebenarnya dia kenal dengan orang tersebut.


Si pemuda hanya mendelik heran. Dengan membawa tanda tanya di hati, si pemuda terus melangkah masuk.


“Selamat datang, Pangeran Lidah Putih!” sambut Ki Rawa Banggir sambil berdiri dan tersenyum ramah kepada pemuda yang disebut bernama Pangeran Lidah Putih.


“Sepertinya baru saja terjadi sesuatu di sini?” tanya Pangeran Lidah Putih sambil tersenyum lebar kepada semuanya.


“Aku sudah tahu dosamu, Pratakarsa. Kini tinggal menunggu buah dosa itu. Jadi aku tidak punya kepentingan lagi!” kata Dewi Mata Hati sambil berdiri dengan kaki yang tetap tidak menginjak apa-apa. Lalu dengan nada yang agak keras ia menegaskan, “Jika ada yang tidak suka aku menikah dengan murid Kunsa Pari, hadapi aku di luar!”


Kalimat tantangan itu membuat mereka semua terdiam dan hanya memandang Dewi Mata Hati. Pangeran Lidah Putih yang baru datang juga diam, tapi mimik mukanya menunjukkan keterkejutan.


Clap!


Dewi Mata Hati menghilang begitu saja.


“Apa-apaan ini? Kenapa pertemuannya sudah dimulai?!” teriak seorang wanita dari pintu lebar pendopo.


Nenek yang tidak lain adalah Emping Panaswati alias Nenek Tongkat Lentur itu, datang bersama Ki Ageng Kunda Poyo.


“Bukankah acara seharusnya nanti malam?” tanya Ki Ageng Kunda Poyo pula.


“Ada masalah genting, sehingga kami melakukan pertemuan dadakan,” jawab Ewit Kurnawa.

__ADS_1


“Kami juga membawa masalah genting!” kata Emping Panaswati. “Apakah kalian tahu pusaka apa yang sedang diperebutkan di Gua Lolongan?”


“Tongkat Jengkal Dewa!” jawab Dewa Kematian.


“Appa?!” kejut sebagian tokoh tua yang ada di ruangan besar itu.


“Aaah iya iya iya!” teriak Abna Hadaya seolah baru tersadar. “Tongkat Jengkal Dewa ada di Gua Lolongan. Banyak pendekar yang jatuh ke jurang dan tersengat!”


“Kenapa baru kau katakan, Abna Hadaya? Bukankah kau sudah ada sejak tadi di sini?” tanya Iblis Timur, Malaikat Kipas Hijau.


“Aaah! Aku lupa. Pikiranku dikacaukan oleh perempuan liar yang selalu minta genjot…. Eh, kok genjot sih? Maksudku minta gendong terus!” kilah Abna Hadaya.


“Bagaimana bisa pusaka nomor satu itu ada di sana?” tanya Ewit Kurnawa.


“Kalian tanya saja kepada Kunda Loyo ini. Dia yang bertanggung jawab!” kata Emping Panaswati yang menunjukkan kekesalannya.


“Iya, ini semua salahku. Maafkan aku! Tapi, ini bukan salahku. Aku tidak melakukan salah apa-apa. Anak Malaikat Dewa Raja Iblis yang tiba-tiba datang dan merampok pusaka itu dari kediamanku!” kata Ki Ageng Kunda Poyo yang tidak mau disalahkan seratus persen.


“Apa yang kau katakan tadi, Kunda Poyo? Anak Malaikat Dewa Raja Iblis?” tanya Nenek Peti Terbang.


“Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dari dalam jurang yang ada di Gua Lolongan?” tanya Dewa Kematian.


“Tidak,” jawab Ki Ageng Kunda Poyo dan Emping Panaswati bersamaan.


“Apakah ada yang aneh?” tanya Emping Panaswati.


“Ada ada ada!” kata Abna cepat sambil tunjuk tangan, seperti peserta cerdas cermat. “Di tengah jurang ada udara keras yang jika dilalui membuat gerakan melambai…. Eh, maksudnya melambat. Hahaha!”


