
*Bibir Merah Pendekar (BMP)*
*Bibir Merah Pendekar (BMP)*
Kaaak!
Gimba berkoak saat ia terbang turun menuju pelataran sebuah istana yang bangunan itu menyatu dengan bagian berbatu dari Gunung Langit. Arsitek istana itu seolah telah mengubah sebuah bagian gunung batu menjadi istana indah. Itulah Istana dari Kerajaan Siluman. Meski namanya menyeramkan, tetapi tidak terlihat kesan keangkeran pada wujud istana tersebut, justru banyak terdapat ukiran-ukiran raksasa pada dinding batu yang memberi kesan seni yang tinggi.
Dengan mengendarai Gimba, Joko Tenang, Tirana dan Putri Sri Rahayu tidak perlu melalui gerbang benteng istana yang dijaga ketat oleh para prajurit berseragam hijau gelap.
“Ada serangan!” teriak Tirana.
Set!
Sebatang tombak besar tiba-tiba muncul melesat dari arah Istana Siluman yang menargetkan Gimba. Dengan lihai Gimba mengelaki serangan itu. Tombak besar itu lolos dan entah jatuh ke mana.
Putri Sri Rahayu tampak marah melihat ada serangan. Ia tahu dari arah mana serangan tombak tersebut. Di benteng Istana ada dua senjata penembak tombak yang hampir tidak pernah digunakan. Namun, karena sebelumnya sudah ada kabar tentang kemunculan burung raksasa, prajurit segera ditempatkan pada senjata itu untuk bersiaga.
Set! Bress!
Satu batang tombak besar kembali melesat mengancam jiwa Gimba. Namun, Tirana melesat laksana kilat dari punggung Gimba menyongsong tombak itu sebelum mengenai dada Gimba. Ia melesatkan sinar merah berbentuk jaring laba-laba. Tombak itu pun masuk tenggelam ke dalam ilmu Lorong Laba-Laba Tirana.
Selanjutnya, tubuh Tirana meluncur deras menuju pelataran Istana. Di bawah sana, ratusan barisan prajurit berseragam hijau gelap dan bersenjata tombak, bergerak cepat mengatur formasi. Mereka menganggap musuh telah datang menyusup dari udara.
“Hentikan serangan kalian! Siapa pun yang menyerang tamuku, kematian untuknya!” teriak Putri Sri Rahayu mengandung tenaga dalam. Ia dan Joko ternyata sudah melompat terjun dari punggung Gimba.
Gimba sendiri langsung terbang menjauh meninggalkan wilayah itu. Ia telah diperintahkan pulang.
Mendengar teriakan ancaman Putri Sri Rahayu, para perwira dan prajurit kerajaan yang sudah siap di pelataran Istana jadi terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa Putri yang mereka tahu sedang dipenjara, ternyata bersama dengan para penyusup.
Zersss!
Kiiik!
__ADS_1
Tirana yang lebih dulu akan mencium lantai pelataran, mengeluarkan penghuni Cincin Mata Langit-nya. Sinar merah besar keluar dari dalam tubuh Tirana, berwujud burung raksasa berekor panjang dan bersayap capung. Burung itu memekik nyaring lalu terbang cepat dan berputar menyambar tubuh tuannya.
Putri Sri Rahayu sempat terkejut melihat makhluk sinar itu. Ia memang belum sempat melihat kesaktian Cincin Mata Langit.
Para prajurit Kerajaan Siluman juga terkejut menyaksikan atraksi Tirana di udara.
Burung sinar merah Tirana lalu melesat terbang dan menyambar tubuh Joko dan Putri Sri Rahayu, sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan usaha berlebih untuk mendarat. Burung sinar membawa mereka bertiga turun ke pelataran Istana yang luas dan berlantai batu.
Ketika hendak mendarat, Tirana mengembalikan burungnya ke dalam tubuh. Joko Tenang dan kedua wanitanya pun mendarat dengan nyaman di pelataran. Posisi mereka sudah dalam kepungan formasi ratusan prajurit bertombak. Namun, karena peringatan Putri Sri Rahayu tadi, posisi mereka tidak dalam siap menyerang.
“Hormat hamba, Bidadari Asap Racun!” ucap Senopati Siluman Jarum sambil turun berlutut satu kaki.
“Hormat hamba, Bidadari Asap Racun!” ucap para prajurit serentak sambil turun berlutut menghormat, menciptakan atmosfir ketegangan.
Meskipun Sri Rahayu adalah putri tertua dari sang raja, tetapi ia tidak disebut statusnya dalam penghormatan para prajurit, tetapi ia disebut dengan nama julukannya, yaitu Bidadari Asap Racun.
“Senopati, dua orang ini adalah tamu istimewaku. Aku tidak ingin mendengar ada serangan terhadap mereka tanpa perintah dari Ayahanda!” tandas Putri Sri Rahayu yang merasa marah karena adanya serangan terhadap Gimba tadi di udara.
“Baik, Bidadari!” ucap Senopati Siluman Jarum patuh, dalam posisi masih berlutut.
Putri Sri Rahayu lalu melangkah pergi melewati Senopati Siluman Jarum. Joko Tenang dan Tirana berjalan mengikuti Putri Sri Rahayu.
Mereka terus berjalan memasuki istana yang megah dengan arsitektur istana batu yang alami. Setiap prajurit yang mereka lalui melakukan pernghormatan dengan turun berlutut.
Putri Sri Rahayu tahu harus ke mana pergi menemui ayahnya, Prabu Raga Sata yang berjuluk Malaikat Dewa Raja Iblis.
“Hihihik…!”
Tiba-tiba terdengar suara tawa nyaring dan panjang. Tawa seperti suara anak kecil yang nyaring. Seiring itu, seorang manusia kerdil dan kecil muncul di depan rombongan Putri Sri Rahayu, seolah tanpa sengaja ia memotong jalan sang putri.
“Hohoho… hormat hamba, Bidadari! Hihihik!” ucap lelaki kerdil berwajah tua itu sambil turun berlutut, tetapi masih tertawa-tawa senang. Ia bicara gagap seperti model Gulung Lidah.
“Bangunlah, Gurudi!” perintah Putri Sri Rahayu yang harus berhenti sejenak karena penghormatan si cebol yang ternyata bernama Gurudi.
“Hihihik!” tawa Gurudi gembira sambil bangun berdiri. Ia lalu melompat-lompat kecil melihat kepada Joko Tenang dan Tirana.
Saat memandang wajah Joko, Gurudi melihat ada seperti nyala kuning pada dahi pemuda berbibir merah itu. Nyala warna kuning itu hanya dilihat oleh Gurudi semata, tidak bagi yang lainnya.
__ADS_1
“Hihihik…! Cacaca… calon suami ya, Bibi… Bidadari?” tanya Gurudi seperti anak kecil yang sedang mendapat mainan baru.
Belum lagi Putri Sri Rahayu menjawab, Gurudi sudah berucap yang mengejutkan.
“Kencing kucing! Hihihik!” ucap Gurudi sambil memandangi Joko Tenang.
“Gurudi! Apa yang kau ucapkan?!” bentak Putri Sri Rahayu yang seketika marah mendengar kata-kata Gurudi.
“Dasar Cebol Setan!” maki Senopati Siluman Jarum marah pula. Ia segera maju dan hendak menendang Gurudi.
“Kabuuur! Hihihik…!” teriak Gurudi sambil lari terbirit-birit, membuat Senopati Siluman Jarum membatalkan tendangannya.
“Silakan, Bidadari!” ucap Senopati Siluman Jarum mempersilakan junjungannya agar terus jalan.
Putri Sri Rahayu melanjutkan langkahnya.
“Siapa itu tadi?” tanya Joko Tenang.
“Namanya Gurudi. Pelayan setia selir ayahku. Tingkahnya memang aneh seperti itu, tetapi terkadang menghibur juga,” jawab Putri Sri Rahayu.
“Mendengar gagapnya, langsung ingat Gulung Lidah,” kata Tirana.
“Mereka kakak adik. Aku jadi penasaran, apakah ayah ibu mereka juga gagap seperti itu,” jawab Putri Sri Rahayu.
“Hah! Kakak adik?” kejut Tirana lalu tertawa kecil.
“Yah, mereka kakak adik. Tanpa sengaja mereka bertemu di Istana saat Siluman Gagap masuk Istana. Aku yang menemukan Gulung Lidah dan menjadikannya prajuritku,” kisah Putri Sri Rahayu.
Setelah berjalan cukup jauh ke dalam, bahkan melewati pinggiran sebuah taman dalam Istana, akhirnya mereka memasuki sebuah ruangan megah. Ruangan itu diterangi oleh lilin-lilin besar yang dipasang di rumah-rumah lilin yang cantik.
Di sepanjang pinggiran ruangan, berdiri prajurit-prajurit berseragam putih-putih bersenjata pedang. Mereka merupakan Pasukan Pengawal Prabu.
Di sebelah dalam ada sebuah singgasana mewah yang telah diduduki oleh Prabu Raga Sata yang kini semakin tua.
Di sisi kiri singgasana duduk seorang wanita berpakaian megah berwarna kuning emas. Wanita berusia hampir setengah abad itu masih terlihat cantik dan segar oleh karena riasannya yang sempurna. Ia memiliki model hidung yang mirip dengan Putri Sri Rahayu. Ada tahi lalat kecil tepat di bawah mata kirinya. Ia adalah Ratu Sri Mayang Sih, ibu dari Putri Sri Rahayu.
Ketika rombongan putrinya datang mendekat, tatapan tajam Prabu Raga Sata selalu tertuju kepada Joko Tenang. Semakin dekat Joko Tenang kepada singgasana, maka mendeliklah sepasang mata tua Prabu Raga Sata.
__ADS_1
“Bibir merah,” ucapnya lirih. (RH)