“Itu adalah Dinding Udara yang berasal dari dasar jurang, dari makam Dewi Geger Jagad,” kata Dewa Kematian.


“Apa? Makam Dewi Geger Jagad?” kejut Ki Ageng Kunda Poyo.


“Aku ingin mengatakan bahwa kekacauan yang dibuat di Gua Lolongan adalah ulah Kerajaan Siluman. Kekacauan itu dikomandani oleh anak haram Prabu Raga Sata yang juga adik tiri Joko Tenang. Maka jangan heran jika putri itu bisa memiliki Tongkat Jengkal Dewa. Jadi Joko Tenang dan para istrinya akan berhadapan dengan adiknya sendiri. Yang mungkin belum kalian tahu adalah Prabu Raga Sata sudah mati dibunuh oleh cucuku, Raja Anjas, ayahnya Joko,” kata Dewa Kematian.


“Apa?!” kejut sejumlah dari mereka.

__ADS_1


“Lalu siapa yang menggantikan setan pisang busuk itu?” tanya Dewi Tangan Tunggal bernada begitu benci dengan penguasa Kerajaan Siluman.


“Jin Gurba,” jawab Dewa Kematian.


“Apa-apaan ini? Dalam satu waktu kita berhadapan dengan tiga kekuatan besar. Dewi Geger Jagad, pemilik Tongkat Jengkal Dewa dan Jin Gurba,” kata Raja Akar Setan.


“Eh, apa maksudnya kita menghadapi Dewi Geger Jagad?” tanya Pangeran Lidah Putih yang sudah duduk di antara mereka.


“Orang yang kau cintai itu sudah bangkit dari matinya,” kata Pangeran Tapak Tua yang duduk di sisi kanan si pemuda, yang sebenarnya berusia hampir saratus tahun.


“Oh!” desah Pangeran Lidah Putih, yang kemudian tersenyum sendiri. “Aku tidak tahu, apakah ini berita buruk atau gembira. Pratakarsa, apakah kau mau bersaing lagi denganku? Hahaha!”


“Petra Kelana, apakah kau tidak tahu siapa yang membunuh Dewi Geger Jagad?” tanya Pangeran Tapak Tua setengah berbisik kepada Pangeran Lidah Putih dengan menyebut nama aslinya, tapi perkataannya tetap terdengar oleh semua.


“Tidak. Siapa?” tanya Pangeran Lidah Putih.


“Aku!” jawab Dewa Kematian.


Pangeran Lidah Putih jadi memandang tajam kepada Dewa Kematian. Namun kemudian, dia tersenyum.


“Nanti kau harus memberi penjelasan kepadaku, Pratakarsa! Kau telah menyembunyikan rahasia mengenai Dewi Ara!” kata Pangeran Lidah Putih sambil menunjuk-nunjuk Dewa Kematian.


“Lebih baik pertemuan ini kita sudahi lebih dulu. Kita perlu waktu kosong untuk memikirkannya. Pada pertemuan nanti malam, kita bahas satu demi satu. Aku berharap, tidak ada dari kalian yang bertindas sendiri-sendiri menyikapi permasalahan ini,” ujar Ewit Kurnawa.


“Baiklah,” kata Dewa Kematian.


“Sambil menunggu kedatangan yang lain, kita akan bertemu nanti malam!” seru Ki Rawa Banggir agak keras, menekankan bahwa itu adalah keputusan.


“Bagaimana dengan Dewi Mata Hati? Dia telah melakukan perbuatan yang memalukan!” tanya Serigala Perak.


“Kau tidak dengar perkataannya, Santa Marya? Kau bisa melawannya bertarung jika kau tidak suka dengan kelakuannya!” tandas Minati Sekar Arum. “Aku yang akan bicara dengan Dewi Mata Hati!”


“Bagaimana dengan Kunsa Pari?” tanya Ki Sombajolo.


“Aku yang akan bicara dengannya,” jawab Dewa Kematian. (RH)

__ADS_1


__ADS_2